Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Itu Aku Kehilangan Segalanya
Rike menggamit tangan teman akrabnya Joyce, dan dengan cepat menariknya ke depan. Joyce merasa kaget... dan spontan gadis itu menghentikan langkah kakinya. Sejak menculiknya dari apartemen, tidak keluar sedikitpun penjelasan dari sahabat baiknya itu. Merasa penasaran.., akhirnya
"Rik... loe mau bawa gue kemane..." gadis muda bernama Joyce berteriak.
"Hempphh... kali ini loe diem.. Ikut gue saja memang apa salahnya.." tanpa menjelaskan tujuan, Rike terus menarik tangan Joyce.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, Joyce terdiam dan dengan penuh rasa penasaran mengikuti arah langkah kaki sahabat terbaiknya itu. Tanpa bicara, dan dengan tergesa, kedua gadis itu berjalan menuju ke ruangan auditorium yang ada di ujung ruangan. Terlihat ada beberapa petugas keamananya yang tampak berjaga di depan pintu. Namun Rike tampak tidak peduli, dia terus berjalan ke depan, sampai dua petugas mencegat langkah kaki mereka.
"Permisi mohon maaf kak... apakah kakak berdua membawa invitation..?' salah satu petugas dengan sopan bertanya pada Rike.
Joyce menghentikan langkah kakinya, dengan wajah merah padam menatap ke arah Rike. Gadis itu merasa malu, dan hanya pasrah pada Rike..
"Undangan apaan.. kami ada urusan di dalam pak.. Mohon... ijinkan kami berdua masuk.." dengan suara tegas, Rike menjawab. Tatapan gadis itu menatap ke arah petugas yang mencegatnya.
"Mohon maaf kak... kami tidak punya kuasa untuk memberikan ijin. Di dalam ada acara intimate, jadi tidak sembarang orang bisa diijinkan untuk masuk kak..." dengan nada sopan, petugas keamanan memberikan penjelasan.
"Ya itulah pak.., kenapa kami harus masuk ke dalam. Kami akan menghentikan acara itu, daripada ada yang merasa tertipu di kemudian hari.." nada suara Rike malah semakin meninggi, sambil menatap tajam.
Terlihat petugas lainnya menghampiri mereka.., kemudian..
"Dengar mbak.. tugas kami disini adalah menghindarkan kekacauan yang timbul dari orang-orang seperti kalian berdua. Sadar diri mbak... kalian berdua itu perempuan. Bisa tidak.., menunjukkan adab, sopan santun berperilaku.." jauh dari nada lembut, petugas dengan tulisan nama di dada Asep itu berbicara dengan nada tinggi..
Mendengar kata-kata itu, hati Joyce langsung mencelos.. Gadis itu memegang bahu Rike..
"Rike sudahlah.. kita memang yang salah.. Kita tidak bisa dong, seenaknya masuk pada acara orang tanpa membawa undangan.." Joyce berusaha menenangkan Rike.
"Joyce.. diam.. Ini untuk kepentingan dirimu, membuka mata yang selama ini sudah lengket oleh Alteco.." bukannya tenang dengan permintaan Joyce, Rike malah semakin meninggi.
Rike hanya menghela nafas, dan dengan tak berdaya membiarkan sahabatnya itu. Tiba-tiba dari arah belakang terlihat rombongan keluarga. Dengan sigap petugas langsung mengarahkan scan barcode, dan dengan sopan mempersilakan masuk rombongan tersebut. Sedangkan dua petugas tetap menahan Rike dan Joyce, seakan tidak membiarkan masuk.
"Tuan.. bisakah anda membawa kami berdua tuan... please.." di luar dugaan, Rike mengibaskan tangan petugas tersebut, dan menghampiri bapak-bapak yang dipersilakan masuk tersebut.
Laki-laki itu menatap Rike dengan mengerenyitkan dahinya,..
"Hempph.. kalian berdua siapa.. Kenapa kalian ngotot masuk ke dalam.." dengan tatapan menyelidik, laki-laki itu bertanya. Sepertinya laki-laki itu mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Bisa jadi, ketika mereka berjalan menuju ke pintu, melihat perlakuan petugas pada Joyce dan Rike..
"Abaikan saja mereka tuan.. mereka hanya trouble maker yang sengaja akan membuat keonaran di dalam.." petugas yang sejak tadi menahan mereka, berusaha mencegah.
Laki-laki itu malah mengarahkan pandangan matanya pada petugas tersebut. Dan sepertinya, bapak-bapak itu memiliki identitas penting, karena petugas itu langsung mundur satu langkah ke belakang.
"Kami butuh bantuan tuan untuk masuk ke dalam.. Saya hanya ingin membukakan mata sahabat saya ini tuan, tentang kedok topeng yang menutup wajah kekasih hatinya.." seakan memiliki kesempatan empuk, Rike mengutarakan maksud kemauannya.
"Ikut rombongan saya.." tanpa banyak tanya, laki-laki itu mengajak Joyce dan Rike.
Tanpa membuang kesempatan, Rike kembali menarik tangan Joyce.. dan bergegas masuk ke dalam. Dua petugas yang tadi melarang mereka, hanya tersenyum masam melihat mereka.
*************
Di dalam ruangan
Lampu kristal ballroom memantulkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh ruangan. Tidak terlalu ramai, hanya sekitar lima ratus tamu undanganyang berada di dalam ballroom. Terlihat masih banyak space ruangan yang kosong, namun penuh dengan tata dekorasi yang elegan. Dekorasi bernuansa putih gading dan dusty pink memenuhi sudut ruangan, berpadu dengan rangkaian bunga mawar serta aroma lembut vanilla dari lilin aromaterapi yang tersusun di beberapa meja bundar.
Di tengah ballroom hotel itu berdiri sebuah mini stage elegan dengan latar bertuliskan:
“The Engagement of Arka & Celine”
Terlihat MC cantik menarik napas pelan, sebelum akhirnya melangkah naik ke atas panggung. Gaun satin warna emerald yang dikenakannya terlihat anggun di bawah sorot lampu ballroom. Senyumnya terlatih sempurna sebagai seorang MC profesional. Ia menggenggam microphone dengan tenang.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam, ladies and gentlemen…”
Suasana ballroom perlahan hening. Seluruh mata tertuju padanya.
“Terima kasih telah hadir dalam malam yang hangat dan penuh cinta ini. Malam ini bukan sekadar perayaan pertunangan… tetapi awal dari perjalanan dua hati yang memutuskan untuk tumbuh bersama.”
Beberapa tamu tersenyum sambil memandang pasangan yang duduk berdampingan di depan panggung. MC melanjutkan dengan suara lembut namun menyentuh.
“Di dunia yang serba cepat seperti sekarang, menemukan seseorang yang membuat kita merasa pulang adalah hal yang sangat langka. Dan malam ini, kita menyaksikan dua orang yang memilih untuk saling menetap.”
Musik piano live mengalun pelan dari sudut ballroom. Sorot lampu berubah lebih hangat
"Saya persilakan pasangan fenomenal kita, kak Arya dan kak Celine untuk naik ke atas panggung. Saya mohon juga, untuk kedua orang tua dari pasangan menyaksikan prosesi penyematan cincin ke jari manis masing-masing...."
“Dan saya harap, tepuk tangan yang paling hangat untuk kedua keluarga yang malam ini dipersatukan bukan hanya oleh sebuah acara… tetapi oleh harapan dan doa-doa baik.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom. Dengan digandeng oleh kedua orang tua pasangan, pasangan calon pengantin menaiki anak tangga kecil, dan mulai naik ke atas panggung. Tampak senyum kebahagiaan menghias pada bibir mereka. Dengan takjub, semua tamu melihat ke arah stage...
“Cinta yang dewasa bukan tentang siapa yang paling sempurna. Tetapi tentang siapa yang tetap memilih bertahan, bahkan setelah mengetahui kekurangan satu sama lain. Dan saat ini, kita yang berada di dalam ballroom ini, akan menyaksikan bertautnya dua hati menjadi satu..”
Kalimat itu membuat beberapa tamu mengangguk pelan. Pandangan mereka masih menatap ke arah panggung...
"Tibalah saatnya, kak Arka untuk menyematkan cincin dengan batu ruby berwarna biru ke jari manis kak Celine." lanjut MC
Laki-laki yang dipanggil dengan nama Arka itu tiba-tiba menjatuhkan kedua kaki ke lantai ball room. Satu lutut ditekuk ke atas.., dan di atas tangan tampak berkilauan batu ruby berwarna ungu... Senyuman manis dan malu terlihat di bibir Celine.., namum gadis itu segera mengulurkan jari manis ke arah laki-laki muda itu. Sementara kamera-kamera menangkap setiap detik penuh emosi itu.
Namun..
"Arka..." sebuah suara perempuan menggema di seluruh ruangan ballroom, yang terdiam karena fokus menatap ke arah pasangan calon pengantin.