NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Umpan Pak Dibyo

Besok ia akan mulai mencari jalan.

Sudah waktunya membawa Nala ke kota.

Namun pagi berikutnya, sebelum Laras sempat bertanya soal tempat tinggal tambahan, Sudibyo lebih dulu memasang jalannya sendiri.

Ia datang ke kantor Bima selepas apel dengan membawa dua berkas kosong dan sebuah senyum ringan.

“Ada kenalan keluargaku yang mencari istri,” katanya. “Duda, pegawai kecamatan, rumah sendiri. Mungkin cocok untuk Laras.”

Bima tidak mengangkat kepala dari laporan. “Dia tidak meminta dicarikan.”

“Perempuan dengan anak kecil butuh perlindungan.”

“Dia punya pekerjaan.”

“Pekerjaan dapur tidak sama dengan suami.”

Bima menutup pulpen. “Selama Satya berada di bawah satu atap dengannya, urusan orang yang masuk ke rumah itu juga urusanku. Jangan membuat pertemuan tanpa persetujuannya.”

“Kau menolak atas nama anak?”

“Aku menolak orang lain mengatur hidup stafku.”

Sudibyo tertawa pelan, seolah tidak tersinggung. “Baik. Lewat jalur perempuan saja.”

Siang harinya, Bu Endang datang ke dapur umum. Istri Sudibyo itu jarang terlihat dalam kegiatan Persit karena kesehatannya sering menurun. Wajahnya pucat, tetapi caranya berbicara lembut.

“Pak Dibyo ingin berterima kasih atas hidangan kemarin,” katanya. “Datanglah makan malam ke rumah. Bawa Satya juga, supaya tidak repot mencari orang yang menjaga.”

Laras teringat tatapan Sudibyo di antara asap dapur. Nalurinya menyuruh menolak. Namun undangan disampaikan oleh istrinya sendiri dan dibungkus sebagai ucapan terima kasih resmi.

“Apakah Parjo ikut?”

Bu Endang menunduk sebentar. “Katanya cukup kamu. Hanya keluarga.”

Itu semakin tidak terasa benar.

Laras tersenyum sopan. “Saya akan datang sebentar setelah Magrib.”

Ia tidak berniat menerima apa pun. Ia hanya ingin memastikan umpan apa yang sedang disiapkan untuknya.

Malam itu Laras membawa sebotol kecil minyak bawang dan sambal matang sebagai buah tangan. Satya berada di gendongannya, mengenakan baju tipis karena udara lembap.

Rumah Sudibyo lebih besar daripada rumah dinas Bima. Ruang tamunya dipenuhi kursi berukir dan foto-foto perwira. Bu Endang menyambut di pintu, lalu berbisik bahwa makan malam disiapkan di ruang tengah.

Laras memperhatikan dua hal sebelum melangkah lebih jauh. Tidak ada pembantu perempuan di rumah itu, meski biasanya Bu Endang ditemani seorang keponakan. Pintu samping yang mengarah ke halaman juga tertutup rapat. Ia menggeser Satya ke sisi kiri agar tangan kanannya bebas.

“Keponakan Ibu tidak di rumah?” tanyanya.

“Disuruh pulang sore tadi.” Bu Endang mencoba tersenyum. “Katanya supaya makan malam kita tidak terganggu.”

Jawaban itu membuat Laras semakin waspada. Ia sengaja meletakkan botol minyak dan sambal di meja dekat pintu, bukan membawanya ke ruang makan. Kalau harus pergi cepat, ia tidak mau mencari barang apa pun.

Satya meraih ujung kerahnya. Laras mencium kening bayi itu dan berbisik, “Kalau Ibu berdiri, kita langsung pulang.”

Bu Endang mendengarnya. Tatapan kedua perempuan itu bertemu sesaat, dan sesuatu yang tidak perlu dijelaskan lewat kata-kata berpindah di antara mereka.

Sudibyo sudah duduk di kepala meja.

“Akhirnya datang juga,” katanya. “Duduk, Laras.”

Tidak ada panggilan Bu, tidak ada jarak formal.

Laras memilih kursi di samping Bu Endang. “Terima kasih sudah mengundang, Pak.”

“Jangan tegang. Di sini bukan kantor.”

Makanan di meja berasal dari rumah makan kota. Sudibyo berkali-kali meminta Laras mencicipi lauk, lalu bertanya bagaimana cara memperbaiki rasanya. Laras menjawab seperlunya sambil menyuapi Satya bubur yang dibawanya sendiri.

“Kau tidak makan?” tanya Sudibyo.

“Saya sudah makan di rumah.”

“Aku mengundangmu untuk makan, bukan untuk mengurus anak terus.”

“Kalau Satya lapar, saya mendahulukan dia.”

Sudibyo menggeser piring daging ke depan Laras. “Perempuan yang terlalu sibuk mengurus anak sering lupa menikmati hidup.”

“Anak-anak saya bagian dari hidup, Pak.”

“Anak-anak?”

“Satya dan Nala.”

Sudibyo mengangkat alis. “Kau cepat sekali menganggap anak Bima sebagai anak sendiri.”

“Saya menyusuinya. Dia memanggil tubuh saya setiap lapar. Tidak perlu menunggu dia bisa bicara untuk tahu hubungan kami.”

Bu Endang menunduk, tetapi Laras melihat sudut bibirnya terangkat tipis.

Sudibyo mengambil gelas. “Hubungan bisa berubah. Anak tumbuh besar, laki-laki menikah lagi, pengasuh dipulangkan. Kau harus memikirkan masa depanmu sendiri.”

“Karena itu saya bekerja.”

“Kerja tanpa orang yang melindungi hanya membuatmu mudah dipakai.”

Laras menatapnya tenang. “Kalau begitu saya harus hati-hati memilih perlindungan.”

Sudibyo tersenyum, mengira jawaban itu membuka celah. Laras justru semakin yakin bahwa ia sedang duduk di depan perangkap.

Setelah piring hampir kosong, Sudibyo mengeluarkan selembar formulir.

“Aku dengar kau ingin membawa anakmu ke kota.”

Sendok Laras berhenti.

“Kabar di kompleks cepat beredar,” lanjutnya. “Kalau hanya jadi pelatih tidak tetap, sulit mencari tempat dan jaminan. Aku bisa membantumu mendapat status honorer di dapur.”

“Bukankah itu harus lewat perbekalan dan Komandan?”

“Secara resmi, iya. Tapi tanda tangan bisa menyusul kalau orang yang tepat sudah setuju.”

Ia mendorong formulir itu. Saat Laras hendak mengambil ujung kertas, jari Sudibyo bergerak dan menyentuh punggung tangannya.

Sentuhan itu hanya sesaat, tetapi terlalu disengaja.

Laras menarik tangan dan mengusapnya ke kain gendongan Satya. Perutnya terasa mual.

“Statusnya sampai apa, Pak?” tanyanya, sengaja memasang wajah tertarik.

Mata Sudibyo menyala. “Kalau kau pintar menjaga hubungan, honorer bisa menjadi tetap. Mungkin nanti ada jalur pegawai sipil. Gaji bulanan, rumah, sekolah anak.”

“Hubungan dengan siapa?”

Sudibyo menyandarkan siku di meja. “Dengan orang yang membukakan pintu.”

Bu Endang menunduk menatap piringnya. Jemarinya meremas ujung taplak.

Laras tersenyum kecil meski tenggorokannya kering. “Tawaran besar.”

“Aku tahu kau perempuan cerdas.” Sudibyo mencondongkan tubuh. “Tidak perlu selalu berlindung di belakang Bima. Dia hanya memberimu kamar belakang.”

Satya tiba-tiba merengek. Laras segera mengangkatnya dari gendongan dan menepuk punggungnya.

“Dia lapar,” katanya. “Saya izin ke ruang dalam sebentar.”

Bu Endang berdiri terlalu cepat. “Mari. Di kamar saya lebih tenang.”

Sudibyo mengangkat tangan, seolah memberi izin. “Jangan lama.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Laras berdiri.

Di kamar, Bu Endang mengunci pintu. Laras duduk membelakangi jendela, membuka kain penutup, lalu menyusui Satya. Bayi itu segera tenang, tetapi napas Laras masih pendek.

Bu Endang berdiri di dekat lemari dan menatap pintu, bukan tubuh Laras.

“Jangan ambil formulir itu,” katanya sangat pelan.

Laras mengangkat wajah.

“Bu?”

“Jabatan honorer tidak bisa dia berikan sendirian. Dia hanya ingin membuatmu merasa berutang.”

“Kenapa Ibu mengundang saya?”

Wajah Bu Endang menegang. “Kalau aku menolak, dia akan menyuruh orang lain memanggilmu. Setidaknya di sini aku bisa memperingatkan.”

Dari luar terdengar langkah mendekat. Gagang pintu bergerak sekali.

“Endang?” panggil Sudibyo. “Sudah selesai?”

Bu Endang tidak menjawab. Ia memandang Laras dengan mata yang tiba-tiba basah.

“Dua belas tahun aku hidup dengannya,” bisiknya. “Aku tahu laki-laki seperti apa suamiku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!