Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa syaratnya?
Apotek obat jaraknya cukup jauh dengan ruang pemeriksaan. Namun, itu bisa dimengerti karena ada banyak sekali ruang rawat inap khusus para pegawai management BV. Cakka berdiri tepat didepan etalase produk kesehatan yang biasa dijajakan di klinik lain. Ia diam menunggu ditemani Debo.
"Menurut lu, kita bakal sukses enggak?" Tanya Debo masih setia tangannya merangkul pundak Cakka.
"Kalau aku sih yakin bakalan sukses!" Ucap Cakka sembari menganggukkan kepalanya.
"Meskipun itu nanti, suatu saat, misalnya... Lu debut jadi artis? Sendirian!" Debo masih menghujani Cakka pertanyaan.
"Mau sendirian, mau boy group, aku yakin kita bakalan sukses sih. Semua kembali ke niat, meskipun nanti di pertengahan akan ada rasa menyerah, kayaknya kalau berjuang bareng-bareng.. apa yang kita mau bakalan terwujud deh!" Tutur Cakka.
Debo, tersenyum bangga namun tipis. Tak terlalu memperlihatkan, hanya tepukan pundak beberapa kali yang mengisyaratkan.
Pegawai apotek yang sudah mendapatkan resep dokter dari klinik, kini sudah selesai membungkusnya menggunakan kantong plastik putih. Dibacakannya nama Cakka.
"Dengan Cakka nuraga?"
Ia mengangguk, dan apoteker itu meminta tanda tangannya untuk bukti administrasi karena sudah melakukan pengambilan obat hari ini. Cakka dengan senang hati mengambil pulpen yang berdiri mematung di atas etalase, guratan jarinya meliuk indah di atas kertas putih bermaterai 6000.
"Terima kasih ya kak, ini obatnya" apoteker itu mendorong obat kehadapan Cakka.
Dengan sigap ia menyambarnya.
Srak!!!!
Sedikit gugup dan takut ia menatap wajah penjaga apotek.
"Berapa semuanya kak?"
"Tidak perlu bayar, semua obat sudah ditebus oleh management BV."
Cakka menghela nafas, sembari mengelus dada. Debo yang sedari tadi berdiri dibelakang Cakka, penasaran dengan plastik obat itu.
"Pengen lihat dong! Obat apa saja itu?"
Cakka yang baru sadar diperhatikan oleh Debo langsung memeluk kantong plastik obat tersebut. Dengan perasaan gundah dan takut, Cakka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku sudah bilang, aku kecapean, paling ini cuma vitamin"
Menghela nafas panjang merangkul kembali teman barunya itu, Debo mengelus bahu Cakka.
"Kalau lu belum siap gakpapa, gue ngerti. Tapi, semisal badan lu tiba-tiba ngerasain sakit atau keluhan apapun.. bilang sama gue! Ingat, jangan dipendam!"
"Hem! Iya!"
Mereka berdua kini bergegas menuju ruang kerja Kleo. Dari kejauhan nampak sepi, tak terdengar senda gurau atau ocehan dari bosnya itu. Debo jalan lebih dulu, dia yang membukakan pintu.
Kriet!!
Ternyata benar! Sudah tidak ada siapa-siapa, hanya bos Kleo seorang. Tengah duduk dengan kedua kaki yang diangkat ke atas meja, tak segan ia menghisap cerutu membuang asapnya ke udara. Debo dan Cakka terkejut, mereka meminta maaf karena telah lancang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Maaf pak, kami pikir yang lain masih disini" ucap Debo.
Kleo melirik sesaat, sudut matanya tajam dan sikap acuh tersirat.
"Duduk!" Ucapnya dengan nada sedikit menekan.
Mereka berdua sedikit kaku terpaksa duduk sesuai arahan Kleo. Ada rasa takut yang terselip dihati mereka.
Apakah kami melakukan kesalahan lagi? Seperti tadi pagi? Ya tuhan... Selamatkan aku dengan Debo kali ini. Jangan sampai tangan bau bakau itu menyentuh pipi kami!.
Kedua kaki Kleo turun, cerutu yang sesekali dihisapnya kini dimatikan di asbak kaca. Tegukan demi tegukan ludah sudah melalui kerongkongan Cakka. Kedua tangan mengepal, keringat dingin pun ikut andil dalam suasana tegang ini.
Langkah Kleo perlahan menuju mereka, kedua tangannya masuk kedalam saku celana. Pikir Cakka, Kleo akan duduk berhadapan dengan mereka tapi ternyata, Kleo.... Berdiri tepat dibelakang. Tangan gemuk berisi itu masing-masing menepi di pundak Debo dan Cakka. Tentu kepalanya menjadi menunduk, bibirnya hampir saja sejajar dengan kedua telinga mereka.
"Kalau aku kasih kalian kesempatan untuk segera naik ke panggung, kira-kira persyaratannya kalian bisa penuhi tidak ya?" Tanya Kleo, tiba-tiba.
Cakka dan debo menoleh secara bersamaan, mereka saling tatap. Debo, bola matanya perlahan menatap wajah Kleo. Pun ia sedikit mendongak karena posisi yang tak sejajar.
"Maksud bapak, kita akan didebutkan lebih dulu?"
"Iya! Jika kalian mau memenuhi syarat"
"Apa syaratnya?"
Bibir Kleo membentang, senyumnya merekah. Bak mendapatkan setangkai bunga yang masih segar, warnanya cerah, dan harumnya semerbak. Ia berpindah posisi, berjalan untuk duduk tepat dihadapan Debo.
Cakka sendiri merasa ada yang aneh dengan Kleo, dari gerak geriknya terbaca apalagi ketika tersenyum. Hatinya terusik, bibirnya ingin segera menolak namun belum mendengar persyaratannya yang dikatakan Kleo.
Telinga Cakka tersiap, begitupun dengan Debo. Postur tubuh yang sedikit membungkuk memperlihatkan bahwa ia serius, untuk mendengarkan.
"Jika kalian ingin segera debut, saya akan wujudkan. Tapi, ada syaratnya! Mudah... Kalian cukup datang ke jamuan makan malam pejabat negri. Pakai pakaian yang formal seperti ini, akan menarik perhatian mereka."
Debo tersenyum selengeh ia menatap wajah si tampan yang ekspresinya belum berubah, sikunya menyiku lengan Cakka yang menekan paha. Tentu ada pergeseran dan Cakka langsung menatap Debo.
"Apa?" Tanya Cakka, pelan.
"Mau gak? Kalau mau bareng aja!" Ajak Debo, semangat.
Mungkin bagi Debo ini hanyalah syarat yang mudah, ini hanyalah sebuah jalan pintas untuk memperkenalkan nama di dunia hiburan. Namun, berbeda dengan Cakka. Ia merasa ini sebuah jebakan, yang jika ingin keluar dari lingkaran itu... ia .. harus mempertaruhkan nyawanya.
Cakka menggaruk kepalanya yang tak gatal, matanya menatap lantai. Berusaha berfikir jernih, tidak mengambil keputusan terburu-buru.
Kleo tak memaksa mereka, dia hanya menawarkan. Barangkali tertarik. Seperti penawaran panci listrik, mau harga murah harus gunakan vouchernya. Debo sesekali menatap wajah Kleo yang sudah mulai kebosanan karena menunggu jawaban Cakka.
Tak enak hati, Debo terus menyikut lengan Cakka untuk segera berkata.
"Heh!" Debo berbisik.
"Apa?" Cakka, menjawab sama bisiknya dengan Debo.
"Gimana?" Debo gemas, karena ia belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Menarik nafas, mata terpejam. Cakka menolak tawaran Kleo.
"Saya mau mengikuti pengajaran yang seharusnya saja pak... Tidak perlu harus bertemu dengan pejabat ini itu supaya di lirik. Karena saya punya pasar sendiri pak" tutur Cakka.
Kleo menarik nafas, lengannya mengelus kedua lutut yang sudah tak tahan dengan pelukan erat sang celana bahan. Bibirnya tersenyum namun mengejek.
"Pasar sendiri?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Maksud saya, saya mengikuti alurnya terlebih dahulu pak, untuk berkenalan dengan dengan orang penting apalagi ini pejabat, saya pribadi belum siap" tutur Cakka sedikit ketakutan.
Kleo menghembuskan nafasnya ke udara, senyum mengejeknya itu makin berkembang.
"Baiklah, jangan salahkan saya kalau Debo yang debut lebih lebih dulu" perlahan tatapannya beralih pada Debo "karena kamu mau, malam ini kamu pulang ke asrama mandi dan nanti.... ajudan saya yang antarkan pakaian bagus untuk kamu. Kalau yang lain tanya kamu mau kemana? Bilang saja, ada undangan makan kerabat, ya?."
Tegas Debo mengangguk sedangkan Cakka, hanya bisa diam terpaku.