Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
"Duduklah," suara Lie rendah namun berwibawa. "Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Tapi aku lebih suka melihat langsung apa yang membuat adikku rela mengabaikan tiga protokol keamanan kerajaan dalam satu malam."
Qigu, asisten pribadi pangeran Lie menarik sebuah kursi untuk Alin dimana ia harus duduk. Lie tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk mencairkan sedikit suasana. Ia memperhatikan bagaimana Rei secara tidak sadar menggeser kursi Alin lebih dekat ke arahnya, sebuah gestur posesif yang jarang ditunjukkan sang adik di depan umum.
Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergejolak di dada Lie. Ia datang untuk memastikan bahwa wanita ini tidak akan menjadi kelemahan Rei. Namun, melihat sorot mata Alin yang jernih namun penuh tekad, Lie merasakan sesuatu yang asing: pengakuan.
Ia mulai paham mengapa Rei jatuh begitu dalam. Ada kehangatan pada Alin yang tidak pernah mereka temukan di lorong-lorong istana yang dingin. Dan yang lebih berbahaya bagi Lie— ia mulai merasakan ketertarikan yang sama.
"Kau menempuh perjalanan jauh hanya untuk sarapan, Yang mulia?" Rei memecah kesunyian, membuka percakapan ringan namun dengan nada yang menuntut penjelasan. Ia meraih teko teh, menuangkannya ke cangkir Lie dengan gerakan yang santai namun penuh hormat—gestur khas seorang adik yang sangat menghargai kakaknya.
Lie menyesap tehnya perlahan, membiarkan uap tipis menghalangi pandangannya sejenak sebelum menatap Rei.
"Udara di ibu kota sedang tidak bagus untuk kesehatan, Yan. Aku hanya butuh suasana baru di Bingdu. Lagipula—" Mata Lie bergulir tenang, mendarat tepat pada wanita yang duduk di sebelah adiknya. “—aku tidak ingin melewatkan kesempatan mengenal Dokter Yi lebih dekat."
Merasa namanya disebut dalam radar sang Pangeran Utama, Alin menegakkan punggungnya. Ia menyambut tatapan Lie dan kembali menundukkan pandangannya dengan seulas senyum profesional, meski jemarinya saling meremas di bawah meja.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda, Yang mulia," jawab Alin lembut, namun nadanya terdengar tegas tanpa ada kepatuhan yang mengemis.
Lie tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk mencairkan sedikit ketegangan tak kasatmata yang berpusat pada wanita di antara mereka.
“Dokter Yi," panggil Lie lembut, namun setiap suku katanya membawa beban otoritas yang besar. "Aku mendengar reputasimu di dunia medis. Tapi, melihatmu di sini, di kamar hotel adikku pada jam seperti ini... membuatku bertanya-tanya. Apakah kau di sini sebagai dokter pribadinya, atau sebagai sesuatu yang jauh lebih berharga?"
Pertanyaan itu blak-blakan, sebuah ujian langsung yang dijatuhkan di atas meja makan mereka.
Sebelum Alin sempat membuka suara, denting pelat perak terdengar tajam. Rei meletakkan cangkir tehnya sendiri dengan tekanan yang sedikit terlalu keras ke atas meja.
"Kak," sela Rei, suaranya beralih menjadi bariton yang dalam dan memperingatkan. Mata elangnya menatap sang kakak tanpa berkedip. "Alin berada di bawah perlindunganku. Pertanyaan seperti itu tidak pantas diajukan pada seorang tamu."
Melihat reaksi protektif adiknya, Lie justru menaikkan sebelah alisnya, merasa geli sekaligus terkejut. Sepanjang hidup mereka, Yan—atau Rei—adalah sosok yang paling dingin, kalkulatif, dan tidak pernah membiarkan emosi menguasai dirinya. Namun hari ini, hanya karena satu kalimat sindiran, adiknya siap mengeluarkan taringnya.
Lie mengalihkan pandangannya kembali pada Alin, mengabaikan tatapan membunuh dari adiknya. "Bagaimana denganmu, Dokter Yi? Apakah kau merasa terancam dengan pertanyaanku?"
Alin menarik napas dalam-dalam. Di bawah meja, jemarinya yang tadi tegang perlahan melonggar. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata Pangeran Utama. Cahaya pagi yang masuk melalui jendela hotel membiaskan kecantikan yang begitu tenang pada wajahnya—kecantikan yang mampu membuat pria mana pun terpaku. Termasuk Lie.
"Saya berada di sini karena kewajiban tugas yang diberikan Pangeran Yan pada saya, Yang Mulia," jawab Alin tenang. "Kehadiran saya di sini tidak akan mengurangi profesionalitas saya, maupun posisi Pangeran Yan. Anda tidak perlu khawatir."
Lie tertegun. Jawaban itu tidak defensif, tidak pula menunjukkan ketakutan. Alin tidak menggunakan nama Rei sebagai perisai; ia berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Bahkan, ia seolah sedang melindungi harga diri Rei dalam kalimatnya.
‘Menarik,’ batin Lie. Ada kehangatan yang murni, namun ada juga baja yang keras di dalam diri wanita ini. Sesuatu yang sangat langka di istana. Rasa ketertarikan yang asing itu kembali berdenyut di dada Lie, membuat sudut bibirnya terangkat dalam senyum yang kali ini lebih tulus.
"Jawaban yang luar biasa," puji Lie, lalu ia menoleh pada adiknya yang masih menegang. "Tenanglah, Yan. Aku tidak datang untuk merebutnya. Aku hanya ingin memastikan dengan mataku sendiri... bahwa wanita yang kau pilih memang pantas berdiri di sisimu."
“Tapi aku bukan—“
“Tentu. Dan kali ini cukup sulit mendapatkan yang kuinginkan.” Sela Rei dengan cepat. Di bawah meja, ia menyambar tangan Alin dan menggenggamnya erat, seolah menegaskan kepemilikan yang tak terbantahkan.
Suasana di meja makan itu mendadak senyap, menyisakan deru halus pendingin ruangan dan aroma Earl Grey yang masih mengepul. Genggaman tangan Rei di bawah meja terasa panas dan posesif, sebuah pernyataan bisu yang membuat jantung Alin berdegup dua kali lebih cepat.
Lie memperhatikan tautan tangan yang tersembunyi itu—atau setidaknya, ia bisa menebaknya dari posisi bahu adiknya yang menegang. Alih-alih marah karena tantangan terang-terangan Rei, Lie justru tertawa kecil. Suara tawa yang renyah, namun menyimpan gema kesepian yang dalam.
"Kau sangat tidak sabaran, Yan," ucap Lie sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. "Padahal aku baru saja mulai menyukai cara Dokter Yi menatapku tanpa rasa takut."
Rei tidak membalas tawa itu. Sorot matanya tetap dingin, setajam silet yang siap mengiris udara. "Ketakutan hanya untuk mereka yang menyembunyikan sesuatu, Kak. Dan Alin tidak punya alasan untuk itu."
Lie menghela napas pendek, ada binar kekaguman yang tipis di matanya. "Keberanian yang tenang. Itu kualitas yang jarang ditemukan, bahkan di antara para jenderal sekalipun. Aku datang untuk mencari kelemahan Rei, tapi sepertinya aku justru menemukan alasan mengapa dia menjadi lebih kuat belakangan ini."
Lie menjeda kalimatnya, memiringkan kepala dengan tatapan yang mendadak melunak pada Alin, seolah baru saja menemukan sebuah permata berharga di tengah tumpukan batu kali.
"Bukan begitu, Dokter Yi? Ah—rasanya terlalu formal untuk suasana sarapan yang hangat ini. Bisakah aku memanggil nama kecilmu saja... Lin?" tanya sang Pangeran Utama.
Suaranya merendah, memberikan penekanan yang lembut namun berani pada satu suku kata itu.
Alin terkesiap. Udara di sekitarnya seakan menipis. Permintaan itu terdengar sederhana, namun di dunia istana, memanggil nama kecil adalah tanda kedekatan yang melampaui batas profesional. Merasakan tatapan Lie yang mengunci manik matanya, Alin tidak punya pilihan selain tetap bersikap tenang meski jantungnya berdebar cemas.