Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali empat meter, dengan kamar mandi di dalamnya. Cukup sempit untuk seorang putri di istana yang dilayani pelayan pribadi.
Namun, tidak bagi Pia. Bagi dia, ruangan kost ini adalah surga jika dibandingkan kamarnya di desa—tempat yang hanya cukup untuk kasur dan lemari kecil di sudut ruangan. Keluarganya hanya buruh tani, dan dia sangat beruntung bisa kuliah dengan mendapatkan beasiswa.
Meskipun dikenal sebagai anak yang cukup jenius, Pia cukup malas ketika harus mengerjakan tugas. Baru saat ini dia menyadari bahwa ada tugas presentasi yang harus diselesaikan esok hari, dan semua pekerjaan itu menumpuk di atas meja belajarnya.
Namun, saat ini perhatiannya lebih tertuju pada sebuah buku cerita yang sedang populer belakangan ini—khususnya di kalangan perempuan yang menyukai karakter utama laki-laki bernama Lucas Alexandro, yang digambarkan sangat sadis di dalam buku itu.
"Cukup gila! Dia mengurung pemeran wanita, ini pelecehan namanya, kau tahu tidak pelecehan," ucap Pia melempar buku yang berjudul Love Obsession itu ke sebelahnya tepat di atas kasurnya.
"Kalau aku jadi wanita itu, aku pasti kabur bersama uang dan anak-anak ku!" lanjutnya saat berdiri dari posisi terlentang, kemudian meregangkan tangannya yang kaku.
"Sudahlah Pia... mereka cuma tokoh fiksi, tidak akan terjadi apa-apa padanya dan kamu tidak bisa merubah apa-apa. Mereka tak berbentuk nyata kan?" gumamnya seolah mencoba menenangkan diri sendiri agar tidak terus menggerutu.
Pia meninggalkan kasur menuju ke sudut lain yang cukup berantakan. Ya, itu meja belajar Pia yang penuh dengan tumpukan buku, tas kuliah yang berantakan serta bekas makanan cepat saji di mana-mana sebab dia tidak sempat untuk memasak karena sibuk kuliah.
Dia memegang pinggangnya memikirkan yang harus dia lakukan terlebih dahulu, Pia kemudian teringat akan presentasi penting yang akan menentukan nasib beasiswanya akan dilanjutkan atau tidak nantinya.
"Pia! Apa yang kamu lakukan... presentasinya besok, dan sekarang sudah jam dua belas malam! Yah... Aku harus begadang lagi malam ini," gumam Pia menepuk jidatnya kasar.
Namun, dia tidak punya waktu lagi untuk mengeluh dan langsung mengambil laptop yang tertutup buku-buku di atas meja itu. Dan mulai mengerjakan tugas yang diperintahkan dengan sistem kebut semalam.
Setelah cukup lama bekerja, Pia meregangkan tubuhnya yang kaku kemudian melihat cahaya yang masuk di ventilasi kostnya yang tentunya saja sudah menunjukkan matahari sudah meninggi, dan tidak ada waktu untuk tidur lagi.
Perempuan itu tidak perduli sebab dia sudah terbiasa seperti ini bahkan hingga tujuh hari berturut-turut tanpa tidur sama sekali. Dia tidak perduli dengan kesehatan jantungnya yang penting tugas proyeknya bisa selesai dengan waktu kebut semalam.
Pia mengambil tas yang kini penuh dengan berkas dan laptop, dia tidak sempat lagi untuk berdandan. Pia hanya bergaya seadanya, hanya menyempatkan diri untuk mandi agar tidak perengus saja.
Dia kemudian berlari menuju lorong gedung demi menuju persentasi yang akan di mulai beberapa detik lagi, selepas mendorong kasar pintu. Terlihat seorang dosen sudah berada di dalam menolehnya dengan tatapan datar, begitu juga dengan teman-temannya.
"Pia, dari mana kamu, kenapa terlambat?" tanya dosen wanita itu melihat Pia, dengan mata cekung nya yang menghitam dan baju kemeja nya yang terlihat berantakkan.
Pia masih terengah-engah berdiri di ambang pintu, tangannya masih mengenggam erat gagang pintu yang baru saja dia dorong. Rambutnya nampak kusut sebab terus berlari dan menaiki tangga agar bisa segera sampai ke kelas.
"Maaf Bu Lana... saya... saya terlambat karena ada kendala di jalan," bohongnya, padahal sebenarnya karena dia masih mengerjakan tugasnya tadi.
"Kalau ada kendala kenapa tidak berangkat lebih pagi, Ya sudah duduk sana. Kalau kamu ulangi lagi saya beri nilai E," geram Bu Lana.
Pia menghela nafasnya kasar padahal Ibu Lana terdengar killer dan tidak segan-segan memberikan E pada murid yang tidak taat peraturan seperti Pia saat ini.
Pia mengendap-endap menuju kearah kursinya yang sepertinya sudah di siapkan oleh temannya, sebab terlihat jelas ketika teman nya itu menujuk kursi kosong yang ada di sebelahnya, Pia kemudian duduk disana dan meletakkan tasnya.
"Pia, ngapa lo terlambat?" tanya temannya.
"Biasa lah gue ngerjain deadline," sahutnya mengambil bukunya berada di dalam tas.
"Eh, lo tuh kebiasaan ya, lo tau nggak ada kating kita yang meninggoy gara-gara kecapekan ngerjain skripsi, kurang-kurangin dah begadang. Contoh gue, gue ngerjain dari jauh-jauh hari. Lagian kita ini bukan anak Arsitek, apalagi DKV," bisik temannya menatap fokus kedepan memperhatikan temannya yang lain sedang memasang proyektor.
"Iya.. Iya..." jawabnya terlihat cukup jengah mendengar celotehan temannya.
"Pia, sini maju tunjukkan persentasi mu," panggil Bu Lana, membuat Pia menoleh padahal baru saja dia ingin sedikit bernafas lega tenyata sudah di panggil oleh dosennya.
Dengan berat hati Pia mengambil flashdisk yang berada di dalam tasnya, kemudian berjalan dengan gontai menuju kearah laptop yang sudah siapkan oleh temannya tadi.
Pia langsung mencolokkan flashdisk itu pada laptop dan Pia sedikit mengotak-atik laptop itu agar bisa menampilkan PPT yang dia sudah buat semalaman.
Terpampang lah di layar monitor berjudul, 'Tugas PPT Filsafat Pia,'. Bu Lana nampak mengangguk selepas melihat layar itu seolah sangat A-plus pada Pia karena mengerjakan tugas dengan susah payah.
"Hem... Hem.. " Pia berdehem sebelum memulai persentasi nya.
"Teman-teman semua, saya Pia, akan memaparkan persentasi yang saya buat," ujar Pia seraya tersenyum.
Teman-teman nya terlihat bersiap, beberapa menganggukkan kepala dengan antusias, sebab Pia selalu membuat persentasi bagus dengan jawaban-jawaban yang spektakuler.
Namun, selepas membuka slide kedua, semua orang nampak terdiam saling menoleh, "Lucas Alexandro - Manusia yang tak punya hati, hanya mengikat seorang perempuan di kediamannya yang mewah," Pia membaca dengan datar seolah belum memahami apa yang dia tulis di slide PPT itu.
Ibu Lana yang sejak tadi masih menunggu Pia berbicara dengan lantang, langsung menoleh pada Pia yang berbisik seolah penasaran dengan tulisannya sendiri.
"Pia, apa yang sedang kamu bahas itu? ini bukan review novel sadis ya," geram Lana menatap nyalang pada Pia dari atas ke bawah, dia mungkin tidak membaca buku itu. Namun, dia mendengar desas-desus betapa menjijikkan nya novel itu.
Pia menutup mulut dengan kasar, dia tidak sengaja menulis karakter Lucas Alexandro yang merupakan Villan dari buku Love Obsession. Dia membulatkan matanya dan menoleh pada monitor yang menampilkan sampul bukunya.
"Aish... tidak menyangka ya, Pia suka hal seperti itu," bisik seorang mahasiswa yang duduk pojok tengah ruangan itu.
"Iya, padahal kesannya kayak kalem dan terpelajar," sinis nya yang tentu nya terdengar di penjuru kelas.