NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 hujan emas di perjamuan bunga persik

Paviliun Bintang Jatuh terletak di dataran tinggi bagian barat Jinling, dikelilingi oleh ribuan pohon persik spiritual yang selalu mekar di setiap musim. Kelopak bunga berwarna merah muda berjatuhan tertiup angin musim gugur, menciptakan permadani alam yang sangat memanjakan mata. Tempat ini adalah area netral milik akademi, sering digunakan sebagai panggung bagi para jenius muda kekaisaran untuk saling unjuk gigi, menjalin aliansi, atau sekadar mencari jodoh dari klan bangsawan lain.

Hari itu, pengamanan paviliun dinaikkan hingga tingkat tertinggi. Pengawal berjubah putih dari Sekte Pedang Awan Putih berbaris rapi di sepanjang jalur pendakian. Di dalam aula utama yang terbuka, puluhan meja pendek berbahan kayu gaharu telah ditata melingkar, menghadap ke sebuah panggung batu giok putih di tengah-tengah.

Para tamu undangan mulai berdatangan. Pria-pria muda dengan pedang pusaka di pinggang memancarkan aura tajam setingkat Pengumpulan Qi tahap menengah hingga akhir. Gadis-gadis bangsawan mengenakan gaun sutra tipis saling berbisik, mata mereka melirik genit ke arah para pemuda berbakat tersebut.

Di kursi kehormatan tertinggi, duduklah Putri Yan Ling. Gaunnya berwarna putih salju dengan sulaman benang es berbentuk burung phoenix. Auranya sedingin gletser utara, membuat siapa pun yang menatapnya langsung menundukkan pandangan karena segan. Di samping kirinya duduk Jian Wushuang, murid utama Sekte Pedang Awan Putih, seorang jenius arogan yang telah mencapai tingkat Pembentukan Fondasi tahap awal di usia dua puluh satu tahun.

"Tuan Putri," Jian Wushuang menuangkan teh ke dalam cangkir Yan Ling dengan gerakan elegan. "Apakah Tuan Muda Cang benar-benar akan datang? Tempat ini dipenuhi oleh pedang dan qi murni. Udara di sini terlalu tajam bagi seorang pemuda tanpa meridian sepertinya."

Yan Ling menyesap tehnya perlahan. Matanya menyapu ujung jalan masuk paviliun. "Dia akan datang. Orang sombong tidak pernah bisa menolak panggung yang disiapkan untuk mereka. Saat dia tiba, aku ingin kau dan yang lain mengujinya hingga batas maksimal. Jangan bunuh dia, cukup paksa dia mengeluarkan apa yang dia sembunyikan."

Jian Wushuang tersenyum merendahkan. "Menguji si sampah itu? Sehelai rambutku saja sudah cukup untuk mematahkan tulang punggungnya. Tuan Putri terlalu berlebihan mengkhawatirkannya."

Tepat saat kalimat kesombongan itu selesai diucapkan, suara bising yang luar biasa memecah ketenangan paviliun.

Bukan suara langkah kaki, melainkan suara gemerincing koin emas dalam jumlah masif.

Semua orang di dalam paviliun menoleh ke arah pintu masuk. Mata mereka melebar, beberapa bahkan nyaris menjatuhkan cangkir teh ke pangkuan masing-masing.

Dari balik pepohonan persik, muncul sebuah iring-iringan yang membuat akal sehat para kultivator muda itu runtuh. Enam pria berbadan kekar memikul sebuah kursi tandu raksasa yang keseluruhannya terbuat dari koin emas yang dilebur dan dicetak menjadi singgasana. Tandu itu tidak memiliki atap, membiarkan kelopak bunga persik jatuh menimpa penumpangnya.

Di atas singgasana emas tersebut, Cang Qixuan duduk dengan posisi menyilang kaki yang sangat tidak sopan.

Pakaiannya hari ini benar-benar menyilaukan mata, secara harfiah. Jubahnya ditenun dari Sutra Laba-laba Es yang sangat langka, memancarkan pendaran cahaya kebiruan, sementara mantel luarnya terbuat dari bulu Angsa Api Merah yang bernilai sepuluh ribu tael emas per helainya. Paduan dua elemen bertolak belakang pada satu pakaian itu bukan untuk fungsi bela diri, murni hanya karena Qixuan menganggapnya "terlihat mahal". Di tangan kanannya, ia memutar-mutar dua buah mutiara naga berukuran sebesar kepalan tangan bayi seolah itu hanya kelereng murahan.

"Awas jalan! Minggir! Dewa Kekayaan mau lewat!" teriak Mo Chen yang berjalan di depan tandu, bertindak sebagai pembuka jalan sambil melempar segenggam keping emas ke udara setiap lima belas langkah. Para pelayan rendahan akademi yang menjaga pintu tanpa sadar merangkak memungut emas tersebut, merusak formasi penyambutan yang elegan.

Qixuan turun dari singgasananya saat tandu itu diletakkan tepat di tengah aula, sangat dekat dengan panggung batu giok. Sepatu botnya yang bertatahkan permata zamrud mengetuk lantai kayu dengan suara nyaring.

"Maaf aku terlambat," Qixuan menguap panjang, melambaikan tangan ke arah Putri Yan Ling tanpa repot-repot membungkuk. "Keretaku terjebak macet. Ada beberapa pedagang miskin menghalangi jalan, jadi aku terpaksa membeli seluruh jalan raya barat agar mereka menyingkir. Oh, tempat ini agak sempit ya? Dan kursinya... dari kayu?"

Qixuan menatap meja dan kursi gaharu yang disediakan untuknya dengan ekspresi jijik. Ia menjentikkan jari. Dua pelayan kekar langsung menendang kursi kayu mahal tersebut hingga hancur berkeping-keping, lalu menempatkan sebuah dipan empuk berlapis kulit beruang spiritual di tempatnya.

Qixuan menjatuhkan diri ke dipan itu, merentangkan tangannya, lalu menatap sekeliling aula yang masih membeku dalam keheningan akibat keterkejutan kultural.

"Kenapa kalian diam saja? Katanya ini perjamuan. Di mana araknya? Di mana penarinya? Ah, sekte pedang memang kaku. Kalian semua terlihat seperti orang yang sembelit berhari-hari," oceh Qixuan tanpa jeda.

Wajah Jian Wushuang memerah padam. Urat di dahinya berdenyut keras. Sebagai murid utama Sekte Awan Putih, belum pernah ada yang berani menghina acara sektenya secara terang-terangan.

"Cang Qixuan!" bentak Jian Wushuang, bangkit berdiri sambil menggebrak mejanya. Gelombang qi tingkat Pembentukan Fondasi meledak keluar, menyapu kelopak bunga di lantai. "Jaga mulut kotor-mu! Ini adalah Perjamuan Bunga Persik, tempat berkumpulnya para ahli bela diri! Kami mengundangmu murni karena kebaikan hati Tuan Putri Yan Ling. Jika kau terus bersikap biadab, pedangku yang akan mengajarimu tata krama!"

Qixuan perlahan menoleh ke arah Jian Wushuang. Ia menghentikan putaran mutiara di tangannya. Sorot matanya yang selalu terlihat bodoh perlahan memudar, digantikan oleh kilatan amber-emas yang sangat dingin.

"Ah, kau pasti Jian Wushuang. Si jenius yang dikabarkan menghabiskan sepuluh tahun bermeditasi di Gua Es hanya untuk memahami satu jurus pedang," Qixuan tersenyum miring. "Berbicara soal mengajariku tata krama... aku penasaran, berapa harga pedang yang menggantung di pinggangmu itu?"

Jian Wushuang mendengus bangga, menepuk gagang pedangnya yang berwarna perak. "Ini adalah Pedang Pemecah Awan. Senjata spiritual kelas Bumi tingkat menengah. Ditempa oleh Master Besi dari kawah berapi selama tiga tahun! Benda ini tidak ternilai harganya dengan uang kotormu!"

"Tidak ternilai?" Qixuan tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. Tawa itu menggema sangat keras, membuat para tamu merasa telinga mereka ditusuk jarum kebisingan.

Qixuan tiba-tiba berhenti tertawa. Ia merogoh lengan bajunya yang longgar, menarik keluar setumpuk cek emas Kekaisaran, dan melemparnya dengan kasar ke arah meja Jian Wushuang. Lembaran-lembaran berharga itu berhamburan di udara sebelum mendarat tepat di depan wajah sang jenius pedang.

"Seratus ribu tael emas murni," ucap Qixuan dengan nada datar yang menusuk tulang. "Beli sepuluh pedang rongsokan itu, sisanya gunakan untuk membeli otak baru agar kau sadar dengan siapa kau berbicara. Kau memegang pedang untuk melindungi dirimu karena kau miskin dan lemah. Aku tidak memegang pedang, karena dengan satu jentikan jariku, seribu pendekar sepertimu akan berbaris saling membunuh hanya demi mendapat tulang dariku. Jadi, duduklah, Anjing Kecil. Jangan menggonggong saat majikanmu sedang menikmati bunga."

Hening.

Keheningan di aula itu begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau. Para jenius muda dari berbagai klan menelan ludah. Hinaan Qixuan begitu merendahkan, langsung menyerang esensi Dao sang murid utama. Di dunia persilatan, menghina senjata seorang pendekar adalah tantangan duel sampai mati.

Jian Wushuang gemetar hebat. Matanya memerah. Pedang Pemecah Awan di pinggangnya bergetar merespons amarah tuannya. "KAU MENCARI MATI!"

*SRING!*

Pedang perak itu terhunus. Cahaya pedang yang sangat tajam membelah meja di depannya menjadi dua. Jian Wushuang melompat ke udara, energi pembunuhannya mengunci tubuh Qixuan. Ia bermaksud menebas lengan Qixuan sebagai hukuman, mengabaikan fakta bahwa pemuda di depannya adalah cucu seorang Jenderal Besar.

Di kursi kehormatan, Putri Yan Ling menyipitkan matanya, mengawasi setiap pergerakan Qixuan. *Tunjukkan kekuatanmu. Keluarkan artefakmu,* batin sang putri.

Tebasan pedang Jian Wushuang melesat bagai kilat menuju bahu kanan Qixuan.

Di atas dipannya, Qixuan bahkan tidak berkedip. Tangannya masih memegang mutiara naga. Namun, di dalam Dantiannya, Pusaran Air Kegelapan (Yin) yang baru ia bentuk dari Bunga Jiwa Hitam berputar ganas.

Seni Pernapasan Menelan Langit memungkinkan Qixuan memanipulasi energi langsung dari lingkungan tanpa harus mengalirkannya melalui meridian. Ia menyalurkan setitik energi Yin ekstrem melalui lantai kayu ke arah kaki Jian Wushuang.

Saat pedang itu berada hanya tiga inci dari bahu Qixuan, hawa dingin purba menyusup ke dalam titik akupuntur Yongquan di telapak kaki Jian Wushuang. Energi Yin itu langsung membekukan aliran qi di saluran kakinya seketika.

Otot betis Jian Wushuang kram hebat dalam sepersekian detik. Keseimbangannya di udara hancur total. Qi di pedangnya buyar. Bukannya menebas bahu Qixuan, sang jenius pedang itu justru jatuh menukik dengan posisi yang sangat memalukan.

*BRAK!*

Wajah Jian Wushuang menghantam meja kayu keras di depan Qixuan, membuat hidungnya patah dengan suara tulang retak yang renyah. Pedang kebanggaannya terlepas dari genggaman, tergelincir menabrak kaki sepatu bot zamrud Qixuan.

Seluruh aula kembali menahan napas. Apa yang baru saja terjadi? Apakah murid utama itu tersandung angin?

Qixuan memiringkan kepalanya, menatap Jian Wushuang yang mengerang kesakitan di lantai dengan hidung berdarah. Ia menggunakan ujung sepatunya untuk menggeser Pedang Pemecah Awan itu menjauh.

"Aduh, aduh... Jenius Sekte Awan Putih rupanya berlatih jurus 'Katak Sujud Menghadap Kaisar'?" sindir Qixuan dengan nada kelewat polos. "Lantainya memang licin. Mungkin lain kali, gunakan uang seratus ribu emas tadi untuk membeli sepatu yang beralas karet, Saudara Jian."

"K-Kau... KAU MELAKUKAN SESUATU!" Jian Wushuang berteriak histeris, darah mengalir dari hidungnya menodai baju putihnya. Ia mencoba bangkit, kelumpuhan sesaat di kakinya membuatnya sempoyongan.

"Melakukan apa? Menyandungmu dengan pandangan mataku?" Qixuan tertawa mencemooh, melirik ke arah tamu-tamu lain. "Kalian semua melihatnya. Aku bahkan tidak mengangkat jariku. Kultivator zaman sekarang sungguh mengecewakan. Baru dipameri sedikit uang saja lututnya langsung lemas."

Gemerutuk gigi terdengar dari segala penjuru aula. Para pemuda jenius itu merasa martabat mereka ikut diinjak-injak, namun mereka juga bingung. Mereka benar-benar tidak merasakan adanya fluktuasi qi dari tubuh Qixuan maupun pengawalnya saat Jian Wushuang menyerang. Insiden itu benar-benar murni terlihat seperti Jian Wushuang melakukan kesalahan fatal dalam keseimbangan udaranya.

Yan Ling tidak tahan lagi. Rencananya untuk memprovokasi Qixuan agar mengeluarkan kemampuan aslinya telah digagalkan dengan sangat konyol. Pemuda ini menggunakan kelicikan tak terlihat untuk menghancurkan mental Jian Wushuang tanpa menggunakan tenaga fisik.

Sang putri bangkit dari kursinya. Ia melangkah anggun menuruni panggung, menghampiri dipan Qixuan. Udara di paviliun seketika berubah menjadi lebih dingin berkat aura es alami miliknya.

"Tuan Muda Cang sangat pandai memutarbalikkan fakta," suara Yan Ling jernih dan tegas, menggema di seluruh ruangan. "Namun, Perjamuan Bunga Persik bukan hanya untuk mengadu otot. Acara ini juga bertujuan untuk menguji kemurnian jiwa dan potensi spiritual para tamu. Agar tidak ada prasangka buruk, aku telah membawa pusaka istana."

Yan Ling mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya muncul sebuah cermin kecil berbahan perunggu kuno. Permukaan cermin itu tidak memantulkan bayangan, melainkan dipenuhi pusaran awan kelabu.

"Cermin Penyingkap Jiwa," gumam seorang tetua akademi di sudut ruangan dengan nada takjub. "Itu adalah artefak tingkat Surga yang mampu mendeteksi elemen akar, karma pembunuhan, hingga menyerap anomali qi di dalam tubuh seseorang!"

Yan Ling menatap Qixuan dengan tajam. "Cermin ini bisa melihat kebenaran yang disembunyikan oleh tubuh fana. Karena Tuan Muda Cang merasa dirinya terlalu tinggi untuk disentuh oleh pedang, apakah kau berani membiarkan cermin ini memindai jiwamu? Siapa tahu... meridianmu yang hancur itu menyembunyikan 'sesuatu' yang baru saja kau curi dari tempat suci."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada ancaman yang sangat jelas. Sang putri yakin, jika Qixuan yang mencuri Bunga Jiwa Hitam, sisa energi Yin purba pasti masih menempel di tubuhnya. Cermin itu akan bereaksi terhadap energi Yin tersebut dan membongkar kebohongannya di depan semua orang.

Qixuan berhenti memutar mutiaranya. Matanya bertemu pandang dengan Yan Ling. Di balik kedok santainya, otaknya bekerja dalam kecepatan penuh. Cermin artefak tingkat Surga bukanlah benda main-main. Jika cermin itu memindainya, bukan hanya energi Yin dari bunga itu yang akan ketahuan, eksistensi pusaran Seni Menelan Langit di dalam Dantiannya akan terekspos. Jika dunia tahu ia berlatih teknik yang bertentangan dengan hukum meridian alami, ia akan langsung dicap sebagai iblis sesat dan diburu oleh seluruh sekte ortodoks benua ini.

"Memindai jiwaku?" Qixuan mengangkat alisnya, lalu perlahan bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati Yan Ling hingga jarak mereka hanya tersisa setengah lengan. Wangi bunga teratai es dari tubuh sang putri tercium jelas, berbaur dengan aroma anggur dari tubuh Qixuan.

"Tuan Putri," bisik Qixuan, suaranya sangat pelan, cukup untuk didengar oleh Yan Ling seorang. "Apakah kau yakin ingin melihat isi jiwaku? Jika aku menunjukkan seberapa 'kotor' dan 'gelap' pikiranku tentangmu saat malam tiba... cerminmu itu mungkin akan retak karena malu."

Wajah Yan Ling memerah. Rasa jijik dan amarah meledak di dalam dadanya. Pria bajingan ini berani-beraninya melecahkannya secara seksual di depan umum!

Yan Ling langsung mengangkat Cermin Penyingkap Jiwa, mengarahkannya tepat ke wajah Qixuan tanpa aba-aba. Sinar putih menyilaukan memancar dari permukaan cermin tersebut, menyapu tubuh pemuda berbaju merah itu.

Qixuan sudah menduga serangan mendadak itu. Ia tidak mencoba menghindar. Justru sebaliknya.

*Jika cermin ini ingin menyerap dan mendeteksi energiku, maka aku akan memberinya makanan yang paling buruk yang bisa dicernanya.*

Sesaat sebelum sinar cermin itu menyentuh kulitnya, Qixuan mengaktifkan Pusaran Bumi (Pusaran Ketiga) di perut bagian bawahnya. Ia tidak mengeluarkan qi elemen tanah secara normal, melainkan memadatkan partikel elemen bumi yang sangat kotor dan kacau, hasil sampingan dari penyerapan paksa yang belum ia murnikan, dan mendorongnya ke permukaan kulit dadanya tepat di mana sinar cermin itu jatuh.

Sinar putih dari cermin perlahan berubah warna.

Mata Yan Ling berbinar. Cerminnya bereaksi! Ia bersiap meneriakkan tuduhan.

Namun, warna putih itu tidak berubah menjadi hitam (elemen Yin), melainkan berubah menjadi warna cokelat keruh yang menjijikkan, menyerupai lumpur kotoran babi. Cermin Penyingkap Jiwa berdengung keras. Awan kelabu di permukaannya berputar tak terkendali, seolah-olah artefak suci itu sedang dipaksa menelan sampah mentah.

"Apa yang terjadi?!" Yan Ling terkejut, mencoba menarik kembali cerminnya, namun daya tarik dari pusaran Qixuan secara diam-diam mengunci cermin itu dari jarak dekat.

*KRETAK!*

Sebuah retakan halus muncul di permukaan cermin perunggu tersebut.

Yan Ling melebarkan matanya. Artefak tingkat Surga tidak mungkin retak hanya karena memindai manusia tanpa meridian!

"Aduh, aduh..." keluh Qixuan keras-keras, melangkah mundur dan berpura-pura menutup matanya. "Sinar apa ini?! Sangat menyilaukan! Tuan Putri, apakah cerminmu itu barang palsu yang kau beli di pasar loak perbatasan? Kenapa warnanya seperti air got?!"

*PRANG!*

Cermin Penyingkap Jiwa akhirnya pecah menjadi tiga bagian. Serpihannya jatuh berdenting di atas lantai kayu. Cahaya spiritualnya langsung padam.

Keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya menguasai aula paviliun. Artefak istana... hancur. Hancur dengan sendirinya setelah menyorot Tuan Muda Cang.

"Benda ini tidak bereaksi pada Yin atau Yang, melainkan rusak karena tidak menemukan sedikit pun fluktuasi qi atau akar spiritual," gumam seorang tetua dengan wajah pucat. "Tubuh Tuan Muda Cang benar-benar... kosong seperti cangkang mati. Kekosongan absolut itu mengacaukan susunan array di dalam cermin!"

Tentu saja itu adalah kesimpulan bodoh yang diharapkan oleh Qixuan. Memanipulasi *Seni Menelan Langit* untuk menciptakan ilusi "ketiadaan" dengan menyerap sinyal deteksi adalah salah satu fungsi pertahanan utama teknik buas tersebut. Cermin itu hancur karena *makan* terlalu banyak tekanan gravitasi kotor dari elemen bumi Qixuan yang memblokir inti cermin dari dalam.

Yan Ling menatap serpihan cermin di kakinya dengan tangan gemetar. Kegagalannya sangat fatal. Tidak ada bukti pencurian, tidak ada anomali kultivasi. Yang ada hanyalah penghinaan dan hancurnya pusaka berharga milik kaisar.

Qixuan menyeringai melihat keputusasaan di mata sang putri. Ia merogoh lengan bajunya kembali. Kali ini, ia mengeluarkan sebuah kantong sutra besar berisi batangan emas murni yang sangat berat, lalu melemparnya tepat di depan ujung gaun Yan Ling.

Beban jatuhnya kantong itu merobek lantai kayu.

"Maafkan aku, Tuan Putri," Qixuan menghela napas prihatin, yang terdengar sangat mengejek. "Jiwa fana dan ketiadaan bakatku rupanya merusak mainan kesayanganmu. Tolong terima emas ini sebagai kompensasi. Jika emas ini kurang, katakan padaku. Aku bisa membelikanmu sepuluh cermin yang jauh lebih bagus dari pengrajin kaca di distrik merah. Setidaknya, kaca dari sana tidak mudah pecah saat melihat ketampananku."

Wajah Yan Ling memerah sempurna karena amarah dan rasa malu yang mencekik. Dihina di hadapan para jenius muda dengan menggunakan uang kompensasi! Harga dirinya sebagai putri mahkota diinjak-injak seolah ia hanyalah pelayan rendahan yang baru saja merusak barang majikannya.

Para pemuda jenius yang sedari tadi ingin pamer kekuatan kini terdiam kaku. Mereka menyadari satu hal: Menghadapi Cang Qixuan dengan pedang adalah sebuah kesalahan. Pedang bisa dilawan dengan perisai, tetapi arogansi mutlak yang ditopang oleh kekayaan dan nasib "bawaan" ketiadaan energi, membuat setiap serangan mereka terlihat seperti lelucon.

"Mo Chen, kita pulang," Qixuan berbalik membelakangi sang putri yang masih terpaku. Ia melangkah santai menuju pintu keluar. "Udara di sini terlalu banyak dipenuhi orang miskin yang suka bermimpi. Lain kali, jika kalian mengadakan perjamuan, pastikan makanannya tidak kalah mahal dari harga pakaianku."

Sambil terus mengipas dirinya, pemuda berjubah merah itu berjalan menuruni bukit, meninggalkan Paviliun Bintang Jatuh dalam kondisi kacau balau. Jian Wushuang masih mimisan di lantai, Yan Ling menahan amarah di depan serpihan pusakanya, dan para jenius lainnya sibuk menjilat ego mereka sendiri yang hancur.

Tidak ada pedang yang dicabut, tidak ada pertumpahan darah secara fisik. Namun, kehancuran mental yang ditinggalkan Qixuan jauh lebih dalam daripada luka bacok.

Di saat hujan kelopak persik mengiringi kemenangan emas Qixuan di ibukota, neraka sesungguhnya baru saja dimulai ribuan li di utara.

Malam itu, di Kamp Militer Pasukan Naga Hitam.

Udara dingin merayap menembus celah tenda. Ribuan prajurit yang kelaparan akhirnya mendapat jatah makan besar dari gandum baru yang tiba, dilengkapi dengan pembagian satu mangkuk arak spiritual hangat untuk setiap prajurit demi mengusir rasa beku di tulang.

Mu Chenghai berdiri di atas panggung kayu di tengah kamp, mengangkat cawan peraknya tinggi-tinggi. Meskipun hatinya hancur karena telah menggadaikan tambang besi klannya kepada pedagang gemuk, setidaknya ia berhasil memulihkan moral pasukan. Sorak-sorai prajurit yang bersulang dengan arak terdengar bagai musik di telinganya.

"Untuk kejayaan Dinasti Yan! Untuk kekuatan Pasukan Naga Hitam!" teriak Mu Chenghai.

Ia meminum arak dari cawannya dalam satu tegukan. Sensasi hangat arak yang meresap ke tenggorokan terasa sangat nikmat.

Akan tetapi, tepat ketika tetes terakhir arak itu mengalir menuju lambungnya, Mu Chenghai tidak menyadari adanya rasa logam tipis yang janggal. Di dalam kegelapan cairan itu, racun *Embun Pemutus Dao* yang diracik dari Bunga Jiwa Hitam mulai bekerja.

Racun itu tidak menyerang lambung atau organ vital. Sifatnya jauh lebih halus dan mematikan. Racun tersebut menguap menjadi kabut spiritual tipis di dalam tubuhnya, mencari celah menuju saluran Dantian, lalu perlahan menempel di dinding meridian bagai lumut hitam parasit.

Malam itu, di seluruh penjuru kamp militer, seratus ribu prajurit elit kekaisaran tertidur dengan perut kenyang. Mereka tidak tahu bahwa keesokan harinya, ketika mereka terbangun, separuh dari kekuatan qi mereka tidak akan pernah kembali lagi.

Bidak hitam Qixuan telah melahap jantung pertahanan kaisar. Kehancuran tidak datang dalam bentuk invasi atau perang terbuka. Kehancuran datang dalam bentuk semangkuk arak hangat yang dibeli dengan emas foya-foya sang tuan muda sampah. Uang yang ditertawakan dunia kini menjadi racun yang mengakhiri dinasti. Jaring sutra itu mulai menarik talinya, menjerat leher setiap orang yang dulu pernah meludahi nama Klan Cang.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!