NovelToon NovelToon
Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.

Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.

Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Malam Pengakuan

Hujan masih mengguyur deras ketika Rara dan Arkan akhirnya melepaskan pelukan mereka. Wajah keduanya memerah, mata berair, namun hati terasa jauh lebih lega.

"Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Rara sambil menatap tangan Arkan yang masih erat menggenggamnya. Arkan lalu mengajak Rara menuju meja makan kecil di apartemennya.

"Kita perlu rencana." Rara setuju, "Betul, mungkin keluarga Bu Sumiati bisa menolong."

"Jadi, gimana caranya?" Rara duduk di kursi, tatapannya tertuju pada Arkan yang lagi ambil laptop. "Mereka udah nggak mau ngomong sama kamu."

"Tapi mereka belum pernah ketemu kamu," jawab Arkan sambil nyalain laptop. "Aku punya alamat rumah mereka dari data rumah sakit."

"Apa itu tidak melanggar privasi pasien?" tanya Rara dengan rasa khawatir.

"Dalam kondisi normal, iya," kata Arkan sambil mengetik di laptopnya. "Tapi aku harus membuktikan kalau aku tidak bersalah. Kamu datang sebagai perawat yang mengecek Ny. Sumiati setelah operasi."

"Bisa saja," Rara mengangguk. "Tapi bagaimana dengan dr. Hanif?"

Arkan menutup laptopnya. "Kita harus hati-hati. Jangan sampai dia tahu rencana kita."

"Aku rasa dia sudah curiga," gumam Rara sambil menatap jendela yang basah karena hujan.

Arkan memegang tangan Rara. "Hati-hati di rumah sakit. Segera beri tahu aku jika dr. Hanif mengancam mu lagi."

"Aku akan baik-baik saja," Rara tersenyum tipis. "Ada dokter terbaik yang menjagaku."

Arkan tersenyum lalu menghela napas. "Rara, soal yang tadi kita bicarakan..."

"Aku serius, Arkan," potong Rara tegas. "Aku mencintaimu. Aku tidak menyesal mengatakannya."

"Aku juga mencintaimu," jawab Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya takut kamu terluka karena masalahku."

"Aku pernah terluka," kata Rara sambil menatap Arkan dengan sayang. "Tapi aku masih kuat. Kita hadapi ini bersama."

"Kamu hebat," gumam Arkan. Dia memeluk Rara lagi. "Aku tidak pantas untukmu."

"Kamu pantas," bisik Rara di bahunya. Dia menjauh sedikit untuk melihat mata Arkan. "Sekarang, fokus ke rencanamu."

"Benar," Arkan mengangguk. Wajahnya kembali serius seperti dokter. "Besok aku beri alamat rumah Ny. Sumiati. Datanglah saat kamu libur."

"Oke," jawab Rara. "Aku akan pura-pura cek kondisi pasca operasi."

"Jangan tanya soal obat dulu," Arkan mengingatkan. "Pancing mereka agar bercerita apa yang terjadi setelah operasi."

"Aku mengerti," Rara mengangguk. Dia melirik jam dinding. "Aduh, sudah malam. Aku harus pulang."

"Tunggu hujan reda," pinta Arkan sambil melihat jendela. "Atau menginap saja di sini."

"Aku..." Rara ragu. "Aku tidak bawa baju ganti."

"Aku ada kaos dan celana training yang bisa kamu pakai," tawar Arkan. "Tidur saja di kamarku, aku akan pakai sofa."

"Kamu yakin?"

"Aku tidak mau kamu pulang saat hujan deras begini," jawab Arkan tegas. "Aku khawatir."

Rara tersenyum kecil dan setuju. "Baiklah, terima kasih."

"Aku yang harus berterima kasih," ujar Arkan sambil menatap Rara lembut. "Kamu sudah mau melakukan ini semua untukku."

"Karena aku peduli padamu," jawab Rara. Jantungnya kembali berdegup kencang saat menatap mata Arkan.

"Aku juga peduli padamu," bisik Arkan sebelum mengecup kening Rara. "Sekarang ayo cari makan malam."

Rara tertawa kecil. "Aku lapar sekali."

"Aku akan masak," kata Arkan sambil berjalan ke dapur. "Mungkin tidak seenak masakanmu."

Rara mengikutinya dan duduk di kursi bar. "Aku belum pernah melihatmu masak."

"Masih banyak hal yang belum kamu tahu tentangku," kata Arkan sambil mengambil bahan dari kulkas. "Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal."

Rara tersenyum lebar. Ia merasa bahagia meski situasi mereka masih tidak pasti.

Pagi harinya, Rara terbangun dengan perasaan aneh. Rasanya seperti mimpi indah yang jadi nyata. Ia memakai kaos besar dan celana training panjang milik Arkan yang tercium aroma sabun lembut.

"Ini benar terjadi," gumam Rara. Ia melihat kamar Arkan yang rapi dan sederhana. Ruangan itu terasa teratur namun tetap hangat.

Saat keluar kamar, bau kopi dan telur goreng tercium. Arkan sudah di dapur memakai kaos putih dan celana pendek. Ia terlihat jauh lebih santai dari biasanya.

"Selamat pagi," sapa Arkan dengan senyum tipis. "Aku buat sarapan sederhana."

"Baunya enak," kata Rara sambil duduk. "Ternyata kamu bisa masak."

"Tinggal sendiri membuatku belajar banyak hal," jawab Arkan sambil menuang kopi. "Kopi hitam, kan?"

Rara tersenyum senang. "Kamu ingat?"

"Aku memperhatikanmu lebih dari yang kamu kira," aku Arkan.

"Tentang semalam," suara Rara mengecil. "Apa yang kita bicarakan..."

"Aku tidak menyesalinya," potong Arkan serius. "Aku mengatakannya bukan karena terpaksa oleh keadaan."

Rara mengangguk dan memegang tangan Arkan. "Aku juga. Tapi kita harus hati-hati di rumah sakit. dr. Hanif mungkin curiga."

"Benar," Arkan mengangguk sambil mengangkat telur dari wajan. "Kita harus bersikap normal. Tetap terlihat seperti musuh di depan orang lain."

"Akan sulit, tapi aku bisa," jawab Rara sambil menerima piringnya.

"Alamat Ny. Sumiati akan kuberikan hari ini," kata Arkan sambil duduk di sampingnya. "Tapi jangan pergi sekarang. Tunggu beberapa hari supaya tidak mencurigakan."

"Baik," jawab Rara. Ia mencoba telurnya. "Ini enak!"

Arkan tersenyum lebar. "Benarkah? Aku jarang dipuji soal masakan."

"Kamu harus lebih sering masak," ujar Rara. "Kamu jago sekali."

"Hanya untukmu," bisik Arkan dengan mata berbinar. Rara merasa menjadi gadis paling beruntung.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!