NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Altar Kehampaan

*"Jangan kau sebut tubuh itu sebagai 'milikmu', karena jiwa yang menghuninya saat ini jauh lebih hidup daripada cangkang kosong yang kau pajang sebagai piala keangkuhanmu, Ayah!"*

Suaraku bergetar di puncak Arash, namun itu bukan getaran ketakutan. Itu adalah gemuruh kemarahan yang dipicu oleh pengkhianatan yang tak terbayangkan. Pria yang berdiri di hadapanku—pria yang kuingat sebagai sosok pelindung dalam memori Marie Vance—kini tampak seperti orang asing yang haus akan kekuatan. Dia tidak menjawab ucapanku dengan kata-kata, melainkan dengan tawa yang terasa seperti gesekan logam berkarat, suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

Di belakangku, Julius terhuyung. Luka di lengannya masih mengeluarkan aura hitam yang perlahan menggerogoti kekuatannya. Sumpah Darah yang mengikat kami berdua terasa panas, seolah-olah darah dalam nadiku sendiri mendidih karena kehadiran pria itu. Julius mencengkeram bahuku, suaranya parau namun penuh peringatan.

*"Marie, jangan terjebak. Dia bukan Ayahmu. Dia adalah *Pewaris Void*, mereka yang memilih untuk bersekutu dengan kegelapan demi mempertahankan garis darah mereka sendiri,"* bisik Julius.

Ayah—atau apa pun yang mengenakan wajahnya—melangkah maju. Setiap langkahnya membuat bebatuan di puncak gunung retak. Dia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba kabut di sekitar kami tidak lagi terlihat seperti uap air, melainkan berubah menjadi helai-helai benang hitam yang mulai melilit kaki kami. Benang-benang itu adalah *Jaring Pengikat Jiwa*, mantra terlarang yang hanya bisa dikuasai oleh mereka yang telah menjual sisi manusiawi mereka kepada para Kolektor.

*"Kau bicara tentang kehidupan, Marie?"* suaranya memantul di dinding-dinding gua kristal. *"Kau hanyalah jiwa asing yang kebetulan masuk ke dalam wadah yang tepat. Marie yang asli hanyalah boneka yang menunggu waktu. Tapi kau... kau adalah kunci yang memegang segel dari seluruh Perpustakaan Terlarang. Bayangkan jika kuncinya menyerahkan dirinya sendiri, betapa mudahnya kita menguasai seluruh dunia sihir ini?"*

Aku menoleh ke arah tubuh yang terbaring di altar. Tubuh itu tampak pucat, dengan helai rambut pirang yang terkulai lemas. Ada sesuatu yang salah. Jika itu adalah tubuh Marie yang asli, mengapa aku merasa tidak ada koneksi sihir apa pun darinya? Bahkan, jiwa yang ada di sana terasa... kosong. Bukan karena kosong karena mati, tapi kosong karena memang tidak pernah ada di sana.

Sebuah pemikiran liar melintas di otakku. *Apakah tubuh itu adalah tipu daya?*

Aku memusatkan pandanganku, tidak pada penglihatan fisik, melainkan pada *penglihatan batin* yang mulai terbuka sejak segel pertamaku lepas. Aku memejamkan mata, membiarkan sihir murni mengalir ke mataku. Saat aku membukanya, dunia berubah. Aku tidak melihat tubuh manusia di altar itu. Aku melihat sebuah boneka yang ditenun dari sisa-sisa ingatan dan rasa sakit, sebuah ilusi yang dirancang untuk memancingku agar menyerahkan kunci sihirku.

*"Kau tidak menipu siapa pun,"* kataku tenang, suaraku kini lebih berat dan mengandung resonansi kekuatan gunung itu sendiri. *"Itu bukan Marie. Itu adalah bayangan dari ketakutan yang kau ciptakan agar aku kehilangan fokus. Kau adalah penipu yang bahkan tidak memiliki keberanian untuk menggunakan sihir aslimu sendiri."*

Wajah pria itu berubah. Ketenangan yang tadi ia pamerkan pecah menjadi seringai liar. *"Jika kau tidak bisa ditipu, maka kau harus dipaksa!"*

Dia menghentakkan tongkat sihirnya ke tanah. Seketika, seluruh puncak Arash berguncang hebat. Bukan gempa, melainkan resonansi sihir yang sangat kasar. Tanah di sekitar kami terbelah, memaksa kami untuk berpegangan pada batu-batu kristal agar tidak jatuh ke dalam jurang yang kini terbuka lebar.

Julius, meski dalam kondisi lemah, mengumpulkan sisa-sisa cahaya emasnya. Dia tidak menyerang pria itu. Dia malah menusukkan pedangnya ke tanah, tepat di titik tengah altar, menciptakan sebuah kubah pelindung yang terbuat dari murni energi kehidupan.

*"Marie! Lakukan sekarang! Jika kau tidak memanggil segel kedua, kita akan tertelan oleh Void ini!"* teriak Julius.

Aku tahu apa yang harus kulakukan. Segel kedua bukan tentang memanggil kekuatan, tapi tentang *mengembalikan* kekuatan itu ke tempat asalnya. Aku menutup mataku, memikirkan semua ingatan yang kuterima selama perjalanan ini. Tentang rasa sakit, tentang perpisahan, tentang cinta yang tulus dari Julius, dan tentang kerinduan akan kebenaran.

*Aku adalah Marie Vance, tapi aku bukan alat. Aku adalah keturunan dari penyihir purba, dan aku adalah penjaga keseimbangan.*

Saat aku mengucapkan sumpah itu dalam hatiku, rasa panas di dadaku meledak. Bukan rasa sakit, tapi sensasi luar biasa yang membuatku merasa menyatu dengan seluruh gunung ini. Angin di sekitar kami berhenti. Benang-benang hitam yang melilit kaki kami hancur menjadi debu. Pria di depanku terlempar mundur, tongkatnya patah menjadi dua bagian.

Namun, pengkhianatan tidak berhenti di situ. Saat pria itu terjatuh, dari balik gerbang yang terbuka, muncul sosok lain. Kali ini, itu bukan pria. Itu adalah seorang wanita dengan gaun sutra yang berkilauan dengan cahaya bintang, seorang penyihir yang selama ini dikenal sebagai pemimpin Dewan Penyihir Murni.

Dia memandangku dengan tatapan yang sangat dingin. *"Kau telah melampaui batas, Marie Vance. Kau tidak hanya merobek skrip, kau mulai menghapus tatanan sihir dunia."*

*"Tatanan?"* aku tertawa sinis. *"Kalian menyebut perbudakan terhadap jiwa sebagai tatanan? Kalian menyebut pencurian sejarah sebagai keadilan?"*

*"Kami menyebutnya kelangsungan hidup,"* jawab wanita itu dingin. Dia mengangkat tangannya, dan ribuan penyihir di belakangnya mulai merapal mantra. Bukan mantra pertarungan, tapi mantra pengikatan massal. Langit di atas kami berubah warna menjadi kelabu, dan ribuan rantai cahaya putih turun dari awan, mengarah langsung ke tubuh kami.

*"Lari, Marie!"* Julius mendorongku, berusaha melindungiku dari rantai-rantai itu.

*TAP!*

Rantai itu menghantam tubuh Julius. Dia tergeletak tak berdaya. Rantai-rantai itu tidak menghancurkan fisiknya, tapi mereka mengunci sihirnya. Aku melihat dengan ngeri saat cahaya emas yang menjadi identitas Julius perlahan-lahan dipudarkan oleh kekuatan rantai itu.

*"Tidak! Julius!"*

Aku berlari ke arahnya, namun rantai-rantai itu juga mulai memburu diriku. Aku tidak bisa membiarkan mereka menang. Aku memanggil segel kedua—bukan untuk menyerang, tapi untuk *menyembunyikan*.

Aku menatap langit dan merapal kata-kata dalam bahasa kuno yang tiba-tiba muncul di ingatanku, kata-kata yang diajarkan oleh nenek moyangku dalam mimpi.

*"Dunia yang tersembunyi, biarkan kami menjadi bagian dari rahasiamu. Tutup gerbang ini, hapus jejak kami, dan biarkan mereka mencari di tempat yang tidak pernah ada!"*

Cahaya putih dari tubuhku meledak, menutupi seluruh puncak gunung. Itu bukan serangan, itu adalah *kabut penyembunyi* yang sangat tebal. Saat cahaya itu memudar, dunia di depan kami berubah. Puncak Arash yang tadi penuh dengan musuh kini tampak kosong. Tidak ada ayah palsu, tidak ada pemimpin dewan, tidak ada kolektor.

Kami berada di tempat yang asing. Hutan yang tampak seperti hutan, tapi dengan pepohonan yang tumbuh terbalik, akarnya di atas, dedaunannya di bawah. Langit di atas kami berwarna merah jambu, dan ada dua bulan yang saling berkejaran.

*"Dimana kita?"* tanya Julius dengan suara lemah, berusaha bangkit sambil memegangi dadanya.

Aku melihat sekeliling. Tidak ada lagi jalan kembali ke tempat tadi. Gerbang itu telah tertutup. Sumpah Darah yang mengikat kami kini terasa lebih kuat, lebih dalam, seolah-olah dunia ini sedang mencoba untuk memahami siapa kami.

*"Kita berada di wilayah yang terlupa,"* jawabku, mencoba menahan air mata saat melihat luka di tubuh Julius yang tak kunjung sembuh. *"Tempat di mana para Kolektor tidak bisa mencium jejak sihir kita."*

Namun, kegembiraan karena selamat tidak bertahan lama. Di balik pepohonan yang tumbuh terbalik itu, aku mendengar suara langkah kaki. Bukan langkah kaki manusia. Itu adalah suara langkah kaki dari sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang sudah lama menanti kedatangan tamu di dunia terlarang ini.

Sosok itu keluar dari bayangan. Dia bukan manusia, bukan pula makhluk sihir biasa. Dia adalah sesosok ksatria yang seluruh tubuhnya terbuat dari logam murni yang tidak pernah berkarat—sebuah pengecualian dari dunia sihir murni yang kukenal. Dia tidak memiliki wajah, hanya sebuah visor hitam yang berkilau.

*"Kalian melanggar aturan tempat ini,"* suaranya bukan dari mulut, melainkan getaran langsung di udara. *"Tidak ada penyihir yang boleh masuk ke wilayah 'Limbah Waktu' tanpa memberikan upeti."*

Aku menatap ksatria itu dengan ngeri. Jika ini adalah dunia sihir murni, mengapa ada makhluk seperti ini? Apakah ini bagian dari rencana para Kolektor untuk terus memburu kami bahkan di tempat yang paling tersembunyi sekalipun?

*"Apa upetinya?"* tanyaku, bersiap dengan posisi bertarung.

Ksatria itu mengarahkan pedangnya yang panjang ke arah kami. *"Satu ingatan yang paling berharga. Ingatan yang membuatmu merasa layak untuk tetap hidup sebagai manusia. Jika kalian tidak memberikannya, aku akan mengambilnya secara paksa bersama dengan nyawa kalian."*

Julius berdiri di depanku, menghalangi pandangan ksatria itu. *"Jangan sentuh dia. Ambillah milikku."*

*"Tidak!"* teriakku.

Ksatria itu tertawa dingin. *"Satu ingatan dari kalian berdua. Jika tidak, maka kalian akan menjadi bagian dari koleksi hutan ini selamanya."*

Ksatria itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan udara di sekitar kami mulai membeku. Kami terjepit di dunia yang tidak kami kenal, dengan satu pilihan yang menghancurkan hati: memberikan ingatan tentang cinta kami, atau mati di sini dan membiarkan para Kolektor menemukan tubuh kami.

Aku menatap ksatria itu, lalu menatap Julius. Aku tahu, jika kami memberikan ingatan itu, apakah kami masih tetap kami yang sekarang? Atau apakah kami hanya akan menjadi cangkang kosong yang tersesat di dunia yang terlupa ini?

*Ksatria itu menurunkan pedangnya sedikit, memberikan kami waktu satu menit untuk memutuskan.*

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!