Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.Renjana di Batas Senja
Di sudut hanggar utama pangkalan udara yang luas dan sunyi, Fian—adik kandung Mahija tampak sedang selonjoran santai di atas kursi lipat dekat sayap pesawat latih jet. Masih mengenakan kaus kaos dalam dinas dan celana bahan yang longgar, pria muda itu memegang ponsel di telinganya dengan raut wajah jenaka.
"Iya, Umma... Adek tuh beneran ga bohong. Abang kemarin pas acara HUT TNI AU bener-bener manfaatin momen banget," cerocos Fian setengah berbisik sambil terkekeh pelan.
Di seberang telepon, suara khas seorang ibu. Istri dari seorang perwira tinggi Kepolisian yang tegas namun penuh kehangatan terdengar penasaran. "Beneran kamu, dek? Jangan suka ngarang-ngarang cerita lho. Abangmu itu kan kaku banget sama cewek, masa iya sampai segitunya?"
"Ya Allah, Umma... Adek ini saksi mata langsung!" sahut Fian gemas, menyenderkan punggungnya lebih nyaman. "Orang Abang ngajak Kak Mahika ke hanggar, ngasih miniatur wing, terus ngomongnya manis banget kayak gula jawa. Mana Adek pas itu lagi ketiduran di kokpit, jadi kedengeran semua dari A sampai Z. Pokoknya Umma siap-siap aja pesen kain kebaya buat seragaman!"
"Masya Allah... Abangmu itu akhirnya luluh juga," kekeh Umma dari balik telepon, terdengar sangat lega dan bahagia. "Ya sudah, kamu awasi Abangmu ya, Dik. Jangan sampai dia kelewatan kaku kalau lagi pendekatan."
"Siap, Umma! Adik bakal jadi kompor paling terdepan buat dukung Abang!" tawa Fian pecah memecah keheningan hanggar.
Sementara itu, di depan gerbang utama kampus yang mulai berangsur lengang di makan waktu sore, SUV hitam milik Mahija sudah terparkir rapi di tepi jalan. Mahija duduk di balik kemudi, matanya tak lepas menatap ke arah pintu keluar.
Tak lama kemudian, sosok berbalut dress panjang dan hijab hitam melangkah keluar dengan raut wajah yang teramat lelah. Mahika menenteng tas dan map tebalnya dengan gontai. Begitu melihat mobil Mahija, langkahnya melambat, menyisakan sisa-sisa canggung sekaligus lega yang bercampur aduk
Mahija bergegas turun, membukakan pintu penumpang depan dengan sigap. "Sore, Mba Mahika."
Mahika tidak membalas dengan ketus seperti biasanya. Dengan wajah pucat dan mata yang sayu, ia langsung masuk dan mendaratkan tubuhnya di kursi penumpang. Begitu Mahija mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi, aroma cendana yang hangat langsung menyergap indra penciuman Mahika.
"Capek banget, Mahija..." keluh Mahika mendadak dengan suara yang teramat manja dan serak, sebuah refleks kepasrahan yang bahkan tidak ia sadari sendiri.
"Sebanyak itu ya revisinya?" tanya Mahija lembut, memutar tubuhnya menatap Mahika penuh simpati.
Tanpa sadar, karena rasa lelah yang teramat sangat menyita stamina dan emosinya seharian di kampus, Mahika menjatuhkan kepalanya pelan, bersandar di lengan tegap Mahija yang terbalut kemeja abu-abu. Ia memejamkan mata sejenak, lalu tumpahlah air mata kelelahan yang sejak tadi ditahannya di depan dosen.
"Dosennya nuntut banyak banget... Aku capek, Mahija. Kepala aku mau pecah," isak Mahika pelan, bahunya bergetar tipis di lengan sang perwira.
Jantung Mahija berdesir hebat. Rasa kaku dalam dirinya seketika meleleh menggantikan naluri protektif yang begitu kuat. Ia tidak menggeser armada lengannya sedikit pun. Dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, tangan kirinya terangkat, mengelus lembut punggung tangan Mahika yang meremas ujung kemejanya.
"Menangis saja, tidak apa-apa..." bisik Mahija amat halus. "Tumpahkan semuanya di sini. Ada saya."
Mahika terisak selama beberapa menit, merasakan kehangatan dan rasa aman yang luar biasa dari sandaran lengan Mahija. Saat kesadarannya perlahan kembali bahwa ia baru saja bersikap sangat manja dan bersandar pada pria yang belum resmi jadi siapa-siapanya, Mahika buru-buru menegakkan tubuhnya kembali.
Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah padam penuh malu. Ia mengusap air matanya cepat-cepat dengan tisu. "M-maaf... Aku refleks. Maaf sudah bikin kemeja kamu wet..."
Mahija tersenyum sangat manis,senyuman yang membuat matanya menyipit hangat. "Tidak usah minta maaf. Lengan saya selalu siap jadi sandaran kamu kapan saja."
Mahika menunduk dalam-dalam, meremas tisunya, benar-benar salting dan kaku akibat ulah tindakannya sendiri barusan.
Melihat kondisi Mahika yang masih lelah dan mengenakan pakaian kuliah, Mahija melirik ke arah jok belakang tempat kado yang pernah ia berikan tersimpan.
"Kita ubah rencananya sedikit ya," ujar Mahija santai namun penuh perhatian. "Kita pulang ke rumah kamu dulu."
Mahika mendongak bingung. "Lho? Gak jadi kencan?"
"Jadi," sahut Mahija pasti. "Tapi kamu mandi dan ganti baju dulu di rumah supaya lebih segar dan nyaman. Lagipula..." Mahija menggantung kalimatnya sejenak, menatap Mahika dengan raut wajah serius dan penuh rasa hormat. "...saya mau izin pamit dulu ke Pak RT, Kepala Desa, dan Bu Lasmi."
Alis Mahika menukik heran. "Izin pamit? Buat apa?"
"Bu Lasmi dan warga desa itu sudah seperti orang tua angkat kamu di pesisir sini, kan?" tutur Mahija dengan wibawa seorang pria yang memegang teguh etika. "Saya mau mengajak putri mereka keluar malam ini. Selayaknya pria yang bertanggung jawab, saya harus izin secara resmi ke mereka kalau saya membawa kamu pergi dan berjanji mengantar kamu pulang dengan selamat."
Deg!
Dada Mahika serasa dihantam gelombang kehangatan yang tiada tara. Pria di sampingnya ini tidak hanya memikirkannya, tetapi juga sangat menghargai keberadaan orang-orang yang mengasihi Mahika di desa. Etika dan kesopanan Mahija benar-benar berada di tingkat yang membuat benteng pertahanan batin Mahika makin tak berdaya.
"Kamu... beneran mau minta izin ke Bu Lasmi?" tanya Mahika pelan dengan mata berbinar haru.
"Tentu saja," jawab Mahija mantap seraya memutar kemudi, melajukan SUV hitamnya membelah jalanan sore menuju pesisir. "Biar Bu Lasmi tahu, kalau calon menantu kesayangannya ini perwira yang paham tata krama."
"Mahija! Jangan ngomong sembarangan!" pekik Mahika dengan wajah kembali merona merah padam, membuat tawa rendah Mahija bergema hangat memenuhi kabin mobil sepanjang perjalanan pulang.