Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dia merasakan aliran energi yang jauh lebih besar dan kuat dari sebelumnya.
"Aku menembus tingkat kultivasi yang baru," teriak Jian kegirangan.
"Aku sekarang berada di tahap akhir pembentukan dasar."
Pemimpin pengejar di luar pintu menelan ludahnya dengan susah payah.
Dia kini menyadari betapa bodohnya dia mencoba mencari masalah di tempat ini.
"Koki itu pasti seorang ahli alkimia tingkat dewa," gumam sang pemimpin gemetar.
"Hanya pil abadi tingkat sembilan yang bisa memberikan efek penyembuhan dan pencerahan instan seperti itu."
"Kakak senior, Jian sekarang lebih kuat dari kita bertiga jika di gabungkan," kata temannya ketakutan.
"Jika dia membalas dendam, kita semua akan mati di sini."
"Ayo kita lari sekarang juga sebelum dia keluar," perintah pemimpin itu panik.
Ketiga pria berseragam putih itu langsung berbalik badan.
Mereka berlari menuruni anak tangga batu gunung dengan kecepatan maksimal seperti dikejar setan.
Jian melihat kepergian mereka dan menghela napas sangat lega.
Dia berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat kepada Reza.
"Tuan Reza, Anda telah memberi saya nyawa kedua hari ini," ucap Jian dengan sangat tulus.
"Saya tidak tahu harus membalas budi sebesar ini dengan cara apa."
"Cukup bayar harga sup ayam ginseng yang kau makan tadi," jawab Reza tersenyum ramah.
"Dan kau bisa pergi dari sini dengan aman sekarang."
Jian merogoh kantong kecil di balik jubah bajunya.
Dia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi satu butir pil berwarna hijau pucat.
"Ini adalah pil pengumpul Qi tingkat rendah yang saya sebutkan tadi," kata Jian meletakkannya di meja.
"Ini satu-satunya barang berharga yang saya bawa saat melarikan diri."
Reza melangkah maju dan mengambil botol kaca kecil tersebut.
Ting.
Suara pemberitahuan Sistem kembali terdengar di dalam kepalanya.
"Pil pengumpul Qi tingkat rendah terdeteksi," lapor Sistem.
"Nilai tukar total adalah seratus lima puluh Poin Sistem dan uang tunai satu juta lima ratus ribu rupiah."
"Konversi sekarang," ucap Reza cepat dalam hatinya.
Botol kaca itu langsung menghilang menjadi kilauan cahaya di genggaman tangan Reza.
Lyra yang melihat keajaiban itu hanya bisa berdecak kagum.
"Bayaran ini sudah cukup, Jian," kata Reza menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kau bebas pergi ke mana pun kau mau."
"Terima kasih banyak, Tuan Reza," ucap Jian membalas anggukan itu.
"Saya akan mencari bukti untuk membersihkan nama saya dan kembali ke sekte suatu hari nanti."
Jian melangkah keluar dari kedai dengan postur tubuh yang sangat tegap.
Pemuda itu berjalan menuruni tangga gunung untuk memulai perjalanan barunya yang lebih kuat.
Reza kembali masuk ke dalam area kerjanya di dapur.
Dia menoleh ke arah Lyra yang masih berdiri kaku di dekat meja makan.
"Bagaimana Lyra, apakah kejadian barusan membuatmu takut?" tanya Reza sambil mencuci tangannya.
"Sedikit Bos, tapi saya merasa sangat aman selama berada di dalam ruangan ini," jawab Lyra jujur.
"Tadi saya melihat Bos sama sekali tidak panik saat pedang itu diayunkan."
"Kau akan terbiasa dengan hal-hal aneh seperti itu jika terus bekerja di sini," balas Reza tersenyum.
"Sekarang tugas sucimu sudah menanti, tolong bersihkan mangkuk kotor di meja itu."
"Siap laksanakan, Bos," jawab Lyra dengan penuh semangat.
Lyra mengambil mangkuk dan panci tanah liat kotor itu menuju wastafel.
Dia mulai mencuci peralatan makan itu dengan hati-hati dan sangat bersih.
Reza mengamati pelayan barunya itu dengan perasaan sangat puas.
Uang poin sistem yang dia keluarkan ternyata sama sekali tidak sia-sia.
Lyra cepat belajar, sopan, dan memiliki keberanian yang cukup baik.
Telinga perinya yang disembunyikan juga terlihat sangat natural seperti gadis biasa.
"Besok pintu kita akan terhubung ke bumi lagi," kata Reza mengingatkan.
"Akan ada puluhan bahkan ratusan pelanggan manusia biasa yang datang kemari."
Lyra menghentikan cuciannya sejenak dan menoleh ke arah Reza.
"Ratusan orang dalam satu hari?" tanya Lyra membelalakkan matanya.
"Apakah mereka semua juga akan bertarung di dalam kedai seperti orang tadi?"
Reza langsung tertawa keras mendengar pertanyaan polos dari pelayannya itu.
"Tidak, orang di duniaku tidak membawa pedang ke tempat makan," jawab Reza menghapus air matanya karena tertawa.
"Mereka hanya pelanggan biasa yang kelaparan, tapi jumlah mereka sangat banyak dan berisik."
"Syukurlah kalau begitu, saya akan melayani mereka dengan kemampuan terbaik saya," ucap Lyra tersenyum lega.
Dia melanjutkan pekerjaannya mencuci piring sambil bernyanyi kecil.
Reza berjalan menuju jendela depan kedai dan melihat ke luar.
Hari di dimensi kultivasi mulai menjelang sore dan langit berubah menjadi jingga.
Pikirannya mulai merencanakan menu baru untuk dijual di Bumi esok hari.
Dia ingin menyajikan makanan yang berbeda dari mi ayam sebelumnya agar pelanggan tidak bosan.
'Mungkin aku akan membuat nasi goreng kambing bumbu rempah,' batin Reza merencanakan.
'Bahan itu mudah dimasak dalam jumlah besar dan aromanya pasti akan sangat kuat menarik orang.'
Waktu berjalan dengan tenang hingga malam tiba.
Sistem memberitahukan bahwa jam operasional untuk hari ini telah berakhir.
Reza menutup pintu utama kedai dan menguncinya rapat.
Dia mengarahkan Lyra ke sebuah kamar kecil di sudut lantai satu yang memang disediakan Sistem untuk karyawan.
"Ini adalah kamarmu Lyra, silakan beristirahat," kata Reza menunjukkan ruangan bersih tersebut.
"Kita harus bangun pagi-pagi sekali besok untuk menyiapkan bahan makanan."
"Terima kasih banyak, Bos Reza," ucap Lyra membungkuk sopan.
"Selamat malam dan selamat beristirahat."
Reza berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Dia merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk dengan perasaan yang sangat ringan.
Adanya Lyra di kedai ini benar-benar mengurangi beban kerjanya secara signifikan.
Dia kini bisa lebih fokus pada proses memasak dan memikirkan inovasi resep baru.
Besok adalah ujian sesungguhnya bagi mereka berdua.
Mereka harus menghadapi gelombang pelanggan Bumi yang sangat masif berkat efek viral video.
Reza memejamkan matanya dan tersenyum dalam tidurnya.
Kehidupannya yang baru ini jauh lebih menantang dan menyenangkan dari yang pernah dia bayangkan.