Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lao Hui
Lin Tian dan Bai Feng tiba di lapangan utama tepat saat rombongan Sekte Mutiara Langit memasuki gerbang. Sekitar dua puluh orang berpakaian serba putih keperakan berjalan dengan anggun, dipimpin oleh seorang wanita paruh baya berwajah dingin dengan rambut disanggul tinggi. Pemimpin Sekte Ombak Biru menyambut mereka di tangga panggung batu, kedua tangan ditangkupkan dengan hormat.
Pembicaraan berlangsung sekitar satu jam, tetapi Lin Tian tidak terlalu memperhatikan. Pikirannya masih setengah melayang mengingat pertempuran di Lembah Sungai Selatan. Yang ia tangkap hanyalah potongan-potongan kalimat dari Pemimpin Sekte.
"...serangan makhluk kegelapan terhenti tanpa sebab yang jelas... tidak ada yang tahu mengapa... tapi untuk sementara kita bisa bernapas lega..."
"...untuk sebulan ke depan semua murid harus tetap siaga... terus tingkatkan kekuatan kalian... jangan lengah..."
Bai Feng menguap di sampingnya. "Bosan," bisiknya.
Lin Tian tersenyum tipis.
Setelah upacara selesai dan rombongan tamu pergi, Bai Feng menarik lengan Lin Tian. "Ayo ke rumahku. Bosan di sekte terus."
"Rumahmu di Kota Naga Patah?"
"Iya, masa kau lupa."
"Maaf."
Bai Feng menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum ceria.
"Ayahku pasti senang kalau aku membawa teman. Lagipula kau belum pernah lihat tempat tinggal keluarga Bai. Ayo, ayo!"
Bai Feng sudah berlari menuju halaman belakang sekte, lalu mengeluarkan pedang terbang, dan menaikinya.
Lin Tian mengikutinya. Mereka melesat ke angkasa, meninggalkan sekte yang mulai sepi karena murid-murid lain juga bubar ke asrama masing-masing. Perjalanan ke Kota Naga Patah hanya memakan waktu seperempat jam dengan kecepatan santai. Bai Feng memimpin jalur terbang melewati atap-atap rumah, lalu turun di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam.
Rumah keluarga Bai ternyata cukup megah. Dua patung singa batu berdiri di kiri kanan pintu, dan di atas gerbang terukir lambang pil bundar dengan ornamen naga melingkar. Tembok tinggi mengelilingi seluruh area, menandakan bahwa keluarga ini bukan keluarga biasa.
"Kita sudah berteman sebulan lebih. Karena itu kau harus tahu kediaman keluargaku," ucap Bai Feng sambil membuka gerbang.
Lin Tian mengangguk mengikuti Bai Feng melewati halaman depan yang dipenuhi tanaman herbal dan bunga-bunga langka.
Bai Feng berjalan di depan sambil menjelaskan. "Seperti yang kau tahu, keluarga ku membuat pil tingkat rendah untuk tentara bayaran. Ayahku juga memasok ke berbagai toko di beberapa kota. Dia sangat mahir berbisnis. Jadi jangan terkejut dengan semua ini."
Lin Tian mengangguk. Aroma pil yang tercium bukanlah sesuatu yang asing baginya. Ibunya dulu juga sering membuat pil, meski dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi.
Mereka masuk ke ruang tamu utama. Di dalam, seorang pria paruh baya berdiri di dekat meja batu. Wajahnya tampak gosong seperti baru terkena ledakan kecil, jenggotnya sedikit terbakar di ujung. Bai Kelong.
Di sampingnya duduk seorang pria lain seusianya, berwajah tenang dengan rambut hitam yang sudah mulai memutih di bagian pelipis. Ada sesuatu di mata pria itu... teduh tapi dalam, seperti sumur tua yang tidak terlihat dasarnya.
Bai Feng langsung berlari ke arah pria dengan wajah gosong. "Ayah kau kenapa? Dan apakah pria itu tamu?"
Bai Kelong, ayah Bai Feng, tertawa renyah sambil mengusap wajahnya. "Ah, ini tadi tungku pil meledak karena rusak. Tidak apa-apa, hanya wajahku yang terbakar sedikit. Masih tampan, kan?"
Bai Feng menggelengkan kepala dengan pasrah. "Ayah selalu bilang begitu setiap tungku meledak."
Bai Kelong terkekeh, lalu menunjuk ke arah pria di sampingnya.
"Kalau rekan ini baru datang kemarin. Namanya..."
Pria itu mengangkat tangannya pelan, menghentikan Bai Kelong sebelum sempat menyelesaikan kalimat. Suaranya pelan tapi jelas, seperti aliran air yang mengalir di atas batu-batu sungai.
"Saya Lao Hui. Biasanya dipanggil Pak Tua. Nama bukanlah sesuatu yang perlu diingat, karena yang tersisa di hati orang bukanlah nama, melainkan jejak yang kita tinggalkan."
Lin Tian menyipitkan matanya. Sesuatu terjadi di dalam dadanya saat mendengar suara pria itu. Ao Mo, pedang warisan di dalam cincin penyimpanannya, bergetar pelan. Hanya sekejap, tapi Lin Tian merasakannya dengan jelas. Bukan getaran fisik, tapi getaran di tingkat jiwa. Seolah pedang itu mengenali sesuatu... atau seseorang. Jiwanya pun seakan berdenyut, seperti ada benang tak terlihat yang menariknya pada pria bernama Lao Hui ini.
Tapi ia sama sekali tidak mengenal pria itu. Belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.
"Lin Tian! Kau baik-baik saja?" bisik Bai Feng.
Lin Tian tersadar. "Aku baik."
Bai Kelong memecahkan lamunan dengan tawanya yang khas.
"Siapa pemuda ini? Jubah putih, postur tegak, matanya tajam seperti elang. Bukan anak sembarangan, ya?"
Bai Feng menepuk bahu Lin Tian dengan bangga.
"Dia temanku, Ayah. Namanya Lin Tian. Kami satu tim di misi kemarin. Lin Tian ini hebat, Ayah. Lawan dua makhluk kegelapan sendirian dan menang!"
Mendengar nama "Lin Tian", mata Lao Hui bergetar. Hanya sekejap. Lin Tian hampir tidak menyadarinya jika ia tidak sedang menatap pria itu. Tapi detik berikutnya wajah Lao Hui kembali tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.
Bai Kelong tertawa keras. "Tidak kusangka, anakku yang seperti sapi malas punya teman seperti pemuda ini. Biasanya kau hanya berteman dengan pedagang, germo dan rentenir. Hahaaa!"
"Ayah!" Bai Feng memasang wajah kesal.
Lao Hui berdiri perlahan dari kursinya. Matanya menatap Lin Tian dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pemuda ini... memiliki aura yang aneh. Seperti sungai yang mengalir di bawah tanah, tidak terlihat tapi kedalamannya tidak bisa diukur dengan tongkat biasa."
Bai Kelong mengangkat alis. "Wah, pujian tinggi dari Pak Tua. Biasanya beliau tidak banyak bicara soal orang lain."
Lin Tian menangkupkan tangan pada Lao Hui. Hormat, tapi tidak berlebihan.
"Terima kasih, Pak Tua. Kata-kata anda terlalu mulia untuk seseorang sepertiku."
Lao Hui tersenyum tipis. Senyum yang penuh makna, seperti seorang bijak yang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Kata-kata hanyalah angin yang lewat. Yang benar-benar mulia adalah perbuatan. Dan kau, Lin Tian... kau akan berbuat banyak hal dalam hidupmu. Beberapa di antaranya akan kau ingat selamanya, dan beberapa akan kau sesali. Tapi jangan biarkan penyesalan menghentikan langkahmu, karena setiap jejak kaki adalah cerita."
Bai Feng melongo. "Pak Tua bicara seperti puisi hidup."
Bai Kelong menepuk kepala anaknya. "Diam. Itu yang namanya bijak. Belajarlah."
Lin Tian tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Lao Hui. Pria ini... entah mengapa... terasa familiar dan asing dalam waktu yang bersamaan. Ao Mo sudah berhenti bergetar, tapi denyutan aneh di jiwanya masih terasa.
Siapa sebenarnya Lao Hui?