NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noda Merah di Atas Putih

​Lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula hotel berbintang ini berpijar layaknya ribuan bintang yang jatuh ke bumi. Harum bunga lili putih yang segar memenuhi ruangan, berpadu sempurna dengan alunan musik klasik yang lembut dan menenangkan. Aku, Larasati, berdiri di atas pelaminan dengan gaun putih yang menjuntai indah. Sebagai seorang penulis digital yang biasa merangkai kata-kata tentang akhir yang bahagia, hari ini aku merasa benar-benar hidup di dalam mahakarya romantis yang kutulis sendiri.

​Aku menoleh ke samping, menatap pria yang kini resmi menjadi suamiku. Dimas, dengan setelan tuksedo hitam yang tampak sangat gagah, menggenggam jemariku erat. Tatapannya teduh, penuh ketenangan yang selalu berhasil meluluhkan hatiku. Di hari ini, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Dimas bukan hanya pria cerdas dengan karier hukum yang cemerlang, tapi dia adalah rumah tempatku pulang, imam yang kupilih untuk menjaga seluruh hidup dan masa depanku.

​Aku benar-benar menikmati setiap detik pernikahan mewah ini. Semuanya sempurna, persis seperti imajinasi terindahku. Aku membiarkan diriku larut dalam rasa percaya yang luar biasa pada pria di sampingku. Bagiku, menyerahkan seluruh hidupku padanya adalah bentuk pengabdian paling suci. Aku tersenyum pada setiap tamu yang datang, menyalami mereka dengan hati yang berbunga-bunga. Aku merasa duniaku telah lengkap, tanpa menyadari bahwa bayangan hitam mulai bergerak mendekat di antara kerumunan tamu.

​Kebahagiaan yang hampir sempurna itu tiba-tiba terusik. Di antara barisan tamu yang mengantre untuk bersalaman, ada seorang wanita yang penampilannya sangat mencolok. Ia mengenakan gaun merah merona yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh dengan cara yang tidak pantas untuk sebuah pesta pernikahan yang kental dengan nuansa Islami. Merah yang menyala itu seolah menantang dekorasi serba putih yang melambangkan kesucian di ruangan ini.

​Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat wajahnya. Sebagai pengantin yang terlibat langsung dalam penyusunan undangan, aku yakin betul wajah wanita ini sangat asing. Namanya pun tidak ada dalam daftar buku tamu yang sempat kupantau tadi. Dia berdiri di depan kami dengan dagu terangkat, tampak begitu percaya diri meski kehadirannya tak diundang. Gaya berjalannya yang berlebihan menarik perhatian beberapa tamu lain yang mulai berbisik-bisik.

​"Selamat ya, Dimas. Akhirnya... kamu sah juga," suara wanita itu terdengar serak dan dibuat-buat manja saat dia sampai di depan kami.

​Wanita itu sama sekali tidak menatapku. Matanya hanya tertuju pada Dimas dengan binar yang aneh. Aku menyadari ada perubahan tipis pada raut wajah Dimas selama satu detik. Tatapannya yang tadi sangat teduh padaku, mendadak berubah sedikit tegang, meski ia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia tersenyum sangat tipis—senyum profesional yang biasa ia gunakan saat menghadapi klien penting. Namun, karena aku terlalu bahagia, aku menganggap itu hanya rasa lelah karena harus berdiri menyalami ratusan orang.

​"Terima kasih sudah datang, Maya," jawab Dimas singkat. Suaranya terdengar datar, seolah mencoba menahan sesuatu agar tidak meledak di depan umum.

​"Maaf, Anda siapa ya?" tanyaku sesopan mungkin. Aku mencoba tetap menjaga martabatku sebagai pengantin, meski gaya wanita ini mulai membuatku tidak nyaman.

​Wanita itu perlahan menoleh padaku. Ia tersenyum sinis, menatapku dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan meremehkan. "Aku Maya. Teman... sangat dekat Dimas," ucapnya sambil sengaja menekankan kata 'sangat dekat' sambil memainkan rambutnya dengan gaya genit yang sangat provokatif.

​Aku menoleh ke arah Dimas, menuntut penjelasan dalam diam. Dimas langsung merespons dengan cepat, suaranya terdengar sangat meyakinkan tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

​"Oh, ini Maya, Laras. Dia teman lama saya, teman satu kampus saat kuliah hukum dulu. Mungkin aku lupa menceritakannya padamu karena kami sudah sangat lama tidak berkomunikasi," ujar Dimas sambil mengusap punggung tanganku, mencoba menenangkan kegelisahanku.

​"Oh, teman kuliah? Tapi sepertinya namamu tidak ada di buku tamu, Maya," ucapku lagi, mencoba menyelidik karena merasa ada yang tidak beres.

​Maya justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat genit dan dibuat-buat. "Aduhh, mungkin panitiamu yang kurang teliti, Sayang. Dimas kan tidak mungkin melupakan teman sepertiku, iya kan, Mas?"

​Gaya bicaranya yang memanggil suamiku dengan sebutan 'Mas' dan gerakan tubuhnya yang seolah ingin bersandar pada bahu Dimas membuat dadaku terasa sesak karena kesal. Sebagai seorang wanita, instingku mengatakan ada sesuatu yang salah. Namun, sebelum aku sempat membalas, wanita itu tiba-tiba bergerak dengan gerakan yang sangat canggung, seolah ia kehilangan keseimbangan secara dramatis di depan kami.

​Gelas berisi jus stroberi pekat di tangannya miring secara sengaja, dan dalam sekejap, cairan merah pekat itu tumpah tepat di atas dada gaun pengantinku yang putih bersih.

​"Oh! Ya ampun! I'm so sorry! Aku benar-benar tidak sengaja!" Maya menutup mulutnya dengan telapak tangan, berpura-pura terkejut. Namun, di balik tangannya itu, aku bisa melihat kilatan kepuasan di matanya yang tajam.

​Hatiku mencelos. Noda merah itu melebar dengan cepat, meresap ke dalam kain brokat mahal gaunku. Warnanya tampak seperti luka menganga yang mengotori kesucian warna putih yang kukenakan. Rasanya sakit sekali melihat gaun impianku dirusak begitu saja oleh wanita asing yang tidak tahu aturan ini di depan ratusan pasang mata tamu undangan. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

​"Bagaimana ini..." suaraku bergetar, menahan tangis karena rasa malu yang luar biasa.

​Namun, sebelum amarahku meledak atau tangisku pecah, tangan hangat Dimas segera merangkul bahuku dengan sangat protektif. Ia berdiri sedikit di depanku, seolah ingin menghalangi pandangan orang-orang dari noda merah yang memalukan itu.

​"Sudahlah, Laras. Jangan marah, ya? Ini hari bahagia kita, Sayang. Hanya noda kecil, nanti bisa segera dibersihkan setelah acara selesai," ucap Dimas dengan suara baritonnya yang begitu menenangkan. Ia menatapku dengan mata yang penuh kasih, seolah meyakinkanku bahwa dunia akan baik-baik saja selama dia ada di sisiku.

​Dimas mengambil sapu tangan dari sakunya dan mulai mengusap noda di gaunku dengan sangat lembut dan hati-hati. Gerakannya begitu telaten, seolah ia sedang merawat sesuatu yang sangat rapuh. "Jangan biarkan hal kecil merusak senyummu di hari pernikahan kita. Aku di sini. Aku akan selalu menjagamu dari apa pun yang mencoba mengusikmu."

​Aku menatap mata Dimas yang begitu teduh. Seketika, rasa sesak di dadaku luruh. Aku menghela napas panjang dan mencoba tersenyum kembali. Aku merasa sangat beruntung memilih Dimas sebagai imamku; pria yang selalu bisa menjadi penenang di saat hatiku sedang kacau sekalipun. Bahkan di saat ada 'teman lama' yang bersikap menyebalkan seperti Maya, Dimas tetap memihakku dan melindungiku.

​Maya hanya mencibir tipis melihat kemesraan kami, lalu ia melangkah turun dari pelaminan dengan gaya angkuh yang provokatif. Aku mencoba melupakannya dan kembali fokus pada kebahagiaanku bersama Dimas. Aku merasa aman, merasa dicintai, dan merasa bahwa pernikahan ini akan menjadi awal dari surga dunia bagiku.

​Aku terus menggenggam tangan Dimas dengan erat sepanjang acara. Namun, di balik senyumku yang kembali mengembang, ada sebuah perasaan asing yang tertinggal di dasar hatiku. Hawa dingin yang sempat merayapi tengkukku saat Maya datang tadi tidak benar-benar hilang.

​Aku tidak menyadari bahwa noda merah di gaunku adalah sebuah pertanda buruk yang nyata. Aku tidak tahu bahwa Dimas menyembunyikan sebuah rahasia yang akan membuat noda di gaunku ini terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan noda yang akan ia torehkan dalam hidupku. Aku hanya terus berjalan menuju masa depan bersamanya, tanpa tahu bahwa aku sedang melangkah masuk ke dalam sebuah sandiwara besar yang sudah dirancang untuk menghancurkanku hingga tak bersisa.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!