NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Nama Sarah Yang Menggema Di Ruang Makan

Nama Sarah yang menggema di ruang makan laksana hantaman badai yang seketika meremukkan sisa ketabahan di dalam lubuk hati Hana yang terdalam. Memo kertas tebal di atas meja saji itu memuat jadwal pelayanan makan malam keluarga besar yang ditulis langsung oleh jemari kokoh Umi Kalsum. Hana memandangi tulisan tersebut dengan pandangan yang kian mengabur, sementara debar jantungnya berpacu liar menggedor dinding dada yang terasa sesak. Di samping daftar menu, nama sang saingan masa lalu sengaja diletakkan pada posisi terhormat sebagai pendamping utama jamuan resmi malam nanti.

"Apakah arti keberadaanku di rumah ini benar benar sudah dianggap mati oleh Umi, Mas?" tanya Hana lirih seraya melempar kertas itu ke hadapan suaminya.

Azzam yang baru saja melangkah masuk untuk mengambil segelas air putih tertegun, menatap gundukan memo yang kini tergeletak pasrah di atas lantai ubin. Gurat wajah sang ustaz muda menegang, memancarkan kecemasan yang mendalam sewaktu mendapati sepasang mata istrinya yang berkaca kaca menuntut penjelasan tegas. Kekakuan yang tercipta di antara mereka berdua di dalam area dapur paviliun belakang kian mempertegas jurang pemisah yang membentang luas.

"Umi hanya ingin memastikan jamuan untuk para kiai sepuh berjalan tanpa cela, Hana, jadi tolong jangan berpikiran terlalu jauh," bela Azzam dengan nada suara yang tertahan.

Hana mengulas senyum getir, melangkah mundur demi menghindari jangkauan lengan suaminya yang mencoba mendekat. "Berpikiran jauh? Menempatkan wanita lain untuk mengurus selera makan suamiku di depan seluruh pengurus adalah sebuah penghinaan yang nyata, Mas."

"Sarah memiliki pengalaman bertahun tahun dalam mengatur logistik acara besar pesantren, sementara kamu belum menguasai medan ini," kilah Azzam mencari pembenaran hukum adat.

Penjelasan yang meluncur dari bibir sang imam justru terasa laksana tetesan cuka yang menyiram permukaan luka baru di batin Hana. Ketidakmampuan Azzam untuk bersikap tegas sebagai pelindung emosional istri sah membuat atmosfer di dalam ruangan itu kian mendingin. Hana merasakan gaun rumahannya terasa begitu menjerat raga, seiring dengan hilangnya rasa percaya pada janji manis pernikahan yang pernah diucapkan lelaki itu. Skenario halus pengucilan dirinya kini telah menjelma menjadi sebuah gerakan massal yang didukung penuh oleh ketidakpedulian sang suami sendiri.

Ketika lonceng penanda makan malam berdentang keras dari arah rumah utama, seluruh pengurus senior dan tamu agung telah memadati ruangan besar. Kehangatan uap sup buntut dan aroma rempah nasi kebuli yang menguar ke udara sama sekali tidak mampu mencairkan hawa kaku di tubuh Hana. Wanita kota itu terpaksa duduk di barisan belakang, menyaksikan bagaimana Sarah bergerak dengan sangat gemulai melayani setiap kebutuhan piring Azzam. Umi Kalsum yang duduk di ujung meja utama sesekali melemparkan pandangan penuh kebanggaan ke arah gadis pilihan hatinya tersebut.

"Pondasi rasa dari setiap hidangan ini sungguh luar biasa, mencerminkan kehalusan budi pekerti sang peracik bumbu," puji salah seorang kiai sepuh yang hadir malam itu.

Umi Kalsum tersenyum lebar, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Sarah yang tengah menunduk takzim di samping kursi kerja Azzam. "Ini semua adalah hasil khidmat tulus dari anakmas Sarah, putri tunggal sahabat lama kami yang selalu paham cara memuliakan para ahli ilmu."

"Alhamdulillah, suatu keberkahan besar bagi pesantren ini jika memiliki sosok penerus yang begitu perhatian pada detail tradisi," sahut tamu agung itu sembari mengangguk takzim.

Hana meremas kuat kuat jemarinya di bawah lipatan kain meja, menahan gejolak rasa perih yang kian membakar dinding kesabaran batin. Kalimat pujian yang saling bersahutan di ruang makan tersebut laksana pengadilan terbuka yang sengaja dirancang untuk menyingkirkan eksistensi dirinya secara perlahan. Pandangan mata beberapa pengurus wanita yang melirik ke arah sudut duduknya terasa penuh dengan nada belas kasihan bercampur cemoohan halus. Di tengah riuh rendah sanjungan, Hana merasa jiwanya terbang menjauh, meninggalkan raga kaku yang terus dihantam oleh badai perbandingan sepihak.

Azzam sempat melirik ke arah posisi Hana, menangkap perubahan raut wajah sang istri yang kian memucat di bawah sorot lampu gantung kristal. Ada dorongan kuat dalam lubuk hatinya untuk setidaknya memberikan pembelaan atau menyebut nama istrinya sebagai bagian dari pengurus dapur hari itu. Namun, deheman halus dari Umi Kalsum yang mendadak terdengar seketika mematikan seluruh keberanian yang sempat tumbuh di dalam sanubari sang ustaz muda. Ketakutan akan dianggap sebagai anak durhaka kembali memenjarakan prinsip keadilan Azzam, memaksanya kembali menikmati suapan nasi dengan kekakuan yang menyiksa.

"Hana, kemari dan bantu Sarah untuk menuangkan air kendi ke dalam gelas para masyaikh di depan," perintah Umi Kalsum tiba tiba memecah konsentrasi menantunya.

Hana bangkit berdiri dengan lutut yang terasa goyah, mencoba menegakkan punggung demi menjaga sisa kehormatan diri yang masih melekat. "Mohon maaf, Umi, kondisi fisik saya sedang kurang stabil untuk melayani bagian meja depan malam ini."

"Melayani para guru adalah bagian dari pembersihan ego kota yang sombong, jadi jangan gunakan alasan fisik untuk menghindar dari berkah," tukas Umi Kalsum dengan intonasi tajam.

Sarah segera mengambil alih kendali situasi dengan langkah yang sengaja dibuat melewati posisi berdiri Hana secara perlahan. "Biar saya saja yang melanjutkan tugas ini, Umi, sepertinya Mbak Hana memang belum terbiasa dengan ritme kerja keras di surau."

Bisikan halus dari Sarah yang bernada penyelamat itu justru terasa laksana tusukan jarum halus yang menembus lapisan batin terdalam Hana. Sentuhan merendahkan yang dibungkus topeng kesalehan tersebut membuat Hana menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan musuh yang sangat cerdik. Sorot mata Azzam yang tetap terpaku pada hamparan sajian di piringnya menjadi jawaban paling benderang bagi kepunahan harapan sang istri sah. Tanpa memohon izin lanjutan, Hana membalikkan badan lalu melangkah pergi menembus pintu keluar ruang makan dengan ritme langkah yang cepat.

Embusan angin malam yang menerpa wajah pucat Hana sewaktu menyusuri koridor gelap terasa sedikit melegakan rongga dadanya yang sempat sesak. Air mata yang sejak tadi ditahan kini luruh dengan sangat deras, membasahi permukaan pipi hingga jatuh menyentuh hamparan rumput halaman. Wanita muda itu terus berjalan tanpa arah, mengabaikan tatapan heran dari beberapa santri ronda yang sedang bertugas di sekitar perpustakaan. Langkah kakinya baru berhenti ketika raga itu sampai di depan pintu kayu kamar pengantin yang sunyi dan kehilangan seluruh hangatnya penerimaan.

Di dalam kamar yang temaram, Hana langsung menjatuhkan diri di atas sajadah, tempat satu satunya di mana ia bebas menumpahkan seluruh beban batin. Ia menangis sejadi jadinya, mengadukan segala bentuk ketidakadilan emosional yang diterimanya dari manusia manusia yang mengklaim diri sebagai penjaga kesucian. Bayang bayang kegagalan pernikahan ini kian nyata membentang di depan mata, merenggut seluruh impian tentang sebuah keluarga yang sakinah dan penuh perlindungan. Hana merasa batasan suci yang ada di sekelilingnya kini telah resmi berubah menjadi jeruji besi yang siap mematikan karakter kepribadiannya.

Dua jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam sebelum suara derit pintu kamar menandakan kepulangan Azzam dari rumah utama pesantren. Lelaki itu melangkah masuk dengan gerak tubuh yang tampak sangat letih, meletakkan jubah putihnya di atas sandaran kursi kayu dengan lesu. Ia memandangi punggung Hana yang masih bersujud di sudut ruangan, menyisakan kekakuan pekat yang kembali membentang luas di antara sekat hati mereka. Azzam berdehem pelan, mencoba membuka ruang komunikasi guna meredakan ketegangan horizontal yang kian meruncing sejak siang hari tadi.

"Mengapa kamu selalu memilih cara yang dramatis dengan meninggalkan ruangan sebelum acara selesai, Hana?" tanya Azzam dengan nada menegur.

Hana bangkit dari sujudnya, membalikkan raga lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan pandangan yang teramat dingin. "Dramatis? Apakah menurutmu bertahan di ruangan tempat namaku diinjak injak oleh ibumu dan wanitanya adalah sebuah pilihan yang bijak, Mas?"

"Sarah hanya menjalankan perintah Umi, dan tidak ada maksud sedikit pun dari kami untuk merendahkan posisimu sebagai istri," sangkal Azzam dengan suara rendah.

"Kebungkamanmu di meja makan tadi sudah cukup menjadi bukti bahwa kamu telah merestui setiap jengkal penindasan mental yang aku terima," cecar Hana dengan keberanian yang memuncak.

Azzam terdiam seketika, kehilangan seluruh perbendaharaan kata untuk menyanggah kebenaran argumen yang dilontarkan oleh wanita asal kota tersebut. Sikap abai sang suami kembali mempertegas posisi Hana yang selamanya akan tetap dianggap sebagai pihak asing di dalam lingkaran dinasti suci ini. Kekecewaan yang menumpuk selama berhari hari kini telah mencapai titik jenuh, mengubah rasa cinta yang dulu mekar menjadi seonggok kehampaan yang dingin. Hana menyadari bahwa berdiskusi dengan lelaki yang kehilangan kemandirian berpikir hanya akan menambah panjang daftar luka yang harus ia tanggung sendiri.

Malam kian merayapi sisa waktu menuju sepertiga akhir, namun tidak ada satu pun kalimat penyejuk yang tercipta di antara kedua insan tersebut. Azzam memilih memejamkan mata di sisi ranjang yang jauh, sementara Hana tetap duduk terkurung di atas hamparan kain sajadahnya yang mulai basah. Detak jarum jam dinding terdengar laksana hitungan mundur menuju sebuah ledakan besar yang dipastikan akan melumatkan seluruh sisa pertahanan batin yang tersisa. Hana menarik napas sedalam mungkin, mencoba mengukuhkan kembali fondasi imannya agar tidak goyah menghadapi rangkaian ujian yang sengaja dirancang oleh manusia.

Ketika fajar mulai menyingsing dan gema selawat mulai bersahutan dari arah pengeras suara masjid utama, Hana bangkit dengan tekad yang baru. Ia melangkah menuju meja hias, mengambil sebuah kitab tafsir tebal yang menjadi satu satunya peninggalan almarhum ayahnya sebelum ia menikah. Di dalam keheningan pagi yang masih diselimuti kabut tipis, Hana membuka lembaran demi lembaran suci tersebut guna mencari jawaban atas kegundahan jiwanya. Namun, pandangan matanya mendadak tertuju pada sebuah coretan pensil misterius yang tertulis di halaman belakang, memuat sebuah rahasia besar terkait silsilah keluarga suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!