Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Ray terdiam dan sedikit mundur, kerongkongannya terasa kering dan suaranya tercekat. Perasaannya untuk Lilian jelas berbeda, meskipun mereka tidak melakukan apapun selama bersama.
"a-aku mengalami pelecehan di hotel, karena itu Ray membawaku pulang untuk menjagaku," ucap Lilian.
"be-benar, itu benar. Aku hanya menjaganya saja, tidak lebih."
"haha.. menjaganya ya, kalau mau menjaganya seharusnya bawa dia ke rumahnya bukan membawanya ke rumahku."
"tapi Lilian tidak memiliki keluarga di sini."
Kali ini sebelum Llyn sempat kembali berucap, ayah Ray maju dan menampar putranya. "Bodoh!" ucapnya.
"aku dan ibumu melarang keras kamu berhubungan dengan dia ya karena kelakuan buruknya sendiri."
"tunggu! bukannya kalian melarangku karena latar belakangnya yang biasa saja?"
"tentu saja bukan, ayah tau dia membohongimu karena mengincar harta keluarga William! Setelah acara selesai, kamu ikut ayah!"
Ray terpaksa diam karena diseret paksa oleh ayahnya ke samping. Sementara Lilian langsung dibawa keluar oleh petugas keamanan. Kekacauan ini tidak bisa terus berlanjut karena menyangkut nama baik keluarga.
Sang kakek merasa tidak enak dengan Llyn karena cucunya yang bodoh itu. Sementara Llyn, ia cukup puas karena hasilnya seperti yang sudah ia duga. Ini adalah hidangan pembuka untuk menu utama yang akan segera datang.
Setelah acara selesai, insiden malam itu hampir saja menjadi berita panas di sosial media. Tapi tim dari William grup bekerja lebih cepat dan berhasil menekan berita agar tidak naik.
Llyn tidak mempermasalahkan hal itu, meskipun tidak viral tapi nama baik Ray dan Lilian di kalangan mereka sudah tercoreng. Sudah cukup bagus untuk pembuka, saatnya memesan menu utama.
"halo Kael, apa kamu sudah mendapatkannya?"
"tenang saja, semua sudah di tanganku."
Sudah waktunya ia kembali ke rumahnya untuk mengemas barang miliknya. Sebelum kembali, ia menghubungi kepala pelayan untuk memastikan bahwa Ray tidak berada di rumah.
Llyn memasukkan semua barang miliknya, memisahkannya dengan barang yang pernah dibelikan oleh Ray. Ia tidak ingin memakai apapun yang pernah diberikan oleh pria itu, tapi sayang juga kalau harus dibuang. Karena itu ia memutuskan untuk menjualnya, baju, tas, sepatu, dan perhiasan semuanya bermerk. Di jual pun tidak akan rugi.
"Bibi mau langsung ikut aku apa mau di sini dulu?"
"Bibi harus keluar sesuai prosedur non, gimanapun juga Bibi di sini bekerja dan sudah ada aturan yang berlaku sejak awal."
"baik bi, kabari saja kalau Bibi sudah mau keluar dari tempat ini."
"iya non, nanti Bibi kabari."
Rumah ini merupakan hasil dari uang tabungannya. Dulu setelah ia keluar dari rumah, tidak ingin memakai properti apapun yang pernah dibelikan oleh orang tuanya. Karena itu ia membobol tabungan hasil lomba lombanya dulu lalu membelikan satu buah rumah. Ray meminta agar mereka tinggal berdua di situ setelah menikah karena merasa nyaman di lingkungan tersebut.
Bahkan sertifikat rumah diubah menjadi atas nama Ray tepat setelah mereka menikah. Llyn tentu saja tidak akan melepaskan rumah itu, sejak awal itu adalah miliknya. Semua dokumen sudah siap tinggal mengalihkan nama lalu ia akan menyewakannya kepada orang lain. Hitung hitung bisa menjadi pemasukan tambahan. Karena biar bagaimanapun ia sudah tidak sudi menginjakkan kaki di rumah itu lagi.
Setelah selesai berkemas, Llyn menyeret koper besarnya dan memandangi setiap sudut rumah. "Bi, foto foto itu nanti bakar semua. Semua barang yang dulu pernah aku pakai, buang semua. Jangan tinggalkan jejakku sekecil apapun. Aku tidak ingin meninggalkan apapun bahkan bau tubuhku."
"baik non, akan saya bereskan."
"terimakasih bi."