“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara yang sebelumnya mengejarnya karena tak terima diputuskan malah berbalik pergi setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Aku Mau Hakku
Tak sampai lima menit, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang wanita paruh baya berpakaian formal berjalan cepat menuju meja administrasi. Ia langsung menghampiri Seroja.
“Saudari Seroja?” tanya Bu Nina hati-hati.
Seroja mengangguk kecil.
“Profesor Arifin meminta saya mengantar Anda langsung ke ruangannya," kata Bu Nina sopan. Terlalu sopan pada wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.
Seroja hanya mengangguk kecil.
"Mari." Bu Nina memberi isyarat tangan pada Seroja ke arah lift.
Staf resepsionis menatap Seroja dan Bu Nina yang menjauh dengan sorot mata dipenuhi rasa penasaran. Karena asisten profesor itu malah menjemput Seroja secara langsung untuk bertemu profesornya. Apalagi dengan sikap yang sangat sopan.
Ia tahu pasti, hanya orang-orang penting yang akan dijemput dan diperlakukan sedemikian rupa oleh asisten profesornya.
"Siapa, dan sepenting apa gadis ini?" gumamnya pelan.
Seroja dan Bu Nina menaiki lift menuju lantai paling atas. Hingga akhirnya langkah mereka berhenti di depan sebuah ruangan besar dengan papan nama:
Profesor Dr. Arifin Ilham, Sp.B, Ph.D.
Belum sempat Bu Nina mengetuk pintu, pintu ruangan itu sudah terbuka lebih dulu.
Seorang pria paruh baya berambut abu-abu berdiri di sana. Matanya langsung tertuju pada Seroja.
Arifin Ilham.
Pria itu terdiam sejenak, seolah memastikan kalau ia tak salah mengenali orang. Hingga akhirnya bibirnya melengkung tipis.
"Kau benar-benar datang."
Seroja menundukkan kepalanya sopan. "Selamat siang, Prof."
Bu Nina terdiam di tempatnya. Profesor Arifin memintanya menjemput Seroja, bahkan pria itu membuka pintu untuk menyambutnya.
"Ini hal paling langka yang pernah aku lihat," pikirnya.
"Boleh tinggalkan kami," ujar Profesor Arifin pada Bu Nina.
"I-iya, Prof." Bu Nina sedikit tergagap karena sempat tenggelam dalam pikirannya yang penuh tanya.
"Silakan masuk," ucap profesor Arifin pada Seroja ramah.
Pintu ruangan tertutup.
Profesor Arifin berjalan mendekati Seroja. Sorot matanya mengandung banyak hal. Terkejut, lega, sekaligus tak percaya.
“Aku kira kau tak akan kembali ke dunia ini,” ujar Profesor Arifin pelan.
"Saya juga tidak menyangka kalau akan ada hari ini," sahut Seroja.
Profesor Arifin mengembuskan napas panjang. “Beberapa orang masih menanyakanmu sampai sekarang.”
Bibir Seroja melengkung tipis. "Karena mereka terlalu melebih-lebihkan kemampuan saya."
"Bukan melebih-lebihkan." Profesor Arifin menatapnya serius. "Kau tahu sendiri kemampuanmu langka."
Seroja tak menjawab.
Profesor Arifin melanjutkan, “Tak semua kemampuan bisa dipelajari lewat buku. Banyak dokter ingin mempelajari kemampuan itu darimu?”
Seroja tersenyum pahit. "Saya tidak bisa mengajarkannya sembarangan, Prof. Bukan karena saya tak mau."
"Aku tahu."
Ruangan mendadak hening sesaat.
Profesor Arifin akhirnya duduk di sofa. "Silakan duduk."
Seroja duduk di depannya dengan punggung tegak dan tangan terlipat rapi di atas paha.
"Jadi?" tanyanya. "Kenapa tiba-tiba datang kemari?"
"Saya ingin melanjutkan pendidikan saya."
Profesor Arifin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil penuh tak percaya.
"Dengan nila akademikmu itu, kau yakin ingin melanjutkan pendidikanmu di universitas kecil ini?"
"Saya yakin."
"Lalu, kenapa baru kembali sekarang?"
Seroja menunduk sesaat.
"Dulu nenek saya sakit." Suaranya lembut dan tenang. "Dan keluarga saya membutuhkan saya untuk meneruskan ilmu keluarga."
Profesor Arifin memandangnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia tahu sebagian dari cerita itu.
Dan ia juga tahu satu hal lagi. Gadis di depannya ini meninggalkan dunia akademik bukan karena tidak mampu. Melainkan karena memilih pergi.
"Apa identitasmu masih ingin dirahasiakan?" tanya Profesor Arifin akhirnya.
Seroja mengangguk pelan. "Saya ingin hidup tenang, Prof."
Profesor Arifin tertawa kecil tanpa suara.
"Sayangnya..." Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Orang-orang jenius memang jarang bisa hidup setenang itu."
***
Sore itu, Seroja baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di kepala saat Ryu membuka pintu kamar.
"Sudah pulang?" sapa Seroja.
"Hm," sahut Ryu seraya melepaskan jasnya. Tapi ia tak langsung menggantungnya. Satu alisnya terangkat tipis. "Apa kau tidak mau membantu suamimu melepas pakaian?"
Seroja mengerutkan dahinya samar sebelum akhirnya tersenyum dan menghampiri pria itu.
"Kenapa ekspresi wajahmu kayak gitu?" tanya Ryu.
"Nggak apa-apa," sahut Seroja ringan seraya mengambil jas di tangan Ryu, lalu menggantungnya di stand hanger.
Ryu tidak puas dengan jawaban itu.
"Kalau memang tidak apa-apa, seharusnya kau tidak memasang wajah seperti itu."
Seroja berbalik kembali menghampiri suaminya. "Kita baru beberapa hari bersama. Bahkan kau belum memutuskan selingkuhanmu, tapi sudah minta dilayani sejauh ini."
"Sudah kubilang aku gak bisa dibilang selingkuh. Karena aku gak ingat pernah menikah." Ryu jelas tak suka disebut selingkuh. "Dan soal dilayani, sejak hari aku mengucapkan ijab, bukankah sudah kewajibanmu melayaniku?"
"Ya, memang benar," sahut Seroja. "Tapi 'kan sudah lama kamu gak kasih nafkah sama aku. Jadi kalau gak melayani kamu, gak dosa juga, 'kan? Apalagi kita berpisah jauh, bahkan sama-sama tidak ingat."
Satu sudut bibir Ryu terangkat samar.
"Akh!"
Seroja tersentak saat tiba-tiba Ryu meraih pinggangnya hingga dada mereka hampir bertabrakan jika tangan Seroja tak refleks menahan dada Ryu.
Ia membeku.
Dada itu terasa keras, dan Seroja tahu dengan jelas, hanya tubuh yang terlatih yang bisa terasa sekeras ini.
"Sekarang aku sudah memberimu nafkah lahir, tapi kau masih perhitungan melayaniku."
Seroja berusaha memasang wajah tenang meski jantungnya mulai tidak normal.
"Banyak pria yang dekat denganku, tapi kenapa hanya dia yang bikin aku baper dan jantungku berdetak kencang?" batin Seroja.
Ryu menunduk perlahan, lalu berbisik,
"Apa perlu aku beri nafkah batin sekarang biar kamu melayaniku sepenuhnya?"
"Apaan sih kamu?" Seroja mendorong dada Ryu sambil memalingkan wajahnya yang terasa panas.
Namun dorongan itu hanya membuat Ryu sedikit menjauh darinya.
"Ryu!"
Seroja kembali tersentak kala Ryu kembali menarik pinggangnya. Ia berusaha mendorong, tapi pelukan Ryu terlalu kuat.
Ryu kembali menunduk perlahan. Wajah mereka semakin dekat. Seroja hampir tak bisa menelan ludah kala hembusan napas hangat Ryu menyentuh kulitnya.
"Aku mau hakku," bisik Ryu saat jarak wajah mereka hampir hilang.
...🔸🔸🔸...
...“Tak semua orang hebat ingin dikenal dunia. Ada yang memilih menghilang demi hidup dengan tenang.”...
...“Pengalaman bisa membuat seseorang tetap tenang di depan dunia, tapi tidak di depan orang yang berhasil mengguncang hatinya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
nanti ada drama ketemu di lobi ga Thor bukan apa kebayak kaya gitu sih 🤭
Drama apalagi yang dimainkan Clara demi perusahaan keluarganya tetep hidup?
Seroja jangan tanggung² nyleding Clara ya 🤣
apa para karyawan udah tau Ryu boss mereka sudah menikah?? atau sudah ada di jelaskan di Bab sebelum nya??