NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Onimaru Rascall

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Setelah Shinta keluar dari kafe, Aqila langsung muncul dari balik sekat yang sejak tadi dipakainya untuk bersembunyi. Wajahnya terlihat kesal. Dia berjalan cepat menghampiri meja Andika yang masih duduk sambil menatap gelas kopinya dengan tatapan kosong.

“Kamu serius tadi?” tanya Aqila tanpa basa-basi.

Andika mengangkat kepala perlahan. “Tentang apa?”

“Jangan pura-pura tidak mengerti.”

Andika menghela napas pendek lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kamu dari tadi menguping?”

“Aku memang sengaja dengar.” Aqila melipat tangan di depan dada. “Karena aku penasaran seberapa keras kepala sepupuku sendiri.”

Andika tertawa kecil. “Kamu terlalu ikut campur.”

“Dan kamu terlalu menyebalkan.”

Beberapa pengunjung menoleh sesaat karena nada bicara Aqila mulai meninggi. Aqila akhirnya menarik kursi dan duduk di depan Andika. Tatapannya tajam, seolah sudah menahan banyak hal sejak lama.

“Shinta datang ke sini dengan keberanian besar,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Dia mencoba memperbaiki hubungan kalian, tapi kamu malah bicara seperti semuanya tidak berarti.”

Andika tersenyum tipis. Senyum yang justru terlihat melelahkan.

“Karena memang tidak ada yang perlu diperbaiki.”

Aqila langsung mendecakkan lidah. “Kamu bohong.”

“Kamu yang terlalu percaya hubungan kami masih bisa diselamatkan.”

“Karena memang masih bisa.”

Andika menggeleng pelan. “Aku dan Shinta tidak cocok. Dari dulu kami tidak pernah benar-benar saling mengerti.”

Aqila menatapnya lama sebelum akhirnya berkata dengan nada dingin, “Menurutku justru kamu yang tidak mengerti dirimu sendiri.”

Kalimat itu membuat Andika terdiam sesaat.

Aqila melanjutkan, “Kalau memang sudah tidak punya perasaan, kenapa kamu tidak jujur pada paman? Kenapa sampai sekarang beliau masih berpikir kalian baik-baik saja?”

Andika memalingkan wajahnya ke arah jendela.

“Aku tidak ingin membahas itu.”

“Karena kamu takut.”

Andika langsung menatap Aqila tajam. “Jangan sok tahu.”

“Aku tahu cukup banyak.” Aqila ikut mencondongkan tubuh ke depan. “Kamu masih sayang pada Shinta.”

Andika tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar hambar.

“Lucu sekali.”

“Tidak lucu.” Aqila menggeleng. “Yang lucu itu kamu terus berpura-pura tidak peduli padahal jelas-jelas masih memikirkan dia.”

Andika mulai terlihat kesal. “Hubungan tidak selesai hanya karena masih punya perasaan.”

“Lalu karena apa?”

“Karena capek.”

Jawaban itu membuat Aqila sedikit terdiam.

Andika mengusap wajahnya pelan sebelum melanjutkan.

“Aku capek terus salah paham dengan dia. Capek selalu bertengkar karena hal kecil. Capek berharap semuanya membaik lalu berakhir buruk lagi.” Tatapannya mulai kosong. “Aku tidak melihat masa depan yang bagus bersama Shinta.”

Aqila menghela napas panjang.

“Kamu tahu masalah terbesar kamu apa?”

“Aku tidak tertarik mendengar ceramah.”

“Kamu selalu memutuskan semuanya sendiri.” Aqila menunjuk Andika kesal. “Kamu bilang hubungan kalian tidak punya masa depan, tapi kamu bahkan tidak memberi kesempatan untuk memperbaikinya.”

Andika berdiri dari kursinya.

“Sudah selesai?”

“Belum.”

Andika mengambil dompetnya dan hendak pergi, tetapi Aqila kembali bicara dengan nada yang jauh lebih serius.

“Kalau memang kamu benar-benar berpikir semuanya sudah selesai, selesaikan sekalian.”

Langkah Andika terhenti.

Aqila berdiri dan menatapnya lurus.

“Bilang pada paman kalau kamu dan Shinta sudah putus.”

Andika diam.

“Dan berhenti menghindari Shinta,” lanjut Aqila. “Kalau hubungan kalian memang benar-benar berakhir, kenapa kamu masih lari dari kenyataan?”

Andika mengepalkan tangannya pelan.

“Kenapa kamu diam?” tanya Aqila.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Andika akhirnya berjalan pergi meninggalkan kafe begitu saja.

Aqila hanya menatap punggungnya dengan kesal.

“Dasar keras kepala,” gumamnya.

Di luar, malam mulai turun perlahan. Lampu jalan menyala satu per satu sementara Andika berjalan menuju motornya dengan pikiran yang semakin kacau.

Perkataan Aqila terus terngiang di kepalanya.

Kalau memang sudah selesai, kenapa kamu tidak jujur?

Andika mengusap wajah kasar. Dia membenci kenyataan bahwa Aqila benar.

Selama ini dia terus menghindari semuanya.

Dia menghindari pembicaraan dengan Shinta.

Menghindari pertanyaan teman-teman kantor.

Dan yang paling parah, dia menghindari ayahnya sendiri.

Bukan karena dia tidak mampu bicara.

Tetapi karena dia takut.

Takut melihat semangat ayahnya hilang lagi.

Andika menyalakan motor dan melaju pulang sambil terus memikirkan hal itu. Jalanan malam cukup ramai. Suara kendaraan bercampur dengan lampu toko yang mulai menyala terang. Namun pikirannya tetap dipenuhi wajah ayahnya.

Dulu setelah ibunya meninggal, Pak Sucipto seperti kehilangan arah hidup. Beliau sering diam dan jarang keluar rumah. Bahkan kesehatannya sempat menurun karena terlalu banyak memendam pikiran.

Lalu Shinta datang.

Sedikit demi sedikit ayahnya kembali berubah.

Beliau mulai tertawa lagi.

Mulai semangat bekerja.

Mulai membicarakan masa depan.

Dan semua itu membuat Andika tidak tega menghancurkan harapan yang sudah susah payah tumbuh kembali.

Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan, Andika akhirnya sampai di rumah.

Namun begitu masuk ke halaman, dia melihat ada mobil terparkir di depan rumah.

Lampu ruang tamu menyala terang dan terdengar suara tawa dari dalam.

Andika membuka pintu lalu masuk.

“Oh, Andika datang!” seru Pak Sucipto dengan wajah cerah.

Di ruang tamu terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk sambil tersenyum ramah. Di meja terdapat beberapa kotak makanan dan botol sambal.

“Ini Om Rudi,” kata Pak Sucipto antusias. “Ayah pernah cerita, kan?”

Andika langsung menyalami pria itu dengan sopan.

“Selamat malam, Om.”

“Wah, akhirnya ketemu juga.” Pak Rudi tertawa hangat. “Ayahmu sering membanggakan kamu.”

Andika tersenyum tipis lalu duduk di samping ayahnya.

Pak Sucipto terlihat jauh lebih hidup malam itu. Matanya penuh semangat seperti seseorang yang sedang menemukan harapan baru.

“Kami lagi membahas bisnis restoran,” kata Pak Sucipto bersemangat.

“Restoran?” Andika terlihat tertarik.

Pak Rudi langsung mengangguk antusias.

“Saya punya rencana buka rumah makan dengan konsep kolam ikan.” Wajahnya mulai bersemangat menjelaskan. “Jadi pengunjung bisa menikmati suasana santai dekat kolam. Ikannya juga segar karena langsung diambil dari sana.”

Andika mulai memperhatikan serius.

“Kemudian nanti ada menu andalan seperti ayam bakar madu, ikan bakar, dan sambal khas racikan saya sendiri.”

Pak Rudi membuka salah satu kotak makanan di meja.

“Nah, ini contohnya.”

Aroma ayam bakar langsung memenuhi ruangan. Pak Sucipto tersenyum bangga seperti sudah yakin bisnis itu akan sukses besar. Manusia memang menarik. Baru mencium aroma ayam bakar saja sudah membayangkan masa depan cerah dan cucu berlarian di restoran keluarga.

“Coba dulu,” kata Pak Rudi.

Andika mengambil sedikit ayam lalu mencocolnya ke sambal.

Begitu masuk ke mulutnya, dia langsung mengangkat alis.

Pedasnya kuat, tetapi gurih dan manisnya terasa pas.

“Ini enak sekali,” katanya jujur.

Pak Rudi tertawa puas. “Benar, kan?”

“Serius, ini pasti disukai banyak orang.”

Pak Sucipto langsung terlihat semakin semangat mendengar penilaian putranya.

“Makanya ayah tertarik ikut investasi,” katanya. “Om Rudi sudah pengalaman soal kuliner.”

Pak Rudi mengangguk. “Dan saya juga butuh bantuan promosi. Sekarang pemasaran online penting sekali.”

Andika langsung berkata, “Kalau soal pemasaran, saya bisa bantu.”

“Benarkah?” tanya Pak Rudi antusias.

“Tentu.” Andika mulai berpikir serius. “Konsep seperti ini sebenarnya menarik. Apalagi kalau dibuat suasana keluarga dan banyak spot nyaman untuk foto.”

Pak Sucipto tersenyum lebar melihat putranya mulai ikut bersemangat.

“Nanti kalau restoran ini sukses,” katanya sambil tertawa kecil, “penghasilan kamu juga bertambah.”

Pak Rudi ikut tertawa. “Kalau sudah begitu, tinggal nabung buat masa depan.”

Pak Sucipto langsung menimpali dengan wajah penuh harapan.

“Dan Shinta pasti senang kalau tahu kamu makin sukses.”

Kalimat itu langsung membuat suasana di sekitar Andika terasa hening sesaat.

Senyum di wajahnya perlahan memudar.

Pak Rudi yang tidak tahu apa-apa masih sibuk mengambil ayam bakar, sementara Pak Sucipto terlihat santai tanpa menyadari perubahan ekspresi putranya.

Andika menunduk pelan.

Perkataan Aqila kembali muncul di kepalanya.

Kalau memang semuanya selesai, bilang pada ayahmu.

Dia menatap ayahnya diam-diam.

Pak Sucipto terlihat begitu bahagia malam itu. Wajah pria itu penuh harapan saat membicarakan bisnis baru, masa depan, dan Shinta.

Andika merasakan dadanya terasa sesak.

Dia tahu cepat atau lambat kebenaran itu harus keluar.

Namun dia juga tahu ayahnya sangat menyayangi Shinta.

Bahkan mungkin sudah menganggap Shinta seperti anak sendiri.

“Kenapa diam?” tanya Pak Sucipto sambil tersenyum. “Kamu setuju, kan, kalau Shinta pasti mendukung?”

Andika terdiam cukup lama.

Tangannya mengepal pelan di bawah meja.

Dia ingin bicara.

Ingin jujur.

Tetapi kata-kata itu terasa berat keluar dari mulutnya.

Akhirnya Andika hanya memaksakan senyum kecil.

“Iya, Yah,” jawabnya lirih.

Namun setelah mengucapkan itu, hatinya justru terasa semakin kacau.

Malam semakin larut, tetapi pikirannya tidak menemukan ketenangan sedikit pun.

Untuk pertama kalinya Andika mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Apakah dia benar-benar ingin mengakhiri semuanya dengan Shinta?

Atau sebenarnya dia hanya takut berharap lagi.

1
Dar Pin
lama lama kesel bacanya bikin emosi aja thor tidak sesuai harapan aku stop sampai sini bacanya 🤣
onimaru rascall: sama bang karena itu harus di buat tamat secepatnya 🤔 biar bisa fokus proyek baru
total 1 replies
Erni Purwaningsih
mantap Thor filosofi nya
onimaru rascall: perasaan itu perdebatan dua bocah puber donk kak🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!