NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. PELARIAN SANG GUS.

Ayini mulai merangkak sedikit mendekat, membuat jarak di antara mereka kini hanya tersisa satu meter.

Alvaro refleks memundurkan kursinya hingga kakinya membentur kaki meja.

Jantungnya mulai memainkan irama dag-dig-dug yang sangat kencang. Ia bisa mencium aroma sampo stroberi dari rambut Ayini yang terbawa angin.

"Ayini, jaga jarakmu. Saya sedang bekerja," ucap Alvaro dengan suara yang sedikit bergetar.

"Mas... Mas tau nggak? Kalau Mas lagi gugup kayak gini, Mas kelihatan sepuluh kali lebih ganteng. Kayak bayi besar yang lagi ketakutan," goda Ayini lagi.

Ia menjulurkan tangannya, seolah ingin merapikan kerah baju koko Alvaro.

Alvaro langsung berdiri dengan gerakan secepat kilat. Kursinya sampai berderit keras.

"Saya... saya ada janji dengan Ustadz Maulana di masjid! Saya lupa!"

"Eh, Mas! Di luar hujan!" teriak Ayini sambil tertawa.

Alvaro tidak peduli. Ia menyambar pecinya dengan tangan gemetar, hampir saja ia salah mengambil kitab suci sebagai alas duduk karena pikirannya sudah benar-benar kacau.

Ia berlari keluar kamar seolah-olah baru saja melihat singa yang kelaparan, padahal yang ia lihat hanyalah istrinya yang sedang tersenyum nakal.

Di koridor Ndalem, Alvaro bersandar pada dinding kayu. Ia memegang dadanya yang bergemuruh hebat.

"Astagfirullah... Astagfirullah alazim... Iman saya... iman saya benar-benar diuji," gumamnya dengan napas terengah.

Ia merasa jika ia bertahan sedetik saja lebih lama di kamar itu, benteng es yang ia bangun selama bertahun-tahun akan runtuh total.

Malam harinya, Alvaro tidak berani kembali ke kamar sampai ia yakin Ayini sudah tertidur lelap.

Ia menghabiskan waktu di perpustakaan pesantren, mencoba mendinginkan kepalanya di antara rak-rak buku tua.

Namun, setiap kata yang ia baca seolah berubah menjadi wajah Ayini yang sedang menggoda.

Sekitar jam satu malam, dengan langkah yang sangat pelan seperti pencuri, Alvaro memasuki kamarnya.

Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram. Ia melihat sosok Ayini yang meringkuk di bawah selimut tebal.

Alvaro menghela napas lega.

"Alhamdulillah, dia sudah tidur," bisiknya.

Ia berjalan menuju lemarinya untuk mengambil sarung ganti.

Namun, saat ia melewati tepi ranjang, tiba-tiba sebuah tangan menarik ujung baju kokonya dengan kuat.

"Ketangkap!" teriak Ayini sambil tertawa puas. Ternyata gadis itu belum tidur sama sekali. Ia hanya berpura-pura demi menjebak suaminya.

Alvaro terloncat kaget, hampir saja ia berteriak. "Ayini! Kamu mengagetkan saya!"

Ayini bangkit dari tidurnya, duduk di hadapan Alvaro. Dalam cahaya remang-remang, wajah Ayini terlihat sangat lembut.

"Mas Alvaro jahat ya, masa istrinya ditinggal kabur terus. Mas takut ya sama Ayini?"

Alvaro mencoba melepaskan pegangan tangan Ayini, namun Ayini justru semakin mengeratkannya.

"Saya tidak takut. Saya hanya... saya hanya butuh ketenangan."

"Ketenangan atau ketakutan karena jantung Mas lagi disko?" goda Ayini.

Ia menarik tangan Alvaro, dan sebelum Alvaro sempat menghindar, Ayini menempelkan telapak tangan suaminya itu ke dadanya sendiri.

"Mas rasa nggak? Jantung Ayini juga deg-degan kalau deket Mas. Kita sama, Mas. Kenapa Mas selalu lari?"

Sentuhan itu seperti sengatan listrik ribuan volt bagi Alvaro. Ia terpaku, matanya menatap mata Ayini yang bersinar di kegelapan.

Untuk pertama kalinya, Alvaro tidak memalingkan wajahnya. Ia melihat ketulusan, keberanian, dan cinta yang murni dari gadis bar-bar yang kini menjadi istrinya ini.

Benteng es yang kaku itu retak. Runtuh berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!