NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Satu Ranjang

Arkana masih memegang pinggang Kemuning saat tubuh gadis itu hampir jatuh. Telapak tangan besar pria itu terasa hangat di balik kain tipis kemeja putih yang dipakai Kemuning.

Napas mereka bertabrakan pelan dalam jarak yang terlalu dekat untuk dianggap biasa. Dan jantung Kemuning berdetak begitu keras sampai telinganya ikut panas.

Kemuning refleks mencengkeram lengan Arkana karena panik kehilangan keseimbangan. Tubuhnya langsung menegang saat menyadari seberapa dekat posisi mereka sekarang.

Aroma parfum maskulin bercampur aroma sabun dari tubuh Arkana membuat pikirannya kosong. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas normal.

Tatapan Arkana turun perlahan ke wajah Kemuning yang memerah.

Mata gadis itu terlihat membesar gugup seperti rusa kecil yang terjebak. Bibir mungilnya sedikit terbuka karena syok. Dan entah kenapa, Arkana sulit mengalihkan pandangan.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hanya ada keheningan aneh yang membuat suasana kamar terasa makin sempit. Kemuning bisa mendengar detak jantungnya sendiri dengan jelas. Sementara tangan Arkana masih berada di pinggangnya.

Arkana akhirnya tersadar lebih dulu. Pria itu perlahan melepaskan pegangannya tanpa bicara. Namun sebelum benar-benar menjauh, mata mereka kembali bertemu terlalu lama. Ada sesuatu yang nyaris terjadi di antara tatapan itu.

“Kalau gugup seperti itu terus, kau akan sering jatuh.” Suara Arkana terdengar rendah dan datar seperti biasa.

Tetapi justru nada tenang itu membuat pipi Kemuning makin panas. Ia buru-buru menunduk sambil mundur pelan. “Ma-maaf... Aku tidak sengaja...” Kemuning menggigit bibir sambil meremas ujung kemeja kebesaran itu gugup.

Ia bahkan terlalu malu untuk mengangkat wajah.

Arkana berjalan menjauh menuju sofa dekat jendela besar. Pria itu membuka laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa. Namun sesekali matanya diam-diam melirik ke arah Kemuning dan itu membuat Kemuning semakin salah tingkah.

Gadis itu berdiri kikuk di dekat ranjang besar sambil memeluk dirinya sendiri. Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Tidur di kamar pria asing saja sudah membuatnya hampir mati gugup. Apalagi pria itu adalah Arkana Mahendra.

Kemuning terus sadar bahwa dirinya memakai kemeja milik Arkana. Aroma pria itu masih menempel samar di kain putih yang membungkus tubuhnya. Setiap kali bergerak sedikit, jantungnya langsung berdebar aneh. Ia membenci reaksinya sendiri.

Sementara itu, Arkana mencoba fokus pada layar laptop di depannya. Namun pikirannya terus terganggu oleh keberadaan Kemuning di kamar tersebut. Aroma sabun dari tubuh gadis itu terlalu lembut dan menenangkan. Dan wajah polosnya terus muncul di kepala Arkana tanpa izin.

Pria itu menghela napas pelan sambil mengusap tengkuknya kesal. Ia pasti hanya lelah karena pekerjaan dan drama ayahnya malam ini. Tidak mungkin dirinya tertarik pada gadis desa yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.

Arkana mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Kemuning akhirnya duduk perlahan di ujung ranjang.

Tangannya memeluk kedua lutut sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Keheningan malam justru membuat pikirannya semakin kacau.

Bayangan Agam kembali memenuhi dadanya.

Apakah adiknya sudah tidur?

Apakah Miranti memberi makan Agam malam ini?

Atau bocah itu menangis sendirian mencari dirinya?

Pikiran itu membuat mata Kemuning mulai panas lagi. Ia buru-buru menutup mulut saat isakan kecil lolos tanpa sengaja. Kemuning tidak ingin Arkana melihat dirinya menangis. Namun semakin ditahan, rasa sesak di dadanya justru makin menyakitkan.

Bahu kecilnya mulai bergetar pelan.

Arkana menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Tatapannya perlahan beralih ke arah ranjang. Kemuning duduk membelakanginya sambil memeluk lutut seperti anak kecil tersesat. Dan suara tangisan pelan itu anehnya mengganggu ketenangan Arkana.

“Aku cuma punya Agam...” Suara Kemuning lirih dan pecah oleh tangis. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa sadar. Namun cukup membuat Arkana terdiam cukup lama.

Pria itu memperhatikan punggung kecil Kemuning dalam diam. Gadis itu tampak begitu rapuh sampai terlihat bisa hancur kapan saja.

Arkana tidak menyukai perasaan aneh yang muncul di dadanya sekarang. Perasaan ingin menghentikan tangisan itu secepat mungkin.

“Berhenti menangis.” Suara Arkana akhirnya terdengar rendah dari sofa.

Kemuning buru-buru mengusap air matanya panik. “Maaf...” bisiknya malu.

“Tidur.” Nada Arkana tetap dingin dan singkat. Namun entah kenapa, kalimat itu justru terdengar seperti perhatian samar.

Kemuning mengangguk kecil sambil menahan sesak di dada. Ia akhirnya berbaring di sisi ranjang paling pinggir. Tubuhnya menegang kaku sambil memeluk bantal erat-erat. Padahal ranjang itu sangat besar, tetapi keberadaan Arkana membuat ruang terasa sempit.

Kemuning sama sekali tidak bisa tenang. Lampu kamar dimatikan beberapa menit kemudian. Hanya cahaya kota dari balik jendela besar yang menerangi ruangan remang itu.

Suasana malam terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Dan jantung Kemuning justru semakin sulit dikendalikan. Ia bisa mendengar suara napas Arkana dari sofa seberang ranjang.

Setiap kali pria itu bergerak sedikit, tubuh Kemuning otomatis menegang. Pikirannya dipenuhi kesadaran bahwa ada laki-laki dewasa di kamar yang sama dengannya. Hal itu membuatnya nyaris tidak bisa tidur.

Kemuning memejamkan mata kuat-kuat sambil mencoba tenang. Namun aroma maskulin samar dari kemeja yang dipakainya terus mengganggu pikirannya. Ia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria sebelumnya. Dan pengalaman itu terasa terlalu memalukan sekaligus menegangkan.

Di sisi lain ruangan, Arkana ternyata juga belum tidur. Pria itu berbaring di sofa sambil menatap punggung Kemuning dari kejauhan. Rambut hitam panjang gadis itu terurai di atas bantal dengan harum lembut menenangkan. Dan tengkuk putihnya terlihat terlalu dekat untuk diabaikan.

Arkana langsung mengerutkan dahi kesal pada dirinya sendiri. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkannya? Ia seharusnya tidur, bukan memperhatikan gadis desa yang baru datang itu.

Namun matanya terus kembali pada Kemuning tanpa alasan jelas.

Hujan tipis kembali turun di luar mansion menjelang tengah malam. Suara rintiknya membuat suasana kamar terasa makin tenang. Perlahan rasa lelah akhirnya menarik kesadaran Kemuning sedikit demi sedikit. Gadis itu mulai tertidur dalam posisi memeluk bantal. Namun tidur Kemuning tidak benar-benar tenang. Keningnya berkerut kecil seperti sedang bermimpi buruk. Napasnya terdengar tidak teratur dan jemarinya mencengkeram selimut erat.

Nama Agam beberapa kali terdengar samar dari bibirnya.

Arkana membuka mata saat mendengar suara lirih itu. Pria itu menoleh ke arah ranjang dengan ekspresi datar. Kemuning tampak gelisah dalam tidurnya seperti anak kecil ketakutan. Dan entah kenapa, Arkana tidak bisa mengabaikannya.

Beberapa saat kemudian, tubuh Kemuning bergerak pelan mendekat tanpa sadar. Gadis itu turun dari sisi ranjang sambil masih setengah tertidur. Lalu jemarinya meraih sesuatu secara refleks dalam keadaan panik. Dan ujung kaus Arkana langsung tergenggam erat di tangannya.

Arkana otomatis menunduk melihat tangan kecil itu.

Kemuning masih tertidur sambil menggenggam bajunya seperti anak kecil ketakutan. Bekas air mata masih terlihat samar di wajah polos gadis tersebut.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arkana Mahendra merasakan dorongan aneh untuk melindungi seseorang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!