Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1. berpapasan tapi tidak kenal
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ **A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ**
Subuh telah menyapa rumah Aisyah dengan sinar matahari yang lembut menyelinap melalui celah tirai dan aroma kopi masih mengendap di udara ruang makan,Papa Arya sudah berangkat ke kantor sejak jam lima pagi, membawa tas kerja dan doa dari Mama Laras untuk hari yang sukses di kantor. Di dapur yang hangat, Mama Laras sibuk mengatur bekal makan siang untuk dua orang anaknya dengan hati-hati.
"Aisyah, sayang, tolong periksa tas Shuka ya. Saya sudah masukkan buku tulis dan camilan tambahan di dalamnya," ujar Mama Laras sambil menutup wadah bekal berisi nasi kuning dengan rapi. Di atas meja ada dua kotak makan – satu dengan hidangan kesukaan Shuka yaitu ayam goreng tepung dan kubis rebus, dan satu lagi dengan menu sehat untuk Aisyah: ikan bakar dengan lalapan dan nasi putih hangat.
Aisyah yang baru saja menyelesaikan shalat subuh datang mendekat, membantu ibu menyusun bekal ke dalam tas masing-masing. "Iya Bu, Aisyah sudah siapin seragam sekolah Shuka dan tas kampus Aisyah sendiri. Nanti Aisyah antar Shuka dulu baru ke kampus, tidak usah khawatir ya Bu."
Dari kamar tidur belakang terdengar suara kecil yang menggerutu. "Mama, kapan ya shuka bisa pergi? Jangan sampai shuka terlambat ya, hari ini ada ujian matematika lho!" teriak Shuka sambil keluar dengan baju tidurnya yang masih ucelan
Mama Laras langsung mendekat, mengusap kepala anak bungsunya dengan penuh kasih. "Tenang saja Nak, sudah siap semua kok. Cepat saja mandi dan pakai seragam, kakak sudah menunggu kamu." Sambil itu, dia mengambil seragam sekolah putih merah yang sudah di setrika rapi dari kursi.
Setelah Shuka selesai berkemas, Aisyah membantu adiknya menyikat gigi dan merapikan rambut keritingnya yang selalu sulit diatur. "Kamu harus fokus ya saat ujian, ya shuka. Kalau ada yang tidak mengerti, bisa tanya guru atau nanti kakak ajari kamu sore ini," ujar Aisyah dengan suara lembut.
Mama Laras melihat kedua anaknya dengan senyum bangga. Dia memberikan kotak makan ke masing-masing, lalu memberikan uang jajan dengan hati-hati. "Untuk Shuka, uang jajannya jangan dibelanjakan semua ya, simpan sebagian kalau tidak perlu. Untuk Aisyah, jangan lupa makan siang tepat waktu, kamu sering lupa karena sibuk kuliah dan organisasi."
Setelah berdoa bersama dan saling peluk, Aisyah dan Shuka berangkat dengan mobil keluarga. Di jalan, Shuka sibuk menunjukkan kepada kakaknya berbagai hal yang menarik perhatiannya – dari penjual bubur ayam yang baru saja membuka gerai hingga taman bermain yang sedang direnovasi.
"Kakak, bekal mama enak banget ya. Tadi saya lihat mama tambahkan keripik singkong favorit saya di dalam tas," ujar Shuka sambil tersenyum lebar.
"Iya dong, mama selalu memperhatikan apa yang kita suka. Nanti sore kita harus membantu mama memasak ya, supaya mama tidak capek sendirian," jawab Aisyah sambil menyesuaikan kecepatan mobil agar tidak terlalu cepat.
Setelah sampai di sekolah, Aisyah menurunkan Shuka dan mengecek sekali lagi apakah semua perlengkapannya sudah lengkap. "Jangan lupa makan bekal ya Nak, dan jangan sungkan untuk bertanya kepada guru kalau ada yang tidak jelas. Kakak akan jemput kamu jam empat sore ya."
"Baik kakak! Semangat kuliahmu ya! Jangan lupa juga makan bekal mama ya!" teriak Shuka sambil berlari menuju gerbang sekolah, shuka melambaikan tangan.
Setelah memastikan Shuka masuk kelas dengan aman, Aisyah melanjutkan perjalanan ke kampus. Saat hendak masuk gerbang kampus, mobilnya harus berhenti sebentar karena ada mobil lain yang sedang keluar. Ketika dia mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan seorang pria berbusana putih rapi dengan peci dan sorban yang teratur. Mata mereka saling terpaku sejenak, dan getaran yang mendalam mengalir di antara keduanya.
"Apa kami pernah ketemu?" pikir Aisyah dalam hati, merasa wajah pria ini sangat akrab namun tidak bisa mengingat kapan mereka pernah bertemu.
Sementara itu, Gus Aqlan Ardhani Baihaqi juga merasakan hal yang sama. "Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah?" batinnya, hati berdebar lebih cepat saat tatapan mereka masih terjepit.
BERSAMBUNG...