Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Cincin Api Selat
Gemuruh ombak Selat yang ganas menghantam lambung tiga kapal cepat taktis komando yang melaju dengan kecepatan penuh membelah lautan lepas. Di atas kapal komando utama, Haena berdiri tegak di balik dinding kaca kabin kendali. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dikenakannya tampak kontras dengan kemeja sutra putih murni di bagian dalamnya, memancarkan aura dominan seorang pemimpin sejati yang memiliki mental baja tak tergoyahkan. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidungnya, sepasang matanya yang jernih menatap lurus ke arah siluet raksasa kapal tangker minyak tua IMO 91483 yang bergoyang lambat di cakrawala.
Jari telunjuk tangan kirinya mulai mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan sebuah gestur refleks yang menandakan sirkuit otaknya yang jenius sedang bekerja dalam kecepatan penuh untuk menyelesaikan kalkulasi taktis tingkat tinggi.
Di sampingnya, Kaelen Arkananta berdiri bersandar pada panel senjata taktis dengan tangan bersilang di depan dada. Sepasang mata elangnya berkilat penuh murka yang luar biasa masif, memancarkan aura seorang predator puncak yang siap mengoyak mangsanya.
"Jarak tinggal tiga kilometer, Haena. Tim serbu Gavin sudah mengunci semua titik masuk potensial di lambung kiri kapal tangker itu."
Namun, tepat sebelum kapal taktis mereka mampu memperpendek jarak pertahanan musuh, alarm darurat pada konsol siber Clarissa kembali berbunyi dengan nada melengking yang memekakkan telinga.
BEEP! BEEP! BEEP!
"Tuan Kaelen! Nona Haena! Ada anomali termal masif yang keluar dari katup pembuangan utama kapal tangker!" Clarissa berseru panik, jemarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik mekanis.
"Mereka... mereka sengaja membuang ribuan ton minyak mentah ke atas permukaan laut! Mereka memicu percikan api dari generator luar!"
WUSH!
Dalam hitungan detik, lautan di sekitar kapal tangker itu berubah menjadi neraka jahanam. Lapisan minyak mentah yang mengapung di atas air tersulut api, menciptakan dinding api raksasa setinggi sepuluh meter yang melingkar rapi membungkus seluruh badan kapal IMO 91483. Cincin api raksasa itu memancarkan hawa panas yang ekstrem, memotong jalur pendekatan kapal cepat taktis Haena dan menciptakan rintangan maut yang siap membakar hidup-hidup siapa saja yang berani mendekat.
"Sial! Mereka menggunakan taktik bumi hangus maritim!" Gavin mengumpat keras dari balik interkom taktis, wajahnya tegang saat melihat kapalnya terpaksa melambat demi menghindari lidah-lidah api yang menjilat permukaan air.
"Tuan Kaelen, jika kita memaksakan lambung kapal cepat kita menembus cincin api ini, tangki bahan bakar kita akan meledak sebelum kita sempat merapat!"
Pak Baskara yang berada di garis belakang markas komando taktis darat memegang dadanya dengan napas memburu.
"Tuan Bramasta masih ada di dalam lambung kapal itu... Jika api itu mencapai tangki utama kapal tangker, seluruh tempat itu akan meledak menjadi abu!"
Di tengah kepanikan massal yang mulai menjalar di antara para awak kapal komando, Haena tetap berdiri dengan posisi tegak yang sangat anggun, memancarkan ketenangan ekstrem yang luar biasa memukau. Kacamata transparannya memantulkan kobaran api merah keemasan yang menari-nari di atas air, namun sorot matanya tetap sedingin es, suci, dan tak tersentuh oleh rasa takut.
"Gavin, jangan hentikan laju kapal," perintah Haena, suaranya terdengar sangat jernih, tenang, dan sarat akan otoritas mutlak yang mampu membungkam seluruh keraguan.
"Tapi Nona Haena, suhu di depan kita sudah mencapai seratus delapan puluh derajat Celsius!" Gavin memperingatkan dengan nada panik yang tertahan.
"Kita akan terpanggang!"
"Minyak mentah yang mereka buang memiliki tingkat viskositas tinggi, namun ketebalan lapisannya di atas air tidak merata karena terpecah oleh arus bawah laut Selat," ucap Haena taktis, membeberkan hasil komputasi matematis yang baru saja diselesaikan oleh otak jeniusnya. Jari telunjuknya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali.
"Clarissa, analisis grafik hidrodinamika di layar kananmu. Cari titik distorsi di mana arus bawah laut menciptakan celah termal terkecil pada cincin api tersebut."
Clarissa langsung membelah barisan kode biner dan memproyeksikan peta termal tiga dimensi ke layar utama.
"Ketemu! Di sektor barat daya, tepat di bawah haluan kiri kapal tangker, ada celah selebar lima meter di mana lapisan minyak terputus oleh pusaran air lokal! Suhu di titik itu hanya berkisar enam puluh derajat Celsius!"
"Kaelen," Haena menoleh menatap langsung ke dalam manik mata elang pemuda itu dalam jarak yang cukup dekat.
"Gunakan sistem pelontar busa pemadam tekanan tinggi (firefighting foam cannon) milik kapal kita untuk menembak titik celah tersebut secara konstan saat kita melintas. Kita akan menciptakan koridor steril taktis selama lima belas detik untuk menembus dinding api."
Kaelen Arkananta terkekeh rendah, sebuah tawa karismatik yang memancarkan kepuasan mutlak atas kecerdasan luar biasa aliansinya.
"Rencana penetrasi yang sangat tajam, Tuan Putri. Gavin! Alihkan seluruh kendali kemudi menuju sektor barat daya! Siapkan meriam busa kembar di dek depan!"
"Siap, Tuan!"
Sementara itu, di dalam kabin komando kapal tangker yang mulai dipenuhi asap tipis, pemimpin sindikat asing sisa faksi Nyonya Rosalind menatap layar radar luar dengan ekspresi tidak percaya. Dia mengira dinding api raksasa itu akan membuat nyali putri sejati Dirgantara Corp itu ciut dan berbalik arah.
Namun, di layar monitor, mereka melihat kapal cepat taktis utama milik Arkananta justru menambah kecepatan hingga empat puluh lima knot, melaju lurus seperti anak panah yang menantang kobaran api neraka.
BRRRRRRRRRR!
Meriam busa di dek depan kapal taktis Haena memuntahkan ribuan liter cairan kimia pemadam berskala militer, menghantam titik celah barat daya dengan akurasi matematis yang sempurna. Kobaran api setinggi sepuluh meter itu mendadak terbelah menjadi dua bagian, menciptakan sebuah koridor gelap yang dipenuhi kepulan asap putih tebal di tengah lautan yang membara.
"Mereka gila! Mereka benar-benar menembus api!" jerit salah seorang anak buah Tuan Agharna dengan wajah pucat pasi.
WUSH!
Kapal cepat taktis Haena melesat keluar dari dalam kepulan asap putih, berhasil melewati cincin api tanpa ada kerusakan sedikit pun pada lambung kapalnya, dan langsung merapat keras pada tangga monyet di lambung kiri kapal tangker IMO 91483.
Brak!
"Tim satu dan dua, serbu dek atas! Lumpuhkan semua target yang bersenjata!" perintah Kaelen tegas melalui radio taktis sembari melompat keluar dari kabin, memegang sebuah senapan otomatis ringan dengan ketangkasan seorang predator puncak.
Gavin memimpin pasukan garis depan dengan brutal, menembakkan peluru-peluru taktis yang langsung melumpuhkan para penjaga kapal tangker sebelum mereka sempat menarik pelatuk senjata mereka yang sebagian besar sirkuit elektroniknya masih mengalami hangus akibat virus Trojan Haena dari bab sebelumnya.
Di saat tim taktis melakukan pembersihan di dek atas, Haena melangkah masuk ke dalam koridor lambung bawah kapal tangker yang gelap dan pengap, didampingi oleh Kaelen dan Clarissa yang membawa senter taktis berdaya tinggi. Langkah kaki Haena yang menggunakan sepatu formalnya terdengar konstan dan berwibawa, menggema di antara dinding-dinding besi kapal yang panas.
Mereka tiba di depan sebuah pintu baja tebal berlabel "Ruang Interogasi Taktis".
Dengan satu tendangan kuat dari sepatu bot militer Kaelen, kunci pintu baja itu hancur berantakan.
Di dalam ruangan, Tuan Bramasta terkulai lemah di atas kursi besi dengan kondisi kepala tertunduk. Begitu mendengar suara pintu terbuka, pemimpin sindikat asing yang menyanderanya langsung bergerak cepat, menarik sebilah pisau taktis dari pinggangnya dan menempelkannya tepat di leher Tuan Bramasta yang berdarah.
"Mundur! Atau aku akan menggorok leher tua ini sekarang juga!" ancam pria asing itu dengan mata melotot panik, napasnya memburu saat melihat kehadiran Haena dan Kaelen yang memancarkan aura pembunuh yang sangat pekat.
Haena melangkah maju satu tindak, berdiri dengan ketenangan ekstrem yang luar biasa memukau di hadapan moncong ancaman kematian ayah kandungnya. Dari balik kacamata transparannya, sorot matanya begitu suci, dingin, dan tak tersentuh oleh gertakan murahan. Jari telunjuknya mengetuk pelan tahi lalat di bawah dagunya.
"Kamu salah menghitung kapasitas lawanmu, Tuan," ucap Haena, suaranya terdengar sangat jernih dan sarat akan otoritas mutlak yang mampu meruntuhkan nyali siapa pun.
"Kamu mengira pisau di tanganmu adalah alat posisi tawar yang valid. Kamu lupa bahwa sejak lima menit lalu, Clarissa telah mengambil alih sistem hidrolik magnetik dari kursi besi tempat Papa-ku diikat."
"Apa?!" pria asing itu terbelalak.
"Sekarang, Clarissa," perintah Haena datar.
Clarissa menekan satu tombol di gawai tabletnya.
KLIK-BZZZT!
Inti magnetik pada kursi besi Tuan Bramasta mendadak memancarkan gelombang daya tarik berkekuatan tinggi yang langsung menyedot bilah pisau baja di tangan pria asing itu dengan sentakan yang sangat keras hingga pisaunya terlepas dan menempel mati pada sandaran kursi, mematahkan pergelangan tangan sang penculik dengan bunyi klik yang menyakitkan.
"Aaaakh!" pria asing itu menjerit kesakitan, memegangi tangannya yang patah sembari melangkah mundur.
Tanpa membuang waktu satu mikrodetik pun, Kaelen Arkananta melesat maju seperti kilat, menghantamkan popor senjatanya tepat ke rahang pria asing itu hingga dia pingsan tak sadarkan diri di atas lantai besi yang kusam.
Gavin segera masuk dan memotong rantai pengikat Tuan Bramasta. Haena melangkah mendekat, berlutut dengan anggun di hadapan ayah kandungnya, lalu menyeka aliran darah di pelipis Tuan Bramasta menggunakan saputangan sutra putih miliknya dengan kehangatan tersembunyi yang sangat tulus.
Tuan Bramasta membuka matanya yang bengkak perlahan, menatap wajah putri kandung sejatinya dari balik kacamata transparannya. Air mata penyesalan dan rasa bangga yang luar biasa mengalir di pipi pria tua itu.
"Haena... maafkan Papa... kamu... kamu benar-benar putri sejati kebanggaan Dirgantara..."
"Semua sudah selesai, Papa," ucap Haena lembut namun tegas, membantu Tuan Bramasta untuk berdiri dengan tegap.
"Faksi Nyonya Rosalind telah runtuh, dan sindikat asing mereka telah kita bersihkan sampai ke dasar lautan. Takhta Dirgantara Corp telah kembali ke tangan yang sah."
Kaelen Arkananta berdiri di samping Haena, menatap gadis itu dengan seulas senyuman misterius yang sarat akan komitmen aliansi yang kian kental untuk masa depan imperium bisnis mereka yang agung.
(Cliffhanger)
"Dua puluh menit kemudian, saat tim taktis bersiap mengevakuasi Tuan Bramasta kembali ke atas kapal cepat komando, Clarissa yang sedang membersihkan sisa data di komputer utama kapal tangker mendadak menemukan sebuah berkas video terenkripsi otomatis yang baru saja terkirim ke server pusat sebuah konsorsium rahasia yang jauh lebih besar di wilayah Asia Timur. Berkas itu berisi pesan terakhir dari Tuan Agharna sebelum tertangkap, yang mengonfirmasi bahwa identitas Haena sebagai seorang mahasiswi hukum jenius telah menarik perhatian dari "The Seven Elders" tujuh penguasa bayangan ekonomi dunia yang kini secara resmi memasukkan nama Haena Dirgantara ke dalam daftar target eliminasi global mereka untuk triwulan berikutnya."