Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN TAK DIINGINKAN
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Hujan deras mengguyur kota Roma, menciptakan suara bising yang memenuhi udara, seolah-olah langit sedang menangis bersamanya. Di dalam mobil mewah berwarna hitam legam yang melaju membelah jalanan kota yang basah, Elara Sterling duduk diam dengan tatapan kosong menatap keluar jendela. Pemandangan kota yang indah dan bersejarah itu kini terlihat kabur dan suram baginya, sama seperti masa depan yang menantinya.
Di sampingnya, ayahnya, Marcus Sterling, duduk dengan wajah tegang namun berusaha terlihat tenang. Sebagai pemimpin kelompok bisnis yang memiliki kaitan erat dengan dunia bawah tanah, posisinya sedang berada di ujung tanduk. Hutang yang menumpuk dan persaingan bisnis yang semakin ketat membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan putri satu-satunya kepada orang yang paling ia takuti sekaligus dihormati yaitu Dante Valtieri.
"Elara, sayangku," ucap Marcus memecah keheningan, suaranya terdengar lembut namun sarat beban. "Ayah tahu ini berat bagimu. Tapi percayalah, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua. Keluarga kita, nama baik kita, semuanya ada di tanganmu sekarang."
Elara memalingkan wajah, menatap tajam ke arah ayahnya. Matanya yang biru cerah memancarkan rasa marah, kecewa, dan juga sedih. "Menyelamatkan kita semua dengan cara menjual ku, Ayah? Apakah aku hanya barang dagangan yang bisa kau tukar untuk menyelesaikan masalahmu?"
Wajah Marcus memerah menahan amarah, namun ia segera menundukkan kepalanya. "Kau tidak mengerti, Elara. Dunia tempat kita hidup ini tidak seindah yang kau bayangkan. Dante Valtieri adalah orang yang memiliki kekuasaan besar. Menolak tawarannya sama saja dengan mengundang kematian bagi kita semua."
"Jadi aku harus membayarnya dengan mengorbankan seluruh hidupku? Menikahi orang yang bahkan tidak aku kenal, orang yang dikenal sebagai monster yang tidak punya hati?" suara Elara meninggi, meskipun ia berusaha menahannya.
"Jangan bicara seperti itu tentang Dante," tegur Marcus dengan nada peringatan. "Dia memang orang yang tegas dan tidak segan bertindak kasar jika perlu, tapi dia juga orang yang berpegang teguh pada janji. Selama kau menjadi istrinya, kau akan aman. Dan begitu juga dengan keluarga kita."
Elara kembali terdiam. Ia tahu bahwa ayahnya tidak berbohong. Ia sudah sering mendengar cerita tentang Dante Valtieri. Pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa yang dijuluki "Tangan Besi". Namanya sudah cukup membuat orang gemetar ketakutan. Dikatakan bahwa tidak ada satu pun orang yang berani melawan keinginannya dan lolos dari hukuman. Bagi dunia luar, Dante adalah iblis yang berwujud manusia. Dan sekarang, Elara harus menikahi iblis itu.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan melambat dan akhirnya berhenti di depan sebuah gedung mewah berarsitektur klasik yang megah namun terlihat dingin dan angker. Itu adalah kediaman utama keluarga Valtieri yang sekaligus menjadi pusat operasi organisasi mereka. Gedung itu berdiri megah di tengah kota, seolah menjadi simbol kekuasaan Dante yang tidak terbantahkan.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berbadan tegap berpakaian seragam hitam membungkuk hormat kepada Marcus dan Elara. "Selamat datang, Tuan Sterling, Nona Sterling. Tuan Valtieri sudah menunggu di dalam," ucapnya dengan nada datar tanpa ekspresi.
Elara turun dari mobil dengan kaki gemetar. Hujan masih turun deras, namun seorang pelayan segera membuka payung besar untuk meneduhinya. Ia menatap gedung itu dengan perasaan takut dan tidak nyaman. Rasanya seperti masuk ke dalam kandang singa, dan ia adalah mangsa yang sudah siap untuk disantap.
Mereka berjalan melewati lorong yang panjang dan mewah namun hening. Tidak ada suara orang berbicara atau tawa riang, yang ada hanya keheningan yang menekan dan tatapan mata orang-orang yang berjalan lalu lalang dengan wajah dingin. Semua orang yang berada di sana tampak memiliki kewaspadaan tinggi, seolah-olah bahaya bisa datang kapan saja dari mana saja.
Sesampainya di ruang tamu utama yang luas, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya yang tampak rapi dan sopan. "Silakan duduk, Tuan Sterling, Nona Sterling. Tuan Valtieri akan segera menemui kalian," ucapnya, lalu pergi meninggalkan mereka.
Elara duduk di ujung sofa yang empuk namun keras rasanya di perasaannya. Ia meremas tangannya erat-erat untuk menahan rasa gugup yang luar biasa. Ia bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya Dante Valtieri itu? Apakah dia benar-benar setan yang digambarkan orang-orang?
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Semua orang yang berada di ruangan itu segera menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat. Marcus juga segera berdiri tegak dan membenarkan posisi duduknya. Elara pun berdiri perlahan, menatap ke arah tangga dengan napas tertahan.
Di ujung tangga, sosok pria jangkung dengan wajah tajam dan dingin berdiri tegak menatap ke bawah. Ia mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, menonjolkan otot-ototnya yang kuat namun terlihat anggun. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahinya yang lebar dan rahangnya yang tegas. Namun yang paling menakutkan adalah matanya. Mata berwarna hijau gelap yang tajam seperti elang, seolah bisa menembus ke dalam jiwa orang yang dilihatnya. Dia adalah Dante Valtieri.
Perlahan namun pasti, Dante berjalan menuruni tangga dengan langkah yang tenang namun berwibawa. Setiap langkahnya seolah membawa aura yang menekan, membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.
Sesampainya di bawah, Dante berhenti tepat di depan Elara dan ayahnya. Ia menatap Marcus sekilas dengan pandangan yang datar dan dingin, lalu mengalihkan pandangannya kepada Elara.
Mata mereka bertemu. Elara merasakan tubuhnya kaku seketika. Ia merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor predator yang sedang mengintai mangsanya. Tatapan mata Dante itu dingin, tajam, dan sama sekali tidak memiliki perasaan.
"Selamat datang," ucap Dante dengan suara yang dalam dan berat, namun tidak terdengar ramah sedikit pun. "Aku kira kalian tidak akan datang tepat waktu."
Marcus tersenyum kaku. "Tentu saja kami datang, Dante. Kami tahu betapa pentingnya janji ini bagimu."
Dante tidak menjawabnya. Ia masih menatap Elara dengan pandangan yang mengintimidasi. "Jadi, kau Elara Sterling. Calon istriku," ucapnya perlahan, nadanya terdengar setengah bertanya setengah menyatakan fakta.
Elara menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab. "Ya. Aku Elara. Tapi aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini," ucapnya berani, meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar.
Ruangan itu menjadi hening seketika. Marcus menatap Elara dengan wajah panik, takut jika perkataan putrinya itu akan membuat Dante marah. Namun Dante malah tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya dan malah membuatnya terlihat semakin mengerikan.
"Begitukah?" jawab Dante pelan. "Tapi masalahnya, keinginanmu tidaklah penting di sini. Mulai hari ini, kau akan menjadi istriku, dan kau harus mematuhi semua aturan di rumah ini serta semua perintahku. Tidak ada penolakan. Tidak ada bantahan. Apakah kau mengerti?"
Suaranya yang dingin dan tegas itu membuat tulang punggung Elara merinding. Ia sadar bahwa apa yang dikatakan Dante itu bukanlah ancaman kosong. Ia benar-benar serius. Dan mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dante berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar ruangan itu. "Persiapkan semuanya. Pernikahan akan diadakan lusa. Dan pastikan dia tahu apa saja aturannya," ucapnya kepada bawahannya tanpa menoleh ke belakang lagi, lalu menghilang di balik pintu.
Elara terdiam kaku di tempatnya. Ia menyadari bahwa perjuangannya baru saja dimulai, dan ia harus menghadapi dunia yang gelap dan berbahaya ini bersama pria yang kejam dan dingin itu. Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan Dante menguasai dirinya sepenuhnya. Apa pun yang terjadi, ia akan tetap menjadi dirinya sendiri dan berusaha bertahan hidup di tengah dunia yang kejam ini.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^