Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Omongan Tante-tante Arisan
Tiga hari kemudian, ruang tengah Rumah Wijaya dipenuhi tawa, denting cangkir, dan aroma kue lapis legit.
Cornelia mengadakan arisan bulanan bersama para perempuan dari lingkaran keluarga dan bisnis. Lia bertugas membantu menyajikan teh, sementara Vanessa duduk di antara tamu dengan gaun krem dan senyum manis seolah kejadian kalung tidak pernah ada.
Pada jam pertama, semuanya berjalan biasa.
Lalu seorang tante bernama Mirna memandang Lia terlalu lama.
“Ini pekerja baru yang katanya dekat sekali dengan Sebas?”
Sendok teh berhenti berdenting.
Lia meletakkan teko dengan hati-hati. “Saya bekerja membantu rumah dan merawat Bryan, Tante.”
“Oh, saya cuma dengar cerita.” Tante Mirna tertawa kecil. “Katanya sekarang perempuan muda pintar cari jalan. Jadi pembantu dulu, nanti naik kelas kalau tuan rumah terpikat.”
Beberapa tamu tersenyum canggung. Yang lain berpura-pura sibuk dengan ponsel.
Vanessa mengangkat kedua telapak tangan. “Tante Mirna, jangan begitu. Lia memang sering dibela Sebas, tapi mungkin karena dia masih baru.”
Kalimat itu tampak membela, padahal justru memberi makan kecurigaan.
Lia merasakan wajahnya panas. Ia ingin menjelaskan soal kalung, tetapi urusan keluarga yang dibuka di depan tamu bisa dipelintir menjadi gosip yang lebih besar.
Popo Mei Hoa yang duduk dekat jendela mengetukkan tongkat sekali.
“Aho kerja baik. Kalau ada yang mau bicara soal kerja, bicara ke saya.”
Tante Mirna menipiskan bibir. “Popo terlalu baik. Zaman sekarang, nama keluarga harus dijaga. Apalagi kalau pekerja masuk kamar laki-laki malam-malam.”
Jantung Lia jatuh.
Hanya Vanessa yang tahu ia berada di lantai dua malam itu, meski tidak melihatnya masuk ke ruang kerja Sebastian. Berarti cerita itu sengaja dibentuk dari dugaan.
“Saya mengantar makan,” kata Lia. “Pintunya tidak dikunci.”
“Tidak perlu menjelaskan,” sela Cornelia, nada suaranya kaku. “Ini rumah saya. Saya tahu siapa bekerja di mana.”
Pintu depan terbuka sebelum Tante Mirna menjawab.
Sebastian masuk bersama Robby. Mereka baru kembali dari pertemuan proyek dan hendak mengambil dokumen untuk rapat berikutnya. Langkah Sebastian melambat ketika menangkap wajah Lia.
“Ada masalah?” tanyanya.
“Tidak ada,” jawab Vanessa cepat. “Tante-tante cuma bercanda.”
“Bercanda tentang apa?”
Tak ada yang menjawab. Robby melirik Lia, lalu melihat ponsel seorang tamu yang masih merekam video dekorasi meja.
Popo berkata terus terang, “Mereka bilang Aho masuk rumah ini untuk menggoda kamu.”
Sebastian meletakkan map di meja.
“Siapa yang pertama menyebarkan?”
Tante Mirna tertawa gugup. “Aduh, Sebas. Namanya juga omongan arisan. Tidak ada sumbernya.”
“Tadi Tante menyebut dia masuk kamar laki-laki malam-malam. Itu pernyataan faktual, bukan lelucon.”
“Saya dengar dari orang.”
“Siapa?”
Tatapan Mirna tanpa sadar bergeser kepada Vanessa.
Hanya sesaat, tetapi cukup.
Vanessa berdiri. “Jangan tarik saya. Saya cuma pernah bilang Lia mengantar makanan ke lantai dua.”
“Dan Tante Mirna mengubahnya menjadi masuk kamar untuk menggoda saya,” kata Sebastian. “Sekarang kita luruskan dengan fakta.”
Ia meminta Robby mengambil tablet dari tas. Rekaman koridor menunjukkan Lia naik membawa nampan, lalu turun tidak lama kemudian dengan nampan kosong. Pintu kerja memang tertutup, tetapi tidak ada adegan mesra, tidak ada keluar masuk diam-diam, dan waktu tercatat jelas.
Sebastian tidak memutar rekaman lebih dari yang diperlukan.
“Malam itu saya bekerja dan belum makan. Lia mengantar makanan sebagai bagian dari pekerjaannya. Saya yang memintanya makan karena tangannya cedera dan dia belum makan malam.”
Beberapa tante saling pandang.
“Soal kalung yang mungkin juga Tante dengar,” lanjutnya, “rekaman berbeda membuktikan Lia tidak mengambilnya. Orang yang menyembunyikan sudah mengaku. Salinannya tersimpan.”
Wajah Vanessa kehilangan warna.
Cornelia menatapnya tajam. “Kamu menceritakan urusan kalung ke luar?”
“Tidak secara lengkap,” jawab Vanessa.
“Justru itu masalahnya,” kata Sebastian. “Potongan cerita dipakai untuk merusak nama seseorang.”
Cornelia mengambil ponselnya dan membuka grup arisan. Di sana sudah ada pesan berantai tanpa nama sumber yang menyebut pekerja muda Rumah Wijaya sedang mencari jalan menjadi nyonya rumah. Ia memperlihatkan layar itu kepada Vanessa.
“Pesan ini dikirim setelah kamu menelepon Tante Mirna semalam.”
Vanessa menelan ludah. “Saya tidak menulisnya.”
“Tapi kamu memberi bahan yang sengaja tidak lengkap,” jawab Cornelia. “Sekarang tulis klarifikasi di grup ini. Katakan tuduhan pencurian sudah terbukti salah dan Lia naik ke lantai dua karena mengantar makan.”
Di bawah tatapan semua orang, Vanessa mengetik klarifikasi itu. Tanda centang biru bermunculan satu per satu.
Tante Mirna mencoba tersenyum. “Baiklah, kalau begitu salah paham saja.”
“Belum selesai.”
Suara Sebastian tetap tenang. Itu membuat suasana jauh lebih menekan daripada bentakan.
“Tante Mirna minggu lalu menghubungi tim pengadaan Wijaya untuk menawarkan katering milik keponakan Tante, bukan?”
Mirna menegang. “Apa hubungannya?”
“Hubungannya adalah integritas. Tim kami sedang menilai vendor yang akan masuk ke acara keluarga dan proyek. Saya tidak bisa merekomendasikan bisnis yang pemiliknya menyebarkan informasi tanpa memeriksa fakta.”
“Kamu mengancam bisnis saya karena seorang pembantu?”
“Saya mengatakan proses penilaian akan mencatat kejadian hari ini. Tante bebas menjelaskan, dan keputusan tetap berdasarkan dokumen serta perilaku profesional. Itu bukan ancaman.”
Robby menambahkan, “Kalau video atau narasi fitnah diunggah, kami juga akan meminta hak jawab dan menyimpan bukti. Lebih baik semua pihak menghapus rekaman yang memuat wajah pekerja rumah tanpa izin.”
Tamu yang tadi merekam segera menurunkan ponselnya.
Popo tersenyum tipis. “Nama baik bukan cuma milik orang kaya. Aho juga punya nama yang harus dijaga.”
Kalimat itu memindahkan arah seluruh ruangan.
Tante Mirna akhirnya berdiri di depan Lia. “Maaf. Saya bicara terlalu jauh tanpa tahu fakta.”
Lia menahan tangan kirinya agar tidak gemetar. “Saya menerima permintaan maaf, Tante. Saya juga berharap cerita itu berhenti di sini.”
“Iya.”
Arisan berlanjut, tetapi tak ada lagi yang menatap Lia seolah ia barang hiburan. Beberapa tamu malah memuji kue yang dibuatnya dan menanyakan resep kepada Popo.
Sebastian tidak duduk. Ia mengambil map dan bersiap pergi lagi.
Saat melewati Lia, ia berkata pelan, “Kalau ada omongan lain, catat siapa yang bilang.”
“Ko Sebas tidak perlu selalu membela saya.”
“Saya tidak membela kebohongan. Saya membela fakta.”
Sudut bibir Lia naik sedikit. “Faktanya saya berterima kasih.”
Tatapan Sebastian bertahan satu detik lebih lama sebelum ia pergi bersama Robby.
Di kantor polisi lain di Jakarta Utara, Bobby baru selesai menandatangani surat wajib lapor. Matanya masih memerah samar akibat bubuk cabai, dan kebenciannya belum turun.
Ia menghentikan seorang temannya di halaman.
“Cowok yang bikin gue ditangkap kemarin,” katanya. “Yang namanya Sebastian itu, dia Sebastian Wijaya?”
Temannya mengangguk pelan.
Bobby memandang layar ponselnya. Di sana ada foto lama Lia di depan supermarket.
“Kalau gue enggak bisa sentuh dia,” gumam Bobby, “gue cari yang paling gampang dibuat takut.”