Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putra Hunter Rank S adalah Rank E
Ibu kota Beijing. Pusat Asosiasi Hunter.
Gedung raksasa berbentuk benteng heksagonal itu dikepung oleh lautan manusia. Puluhan van transmisi satelit, ratusan drone kamera yang berdengung seperti kawanan lebah mekanik, dan ribuan wartawan berjejal di balik barikade energi. Mereka saling sikut demi sebuah berita epik.
Bumi sedang membutuhkan seorang pahlawan yang baru. Mereka tidak sabar untuk menyiarkan langsung kelahiran seorang dewa baru. Bagi mereka, putra tunggal dari dua pilar Class S Tiongkok sudah pasti mewarisi genetika kehancuran yang tak tertandingi. Ekspektasi publik telah dipompa hingga ke titik gila; mereka mengharapkan kelahiran Hunter dengan bakat Kelas S, atau bahkan Kelas SS yang melegenda, yang akan menaklukkan Tower dan membebaskan dunia dari teror.
Di atas langit yang dikelilingi awan kelabu, formasi pesawat tempur hitam legam berlogo naga laut membelah awan. Itu adalah armada Wu Imperial Guild.
Pesawat utama mendarat vertikal di landasan khusus VVIP. Pintu palka terbuka. Udara seketika menjadi sangat berat saat ratusan elit Pengawal melompat turun, membentuk koridor penjagaan yang tidak bisa ditembus oleh peluru maupun sihir.
Wu Xuan melangkah keluar.
Ia mengenakan setelan jas hitam bespoke yang dijahit khusus, tanpa dasi, kerahnya sedikit terbuka memancarkan keanggunan seorang aristokrat yang tidak tersentuh. Rambut hitamnya tersisir rapi. Matanya yang tajam menatap lautan wartawan di bawah sana dengan ketenangan yang membekukan.
Ia tidak melambaikan tangan. Ia tidak tersenyum ramah pada kamera. Ia hanya menatap mereka seperti seorang raja yang menatap semut-semut di pelatarannya.
Di seluruh penjuru daratan, jutaan mata menatap layar televisi dan proyeksi holografik mereka.
Di sebuah rumah sederhana namun hangat di pinggiran kota, Butong duduk memeluk putrinya, Bu Yue, bersama seluruh anggota guild kecilnya. Gadis kecil itu kini telah sembuh, memakan camilan dengan wajah ceria tanpa ada selang atau rasa sakit yang mengikatnya. Mereka menonton siaran langsung itu dengan napas tertahan, mengingat kembali kengerian dan keajaiban yang dilakukan pemuda di layar televisi itu.
Di dalam aula utama Asosiasi Hunter yang didesain menyerupai katedral futuristik, altar kebangkitan—sebuah monumen pualam hitam yang dialiri urat-urat energi biru dari Tower—telah disiapkan.
Wu Jiang dan Wu Yuena telah tiba beberapa jam lebih awal. Kedua Hunter Country Tier itu berdiri di dekat altar dengan wajah sedingin es. Mereka tidak mempedulikan puluhan kamera yang merekam setiap sudut ruangan.
Selama beberapa jam terakhir, Wu Jiang dan beberapa Hunter elitnya telah memindai altar tersebut, memastikan tidak ada satu pun jebakan, kutukan, atau alat penyedot mana yang disembunyikan oleh para politisi Asosiasi untuk melukai putra mereka.
Di sisi altar, berdiri Tetua Asosiasi Lin Buyuan.
Ia adalah seorang pria tua yang struktur tubuhnya menentang usianya. Otot-otot leher dan lengannya begitu besar hingga jas formal yang ia kenakan terlihat seperti akan robek kapan saja. Wajahnya keras dan dihiasi bekas luka. Ia adalah veteran dari era awal bencana, seorang penegak hukum Asosiasi yang kaku namun dihormati.
"Guild Master Wu, Nyonya Yuena," ucap Lin Buyuan dengan suara berat dan formal. "Altar ini murni. Kami tidak akan berani bermain-main dengan keselamatan Tuan Muda. Ini adalah prosedur wajib untuk mendaftarkan resonansi jiwanya ke dalam Sistem Tower global."
Wu Jiang hanya mendengus dingin. "Aku hanya memastikan segala sesuatunya aman, Buyuan."
Pintu utama aula ganda terbuka. Wu Xuan melangkah masuk. Langkah kakinya menggema di lantai marmer, elegan dan penuh perhitungan. Ia berjalan menghampiri altar, tersenyum kecil menenangkan ibunya yang tampak tegang, lalu berdiri berhadapan dengan Lin Buyuan.
"Tuan Muda Wu Xuan," sapa Lin Buyuan, menatap mata pemuda itu dan seketika merasakan insting tempurnya merinding tanpa alasan yang logis. "Silakan letakkan tangan Anda di atas altar. Sistem Tower akan memindai kapasitas mana Anda dan mengklasifikasikan bakat Anda. Jangan menahan apa pun. Biarkan dunia melihat kekuatan Anda."
Kamera-kamera drone melayang mendekat, mengambil sudut pengambilan gambar paling sempurna. Daratan Tiongkok menahan napas. Rating siaran melonjak menembus angka miliaran penonton.
Wu Xuan menatap altar batu hitam di depannya. Di dalam benaknya, ia mengurai logika dari ritual primitif ini.
'Tower System… semacam sistem kosmik yang dipasang paksa di dalam kesadaran untuk memantau dan mengendalikan seluruh penggunanya,' batin Wu Xuan dalam pikirannya, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang mematikan.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Wu Xuan mengangkat tangan kanannya. Telapak tangannya yang pucat mendarat tepat di atas permukaan pualam hitam itu.
Satu detik.
Tiga detik.
Sepuluh detik berlalu.
Aula itu hening. Altar yang biasanya langsung mengeluarkan cahaya menyilaukan—merah untuk tipe penyerang, hijau untuk penyembuh, atau emas untuk bakat legendaris—kini diam membisu.
Tidak ada pendaran cahaya. Tidak ada getaran. Tidak ada apa-apa.
Napas Lin Buyuan tertahan. Kamera-kamera drone memperbesar fokus pada altar yang gelap gulita.
Altar itu mengukur mana. Dan tubuh Wu Xuan benar-benar kosong. Tidak ada mana, Tidak ada energi spiritual, tidak ada sirkulasi sihir.
Ting.
Suara mekanis yang kering memecah kesunyian. Layar holografik raksasa di atas altar akhirnya berkedip, memproyeksikan hasil pemindaian langsung ke seluruh dunia.
[Pemindaian Kapasitas Mana: 0. Status: Non-Kombatan.]
[Pemindaian Bakat: Selesai.]
[Klasifikasi: Class E]
[Nama Bakat: Perpustakaan E]
Seluruh dunia terdiam. Aula raksasa itu membeku.
Bukan Kelas S. Bukan Kelas SS. Bahkan bukan Kelas B.
Kelas E. Tingkatan terendah, paling dasar, paling hina dalam hierarki hunter. Bakat "Perpustakaan" adalah bakat yang sama sekali tidak memiliki kemampuan tempur, pertahanan, maupun penyembuhan.
Di era di mana kekuatan menghancurkan adalah segalanya, bakat ini adalah definisi mutlak dari kata 'sampah'.
Hening sejenak. Lalu, badai meledak.
Di seluruh dunia maya, di kolom-kolom komentar siaran langsung, miliaran teks meluncur bagaikan longsoran salju yang dipenuhi oleh kebencian, kekecewaan, dan cacian.
"Kelas E?! Nol Mana?! Apa-apaan ini! Kita membuang waktu untuk menonton orang cacat?!"
"Cacat! Idiot!! Mati saja sana!"
"Hahahah!! Sampah keluarga!! Idiot!"
"Tuan muda Imperial Guild ternyata hanyalah pemuda cacat! Pantas saja dia bersembunyi di dalam es selama lima belas tahun!"
"Ini menodai nama dua pilar Tiongkok! Dia memalukan! Jika dia adalah anakku, aku akan membuangnya ke jalanan!"
"Kita butuh pahlawan, bukan pustakawan tak berguna! Bunuh saja dia sebelum dia menghabiskan sumber daya negara!"
"Sampah tak berguna!! Mati saja sana, menyusahkan!!"
Komentar-komentar itu semakin beringas, diwarnai ancaman pembunuhan dari mereka yang kecewa karena 'anak' dari dua pilar umat manusia ternyata tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Di dalam aula, Lin Buyuan menatap layar dengan mata terbelalak, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia menoleh ke arah Wu Jiang, bersiap mengucapkan belasungkawa atas hancurnya garis keturunan keluarga Wu.
Namun, sebelum Lin Buyuan sempat membuka mulut, suhu ruangan anjlok drastis.
CRAAAK!
Lantai marmer di bawah kaki Wu Jiang hancur berkeping-keping. Udara membeku menjadi es padat. Pria berambut putih itu menatap layar holografik dan drone kamera dengan niat membunuh yang begitu pekat hingga beberapa wartawan di pinggir ruangan pingsan karena tertekan oleh aura spiritualnya.
"Matikan siarannya," geram Wu Jiang, suaranya rendah namun bergema seperti gempa bumi. "Potong sinyalnya. JIKA ADA SATU SAJA KATA HINAAN LAGI YANG KELUAR, AKU AKAN MEMBEKUKAN SELURUH KOTA INI!"
Para Pengawal seketika bergerak, memblokir kamera drone dan peralatan transmisi. Siaran langsung terputus menjadi statis hitam di seluruh tempat.
Wu Yuena melesat maju, memeluk lengan putranya dengan erat. Wajah sang dewi penyembuh itu dipenuhi oleh kecemasan, takut mental putranya akan hancur oleh hasil tersebut.
"Xuan'er, sayang, jangan dengarkan mereka. Tidak masalah," ucap Yuena cepat, suaranya bergetar menahan amarah pada dunia. "Kau tidak butuh mana. Kau tidak butuh bakat tempur. Ayah dan Ibu bisa melindungimu seumur hidup. Seluruh kekayaan keluarga ini adalah milikmu. Bakat Kelas E ini tidak berarti apa-apa!"
Namun, saat Yuena menatap wajah putranya... ia terdiam.
Alih-alih menemukan wajah yang hancur karena penghinaan atau keputusasaan karena memiliki bakat terburuk di bumi, ia justru melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Wu Xuan sedang tersenyum.
Senyum itu bukan senyum kepedihan. Itu adalah senyum ekstasi rasional. Sebuah seringai tiran yang baru saja menemukan kunci menuju brankas senjata. Mata hitam kecoklatannya berkilat oleh ambisi dan kepuasan yang mendalam.
"Hahahaha..." tawa tanpa suara meledak di dalam ruang batin Wu Xuan, murni, arogan, dan sangat mematikan.
"Orang-orang bodoh di era primitif ini... mereka menginginkan pedang untuk menebas satu atau dua monster. Mereka menganggap otot dan ledakan mana adalah segalanya. Tapi langit? Langit baru saja memberikan aksesnya padaku."
Wu Xuan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.
Bagi orang lain, bakat "Perpustakaan Kelas E" hanyalah kemampuan menghafal teks biasa. Sistem Tower pun menganggap Wu Xuan tidak lebih dari manusia lemah tanpa jiwa. Mereka tidak tahu bahwa Kesadaran Tertinggi Wu Xuan yang berada di Alam Surgawi adalah pemilik Akar Spiritual Perpustakaan Abadi.
Sistem Tower telah keliru membaca sisa-sisa jejak akar spiritual itu dari DNA-nya, lalu memaksakan sebuah interface untuk mencocokkannya. Dan di situlah letak kesalahan fatal dari sistem dewa luar tersebut.
Sebuah bakat Sistem Tower biasanya bersifat stagnan atau hanya bisa berevolusi jika memenuhi syarat yang gila. Namun, akar spiritual bisa berkembang, menyerap, dan berevolusi dengan sendirinya! Bakat Perpustakaan Kelas E ini... bisa ia kembangkan hingga memecahkan algoritma Tower itu sendiri, dan lebih penting lagi, ini adalah medium yang sempurna untuk membangun kembali jembatan komunikasi dengan kesadaran tertingginya!
'Inilah yang kuharapkan,' batin Wu Xuan, matanya memancarkan kengerian yang tersembunyi dengan rapi. 'Dengan bakat ini... menapaki puncak tatanan dunia akan jauh lebih mudah.'
Tepat saat pemikiran itu selesai terangkai...
Ting.
Sebuah antarmuka biru standar milik Sistem Tower muncul di sudut kiri pandangannya, menampilkan stats miliknya dan ikon buku kusam yang melambangkan bakat Kelas E.
Namun, sedetik kemudian, di sudut kanan pandangannya, ruang hampa bergetar. Sebuah layar kedua—berwarna emas murni yang memancarkan otoritas yang lebih tinggi—terbuka tepat di sebelah layar biru tersebut.
DING!
Wu Xuan kini menatap dua sistem yang berjalan secara bersamaan di dalam retinanya.
[Sistem Tower (Bumi)]
[Nama: Wu Xuan]
[Level : 0]
[Bakat : Perpustakaan E Class.]
....
[Sistem Tawarezarch]
[Kesadaran Tertinggi Tidak Terhubung.]
[Akar Spiritual Perpustakaan.]
[Sinkronisasi Memori dan Hukum Alam: Berjalan.]
Dada Wu Xuan berdesir. Sistem berwarna emas ini menandakan bahwa sisa-sisa kesadaran Dao Agung-nya berhasil melakukan Update.
Ia kini memiliki dua identitas. Sistem biru untuk mengelabui dunia dan bermain di dalam aturan Tower, serta Sistem emas untuk menghancurkan aturan tersebut.
Wu Xuan mengangkat wajahnya, menatap ayahnya yang masih diselimuti aura es menekan, lalu menatap ibunya yang penuh kekhawatiran.
"Tenanglah, Ma, Pa," ucap Wu Xuan dengan suara yang sangat stabil, elegan, dan dihiasi oleh senyum yang mampu membuat iblis salah melangkah. "Jangan buang energi kalian untuk hal yang tidak perlu. Biarkan saja mereka. Aku tidak peduli sama sekali."
Mendengar kata-kata itu, Wu Jiang perlahan menarik kembali auranya, menatap putranya dengan campuran rasa bingung dan kebanggaan yang aneh.
Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, di ruang keluarga sebuah rumah sederhana yang hangat di pinggiran kota.
Butong, Bu Yue yang kini terlihat sangat sehat dengan rona pipi cerah, dan anggota tim guild kecilnya duduk terpaku menatap layar televisi yang kini berubah menjadi statis hitam. Ponsel-ponsel mereka dibanjiri oleh notifikasi berita yang menghujat sang Tuan Muda.
Teman-teman Butong saling menatap dengan wajah pucat dan mulut ternganga.
"Kelas E? Non-Kombatan? Nol Mana? Mustahil!" gumam si Mage wanita di tim Butong, memegang kepalanya seolah kewarasannya baru saja dicabut. "Ini gila... atau mesin Asosiasi itu rusak!"
Mereka adalah saksi hidup. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka menyaksikan bagaimana pemuda bernama Wu Xuan itu diperebutkan para monster layaknya sebuah artefak. Dan tidak percaya dengan apa yang di tampilkan oleh media.
Bersambung...