"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 33
Malam itu hujan turun cukup deras. Rintiknya membasahi kaca jendela rumah Dinda sejak magrib tadi. Suasana rumah terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya.
Semenjak perceraiannya, Dinda sudah kembali menempati rumahnya sendiri.
Kedua orang tuanya pun setuju—karena bagaimanapun, Dinda harus berdamai dengan masa lalu. Termasuk ia harus tinggal dirumahnya dengan Ervin—dulu.
Seperti biasa, ada makhluk kecil yang menemaninya. Raka sudah tidak lagi canggung jika harus mengantar putrinya bertamu ke rumah Dinda.
Dinda sama sekali tak keberatan. Bahkan, kehadiran Glenka justru membuat rumah itu terasa hidup. Seperti saat ini—
Bayi kecil berusia sebelas bulan tersebut sedang duduk di atas karpet ruang tengah sambil memainkan balok warna-warni miliknya. Sesekali terdengar tawanya pecah ketika balok yang ia susun roboh berantakan.
Sedangkan Dinda duduk tak jauh dari sana sambil melipat pakaian.
Tatapannya beberapa kali tertuju pada Glenka dengan senyum kecil yang nyaris tak pernah sadar ia tunjukkan. “Kenapa lucu banget sih kamu...” gumamnya pelan.
“Ta-ta-ta!”
“Iya iya, cerewet.” Dinda berucap gemas.
Dinda terkekeh kecil ketika Glenka mulai merangkak menghampirinya sambil membawa satu balok kecil di tangan mungilnya.
Tanpa sadar, wanita itu mulai terbiasa dengan semua ini. Dengan suara kecil Glenka, dengan rumah yang tak lagi sesunyi dulu. Dan—dengan kehadiran Raka.
Tok tok tok.
Lamunannya buyar ketika suara ketukan pintu terdengar. Jantung Dinda langsung berdetak kecil. Karena entah kenapa, ia selalu tahu siapa yang datang bahkan sebelum membuka pintu.
Dan benar saja. Raka berdiri di depan rumah dengan jaket hitam yang sedikit basah terkena hujan.
“Belum tidur?” tanyanya pelan.
Dinda menggeleng kecil, "Glenka masih main." Wanita itu menunjuk ke arah ruang tengah yang terdengar suara si bayi.
“Sini masuk dulu," Dinda melebarkan pintunya, sebagai isyarat agar Raka memasuki rumahnya.
Pria itu melangkah masuk sambil mengusap rambutnya yang lembap. Sedangkan Glenka, langsung berseru heboh begitu melihat sang ayah datang.
“Daaa!” seru si bayi yang membuat Raka tertawa. Pria itu melepaskan jaket, yang kemudian diambil alih oleh Dinda untuk digantung.
Ah, sikap refleks wanita itu, membuat Raka tertegun sejenak. Sungguh, ia tak pernah mendapati prilaku seperti itu dari mendiang mantan istrinya.
Raka menggelengkan kepala, berusaha menyadarkan pikirannya yang melalang buana. "Anak ayah belum tidur, hm?”
Dengan cepat, pria itu mengangkat tubuh kecil putrinya lalu mengecup pipi gembulnya berkali-kali hingga Glenka tertawa keras.
"Nou... Nou.. Nou..." oceh si bayi disela tawanya. Namun, Raka justru mengangkat tinggi tubuh mungil itu, membuat si bayi semakin heboh.
Dinda diam-diam memperhatikan pemandangan itu. Dan lagi-lagi, hatinya terasa hangat.
Raka selalu terlihat berbeda saat bersama Glenka. Pria itu menjadi jauh lebih lembut. Menjadi pria yang jauh lebih tenang. Seolah seluruh sisi paling rapuh dalam dirinya hanya keluar untuk putri kecilnya.
“Kamu habis dari mana?” tanya Dinda sambil menuangkan teh hangat.
“Meeting," sahut Raka menoleh sebentar.
“Jam segini?” Dinda mengernyit bingung.
“Hm..." Jawaban singkat itu membuat Dinda menoleh. Tatapan Raka tampak lelah malam ini. Sangat lelah. Bahkan ada lingkar samar di bawah matanya yang mulai terlihat jelas.
“Kamu belum istirahat dari kemarin ya?” tanyanya pelan.
Raka tersenyum kecil. “Masih kuat.”
“Kamu manusia apa robot sih?” terselip nada protes dari pertanyaan wanita itu. Sungguh, ada setitik kehangatan yang dirasakan oleh Raka.
Pria itu terkekeh pelan. "It's okey, aman."
Namun beberapa detik kemudian,
senyumnya memudar perlahan. “Din," panggilnya setengah ragu.
“Hm?” Dinda mendekat ke arah pria itu, sembari membawakan secangkir teh hangat di tangannya.
“Aku kemungkinan pergi lebih cepat.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat gerakan tangan Dinda berhenti. Entah kenapa,
dadanya langsung terasa kosong mendengarnya. “Secepat apa?”
“Mungkin dua minggu lagi.”
Sunyi.
Hanya suara hujan dan tawa kecil Glenka yang terdengar memenuhi ruangan. Sedangkan Dinda justru mendadak kehilangan kemampuan untuk bicara.
Dua minggu? Kenapa cepat sekali?
Padahal dirinya baru mulai merasa nyaman lagi setelah semua kehancuran dalam hidupnya. Dan sekarang—orang yang perlahan memperbaiki semua itu justru akan pergi.
“Lama?” tanya Dinda pelan, tanpa menatapnya. Dinda tak ingin hatinya semakin ngilu.
Raka diam cukup lama, lalu mengangguk kecil. “Iya.” Jawaban itu sukses membuat hati Dinda semakin sesak.
*****
Malam semakin larut, sehingga Glenka akhirnya tertidur di kamar tamu setelah cukup lama bermain bersama mereka.
Sedangkan Dinda dan Raka, masih duduk di ruang tengah ditemani hujan yang belum juga reda. Tak banyak percakapan. Namun justru keheningan itu terasa nyaman.
“Aku takut bikin Glenka lupa sama aku." Ucapan Raka tiba-tiba membuat Dinda menoleh.
Pria itu sedang bersandar di sofa sambil menatap langit-langit rumah dengan senyum tipis yang terasa pahit. “Dia masih kecil banget," lanjut pria itu.
Dinda terdiam. Karena dirinya tahu—ketakutan itu nyata. Anak kecil seusia Glenka bisa dengan mudah melupakan banyak hal.
“Dia nggak bakal lupa,” ujar Dinda pelan.
“Kamu yakin?” Raka menoleh ke arahnya.
“Iya.” Jawaban mantap itu, berhasil membuat Raka tersenyum kecil. Ia menatap wanita di sebelahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Kalau kamu?” tanya Raka lagi.
Deg.
Jantung Dinda langsung berdetak aneh. “Apa? Ada apa sama aku?" tanya Dinda dengan jantung yang berdegup kencang.
“Kamu bakal lupa sama aku, nggak?”
Pertanyaan itu terdengar sangat pelan. Namun efeknya justru menghantam dada Dinda begitu keras.
Entah sejak kapan, namun Dinda menyadari, logat lo-gue pria itu, berubah menjadi aku-kamu. Perubahan itu membuat kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Wanita itu langsung menunduk kecil. Menghindari tatapan Raka yang rasanya terlalu dalam malam ini.
“Kenapa nanya begitu?” Dinda bercicit pelan.
“Pengen tahu aja," sahut Raka tenang.
Hening beberapa saat. Sampai akhirnya Dinda menjawab lirih—“Aku aja belum bisa lupa sama luka lama.”
Kalimat itu sukses membuat tatapan Raka berubah sendu. Karena ia tahu—yang dimaksud Dinda adalah Ervin.
Dan anehnya, pria itu tidak cemburu.
Ia justru merasa sakit membayangkan sebesar apa luka yang pernah ditanggung wanita itu sendirian.
“Aku nggak minta kamu lupain siapa pun,” ujar Raka pelan. “Aku cuma... pengen tetep ada di hidup kamu.”
Lagi dan lagi, jantung Dinda terus dibuat kacau malam ini. Dan yang lebih parah—dirinya mulai takut kehilangan pria itu.
*****
Hujan semakin deras, ketika listrik tiba-tiba padam.
“Astaga! Ya Tuhan..." Dinda refleks memekik kecil. Sedangkan Raka langsung tertawa pelan.
“Kamu takut gelap?” tanya pria itu.
“Enggak!” Dinda cepat membantahnya.
“Terus ngapain teriak?” goda si pria.
“Refleks aja," Dinda menyahuti asal.
Sungguh, Dinda sangat malu. Akhirnya, ia beralibi seperti demikian. Pria itu masih tertawa kecil sambil menyalakan flashlight ponselnya.
"Untung di kamar tamu ada lampu emergency. Jadi nggak bakal gelap disana. Aku takut, Glenka kebangun..." Dinda mengalihkan suasannya.
Sementara Raka, pria itu mengangguk.
Cahaya redup langsung memenuhi ruang tengah. Dan entah kenapa—suasana mendadak terasa berbeda.
Lebih dekat, lebih sunyi, lebih hangat.
Dinda yang sejak tadi duduk di karpet, perlahan mencoba berdiri untuk mencari lilin. Namun baru beberapa langkah—
Bruk.
Tubuh wanita itu hampir terjatuh karena tersandung kaki meja.
“Eh—” Dengan cepat Raka menangkap pinggangnya. Dan saat itu juga—semuanya mendadak diam. Sangat diam.
Karena jarak mereka kini terlalu dekat, napas keduanya saling bersentuhan. Sedangkan tangan Raka masih menahan pinggang Dinda erat agar wanita itu tidak jatuh.
Damn, it!
Dinda langsung membeku. Begitu juga Raka. Untuk beberapa detik, tak ada yang bergerak.
Tatapan mereka saling bertemu di tengah cahaya samar flashlight. Dan untuk pertama kalinya—Dinda melihat rasa itu begitu jelas di mata Raka. Rasa yang selama ini pria itu tahan sendirian.
“Aku takut pergi ninggalin kamu,” bisik Raka sangat pelan.
Kalimat itu membuat pertahanan Dinda runtuh sedikit demi sedikit. Karena dirinya pun merasakan hal yang sama.
“Aku juga takut ditinggal lagi...” balasnya lirih.
Dan entah siapa yang lebih dulu bergerak—Raka perlahan mengusap pipi Dinda dengan sangat hati-hati. Seolah wanita itu sesuatu yang rapuh.
Tatapannya turun ke bibir Dinda beberapa detik. Lalu kembali naik menatap matanya.
“Mungkin aku egois,” bisiknya serak. “Tapi aku pengen meluk kamu sekali aja sebelum pergi.”
Deg.
Air mata Dinda langsung menggenang. Namun wanita itu tidak menolak. Sedetik kemudian—Raka menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangat.
Dan anehnya—Dinda langsung merasa aman.