Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Karma Yang Kembali.
Malam itu berubah menjadi saksi bisu dari pecahnya sebuah rumah tangga. Teriakan dan tangis memenuhi udara, menggema di dalam sebuah rumah mewah yang dulu dipenuhi tawa dan cinta.
Wilia berdiri mematung dengan tubuh menggigil. Matanya memerah, bukan hanya karena amarah, tetapi juga oleh luka yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata. Di hadapannya, berdiri Brian McKnight—lelaki yang pernah ia yakini sebagai masa depannya, orang yang ia pilih dengan sepenuh hati, bahkan rela meninggalkan pernikahan sebelumnya demi bersamanya. Dan kini, lelaki itulah yang menghancurkan seluruh kehidupannya.
“Mas Brian… kamu selingkuh?” suara Wilia pecah, bergetar hebat. “Kenapa kamu tega… kenapa setega itu padaku?”
Napasnya memburu, seperti tidak bisa memenuhi dadanya yang sesak.
“Kamu bilang kamu mencintaiku! Kamu bilang hanya aku! Bahkan dulu, ketika aku menikah dengan Heron… aku tidak pernah benar-benar mencintainya. Aku meninggalkan semuanya demi kamu!” lanjut Wilia, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan.
Suara pecahnya hatinya terdengar jelas pada setiap kalimat.
“Dan setelah semua itu… kamu balas aku dengan cara seperti ini? Dengan pengkhianatan? Dengan menyakitiku sebanyak ini? Apa benar… cintamu sudah tidak ada lagi untukku?”
Brian hanya memandangnya tanpa ekspresi, seolah apa yang ia katakan bukan sesuatu yang berarti.
“Ya. Cintaku sudah hilang, Wilia,” jawabnya datar.
Kata-kata itu menghantam Wilia seperti badai. Ia terhuyung, memegang dada yang terasa tercabik dari dalam.
“Kenapa…” suaranya melemah, hampir tak terdengar.
Brian mengembuskan napas panjang, lalu berkata tanpa sedikit pun keraguan.
“Karena kamu tidak bisa memberiku anak.”
Wilia terdiam membeku. Dunia seperti berhenti berputar.
“Kau mandul,” tambah Brian, dingin. “Dokter sudah memastikannya. Setelah kecelakaan itu, kamu tidak akan punya anak lagi.”
Seakan seluruh tenaga dalam tubuhnya tersedot pergi. Kakinya goyah.
“Aku sempat berharap kalau kondisi itu masih bisa berubah,” lanjut Brian tanpa rasa bersalah. “Tapi ternyata tidak. Dan aku… aku butuh keturunan. Jangan salahkan aku jika aku mencari wanita lain.”
Air mata Wilia jatuh semakin deras. Ia menatap Brian dengan tatapan patah.
“Selama ini aku selalu ada buat kamu… aku selalu memihakmu…” bisiknya lirih.
Ia tertawa getir, suara yang penuh penyesalan.
“Demi kamu… aku meninggalkan Heron. Suami yang sempurna, laki-laki baik yang tidak pernah menyakitiku seperti ini.”
Ia menutup wajahnya sesaat, suaranya bergetar hebat.
“Andai saja dulu aku tidak sebodoh itu… mungkin sekarang aku masih menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku…”
Brian tersenyum miring, sinis.
“Itu karma untukmu, Wilia.”
Kata-kata itu membuat suasana ruangan semakin dingin.
“Luka yang kau buat di masa lalu… sekarang kau yang memanen akibatnya,” lanjut Brian tanpa belas kasihan. “Penyesalan memang selalu datang di akhir.”
Ia kemudian mengambil sebuah map dan meletakkannya di meja dengan suara keras.
“Ini surat cerai. Aku sudah tanda tangan. Tinggal kamu.”
Wilia menatapnya dengan mata penuh kemarahan, kepahitan, dan kekecewaan.
“Aku menyesal pernah memilih laki-laki sepertimu,” ucapnya dengan suara yang pecah namun mantap.
Brian terkekeh pelan.
“Dan kau… hanyalah perempuan bodoh yang tidak bisa membedakan permata dengan batu.”
Hening menyelimuti ruangan.
Malam itu, tanpa ampun, hubungan mereka benar-benar berakhir.
Sementara itu, di belahan dunia lain…
Sebuah jet pribadi mendarat mulus di Italia. Lampu-lampu landasan memantul di kaca jendela pesawat, menyinari sosok seorang wanita muda bernama Liora William Anderlecht. Ia duduk diam menatap pemandangan malam, wajahnya tenang namun penuh wibawa. Aura dinginnya memancar tajam, menunjukkan kedewasaan dan kekuatan yang ia miliki.
Setelah sekian lama mengurus cabang bisnis keluarga di luar negeri, akhirnya ia kembali ke negeri yang menyimpan banyak kenangan lama—baik yang manis maupun yang menyakitkan.
Begitu pintu pesawat terbuka, anak buah kepercayaannya, Noah, sudah berdiri menunggu.
“Selamat datang kembali, Nona Muda,” ucapnya sopan.
Liora hanya mengangguk singkat. “Ke mansion.”
Mobil hitam mewah itu melaju menyusuri jalanan Italia yang gelap. Dalam perjalanan, Liora meminta mobil berhenti di beberapa butik dan toko eksklusif untuk membeli hadiah bagi ketiga adik laki-lakinya. Ia tahu mereka menunggunya, seperti selalu.
Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan menuju mansion megah keluarga Anderlecht.
Saat pintu terbuka, Liora disambut hangat.
“Ayah… Victor… Albert… Sean… Kakak pulang.”
Tiga pemuda tampan itu langsung berlari menghampirinya.
“Kakak!” seru mereka serempak.
Liora tersenyum tipis, membalas pelukan hangat itu.
Heron—ayah mereka—mendekat dengan langkah pelan namun penuh kegembiraan.
“Putri Ayah sudah pulang…” suara Heron dipenuhi rasa rindu.
“Hallo, Ayah. Bagaimana kabarnya?” tanya Liora lembut.
“Baik, sayang. Kamu makin cantik saja,” jawab Heron sambil tertawa kecil.
“Kakak, mana hadiah kami?” tanya Victor antusias.
“Tentu ada,” jawab Liora sambil membagikan kotak-kotak mewah yang ia beli.
Reaksi ketiga adiknya membuat ruangan hangat oleh tawa dan kegembiraan. Victor tampak paling heboh saat melihat jam tangan yang katanya hanya ada satu di dunia.
“Kakak selalu ingat kami,” ucap mereka bertiga dengan mata berbinar.
Liora menatap mereka penuh kasih.
“Kalian adalah prioritas Kakak. Kalian dan Ayah.”
Heron menatap putrinya penuh kebanggaan dan rasa syukur.
“Liora, kamu pasti lelah. Istirahatlah.”
“Iya, Ayah.”
Namun sebelum pergi, Liora sempat bertanya pada ketiga adiknya tentang rencana kuliah. Mendengar mimpi dan ambisi mereka, Liora merasa bangga. Mereka bukan lagi anak-anak, melainkan calon penerus keluarga yang hebat.
Heron kemudian berkata, “Kakak kalian bukan hanya seorang saudara… ia sudah seperti ibu bagi kalian.”
Ketiganya mengangguk setuju.
Mata Heron berair, meski ia buru-buru menghapusnya.
“Ayah tidak menangis… Ayah cuma terharu,” ujarnya cepat.
Liora menggenggam tangan Heron, memberi kekuatan.
“Ayah… aku akan selalu melindungi kalian.”
Heron mengangguk, hatinya penuh rasa haru.
Namun suasana berubah ketika Liora menambahkan pelan:
“Ayah… kemarin aku melihat Ibu.”
Wajah Heron langsung menegang.
“Dengan Brian McKnight?”
Liora mengangguk.
“Iya.”
Heron menghela napas panjang, mengingat masa lalu yang ingin ia kubur.
“Laki-laki itu… dia alasan ibumu meninggalkan kita.”
“Dan sekarang hubungan mereka retak, Ayah,” lanjut Liora. “Ibu tidak bisa memberinya anak. Brian ingin menceraikannya.”
Hening menyelimuti ruangan. Luka lama kembali terasa.
Akhirnya Heron berkata pelan namun tegas:
“Jika itu terjadi… tidak ada yang berubah. Ayah tetap memilih kalian. Ibu kalian… sudah membuat pilihannya saat ia meninggalkan keluarga ini.”
Mata Heron memandang mereka satu per satu, penuh cinta.
“Satu-satunya yang penting bagi Ayah… adalah kalian.”
Liora mengangguk.
“Benar, Ayah.”
Heron menutup percakapan malam itu dengan lembut.
“Setiap luka akan sembuh pada waktunya. Dan kekuatan Ayah… adalah kalian.”