NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantan Suamiku Menjadi Sopirku

POV Kanaya

Mobil melaju pelan membelah jalanan pagi yang mulai padat. Tidak ada suara selain deru mesin yang stabil dan sesekali klakson kendaraan lain di kejauhan.

Aku duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.

Gedung-gedung, kendaraan, orang-orang yang berlalu-lalang semuanya hanya seperti bayangan yang lewat begitu saja. Pikiranku tidak ada di sana.

Pikiranku… tertinggal di rumah.

Tertinggal pada satu hal yang sama sekali tidak aku duga.

Fatan.

Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Tapi tetap saja… ada sesuatu yang terasa mengganjal di dada.

Bagaimana mungkin…?

Dari sekian banyak kemungkinan di dunia ini, kenapa harus dia?

Dan Kenapa harus menjadi sopirku?

Tanganku mengepal pelan di atas pangkuan.

Aku sudah berusaha melupakan semuanya. Benar-benar berusaha. Aku membangun hidupku kembali dari nol, menata ulang diriku, belajar menerima, belajar melepaskan.

Aku pikir… aku sudah selesai dengan masa lalu itu.

Tapi ternyata tidak.

Karena hanya dengan satu pertemuan tadi… semuanya seperti kembali.

Aku mengalihkan pandangan, mencoba fokus ke luar jendela. Tapi bayangan itu tetap muncul.

Wajahnya.

Sorot matanya.

Dan yang paling menyakitkan

keadaannya sekarang.Apa yang terjadi

Aku menggigit bibir pelan.

Aku tidak pernah membayangkan akan melihatnya seperti itu.

Seragam sopir.

Wajah lelah.

Dan cara ia berbicara

formal.

Jarak itu terasa nyata.

Dan anehnya… itu justru membuat dadaku terasa sesak,dan Fatan masih sama seperti Fatan dahulu,namun kenapa aku masih terganggu dengan sikapnya itu

Mobil berhenti sebentar di lampu merah.

Aku tanpa sadar mengangkat pandangan ke depan.

Dan di sanalah

pantulan mataku bertemu dengan matanya… melalui spion.

Aku langsung mengalihkan pandangan.

Terlalu cepat.

Seolah-olah aku tidak siap untuk itu.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Kenapa masih seperti ini…?

Aku menghela napas panjang, mencoba mengendalikan diri.

Ini hanya kebetulan.

Hanya pertemuan biasa.

Tidak lebih.

Aku harus mengingat itu.

Tapi semakin aku mencoba meyakinkan diri, semakin jelas satu hal yang tidak bisa aku pungkiri

aku belum benar-benar sembuh.

Aku memejamkan mata sejenak.

Dulu… aku menikah dengan seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Aku tahu itu.

Sejak awal, mungkin aku sudah merasakannya.

Ada jarak. Ada sesuatu yang tidak pernah sampai.

Tapi aku tetap bertahan.

Karena aku percaya… cinta bisa tumbuh.

Karena aku berpikir… selama aku berusaha, semuanya akan baik-baik saja.

Ternyata aku salah.

Sangat salah.

Aku membuka mata perlahan, menatap jalan lagi.

Perpisahan itu… bukan hal yang mudah untukku.

Mungkin bagi Fatan, itu hanya akhir dari sesuatu yang memang tidak ia inginkan sejak awal.

Tapi bagiku…

Itu adalah runtuhnya sesuatu yang sudah aku bangun dengan sepenuh hati.

Dan luka itu

tidak hilang begitu saja.

Aku menelan ludah.

Aku ingat malam-malam panjang setelah perceraian itu. Saat aku harus belajar tidur tanpa memikirkan siapa pun. Saat aku harus menahan diri untuk tidak menangis. Saat aku harus berpura-pura kuat di depan semua orang.

Aku ingat semuanya.

Dan sekarang… orang yang menjadi alasan semua itu, duduk di depan. Mengemudikan mobil ini. Seolah-olah tak pernah ada apa-apa di antara kami.

Aku tersenyum tipis, pahit.

Ironis.

Sangat ironis.

Aku melirik lagi ke depan, lebih hati-hati kali ini.

Fatan terlihat fokus menyetir. Tangannya memegang kemudi dengan mantap, matanya lurus ke jalan. Tidak ada ekspresi berlebihan.

Tenang.

Atau mungkin… aku yang tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Aku kembali bersandar.

Kenapa aku merasa… dia berubah?

Bukan soal penampilan.

Tapi sesuatu yang lebih dalam.

Ada ketenangan yang dulu tidak pernah aku lihat.

Dan entah kenapa… itu membuatku semakin tidak nyaman.

Karena itu berarti

dia bisa berubah.

Tanpa aku.

Aku memejamkan mata lagi, menahan sesuatu yang hampir muncul.

Tidak.

Aku tidak boleh kembali ke sana.

Aku sudah memilih jalanku.

Aku sudah membangun hidupku sendiri.

Aku tidak butuh masa lalu itu lagi.

Mobil kembali berjalan setelah lampu berubah hijau.

Hening.

Masih sama.

Tidak ada percakapan.

Dan mungkin… memang seharusnya begitu.

Aku membuka mata, menatap lurus ke depan.

Fatan mungkin tidak pernah mencintaiku.

Itu fakta yang sudah aku terima.

Tapi bukan berarti aku tidak pernah mencintainya.

Dan mungkin… di situlah letak semua luka ini.

Aku menghela napas pelan.

“Sudah cukup,” bisikku dalam hati.

Ini hanya perjalanan dari rumah ke kantor.

Tidak lebih.

Dan setelah ini…

semuanya akan kembali seperti biasa.

Harus kembali seperti biasa.

Mobil perlahan memasuki area gedung kantor.

Aku merapikan posisi dudukku, menarik napas dalam sekali lagi.

Saat mobil berhenti, Fatan turun lebih dulu, membuka pintu untukku seperti seorang sopir pada umumnya.

Aku keluar tanpa menatapnya.

“Terima kasih,” ucapku singkat.

Formal.

Dingin.

Seperti seharusnya.

Namun saat aku melangkah menjauh, ada satu hal yang tidak bisa aku hindari

aku sadar…

pertemuan ini bukan akhir dari apa pun.

Justru mungkin…

awal dari sesuatu yang belum selesai.

POV Fatan

Mobil berhenti dengan halus di depan gedung kantor yang menjulang tinggi. Fatan mematikan mesin, namun tangannya masih bertahan di setir beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Matanya terangkat perlahan.

Gedung itu… besar.

Bukan sekadar besar—megah, modern, dan penuh wibawa. Dinding kaca memantulkan cahaya pagi, memberi kesan dingin sekaligus berkelas. Logo perusahaan terpampang jelas di bagian depan, seolah menjadi simbol kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh.

Fatan menelan ludah.

“Ini… semua milik Kanaya?” gumamnya pelan.

Sulit dipercaya.

Dulu, ia mengenal Kanaya sebagai wanita yang berusaha keras mempertahankan pernikahan mereka. Lembut, sabar… bahkan terlalu sabar. Dan sekarang

Ia berdiri di hadapan dunia yang sepenuhnya dibangun oleh wanita itu sendiri.

Sebagai CEO.

Fatan menghembuskan napas perlahan. Ada rasa kagum yang tidak bisa ia sembunyikan… dan juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang menekan dadanya tanpa izin.

Ia cepat turun dari mobil, berjalan ke sisi belakang, lalu membuka pintu dengan sikap profesional.

“Silakan,” ucapnya.

Kanaya keluar dengan tenang, langkahnya mantap. Aura yang ia bawa begitu berbeda bukan lagi wanita yang ia kenal dulu, tapi seseorang yang memiliki kendali penuh atas hidupnya.

Fatan sedikit menunduk.

“Terima kasih,” jawab Kanaya singkat.

Nada suaranya datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

Jarak itu… tetap ada.

Fatan menutup pintu, lalu berdiri beberapa langkah di belakang saat Kanaya berjalan menuju pintu utama gedung.

Dan saat itulah ia melihatnya.

Para karyawan yang berjajar rapi di area masuk langsung menundukkan kepala.

“Selamat pagi, Bu Kanaya.”

“Pagi, Bu.”

“Selamat datang, Bu.”

Satu per satu suara itu terdengar, penuh hormat.

Fatan terdiam.

Ia memperhatikan dari belakang, bagaimana Kanaya hanya mengangguk ringan, sesekali membalas dengan senyum tipis. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat—semuanya terlihat alami.

Seolah posisi itu… memang miliknya.

Langkahnya tidak ragu.

Tatapannya lurus.

Dan tanpa disadari, Fatan merasa… kecil.

Sangat kecil.

Ia berdiri di tempatnya, memperhatikan dari kejauhan.

“Dia… benar-benar berhasil,” bisiknya dalam hati.

Dulu, mungkin ia tidak pernah benar-benar melihat potensi itu. Atau mungkin… ia memang tidak mau melihat.

Kini semuanya terlalu jelas untuk diabaikan.

Fatan mengikuti dari belakang, menjaga jarak sebagai seorang sopir.

Begitu masuk ke dalam, suasana kantor terasa hidup. Interiornya modern, bersih, dan tertata rapi. Orang-orang bergerak cepat, berbicara dengan profesional, dan semuanya terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Namun saat Kanaya lewat

mereka berhenti sejenak.

Memberi hormat.

Menghargai.

Fatan menelan ludah lagi.

Ia pernah berada di posisi itu.

Pernah merasakan bagaimana rasanya dihormati, diperhitungkan, dianggap penting.

Dan sekarang…

ia hanya seseorang yang berdiri di belakang.

Tanpa nama.

Tanpa posisi.

Tanpa arti di mata mereka.

Langkah Kanaya berhenti di dekat area lobby utama.

Beberapa orang sudah menunggu di sana.

Berpakaian rapi, membawa map dan tablet.

Fatan menyipitkan mata sedikit.

Dan detik berikutnya, jantungnya terasa berhenti sesaat.

Ia mengenali mereka.

Beberapa di antara mereka… adalah rekan bisnisnya dulu.

Orang-orang yang dulu berjabat tangan dengannya, berdiskusi dengannya, bahkan tertawa bersama dalam pertemuan penting.

Sekarang

mereka berdiri di sana… menunggu Kanaya.

Bukan dirinya.

“Bu Kanaya, kita sudah siapkan draft kerja sama untuk proyek minggu depan,” kata salah satu pria dengan penuh hormat.

“Presentasi juga sudah siap, Bu,” tambah yang lain.

Kanaya mengangguk.

“Baik. Kita bahas di ruang meeting,” jawabnya tenang.

Nada suaranya tegas, jelas, tanpa ragu.

Fatan berdiri diam.

Salah satu dari mereka sempat melirik ke arahnya.

Pandangan itu hanya sebentar tapi cukup untuk membuat Fatan mengerti.

Mereka tidak mengenalinya.

Ada sedikit keterkejutan di mata itu.

Tapi tidak ada sapaan.

Tidak ada pengakuan.

Hanya… diam.

Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Fatan menunduk sedikit.

“Wajar,” katanya dalam hati. “Aku bukan siapa-siapa sekarang.”

Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan perasaan yang mulai bergejolak.

Tidak ada gunanya mengingat masa lalu.

Semua itu sudah selesai.

Sekarang… ia hanya seorang sopir.

Dan ia harus menjalankan perannya dengan baik.

Ia melirik sekilas ke arah Kanaya.

Wanita itu berjalan menuju lift, diikuti para koleganya. Tidak sekalipun ia menoleh ke belakang.

Tidak sekalipun.

Fatan tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Tapi senyum seseorang yang mulai memahami sesuatu.

“Dulu… aku pikir aku yang meninggalkannya,” gumamnya dalam hati.

Ia menggeleng pelan.

“Ternyata… aku yang tertinggal.”

Lift tertutup.

Kanaya menghilang dari pandangannya.

Dan untuk beberapa detik, Fatan hanya berdiri di sana, di tengah lobby yang luas itu.

Sendiri.

Namun kali ini, ia tidak merasa hancur seperti dulu.

Hanya… sadar.

Sadar bahwa hidup sudah membawa mereka ke tempat yang sangat berbeda.

Dan mungkin… itu memang seharusnya.

Fatan menarik napas dalam, lalu berbalik.

Masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan.

Karena sekarang

ia tidak hidup untuk masa lalu.

Ia hidup untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, meski terasa berat

ia menerima itu sepenuhnya.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!