NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Onimaru Rascall

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Siang itu suasana kantor mulai sedikit lengang karena jam istirahat makan siang sudah tiba. Beberapa karyawan tampak keluar bersama teman-temannya, sementara sebagian lain memilih tetap berada di ruang makan kantor. Di tengah kesibukan itu, Aqila mendadak menghampiri meja Shinta dengan wajah penuh semangat.

“Shinta, ikut makan siang di luar, yuk,” ajaknya sambil menyandarkan tubuh di meja kerja Shinta.

Shinta yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung menoleh. “Di luar? Tumben. Biasanya kamu paling malas panas-panasan.”

Aqila terkekeh pelan. “Ada kedai seblak baru buka. Katanya enak sekali. Aku penasaran.”

Shinta mengangkat alis. “Seblak lagi? Minggu lalu kamu juga bilang begitu.”

“Ini beda,” balas Aqila cepat. “Katanya level pedasnya bisa bikin orang tobat.”

Shinta akhirnya tertawa kecil. “Baiklah. Aku ikut.”

Aqila langsung bersorak pelan seperti anak kecil yang baru mendapatkan izin pergi bermain. Tingkahnya membuat Shinta menggeleng geli. Kadang ia heran bagaimana wanita seceria Aqila bisa menjadi sepupu Andika yang terlalu serius dan keras kepala. Sepertinya keluarga mereka memang dibentuk dengan logika yang tidak konsisten. Alam semesta kadang suka bercanda.

Tak lama kemudian mereka keluar dari kantor dan menuju parkiran. Aqila segera mengambil helm lalu memberikan satu pada Shinta.

“Pegangan yang benar nanti,” katanya sambil mengenakan helm.

“Kamu memang bisa bawa motor dengan tenang?” tanya Shinta ragu.

Aqila mendecakkan lidah. “Jangan meremehkan kemampuan perempuan pekerja kantoran yang dikejar deadline.”

“Itu tidak terdengar meyakinkan.”

Namun akhirnya Shinta tetap naik ke motor Aqila. Perjalanan menuju kedai itu memakan waktu sekitar dua puluh menit karena lokasinya cukup jauh dari perusahaan. Sepanjang jalan Aqila terus membicarakan makanan dengan penuh semangat seolah hidup manusia memang berputar di antara seblak, boba, dan diskon akhir bulan.

Begitu sampai di depan kedai, Shinta langsung memperhatikan tempat itu cukup ramai. Aroma kuah pedas dan bumbu kencur langsung tercium bahkan dari luar. Beberapa pelanggan terlihat sibuk makan sambil mengipas mulut karena kepedasan.

Namun langkah Shinta langsung terhenti ketika melihat seorang pria duduk di sudut ruangan.

“Deni?” gumamnya pelan.

Pria itu menoleh lalu tersenyum santai. “Akhirnya datang juga.”

Shinta langsung memandang Aqila dengan curiga. “Jadi ini alasan sebenarnya?”

Aqila hanya tersenyum polos yang justru terlihat sangat mencurigakan. “Kebetulan sekali, ya.”

“Kebetulan kepalamu,” balas Shinta pelan.

Deni terkekeh melihat ekspresi kesal Shinta. “Sudahlah, duduk dulu. Masa baru datang sudah mau interogasi orang.”

Aqila segera menarik tangan Shinta menuju meja. Setelah duduk, Aqila langsung memanggil pelayan dan memesan dua seblak level lima serta milk tea boba.

“Kenapa langsung level lima?” tanya Shinta.

“Karena hidup kita sudah cukup pedas,” jawab Aqila dramatis.

Deni sampai menahan tawa. “Kamu terlalu sering main media sosial.”

Aqila mendengus pelan lalu kembali fokus pada Shinta yang masih terlihat bingung.

Suasana sempat canggung beberapa detik. Shinta sebenarnya tidak tahu harus berbicara apa karena kehadiran Deni membuatnya merasa tidak nyaman. Bagaimanapun Deni adalah sahabat Andika. Rasanya aneh duduk bersama orang yang jelas mengetahui masa lalunya dengan pria itu.

Namun Deni akhirnya membuka percakapan lebih dulu.

“Aku sudah tahu semuanya dari Andika,” katanya santai.

Shinta langsung menatapnya. “Semuanya?”

Deni mengangguk. “Kalau Aqila itu sepupunya. Dan kamu mantan pacarnya.”

Shinta tampak sedikit terkejut. “Andika sendiri yang bilang?”

“Iya.”

“Dia benar-benar bilang begitu?”

Deni kembali mengangguk pelan. “Aku dan Andika memang dekat. Kami bukan cuma rekan kerja. Dia sering cerita apa pun padaku dan Pak Radit.”

Mendengar nama Pak Radit disebut, Shinta semakin diam. Ia tahu pria itu cukup dekat dengan Andika di kantor.

Deni lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kalau Andika sedang resah, biasanya dia datang pada kami,” lanjutnya. “Walaupun lebih sering diam sambil memasang wajah seperti orang yang habis ditagih utang negara.”

Aqila langsung tertawa. “Itu memang wajah default sepupuku.”

Shinta hanya tersenyum tipis.

“Awalnya,” lanjut Deni, “aku pikir hubungan kalian memang sudah selesai baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita Aqila waktu mempertemukan kalian lagi… aku malah kesal sendiri.”

Shinta menatapnya bingung. “Kesal?”

“Iya. Karena Andika jelas masih punya perasaan sama kamu.”

Kalimat itu membuat Shinta sedikit terdiam.

Deni melanjutkan dengan nada kesal namun santai. “Masalahnya, setiap kalian cuma berdua, dia malah berbohong. Dia bilang sudah tidak punya perasaan lagi.”

Aqila langsung ikut menyela. “Padahal dia terus memperhatikan Shinta diam-diam.”

“Qila,” tegur Shinta pelan.

“Aku tidak bohong,” balas Aqila cepat. “Waktu di kantor saja dia terus melihat ke arahmu. Cuma dia sok tenang.”

Deni mengangguk setuju. “Andika itu aneh. Kalau ditanya orang lain soal kamu, dia terlihat jelas belum move on. Tapi begitu di depanmu, dia malah pura-pura dingin.”

Shinta menghela napas panjang.

“Jadi sebenarnya kalian ingin apa?” tanyanya akhirnya.

Deni dan Aqila saling pandang sebentar sebelum tersenyum tipis seperti dua orang yang baru selesai merancang kejahatan kecil. Sangat mencurigakan. Beginilah manusia ketika merasa sedang membantu cinta orang lain. Mereka berubah seperti agen rahasia gagal yang terlalu banyak menonton drama.

Deni lalu menjawab dengan santai.

“Aku cuma ingin menekan Andika supaya jujur.”

“Aku juga,” sambung Aqila cepat. “Dia terus mengelak dan malah menyiksa dirinya sendiri.”

Shinta mengerutkan dahi. “Menyiksa?”

“Shinta,” kata Aqila pelan, “aku kenal sepupuku sejak kecil. Dia memang keras kepala, tapi aku tahu kapan dia sedang benar-benar terluka.”

Deni ikut mengangguk. “Dia kelihatan baik-baik saja di luar. Tapi sebenarnya tidak.”

Shinta menunduk pelan sambil memainkan sedotan minumannya yang baru datang.

“Kalau memang masih punya perasaan,” katanya lirih, “kenapa dia tidak jujur saja?”

“Itu pertanyaan yang juga ingin kami tahu,” jawab Deni cepat. “Kadang aku merasa Andika seperti anak kecil yang sedang menutupi kesalahannya sendiri.”

Aqila tertawa kecil. “Benar. Dia itu terlalu gengsi.”

“Bukan cuma gengsi,” lanjut Deni. “Dia takut.”

Shinta perlahan menatapnya lagi. “Takut?”

“Takut ditolak lagi. Takut kamu marah. Takut hubungan kalian malah makin buruk.”

Shinta terdiam cukup lama setelah mendengar itu.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Aroma kuah seblak langsung memenuhi meja. Aqila tampak sangat bahagia melihat mangkuk besar di depannya sampai-sampai Shinta curiga wanita itu sebenarnya rela datang jauh-jauh demi makanan, sementara misi menjebak Andika hanya bonus tambahan.

Aqila langsung mencicipi kuahnya lalu batuk kecil karena kepedasan.

“Pedas sekali,” katanya sambil minum cepat.

“Kamu sendiri yang pesan level lima,” komentar Shinta datar.

“Kadang manusia harus menantang nasib.”

“Dan sekarang lambungmu yang jadi korban.”

Deni tertawa pelan melihat keduanya.

Namun setelah suasana sedikit santai, Deni kembali berbicara serius.

“Sebenarnya,” katanya sambil menatap Shinta, “aku dan Aqila sudah menyiapkan rencana.”

Shinta langsung curiga. “Rencana apa?”

“Bongkar kebohongan Andika.”

Shinta hampir tersedak mendengar jawaban itu.

“Apa?”

Aqila tersenyum lebar. “Beberapa hari lagi restoran baru akan dibuka.”

Deni menambahkan, “Restoran itu dibuka kerja sama dengan sahabat beliau. Sistem bagi hasil. Jadi semua orang penting bakal hadir.”

“Lalu hubungannya denganku apa?”

Deni tersenyum tipis. “Di sana Andika tidak akan bisa kabur.”

Shinta mulai merasa firasat buruk.

“Aku tidak suka cara kalian bicara.”

“Karena memang sedikit jahat,” jawab Aqila tanpa rasa bersalah.

Deni bahkan mengangguk setuju. “Kami akan membuat Andika jujur di depan ayahnya.”

Shinta langsung memijat pelipisnya pelan.

“Kalian benar-benar sahabat dan sepupunya?”

“Iya,” jawab keduanya kompak.

“Lalu kenapa malah membuat rencana seperti ini?”

Aqila bersandar santai di kursinya. “Karena kalau dibiarkan, dia akan terus pura-pura tidak punya perasaan sampai tua.”

“Dan nanti menyesal sendiri,” tambah Deni.

Shinta menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau khawatir. Di satu sisi rencana mereka terdengar berlebihan. Namun di sisi lain… ia juga lelah melihat Andika terus menghindar dari kenyataan.

Selama ini Andika memang selalu bersikap seolah hubungan mereka sudah selesai sepenuhnya. Padahal setiap bertemu, pria itu justru menunjukkan hal yang berbeda lewat tatapan dan sikapnya.

Itulah yang membuat Shinta bingung.

“Kalau nanti semuanya malah jadi kacau bagaimana?” tanyanya pelan.

Deni menatapnya serius untuk pertama kali sejak tadi.

“Kadang sesuatu memang harus dibuat kacau dulu supaya akhirnya jelas.”

Kalimat itu membuat Shinta diam.

Aqila lalu tersenyum lembut. “Setidaknya setelah itu tidak ada lagi yang pura-pura.”

Shinta menatap mangkuk seblaknya cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil.

“Kalian benar-benar merepotkan.”

“Terutama Andika,” jawab Deni cepat.

“Benar,” sambung Aqila. “Sepupuku itu sumber masalah berjalan.”

Meski begitu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shinta merasa ada sesuatu yang perlahan mulai terbuka. Mungkin memang sudah waktunya semua kebohongan kecil itu diakhiri. Karena mempertahankan gengsi terlalu lama hanya membuat hati semakin lelah. Dan manusia memang aneh. Bisa sukses menjalankan bisnis, membuka restoran, memimpin karyawan, tetapi tetap tidak mampu mengatakan kalimat sederhana seperti “aku masih menyukaimu.” Sebuah spesies yang luar biasa membingungkan.

1
Dar Pin
lama lama kesel bacanya bikin emosi aja thor tidak sesuai harapan aku stop sampai sini bacanya 🤣
onimaru rascall: sama bang karena itu harus di buat tamat secepatnya 🤔 biar bisa fokus proyek baru
total 1 replies
Erni Purwaningsih
mantap Thor filosofi nya
onimaru rascall: perasaan itu perdebatan dua bocah puber donk kak🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!