Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitting—23
Tiga hari berlalu sejak badai di tengah Samudra yang telah diredam oleh mawar-mawar putih. Bagi Aletha, tiga hari itu adalah waktu yang cukup untuk mengubur kembali gaun hitam milik ibunya ke sudut terdalam lemari, menggantinya dengan gaun-gaun mahal yang biasa ia pamerkan di koridor kampus. Luka itu tidak hilang, namun untuk saat ini, luka itu telah memiliki seorang penjaga yang berdiri kokoh di belakangnya.
Siang ini, suasana di Butik Utama Haute Couture milik desainer legendaris di kawasan Kebayoran Baru telah dikosongkan total. Seluruh akses publik ditutup ketat oleh security berbadan tegap. Di luar, dua mobil mewah terparkir sejajar— sedan sport hitam milik Aletha dan Porsche Taycan milik Danny Atonio.
Besok adalah hari di mana sandiwara ini akan dinaikkan ke atas panggung yang sesungguhnya. Acara tunangan megah yang digelar oleh keluarga besar Dirgantara dan Adinata akan digelar di Grand Ballroom salah satu hotel bintang lima paling elit di Jakarta. Tak kurang dari seribu undangan dari kalangan pejabat, konglomerat, hingga media nasional telah disebar. Ini bukan lagi sekadar taruhan di pojokan kantin kampus bersama Electra dan sirkelnya,ini adalah deklarasi kekuasaan dua dinasti bisnis.
Di dalam ruang ganti utama yang berlapis beludru merah dan cermin-cermin raksasa, Aletha berdiri di atas podium bundar. Tiga orang asisten desainer dengan cekatan merapikan ujung gaun yang melekat di tubuh indahnya.
Sesuai dengan janji masa lalunya kepada sang ibu, Aletha menolak semua rekomendasi warna pastel yang diajukan oleh ibu Danny. Pilihan mutlaknya jatuh pada sebuah gaun ballgown megah berwarna maroon pekat—warna kebanggaannya, warna yang menjadi jangkarnya dengan memori sang ibu. Gaun itu terbuat dari kain sutra tafeta premium yang dipadukan dengan aksen payet berkilau yang menjalar rumit dari bagian dada hingga menjuntai ke lantai, mengekspos garis bahunya yang tegas dan leher jenjangnya yang anggun. Rambut hitam-nya hari ini ditata dalam sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna.
Cklek.
Pintu geser ruang ganti terbuka, menampilkan sosok Danny Atonio yang melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan setelan jas tuksedo tiga potong berwarna hitam yang dijahit khusus, lengkap dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu. Potongan jas itu melekat sangat pas di tubuh tegapnya yang atletis, memancarkan aura seorang kaisar bisnis yang mutlak dan tak tersentuh. Namun, ada yang berbeda hari ini. Di kantong dada jas Danny, terselip sebuah saputangan sutra berwarnakan maroon—senada dengan gaun milik Aletha. Sebuah detail kecil yang sengaja Danny minta demi menghormati gadis itu.
Danny menghentikan langkah kakinya tepat beberapa meter di depan podium. Sepasang mata elangnya yang tajam perlahan menyapu penampilan Aletha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk beberapa detik yang panjang, sang CEO kaku yang biasanya selalu memiliki kata-kata penolak itu mendadak kehilangan vokalnya. Tatapannya terkunci rapat, terpaku pada pesona magis yang dipancarkan oleh Aletha.
Aletha yang menyadari kehadiran Danny tidak memberikan reaksi gugup seperti gadis-gadis kebanyakan. Ia justru menaikkan sebelah alisnya, mengulas senyum tipisnya yang penuh percaya diri, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gimana?" tanya Aletha, nadanya terdengar menantang namun terasa santai. "Lo terpesona sampai lupa cara napas, atau baju gue ada yang kurang di mata lo?"
Danny terkekeh pendek, sebuah suara bariton yang rendah dan seksi. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum kayu cendana miliknya menguar, bercampur dengan aroma mawar dari tubuh Aletha.
"Gak ada yang kurang," sahut Danny jujur, suaranya terdengar begitu dalam. "Lo bener-bener tahu cara menarik perhatian semua orang di ruangan ini, Tha. Baju itu... kelihatan luar biasa di badan lo."
Aletha memutar tubuhnya perlahan di depan cermin besar, memperhatikan pantulan mereka berdua yang berdiri berdampingan. Gaun maroon yang megah dan tuksedo hitam yang gagah—mereka terlihat seperti pasangan paling berkuasa di kota ini, mengaburkan fakta bahwa hubungan ini didasari oleh selembar kertas kontrak hitam di atas putih.
"Iyalah!" balas Aletha sombong, namun matanya melirik ke arah saputangan maroon di saku jas Danny. Sudut bibirnya terangkat lebih tinggi. "Gue gak nyangka lo bakal pakai aksen warna itu di jas lo. Kesurupan apa lo tiba-tiba mau kompak sama gue?"
Danny memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana, matanya menatap pantulan Aletha di cermin dengan kilat protektif yang tegas. "Gue cuma ngerasa... kalau besok kita mau bikin gempar satu Jakarta, kita harus kelihatan meyakinkan. Dan gue gak suka setengah-setengah dalam ngelakuin sesuatu."
Aletha berbalik, menatap langsung ke dalam manik mata Danny. "Besok itu permulaan, Dan. Begitu cincin itu melingkar di jari gue di depan ribuan orang dan jepretan kamera wartawan, lo gak bakal bisa mundur lagi. Nama lo bakal selamanya terikat sama bocah kampus kayak gue."
"Gue gak pernah punya rencana buat mundur, Aletha Adinata," sahut Danny tanpa keraguan sedikit pun.
Selama tiga hari terakhir, setelah mendengar tangisan pilu Aletha di tengah laut, pikiran Danny tidak pernah tenang. Di balik kesibukan kantornya, ia telah memerintahkan tim intelijen terbaik luar negerinya untuk mulai membuka kembali berkas kecelakaan kapal selam tiga tahun lalu secara rahasia. Perjalanan ini bukan lagi sekadar urusan menghindari perjodohan ibunya; ada harga diri dan keselamatan gadis di depannya ini yang kini berada di bawah tanggung jawabnya.
Desainer utama butik kemudian masuk bersama beberapa asisten, membawa kotak beludru hitam berisi perhiasan berlian yang akan melengkapi penampilan Aletha besok. Danny mengambil kalung berlian bermata safir biru tua dari dalam kotak tersebut, lalu memberi isyarat kepada para asisten untuk mundur.
"Biar gue," ucap Danny singkat.
Danny melangkah ke belakang tubuh Aletha. Sentuhan jemari kekar Danny yang hangat saat menyibak beberapa helai rambut di tengkuk Aletha membuat bulu kuduk gadis itu meremang sesaat. Jantung Aletha memberikan desiran aneh yang belum pernah ia rasakan dari pria mana pun yang pernah ia manfaatkan di kampus. Danny memasangkan kalung mewah itu dengan sangat hati-hati, memastikan pengaitnya terkunci dengan benar.
"Gue udah jamin ke lo kan di kapal waktu itu," bisik Aletha, suaranya agak merendah saat Danny merapikan kalung di leher jenjangnya. "Hidup sama gue gak bakal semenyedihkan yang lo kira."
Danny memutar tubuh Aletha agar kembali menghadapnya. Ia menatap lekat-lekat mata maroon yang kini memancarkan binar kehidupan yang utuh.
"Gue pegang omongan lo," jawab Danny dengan senyum seringai tipisnya yang menawan. "Dan gue juga mau lo pegang omongan gue. Mulai besok, siapa pun yang berani natap lo dengan pandangan gak suka kayak di mal kemarin, atau siapa pun yang pernah bikin lo nangis di masa lalu... mereka harus berhadapan sama gue dulu."
Aletha tertegun, merasakan kesungguhan yang teramat dari setiap untaian kata Danny. Skenario permainan yang awalnya ia susun rapi di atas papan caturnya kini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, namun entah mengapa, terasa sangat aman.
Mereka berdua kembali menatap ke arah cermin besar di depan mereka. Besok, seluruh Jakarta akan menyaksikan pertunjukan terbesar tahun ini. Dua orang yang sama-sama berhati dingin dan tidak percaya pada cinta, kini bersiap melangkah bersama ke atas altar sandiwara, mengikat diri dalam takdir baru yang pelan-pelan mulai mengikis batasan kontrak di antara mereka.