NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Tolong!!...

Tolong!!

Teriak seorang warga yang baru saja akan mencari rumput di tepi jalan raya tersebut.

"Ada orang!! Tolong ada mayat!!"teriak pria lanjut usia yang sering dipanggil Mbah Aden tersebut.

Sontak orang-orang yang mendengar teriakkan minta tolong tersebut berlarian menghampiri pria yang terlihat sangat shock dan ketakutan tersebut.

"Ada apa Mbah, kenapa berteriak di siang bolong begini?"ucap para warga yang hampir bersamaan.

"Ada orang buat mayat, saya kira mobil itu berhenti ingin buang sampah seperti yang sering dilakukan oleh yang lainnya. Tapi saat saya dekati ternyata mereka membuang mayat disana!"ujar pria yang tidak pernah sekalipun menemukan hal ekstrim seperti yang sering beredar di media sosial atau tv.

"Ayo semua kita cek bersama, jika benar itu adalah mayat segera cari bantuan untuk melapor ke pihak berwajib. tapi jika masih hidup bersiap untuk membawanya ke rumah sakit."ucap salah seorang pria paruh baya yang merupakan warga lama kampung tersebut.

Mereka pun ikut berbondong-bondong menghampiri penemuan Simbah Aden tersebut, dan saat didekati mereka begitu terkejut saat melihat seorang pria berlumuran darah dari bagian kepala dan wajah juga dadanya yang kini masih diborgol menggunakan tali.

"Dia masih hidup segera bawa ke rumah sakit, kita disini semua adalah saksinya. Jika ada tuntutan dari pihak manapun"ucap salah satu warga yang memang tidak pernah mau berurusan dengan pihak berwajib yang terkadang membuat nyawa orang lenyap karena prosedur yang mereka terapkan saat menemukan korban kecelakaan di jalan raya.

Tanpa pikir panjang pria itu langsung pergi mengambil mobil tua nya yang sering digunakan untuk mengangkut hasil panen para warga disana.

Dia adalah pak Hasan yang selama ini memiliki jiwa empati yang sangat besar terhadap sesama. Sementara yang lain sibuk mengangkat dan melepaskan ikatan pada tangan dan kaki dari pria yang terlihat bukan pria sembarangan.

Dia memiliki tubuh yang sempurna raut wajah tampan meskipun tersembunyi karena darah yang hampir menutupi seluruh wajah nya itu. Tidak lupa dengan pakaian yang mahal yang ia kenakan, dan semuanya masih lengkap.

"Ayah mau kemana aku ikut?"ucap seorang gadis cantik yang kini berlari mengejar mobil yang dikendarai oleh ayahnya itu.

Gadis cantik dengan pakaian lusuh karena baru selesai mencari sayur liar di pematang sawah itu, memang selalu mengikuti sang ayah untuk bekerja dengan mobil tua peninggalan kakeknya itu.

Seketika itu mobil pun berhenti. "Ayo cepat kita harus segera menyelamatkan orang"ucap pak Hasan yang kini membuka pintu untuk putri semata wayangnya itu.

Adalah Dian, putri satu-satunya pak Hasan sebelum dia menikah dengan seorang janda satu anak dan anak sambung pak Hasan seusia Dian.

Pak Hasan pun kembali melanjutkan perjalanan nya setelah putrinya duduk dengan nyaman di jok mobil yang penuh dengan tambalan tersebut.

"Cepat pak dia sepertinya hampir kehabisan darah!"ucap para warga yang lainnya yang kini sudah menggotong tubuh pria tampan itu untuk dinaikan kedalam mobil.

"Ayah darah!" teriak Dian yang kini terlihat sangat shock dan ketakutan karena trauma berat yang dialami nya dulu.

"Jangan lihat pejamkan mata mu nak, biar mereka yang lihat"ucap pak Hasan yang kini dituruti oleh Dian meskipun dalam keadaan gemeteran.

"Lima orang lainnya ikut saya ke rumah sakit, dan yang lainnya lapor polisi atau keamanan setempat"ucap pak Hasan.

Mereka pun menuruti perkataan pak Hasan, sebagian orang menjaga pria itu dibelakang. Tepatnya di bak mobil pick up yang terbuka tersebut, ada yang memayungi dengan sehelai kain, ada juga yang mencoba berbicara pada pria yang masih terus merintih kesakitan tersebut meskipun terdengar lirih.

Sesampainya di rumah sakit, pak Hasan dan yang lainnya langsung dibantu oleh para petugas medis yang siaga. Beruntunglah rumah sakit tersebut tidak mengutamakan biaya, tapi keselamatan, soal biaya bisa diurus belakangan.

Administrasi pun atas nama pak Hasan selaku penanggung jawab, dia bahkan tidak pernah berpikir bahwa akan ada biaya yang dibebankan padanya setelah perawatan nantinya.

Pak Hasan hanya peduli pada keadaan anak muda yang dia tolong itu. Semua orang menunggu diluar, dan tidak lama dokter pun memanggil pak Hasan lewat salah satu perawat yang kini menunjukkan jalan pada pak Hasan.

"Bapak pasien kehilangan banyak darah, dan golongan darah pasien cukup langka, dan kemudian stok darah disini sudah habis untuk golongan darah AB"ucap seorang dokter yang kini tengah bersiap untuk melakukan observasi.

"Golongan darah putri saya juga AB dok, saya akan berusaha untuk membujuknya untuk mendonorkan darah nya, karena dia sangat takut melihat darah"ucap pak Hasan.

"Baiklah itu bisa diatasi, pastikan dia dalam kondisi yang sehat, dan tidak memiliki riwayat penyakit apapun"ucap sang dokter yang kini berjalan menuju ruang IGD.

Saat ini pria yang masih tidak diketahui namanya itu pun sedang menjalani pemeriksaan luar dan dalam setelah dokter menghentikan pendarahan di bagian kepala dan dada yang terdapat luka robekan yang cukup dalam tersebut.

Sementara Dian yang kini sudah bersedia mendonorkan darahnya pun sudah menggunakan penutup mata agar tidak melihat darah yang diambil oleh perawat yang kini tengah sibuk membetulkan posisi kantung darah nya agar Dian tidak melihat itu.

Setelah berkutat hampir tiga jam, akhirnya pria itu bisa diselamatkan. Beruntung luka-luka di kepala dan tubuhnya tidak terlalu parah, dan kini dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap meskipun di bangsal umum karena tidak punya banyak biaya.

Dompet yang ditemukan di dalam sakunya pun hanya ada uang kes sebesar tiga juta, dan berbagai kartu ATM dan identitas diri yang kini diserahkan pada pak Hasan yang hanya menyimpan rapi semua itu didalam kantung kresek berisi pakaian yang digunakan oleh pria itu berikut dengan atribut nya.

"Sus boleh tau berapa biaya yang harus saya bayarkan"ucap pak Hasan terlihat lesu.

"Sembilan juta tujuh ratus pak, jika bisa sebelum keluar rumah sakit anda harus segera melunasi nya"ucap perawat yang kini berada di tempat administrasi rumah sakit tersebut.

"Baik sus pulangnya masih dua hari lagi kan sus, saya titip dulu pasien, ini KTP saya saya akan mencari uang tambahan untuk biaya rumah sakit nya"ucap pak Hasan dengan sopan.

"Baik pak, semoga dilancarkan, bapak orang baik"ucap seseorang yang sudah mengenal pak Hasan yang sering membantu orang lain yang masuk rumah sakit tersebut.

Dian yang melihat raut wajah sang ayah dari kejauhan pun kini menghampiri nya, dan bertanya."Ada apa ayah, apa ada masalah?"kata Dian.

"Tidak ada nak, ayo pulang... Putri ayah belum mandi bau asem hehe"ucap pak Hasan yang tidak ingin membagi beban hidup nya pada putrinya yang selama ini selalu ada untuknya.

...*****...

Waktu pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Dian yang kini kehausan pun berjalan menuju keluar kamar untuk ke dapur yang terhalang oleh ruang keluarga.

Namun saat dia tiba di ruang keluarga, langkahnya terhenti kala melihat sang ayah kembali melamun sendirian tanpa ibunya.

"Ayah tumben belum tidur?" tanya Dian yang kini menghampiri sang ayah.

"Ayah tadi terbangun nak, kamu juga belum tidur?"balas sang ayah.

"Dian kehausan yah, lupa bawa air minum"balas gadis cantik itu.

"Hm... Apa Nina sudah tidur?" tanya pak Hasan lagi.

"Hm... Nina sudah tidur sejak kita pulang tadi Yah..."jawab Dian.

"Dia lelah mungkin karena harus sekolah dan belajar, nak, apa kamu tidak ingin kuliah"ucap pak Hasan lagi.

"Tidak Yah, Dian ingin bekerja saja agar ayah tidak perlu lagi nguli"ucap Dian.

"Kamu masih sangat muda nak, ayah ingin putri ayah menjadi anak yang sukses, dengan begitu jika suatu saat nanti ayah dipanggil oleh yang maha kuasa, ayah sudah tenang"ucap pak Hasan yang kini membuat Dian menitikkan air mata namun langsung dia usap.

"Dian mungkin tidak kuliah seperti Nina yah, tapi ayah tidak usah khawatir Dian tetap akan jadi orang sukses untuk ayah"ucap gadis cantik yang justru malah kembali dan memeluk sang ayah dari belakang.

Dan usapan tangan lembut sang ayah selalu jadi obat untuk luka di hati Dian yang selama ini selalu mengalah demi kebaikan rumah tangga sang ayah dengan ibu sambung nya yang terkadang menuntut lebih dari apa yang suaminya berikan.

Gadis cantik itu bahkan rela berpanas-panasan di perkebunan milik orang lain untuk membantu sang ayah mengangkut hasil panen orang lain, gadis tangguh itu bahkan bisa memikul padi satu karung beras berisi lima puluh kilo gram.

Gadis cantik itu pun langsung bergegas pergi menuju dapur setelah dia memenangkan pikiran sang ayah.

Dian mengambil sebotol air dari dalam lemari es yang dia isi ulang dengan botol air mineral ataupun botol bekas minuman bersoda yang ia bersihkan terlebih dahulu.

Saat Dian hendak kembali ke kamarnya, dia mendengar keributan dari kamar yang ia lewati, dimana ibu sambungnya tengah marah besar pada sang ayah yang berani menolong orang lain tanpa memikirkan resiko yang akan dia tanggung.

"Mas sebaiknya cari pinjaman uang ke orang lain saja, uang yang ibu pegang untuk biaya semester Nina tahun ini... atau pinjam kalung Dian, lagipula Dian tidak sekolah, dan tabungan nya pasti sudah terkumpul"ucap seseorang yang tidak lain adalah ibu sambung Dian.

"Ayah," lirih Dian yang kini merasa kasihan terhadap ayahnya. Dian tidak menyalakan kebaikan sang ayah, dia tau perbuatan baik itu akan dibalas berkali-kali lipat oleh sang pencipta, meskipun tidak secara langsung.

Dian pun langsung pergi menuju kamar nya, dimana disana juga Nina berada. saudara sambung nya yang kini merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya itu pun tengah terlelap dalam tidurnya yang sangat nyenyak.

Sementara Nina yang selama ini harus puas tidur di kasur busa yang sempit pun terkadang harus pindah ke kamar bekas gudang, karena Nina selalu membawa temanya menginap di kamar mereka.

Keesokan paginya, Dian bangun lebih awal seperti biasanya sebelum pergi nguli, Dian selalu membantu pekerjaan rumah ibu sambung nya yang selama ini selalu meminta tolong ini dan itu.

Setelah pekerjaan rumah selesai, Dian pun pamit untuk kepasar , dia tidak bilang ingin membeli apa yang jelas dia meminjam mobil ayahnya yang masih tertidur karena semalaman begadang.

Sesampainya di pasar, tepatnya di depan toko emas yang selama ini menjadi tempat warga lokal membeli dan menjual emas yang mereka miliki. Dian pun menghampiri salah satu pelayan toko tersebut.

"Permisi mbak, saya mau menjual kalung"ucapnya yang menyodorkan kalung dengan selembar kertas yang merupakan sertifikat dari kalung tersebut.

"Baiklah, semua lima belas juta rupiah, apa anda tidak ingin mengganti kalung itu dengan yang baru nona?"ucap pelayan toko tersebut.

"Tidak mbak, saya sedang butuh uang"ucap gadis cantik itu yang akhirnya pamit meninggalkan toko perhiasan tersebut tanpa melirik kearah kalung yang selama ini merupakan hasil kerja keras nya itu.

"Semoga uang ini bisa meringankan beban ayah,"lirihnya.

Gadis cantik itu pun kembali mengendarai mobil yang sudah terisi penuh dengan bahan bakar dari sebagian uang penjualan kalung tersebut, dia juga membeli pakaian baru untuk pria yang entah siapa, dia hanya sempat melihat postur tubuhnya meskipun tidak melihat wajah nya yang dipenuhi oleh darah tersebut.

Dian membelikan celana jeans dan t-shirt, juga satu celana bahan dari chinos juga pakaian dalam yang juga dia kira-kira bersama dengan jaket dan kemeja.

"Semoga ini bermanfaat"ucap gadis cantik yang kini membeli kue basah dan juga buah karena rencananya ingin menjenguk pria itu bersama sang ayah yang mungkin tengah khawatir karena dia pergi menyetir sendiri.

"Ayah Dian pulang"ucap Dion yang kini memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya yang kosong melompong.

"Darimana nak, ayah sangat khawatir?"ucap sang ayah yang kini menghampiri putrinya yang terlihat sibuk mengeluarkan barang belanjaannya.

"Dari pasar sebentar yah, tadi ada yang harus dibeli untuk orang yang ayah tolong.... kemarilah Yah, ini uang yang ayah butuhkan semoga cukup. Jangan bertengkar lagi dengan ibu, Dian tidak mau mendengar ibu mencaci-maki ayah, ayah terlalu berharga untuk Dian"ucap gadis cantik yang kini menyerahkan satu gepok uang dalam kantung keresek pada sang ayah yang kini menatap kearah putri kesayangannya itu.

"Nak, jangan bilang kamu menjual satu-satunya tabungan mu?"ucap sang ayah yang kini merutuki ketidak berdayaan nya.

"Jangan pikirkan itu ayah, yakinlah bahwa kebaikan itu akan membuahkan kebaikan pula. Dian bangga sama ayah, ayah adalah malaikat penolong dan kebanggaan Dian, semoga ayah selalu panjang umur dan bahagia selama-lamanya"ucap Dion yang kini membetulkan kerah kemeja sang ayah.

"Kamu adalah kebanggaan ayah dan kebahagiaan ayah, terimakasih karena kamu telah menjadi putri ayah"ucap pria paruh baya yang kini memeluk erat putrinya itu.

"Mas, pihak rumah sakit menghubungi mas, katanya orang yang mas tolong sekarang sudah siuman"ucap ibu Arini.

"Baik mas akan segera kesana, ayo nak,"ucap pak Hasan.

"Ya ayah.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!