NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - APAKAH KAU KENAL PANGILMA RANGGA?

Cahaya senja menerpa jendela kamar di lantai dua vila keluarga Wijaya, namun Kirana tak menoleh pada pemandangan itu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Gelang Lentera di pergelangan tangannya dengan mata yang serius, jemarinya bergerak perlahan menyusuri satu nama yang sudah lama tersimpan di dalam catatannya.

Nama itu bukan milik kerabat atau sahabat, melainkan sebuah jejak gema cadangan yang pernah menolong keluarganya di masa paling sulit. Kirana tidak pernah bertemu muka dengan pemiliknya, dan selama ini ia hanya bisa menduga-duga seperti apa orang itu sebenarnya.

Ia menyusun kata-kata di kepalanya berulang kali. Pertama, ia harus bertanya mengapa orang itu mau menolong keluarga Wijaya. Itu hal yang sangat penting dan harus dijawab dengan jujur.

Tetapi yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa orang itu tidak ada sangkut pautnya dengan Panglima Rangga. Kirana baru saja mengikat Sumpah Sejiwa secara rahasia dengan panglima yang paling ditakuti di seluruh Kekaisaran, dan ia tidak ingin urusan keluarganya tersangkut dengan lingkaran istana.

Lalu bagaimana caranya membujuk orang itu agar mau membantu lagi? Mungkin keluarga harus membayar sejumlah imbalan, dan itu wajar saja. Selama permintaannya tidak berlebihan, Kirana bersedia menyetujuinya.

---

Sementara itu, di sebuah balai pertemuan di dalam istana, para ajudan serentak menahan napas. Mereka memandang panglima mereka yang duduk di ujung meja dengan wajah yang sangat gelap; tak seorang pun berani menggeserkan kaki apalagi bersuara.

Setiap orang di ruangan itu tahu betul bahwa Panglima Kabut sedang dalam suasana hati yang buruk. Siapa pun yang berani melapor atau mengirimkan panggilan pada saat seperti ini pasti akan terkena celaka.

Guruh, roh pendamping yang berdiam di dalam Gelang Lentera Rangga, membisikkan sesuatu ke telinga tuannya, "Tuan, dahulu Tuan pernah menitipkan sebuah jejak gema cadangan kepada keluarga Wijaya. Kini Nyonya memanggil. Apakah Tuan ingin menyambungnya?"

Rangga tidak mengubah ekspresinya sama sekali. Ia mengangkat mata, menatap semua orang di ruangan itu, lalu berkata singkat, "Rapat selesai."

Suaranya tidak meninggi, tetapi ketegasan yang terkandung di dalamnya membuat semua ajudan langsung menunduk. Barulah setelah panglima berbalik, mereka berani menghela napas panjang.

Rangga berjalan memasuki kamar pribadinya di balik pintu sambil melonggarkan kerah seragam militernya dengan gerakan acuh tak acuh.

Begitu pintu tertutup, ia berkata, "Sambungkan." Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, "Jangan nyalakan cermin gema."

"Baik, Tuan." Guruh menjawab patuh, lalu mengalihkan seluruh alur suara tanpa sedikit pun membuka gambar dari pihak tuannya.

---

Di sisi lain, Kirana yang sedang berbaring di atas ranjang empuk mengayun-ayunkan kakinya dengan bosan, menunggu panggilan yang akan segera tersambung. Ia berulang kali menyusun kata-kata di dalam benaknya agar tidak terdengar kaku.

Pertama-tama, ia harus bertanya mengapa orang itu membantu keluarga Wijaya. Itu pertanyaan yang paling penting dan tidak boleh terlewat.

Yang kedua, dan jauh lebih penting, ia harus memastikan bahwa orang itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan Panglima Rangga. Begitu pastinya, hatinya akan tenang.

Yang ketiga, bagaimana cara meyakinkan orang itu untuk membantu keluarganya melewati kesulitan yang sedang menghadang. Mungkin imbalan akan dibayarkan nanti, dan itu sudah semestinya.

Selama permintaan orang itu tidak berlebihan, ia siap menyetujuinya. Kirana menarik napas dalam-dalam, meyakinkan diri bahwa semuanya akan berjalan lancar.

Panggilan pun tersambung. Kirana buru-buru duduk tegak, tetapi ia mendapati cermin gema di pihak lawan tidak dinyalakan, gelap gulita, sehingga ia hanya bisa mendengar napas tipis dari seberang sana.

Kirana berpikir, mungkin orang besar ini memang lebih berhati-hati. Bagaimanapun juga, ia bekerja di dalam istana, dan kehati-hatian adalah hal yang wajar bagi orang di posisinya.

Ia menyapa dengan hormat, "Selamat malam, saya Kirana dari rumah makan keluarga Wijaya. Terima kasih banyak atas bantuan Tuan sebelumnya."

Di seberang sana, Rangga menatap gadis di dalam cermin gema itu: pakaiannya rapi, rambutnya tergerai lembut ke bahu, sikapnya sopan dan tenang. Sekali pun tidak terlihat seperti gadis yang asal menarik seorang lelaki lalu menikahinya.

Sejak tadi Guruh telah menyamarkan suaranya, mengubah nada yang semula dalam dan tegas menjadi suara yang matang, lembut, dan menyenangkan. Semua itu dilakukan demi percakapan yang satu ini.

"Sekadar membantu, tidak seberapa." Suara itu terdengar hangat, seolah benar-benar tidak menganggap bantuan itu sebagai apa-apa.

"Sekecil apa pun bantuan Tuan, bagi keluarga kami itu sangat berarti. Bolehkah saya bertanya, mengapa Tuan sudi menolong keluarga Wijaya?" Kirana melontarkan pertanyaan yang sudah lama ia simpan.

Di seberang terdengar jeda singkat sebelum jawaban itu keluar. "Aku... menyukai hidangan yang diracik di rumah makan keluarga Wijaya."

Kirana tersenyum lega karena ternyata orang itu penggemar hidangan mereka. Nada bicaranya pun menjadi lebih ringan. "Kebetulan sekali. Keluarga kami baru saja membuka cabang di Provinsi Kedaton. Tuan tinggal di Kedaton, bukan? Mulai sekarang Tuan bisa mencicipinya lebih sering."

"Hm." Meskipun orang itu amat hemat bicara, fakta bahwa ia menyukai hidangan keluarga Wijaya secara tak sadar telah mendekatkan jarak di antara mereka.

Percakapan keduanya berjalan sangat lancar. Kirana yang banyak bercerita, sementara lawan bicaranya hanya sesekali membalas dengan satu dua patah kata yang sopan.

Setelah mengobrol cukup lama, Kirana akhirnya sampai pada pokok persoalan. "Pasokan rempah dan bahan segar keluarga kami mungkin akan tersendat dalam waktu dekat. Bolehkah Tuan membantu kami sekali lagi? Maaf, permintaan ini terasa sangat mendadak. Jika Tuan merasa keberatan, kami akan mencari jalan lain."

Begitu kalimat itu selesai, Kirana menggenggam ujung kainnya, menunggu jawaban dengan jantung yang berdebar.

"Bisa."

Jawaban itu keluar begitu singkat, tetapi suaranya sangat lembut, bagaikan bunyi kecapi yang bergema di dalam dada. Dan yang lebih mengejutkan, jawaban itu terdengar sangat tulus dan gembira.

Kirana memang menyukai orang-orang dengan suara merdu. Ia pun mengucapkan banyak kata terima kasih tanpa bisa berhenti, sambil berjanji dalam hati untuk membalas kebaikan itu kelak.

Namun sebelum panggilan ditutup, ia bertanya dengan hati-hati, "Tuan, maaf, saya masih belum tahu harus memanggil Tuan dengan sebutan apa."

"Panggil saja aku Tuan Senja."

Kirana mengangguk, lalu dengan nada yang lebih berhati-hati ia bertanya lagi, "Kalau begitu... apakah Tuan mengenal Panglima Rangga?"

"Tidak kenal." Jawaban itu keluar terlalu cepat, seperti disambar petir. Kirana tertegun sesaat, matanya membelalak, bulu matanya bergetar penuh tanda tanya.

Di seberang sana Rangga mengerutkan dahi, lalu menambahkan pelan, "Maksudku... aku tidak begitu akrab dengannya."

Guruh yang mendengar semuanya tak kuasa menahan bisikan usilnya, "Topeng sang panglima terbuka, Tuan. Tsk, tsk, tsk."

Meski masih setengah ragu dengan jawaban itu, Kirana memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Bagaimanapun, keluarga Wijaya kini memiliki seorang penolong di Provinsi Kedaton, dan itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!