Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhati Es
MANSION UTAMA KELUARGA GILBERT
Dulu, kediaman megah bak istana ini selalu dipenuhi oleh gelak tawa dan langkah kaki anak-anak yang saling berkejaran. Namun kini, rumah itu terasa begitu sunyi, dingin, dan seolah kehilangan nyawanya. Semua anak mereka telah tumbuh dewasa, membangun rumah tangga sendiri, dan pindah mengikuti pasangan masing-masing.
Di dalam ruang keluarga yang luas, seorang wanita paruh baya duduk termenung di atas sofa beludru. Jemarinya yang mulai berkerut mengusap lembut sebuah lembaran foto lama di dalam album besar yang terbuka di pangkuannya.
Air mata bening jatuh tanpa suara, membasahi permukaan foto yang menampilkan senyum anak-anaknya di masa lalu. Dada wanita itu terasa sesak oleh kerinduan yang teramat sangat. Di usianya yang makin senja, ia begitu mendambakan kehadiran seorang cucu yang bisa meramaikan kembali rumah kosong ini.
Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih berjalan mendekat. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di sebelah istrinya, mencoba menyalurkan kehangatan untuk menenangkan sang belahan jiwa yang tampak begitu kesepian.
"Sofia, sudahlah... jangan menangis terus," ucap Chandra lembut, mengusap punggung istrinya. "Baru kemarin putri kita, Kanaya, datang berkunjung bersama suami dan anak-anaknya. Rumah ini sempat ramai, bukan? Bukankah seharusnya rasa rindumu pada cucu sudah sedikit terobati?"
Sofia sesenggukan. Ia menggelengkan kepala perlahan, lalu menunjuk sebuah foto di sudut album. Foto seorang pemuda tampan dengan tatapan mata tajam namun memiliki senyum tipis yang tulus. Foto putra sulung mereka.
"Bukan mereka, Yah... Aku merindukan Kayden," bisik Sofia dengan suara serak menahan tangis. "Aku merindukan putra sulung kita."
Mendengar nama itu disebut, ekspresi wajah Chandra seketika berubah. Guratan penyesalan dan ketegangan melintas di wajah tegas sang mantan penguasa dunia bawah tersebut.
Bagaimana ia bisa lupa? Pernikahan Kayden adalah luka lama di keluarga ini. Dulu, Chandra menentang keras hubungan Kayden dan Vivian karena gadis itu sudah dijodohkan dengan Arsen, putra dari sekutu bisnis Nicolas. Pihak keluarga Vivian pun sama kerasnya.
Namun, Kayden bukan pria yang bisa disetir. Tepat setelah takhta kepemimpinan Black Valley jatuh ke tangannya, Kayden merebut Vivian dan membawa gadis itu kawin lari, memutuskan hubungan dengan kedua belah keluarga.
Sejak malam pelarian itu hingga sekarang, mereka belum pernah lagi bertatap muka. Sangat sulit, bahkan hampir mustahil untuk menemui Kayden sekarang. Putranya itu telah tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih dingin, lebih kejam, dan lebih tak tersentuh daripada Chandra di masa kejayaannya dulu.
"Sudah empat tahun, Yah... Empat tahun sejak Vivian tiada," tangis Sofia akhirnya pecah lagi. "Aku bahkan belum pernah melihat wajah cucu perempuan kita. Anak malang itu... pasti sangat menderita."
Sofia mencengkeram kemeja suaminya dengan putus asa. "Lakukan sesuatu, Chandra! Tolong lakukan sesuatu agar Kayden mau mempertemukan kita dengan Deana. Aku tahu bagaimana watak putra kita. Dia pasti mengurung anak itu! Deana pasti kesepian di sana, hidup bersama ayahnya yang berhati es."
Chandra hanya terdiam seribu bahasa. Tenggorokannya tercekat. Sebagai seorang ayah yang juga merindukan darah dagingnya, ia tahu betapa besarnya dinding ego dan dendam yang membentang di antara mereka. Kayden terlanjur menutup diri dari dunia luar sejak kematian istrinya.
Tanpa bisa berkata-kata, Chandra hanya bisa menarik tubuh ringkih Sofia ke dalam pelukannya. Ia mendekap istrinya erat, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh air mata kerinduan di dadanya, sementara tatapannya sendiri menerawang kosong menatap jendela.
Kayden... sampai kapan kau akan menghukum dirimu sendiri dan mengurung darah dagingmu?
Mereka berdua sama sekali tidak tahu, bahwa saat mereka sedang menangis merindukan sang cucu, di belahan kota yang lain, menantu yang mereka sangka sudah mati empat tahun lalu... justru sedang berguling di tanah halaman belakang paviliun, siap membuat perhitungan dengan putra sulung mereka.
.
.
.
MANSION MEGAH KELUARGA MARVIS
Jika di kediaman Gilbert suasananya sunyi dan dingin, maka di kediaman keluarga besar Marvis, atmosfernya terasa seperti kuburan. Penyesalan yang terlambat selalu menjadi racun yang paling mematikan.
Di sebuah kamar tidur yang luas namun sengaja dibuat remang-remang, seorang wanita paruh baya duduk di kursi roda dekat jendela. Namanya Alettha. Dulu, ia adalah putri mafia yang anggun dan berwibawa. Namun kini, penampilannya begitu kurus dan ringkih.
Tatapan matanya kosong, lurus menatap ke depan tanpa fokus. Kedua bola matanya yang indah kini diselimuti selaput putih yang redup.
Alettha telah kehilangan penglihatannya. Ia buta.
Dunia wanita itu mendadak menjadi gelap gulita bukan karena penyakit medis, melainkan karena ia terus-menerus menangis tanpa henti selama empat tahun terakhir, meratapi kematian Vivian, putri tunggal kesayangannya. Rasa bersalah karena dulu ikut menentang pernikahan putrinya telah menggerogoti jiwa dan fisiknya hingga nyaris tak sanggup hidup lagi.
Cklek.
Pintu kamar terbuka. Langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Nicolas, sang kepala keluarga Marvis sekaligus papa dari Vivian, berjalan menghampiri istrinya dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya.
"Alettha... makanlah sedikit, Sayang. Aku membawakan sup kesukaanmu," ucap Nicolas dengan suara yang bergetar menahan perih. Pria tangguh yang ditakuti di dunia bisnis dan dunia bawah itu selalu hancur setiap kali melihat kondisi istrinya.
Alettha tidak bergerak. Ia tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Setetes air mata kembali mengalir dari matanya yang buta, membasahi pipinya yang tirus.
"Untuk apa aku makan, Nicolas?" bisik Alettha, suaranya terdengar begitu lemah dan hampa. "Untuk apa aku mempertahankan hidup di dunia yang gelap ini? Putriku... Vivian-ku sudah tidak ada."
"Alettha, kumohon jangan bicara seperti itu..."
"Aku bahkan belum pernah melihat wajah cucu perempuanku, Nicolas!" tangis Alettha akhirnya pecah, berubah menjadi isakan yang menyayat hati. Ia mencengkeram dadanya yang terasa sesak.
"Malam itu... malam saat Vivian meregang nyawa, kita malah menutup pintu mansion ini karena ego! Kita membiarkan putri kita berjuang sendirian di tangan bajingan Gilbert itu! Dan sekarang... cucuku dikurung oleh klan Black Valley. Aku tidak tahu bagaimana rupanya, aku tidak bisa memeluknya, dan sekarang aku bahkan tidak akan pernah bisa melihat wajahnya karena mataku sudah buta!"
Nicolas langsung berlutut di depan kursi roda istrinya. Ia menggenggam tangan Alettha yang dingin dan mengecupnya dengan air mata yang ikut berlinang. Hatinya seperti diiris sembilu.
Dendamnya pada Kayden Gilbert sudah mendarah daging. Seandainya Kayden tidak membawa Vivian kawin lari, putrinya pasti masih hidup dan berbahagia bersama Arsen. Namun, menyerang Black Valley saat ini sama saja dengan memicu perang dunia bawah yang bisa menghancurkan kedua belah pihak. Kayden yang sekarang sudah menjadi monster yang tak terkendali.
"Maafkan aku, Alettha... Maafkan aku yang tidak berguna ini," bisik Nicolas dengan suara serak, menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri.