Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. penangkapan Vane
Sidang parlemen masih bergemuruh dengan bisik-bisik ketakutan ketika pintu besar di ujung aula terbuka kembali. Kali ini, tidak ada tahanan yang diseret masuk. Yang masuk adalah pasukan elit Kaelia.
Mereka bergerak dengan sinkronisasi sempurna, sepatu bot besi mereka menghentak lantai marmer dengan irama yang mengintimidasi. Di tengah barisan itu, berjalan dua penjaga tinggi besar yang mengapit seorang wanita.
Menteri Vane.
Dia tidak lagi mengenakan jubah kebesaran mewahnya yang bersulam benang emas. Dia mengenakan gaun tidur sutra sederhana yang tampak kusut, rambutnya yang biasanya ditata rapi kini terurai kacau, dan kakinya telanjang—sepatu hak tingginya tertinggal di somewhere di kediamannya saat penyergapan fajar tadi.
Wajahnya, yang biasanya memancarkan arogansi dan kekuasaan mutlak, kini pucat pasi seperti kertas tua. Matanya lebar, berkedip-kedip dalam keadaan syok, seolah otaknya menolak memproses realitas bahwa dia, Menteri Vane, sedang digiring seperti kriminal biasa di hadapan seluruh dewan bangsawan.
Keheningan total menyelimuti aula. Bahkan napas para bangsawan tertahan.
Vane mencoba mempertahankan sisa-sisa martabatnya. Dia menarik lengannya dari genggaman penjaga, meski tenaganya lemah.
"Lepaskan aku!" teriaknya, suaranya pecah dan melengking, kehilangan segala wibawa. "Aku adalah Menteri Keuangan! Aku memiliki kekebalan diplomatik! Kalian tidak bisa menyentuhku tanpa izin Dewan!"
Kaelia, yang berjalan di sampingnya dengan tangan di gagang pedangnya, tidak bahkan menoleh. Wajahnya datar, dingin, dan tak tersentuh oleh drama Vane.
"Kekebalanmu dicabut pagi ini oleh dekrit Ratu," kata Kaelia singkat. "Dan Dewan sudah melihat buktinya. Diamlah."
Vane menatap ke arah takhta, mencari Floren. Matanya penuh dengan kebencian murni.
"Floren!" geramnya. "Kau pikir ini kemenangan? Kau pikir dengan menjatuhkanku, kau akan aman? Bangsawan-bangsawan ini..." dia menunjuk ke arah para lord dan lady yang duduk kaku, "...mereka akan memakanmu hidup-hidup! Aku hanya puncak gunung es! Jika aku jatuh, seluruh struktur ini akan runtuh!"
Floren tetap duduk tenang. Dia tidak menjawab teriakan histeris itu. Dia hanya mengangkat satu tangan, memberi isyarat halus pada Kaelia.
"Bawa dia ke sel bawah tanah," perintah Floren. Suaranya tenang, kontras dengan kekacauan yang dibuat Vane. "Pastikan dia diisolasi total. Tidak ada pengunjung. Tidak ada surat. Tidak ada komunikasi sihir."
"Tidak! Kalian tidak bisa!" Vane meronta, mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman penjaga terlalu kuat. Kakinya terseret di lantai marmer saat dia dipaksa berjalan menuju pintu keluar. Gaun sutranya tersangkut, robek sedikit, simbol terakhir dari kemewahannya yang ternoda.
Saat Vane diseret melewati lorong tengah aula, pandangannya bertemu dengan Julian yang berdiri di sisi takhta.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Vane menatap putranya dengan tatapan yang kompleks—benci, kecewa, tapi juga ada kilatan rasa sakit yang mendalam. Dia mengharapkan Julian untuk melakukan sesuatu. Untuk membela ibunya. Untuk menunjukkan bahwa darah lebih kental daripada air.
Tapi Julian hanya berdiri diam. Wajahnya sedih, namun teguh. Dia tidak menunduk. Dia tidak memalingkan muka. Dia menerima tatapan itu, mengakui keberadaan ibunya, namun menolak untuk menyelamatkan kejahatannya.
Vane mendesis, air mata akhirnya mengalir di pipinya yang pucat. "Pengkhianat," bisiknya, cukup keras untuk didengar Julian. "Kau akan menyesal."
Lalu, dia hilang di balik pintu besar. Suara berat pintu yang tertutup mengakhiri drama itu.
Hening selama beberapa detik.
Kemudian, dari luar istana, terdengar suara. Awalnya samar, seperti dengungan lebah jauh. Lalu semakin keras. Semakin lantang.
Sorak-sorai.
Ribuan suara rakyat Mobelle bergema menembus dinding batu istana yang tebal. Mereka telah mendengar kabar penangkapan Vane. Mereka tahu apa artinya.
Floren berdiri dan berjalan menuju jendela balkon besar yang menghadap alun-alun utama. Julian dan Kaelia mengikutinya.
Di bawah sana, lautan manusia berkumpul. Bukan kerusuhan. Bukan amukan. Tapi perayaan. Orang-orang mengibarkan bendera Mobelle. Beberapa memegang spanduk bertuliskan "KEADILAN" dan "TERIMA KASIH RATU". Ada yang menangis haru, ada yang saling berpelukan.
Suara sorak-sorai itu naik menjadi gemuruh yang mengguncang kaca jendela.
"Mereka bersorak," gumam Kaelia, sedikit terkejut. "Biasanya, penangkapan bangsawan tinggi menyebabkan ketidakstabilan. Kerusuhan. Tapi ini... mereka bahagia."
Julian menatap kerumunan dari atas. Dia melihat wajah-wajah lelah yang kini tersenyum. Dia melihat ibu-ibu yang menggendong anak-anak mereka, menunjuk ke arah istana dengan harapan.
"Karena mereka tahu," kata Julian pelan, "bahwa hari ini, aturan mainnya berubah. Bahwa tidak ada lagi yang kebal hukum. Bahwa korupsi bukan lagi rahasia kotor di balik pintu tertutup, tapi kejahatan yang dihukum."
Floren meletakkan tangannya di atas batu pembatas balkon. Angin kencang menerpa jubahnya, menerbangkan helai-helai rambutnya.
"Vane benar tentang satu hal," kata Floren, suaranya terbawa angin. "Dia hanyalah puncak gunung es. Bangsawan lain masih ada. Mereka masih kaya. Masih punya pengaruh. Dan mereka sekarang takut. Rasa takut bisa membuat mereka ceroboh... atau bisa membuat mereka bersatu melawan kita."
"Biarkan mereka takut," kata Kaelia, tersenyum tipis. "Rasa takut adalah alat kontrol yang efektif. Selama mereka takut pada Anda, mereka akan patuh."
"Tidak," koreksi Floren tegas. Dia menoleh pada Kaelia dan Julian. "Kita tidak ingin mereka patuh karena takut. Kita ingin mereka patuh karena hormat. Karena mereka tahu sistem ini adil. Penangkapan Vane adalah pesan. Tapi konsistensi kita dalam menjalankan hukum adalah buktinya."
Julian menatap Floren. Dia melihat beban di pundak Ratu itu. Beban untuk membuktikan bahwa reformasi ini bukan sekadar ganti penguasa, tapi ganti sistem.
"Apa langkah selanjutnya, Yang Mulia?" tanya Julian.
Floren menatap kembali ke kerumunan yang terus bersorak. Sorak-sorai itu adalah musik kemenangan, tapi juga pengingat akan tanggung jawab yang berat.
"Langkah selanjutnya," kata Floren, "adalah memastikan bahwa uang yang dikorupsi Vane dikembalikan ke rakyat. Bangun sekolah-sekolah baru. Perbaiki rumah sakit. Beri mereka roti, bukan hanya keadilan abstrak. Buktikan bahwa hidup mereka lebih baik tanpa Vane."
Dia berbalik dari jendela, wajahnya kembali serius.
"Kaelia, awasi pergerakan bangsawan lainnya. Jika ada yang mencoba kabur atau menyembunyikan aset, tangkap. Julian, kembali ke sekolahmu. Ajari anak-anak itu. Mereka adalah masa depan yang akan menggantikan generasi korup ini. Pastikan mereka tumbuh menjadi orang yang integritasnya lebih kuat daripada ambisi mereka."
Julian membungkuk hormat. "Siap, Yang Mulia."
Saat mereka meninggalkan ruang balkon, suara sorak-sorai rakyat masih bergema, menjadi soundtrack bagi berakhirnya satu era dan dimulainya era baru. Era di mana nama Vane bukan lagi simbol kekuasaan, tapi peringatan.
Di dalam sel bawah tanah yang dingin dan gelap, Vane duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Dia mendengar sorak-sorai itu, samar-samar, melalui ventilasi udara. Bagi telinganya, itu bukan suara kebebasan. Itu adalah suara kehancurannya.
Dia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa benar-benar sendirian.
Bahkan putranya sendiri, lebih mengutamakan wanita yang dia cintai daripada ibunya sendiri.