NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertama Kali Relia Panggil ‘Mama

Hari ke-422.

Seminggu sejak Relia panggil “Papa”.

Sejak itu, tiap bangun tidur, tiap gendong, tiap mau tidur, Relia selalu _“pa pa”_.

Matthias senyum-senyum sendiri kayak orang gila.

Evelyn pura-pura nggak cemburu.

Padahal dalem hati: _“Kapan gue dipanggil?”_

Pagi itu Evelyn sengaja duduk di lantai, hadep-hadepan sama Relia.

Dia pegang mainan berisik.

“Relia, lihat Mama. Mama... Mama...”

Relia liat mainannya.

Ketawa.

Terus _“pa pa”_ lagi.

Evelyn ngelus dada.

“Ya Allah. Gue yang lahirin lo, tapi lo manggil bapak lo mulu.”

Matthias lewat sambil bawa kopi.

Dia denger, langsung senyum.

“Kalah telak ya, Bu.”

Evelyn lempar bantal kecil.

Matthias nangkis, terus duduk di samping Relia.

“Relia, panggil Mama dong. Biar adil.”

Relia cuma ngeces.

Terus merangkak ke pangkuan Matthias.

_“Pa pa”_ lagi.

Evelyn pura-pura ngambek.

“Yaudah. Gue ke dapur aja.”

---

Siangnya, Relia rewel karena gigi bawah mau tumbuh.

Nangis. Ngeces. Rewel banget.

Evelyn gendong kesana-kemari.

Nyanyi, gendong berdiri, ayun pelan.

Nggak mempan.

Matthias ambil alih.

Dia duduk di kursi goyang, gendong Relia, tepuk punggungnya.

Nggak nyanyi. Nggak ngomong.

Cuma diem, sambil jalan pelan.

5 menit kemudian Relia diem.

Terus ngeliat muka Evelyn yang capek duduk di lantai.

Matanya berair.

Evelyn pelan-pelan deketin muka ke Relia.

“Relia... Mama capek. Mama sayang kamu.”

Relia liat dia.

Diem.

Terus bibirnya gerak.

_“Ma... ma...”_

Pelan. Cadel.

Tapi jelas.

Evelyn langsung diem.

Air matanya jatuh.

“Mat... Mat... dia manggil gue.”

Matthias langsung nunduk.

Bener.

Relia ngeliat Evelyn, terus _“ma ma”_ lagi.

Matthias nggak ngomong apa-apa.

Dia cuma nyodorin Relia ke Evelyn.

Evelyn gendong.

Peluk erat.

Nangis di bahu Relia.

“Akhirnya... anak Mama panggil Mama juga.”

---

Matthias duduk di lantai, ngeliatin mereka.

Dia nggak cemburu.

Dia lega.

“Gue seneng lo akhirnya dipanggil juga,” bisiknya pelan.

Evelyn ngelap air mata.

“Gue kira lo bakal sebel.”

Matthias geleng.

“Nggak. Gue seneng. Karena itu berarti lo udah bener-bener jadi rumah buat dia.”

Relia di tengah mereka, ketawa.

Ngeces.

Kayak bilang, “Gue sayang kalian berdua.”

---

Sore harinya, Evelyn video call Nyonya Alina.

“Ma, Relia udah bisa panggil Mama!”

Nyonya Alina langsung nangis.

“Alhamdulillah... coba suruh panggil lagi.”

Evelyn deketin Relia ke kamera.

“Relia, panggil Nenek dong.”

Relia liat layar, mikir 2 detik.

Terus _“ma ma”_ lagi.

Mereka semua ketawa.

Om Dimas dari belakang:

“Udah Al, terima aja. Dia tim Mama sekarang.”

Matthias dari dapur teriak:

“Nggak! Dia tim kita!”

---

Malam itu, Relia tidur lebih cepat.

Kayak capek ngomong seharian.

Evelyn dan Matthias duduk di lantai kamar bayi, nyender ke kasur.

Relia tidur di box di tengah mereka.

“Gimana rasanya dipanggil Mama?” tanya Matthias pelan.

Evelyn mikir.

“Rasanya... kayak semua sakit waktu hamil, waktu melahirkan, waktu nggak tidur, itu dibayar lunas.

Cuma dengan dua suku kata.”

Matthias pegang tangannya.

“Gue ngerti. Gue juga ngerasain gitu waktu dipanggil Papa.”

Mereka diem.

Dengerin suara Relia napas pelan.

---

Hari ke-425.

Kontrol perkembangan.

Dokter bilang Relia pinter banget.

“Usia 4 bulan udah bisa respon suara, ketawa, dan ngomong ‘mama papa’.

Bagus. Terus stimulasi ya, Bu, Pak.”

Di mobil pulang, Evelyn ngeliat Matthias.

“Gue menang ya. Dia panggil Mama sekarang.”

Matthias ketawa.

“Nggaak. Kita seri. Dia panggil kita berdua.”

Evelyn senyum.

“Oke. Seri. Tapi gue tetep bangga.”

Matthias genggam tangannya.

“Gue juga bangga sama lo. Jadi mama yang hebat.”

---

Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di diarynya:

_“Hari ini anak gue ngomong ‘Mama’.

Nggak sejelas ‘Papa’.

Tapi buat gue, itu paling jelas sedunia.

Karena 3 tahun lalu, gue kira gue nggak akan pernah denger kata itu dari dia.”_

Dia tutup buku.

Matiin lampu.

Tidur di pelukan Matthias.

Relia di box, gerak dikit.

Terus bisik pelan dalam mimpi:

_“ma... ma... pa... pa...”_

Evelyn dan Matthias denger.

Mereka saling liat.

Terus senyum.

Di luar, dunia masih ribut.

Tapi di dalam kamar itu, semuanya lengkap.

---

Bersambung –

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!