NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *22

Dan untuk sesaat itu, Merlin hampir menangis. Hampir saja ia menumpahkan semuanya.

Karena perhatian kecil seperti ini, sentuhan dan kata-kata lembut seperti ini, sudah lama sekali tidak ia rasakan. Sudah lama sekali Reyno tidak menatapnya dengan tatapan khawatir seperti ini.

"Rey ..." suaranya melemah, matanya berkaca-kaca.

"Hm? Ada apa? Bilang aja, Mer. Apa yang sakit?" Reyno mendekatkan wajahnya, menatap lekat mata istrinya.

Kali ini. Kali ini saja. Merlin benar-benar ingin mengatakannya. Ia ingin berteriak, ingin bilang bahwa ada alasan kenapa tubuhnya berubah, ada alasan kenapa ia sakit-sakitan belakangan ini.

Namun tepat saat itu, tepat di momen yang seharusnya jadi momen indah itu, ponsel Reyno kembali berbunyi nyaring dari saku kemejanya. Layar yang menyala itu kembali menampilkan nama yang sama, nama yang seolah menjadi kutukan bagi hubungan mereka. Yara.

Tubuh Reyno langsung menegang. Refleks yang sudah terlalu familiar sekarang. Tangannya yang tadi memegang bahu Merlin perlahan menjauh, bergerak hendak mengambil benda itu.

Sementara itu, Merlin perlahan menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Dan kali ini, hatinya benar-benar terasa hancur lebur sedikit demi sedikit. Bahkan kabar tentang anak mereka pun, ternyata masih kalah penting dibandingkan satu panggilan telepon dari wanita itu.

Merlin menatap layar yang menyala terang itu cukup lama. Matanya meneliti setiap huruf yang tertulis di sana, seolah berusaha memahami kenapa nama itu selalu hadir di saat-saat yang seharusnya menjadi milik mereka berdua. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya, menatap pisau yang tadi jatuh ke lantai, lalu kembali menopang tubuhnya di pinggiran meja dapur karena rasa pusing itu belum sepenuhnya hilang.

Sementara itu, Reyno berdiri kaku di tempatnya. Wajahnya terlihat sangat ragu. Sangat bimbang. Matanya berpindah-pindah antara ponsel di tangannya dan wajah istrinya yang pucat pasi di depannya.

Di satu sisi, ia melihat Merlin yang terlihat sangat sakit dan butuh bantuan. Namun di sisi lain, rasa khawatirnya terhadap gadis lain itu kembali muncul, mendesak, dan menuntut perhatiannya.

"Mer ..." panggilnya pelan, nadanya penuh permohonan dan keraguan. Ia seolah menunggu izin, meski ia tahu jawaban apa yang akan keluar.

"Angkat aja," jawab Merlin. Suaranya terdengar begitu pelan, hampir berbisik, namun cukup jelas terdengar di telinga Reyno. Terlalu pelan hingga menyimpan ribuan rasa sakit yang tertahan.

Rey menggertakkan rahangnya sebentar. Napasnya keluar berat, sebelum akhirnya ia menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.

"Iya, Yara? Ada apa?"

Belum selesai suaranya hilang, nada panik dan tangis histeris langsung terdengar dari seberang sana. Suara itu begitu keras hingga samar-samar bisa didengar juga oleh Merlin yang berdiri tak jauh di situ.

"Hah? Sekarang? Kamu di mana sekarang?" Ekspresi Reyno langsung berubah tegang. Keningnya berkerut dalam, dan tubuh yang tadinya rileks kembali menegang waspada. "Udah, jangan panik dulu ya. Kamu jangan keluar sendiri dari apartemen. Kunci pintunya, terus tunggu aku. Aku ke sana sekarang."

Tanpa menunggu balasan lain, telepon itu ditutup dengan cepat. Keheningan kembali menyelimuti dapur itu. Namun kali ini, keheningan itu terasa tajam dan menusuk.

Reyno langsung menoleh ke arah Merlin yang masih berdiri memegangi pinggiran meja untuk bertahan agar tidak jatuh. Wajah wanita itu sangat pucat, bibirnya kering, dan keringat dingin masih membasahi pelipisnya.

"Yara tiba-tiba sesak napas lagi," ucap Reyno buru-buru, nada bicaranya tergesa seolah sedang memberi alasan. "Katanya dia jatuh pas mau ambil minum, terus jadi panik parah. Aku harus ke sana, Mer. Aku nggak tenang kalau dia sendirian dalam keadaan begitu."

Dan lagi-lagi. Kalimat itu. Alasan itu. Permintaan izin itu. Semuanya terdengar seperti rekaman yang terus berulang dalam hidup Merlin. Berulang sampai ia hafal benar kapan Reyno akan pergi, ke mana, dan dengan alasan apa.

Merlin mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap suaminya lekat-lekat. Ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya saat itu. Tanpa sadar, tanpa berniat mengeluh, kalimat itu akhirnya meluncur keluar dari mulutnya dengan sangat pelan namun jelas.

"Aku juga lagi gak enak badan, Rey. Aku juga sakit."

Reyno langsung menatapnya terkejut. Matanya melebar, dan untuk sesaat itu, rasa bersalah yang besar dan keras langsung menghantam dadanya. Ia sadar. Ia sadar betul bahwa wanita di hadapannya ini juga butuh dirinya. Bahwa istrinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.

"Iya ... aku tau, aku tau kamu nggak enak badan," jawab Reyno cepat. Ia melangkah mendekat, tangannya yang besar dan hangat memegang kedua bahu Merlin dengan lembut namun penuh penekanan. "Makanya kamu istirahat ya? Kamu masuk kamar, tidur. Minum obat kalau ada. Nanti ... nanti kalau siang aku pulang. Aku janji."

Nanti. Selalu ada kata nanti. Selalu ada janji yang ditunda. Selalu ada harapan yang digantung.

Merlin menatap wajah suaminya lama sekali. Menatap mata itu, hidung itu, senyum yang dulu selalu ada di sana. Wajah yang dulu selalu menjadi tempat ternyaman bagi dirinya. Tempat ia pulang dan merasa aman. Namun sekarang, wajah yang sama itu justru menjadi sumber luka paling besar dalam hidupnya.

"Aku cuma butuh kamu sekarang, Rey," ucapnya lirih. Suaranya bergetar hebat. "Sekarang. Bukan nanti."

Kalimat itu membuat Reyno membeku di tempat. Tangannya yang ada di bahu Merlin mengeras sejenak. Dadanya langsung terasa sesak dan sulit untuk bernapas. Karena untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu penuh kebisuan dan pengertian berlebihan, Merlin meminta sesuatu dengan jelas. Meminta haknya sebagai istri. Meminta suaminya ada di sisinya saat sedang sakit.

Namun di saat yang bersamaan, ponsel di tangan Reyno kembali bergetar. Berkali-kali. Beruntun. Di layar masih tertulis nama yang sama. Yara menelepon lagi.

Reyno memejamkan matanya frustrasi. Ia mengusap wajahnya kasar, terjebak di antara dua orang yang sama-sama membutuhkannya, namun memiliki tempat yang berbeda di hatinya.

"Mer ..." suaranya melemah, hampir putus asa. "Dia sendirian. Dia nggak punya siapa-siapa lagi selain aku. Kalau aku nggak ke sana, aku takut dia kenapa-napa."

Dan kalimat itu. Kalimat itu secara tidak langsung menjadi jawaban atas pilihan Reyno. Jawaban yang menyakitkan namun nyata. Bahwa Yara yang sendirian itu lebih utama daripada dirinya yang ada di sini, yang punya suami namun merasa sepi.

Merlin tersenyum kecil. Senyum yang sangat tipis sekali, hampir tak terlihat. Namun kali ini, senyum itu benar-benar terlihat patah, hancur, dan kehilangan segalanya.

"Iya," jawabnya singkat. Hanya itu.

Tidak ada larangan. Tidak ada tangisan. Tidak ada amarah. Tidak ada protes. Dan entah kenapa, justru ketenangan dan kepasrahan itu yang membuat Reyno semakin merasa bersalah, semakin merasa menjadi penjahat dalam kisah rumah tangga mereka sendiri.

Pria itu buru-buru mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja dekat pintu. Namun sebelum ia melangkah keluar, ia sempatkan diri kembali mendekat ke arah Merlin. Ia mengecup kening istrinya dengan cepat, ciuman yang terasa buru-buru dan penuh rasa bersalah.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!