NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. HARI PERTAMA DI ASRAMA DAN TARGET PERTAMA.

Ia melangkah menuju pintu keluar dengan langkah yang sangat teratur.

"Eh, Gus! Mau kemana? Belum juga kenalan secara resmi!" teriak Ayini.

"Ke masjid. Waktunya mengajar," jawab Alvaro singkat, padat, dan jelas tanpa menoleh tak lupa iya mengucapkan salam.

Ayini langsung berbalik menghadap Abi Vero. "Abi, Ayini mau diajar sama Gus Alvaro ya! Jangan sama yang lain! Pokoknya Ayini mau minta jadwal yang paling banyak sama dia!"

Abi Vero tersenyum bijak, sementara Alqin dan Alpin hanya bisa menghela napas panjang.

Mereka tahu, membawa Ayini ke sini bukan berarti masalah selesai, melainkan sebuah babak baru yang mungkin akan membuat Pondok Pesantren Al-Hidayah ini gempar setiap harinya.

"Ayini, di sini semua ada aturannya. Kamu harus mengikuti jadwal yang ada," kata Abi Vero lembut.

"Tenang Abi, aturan kan dibuat untuk dilanggar... eh maksudnya ditaati sama Ayini kalau Ayini lagi mood!"

balas Ayini dengan cengiran lebar, sementara pikirannya sudah melayang membayangkan bagaimana caranya membuat "Gus Kulkas" itu bisa tersenyum atau minimal marah-marah kepadanya.

Hari itu, di bawah langit Barito Utara, sebuah pertemuan tak terduga telah terjadi.

Antara api yang meledak-ledak bernama Ayini, dan bongkahan es yang tak tersentuh bernama Alvaro.

Pertempuran antara mulut pedas dan keheningan pun baru saja dimulai.

Sore harinya, setelah orang tua mereka pulang dengan berat hati meninggalkan kedua anak "ajaib" itu, Ayini dan Kevin mulai diantar menuju asrama masing-masing.

"Vin, lu jangan nangis ya ditinggal emak lu," ejek Ayini saat mereka berpisah di pertigaan jalan asrama putra dan putri.

"Dih, siapa yang nangis? Gue mah seneng, artinya nggak ada yang ngomel kalau gue main game... eh, tapi di sini kan nggak boleh bawa HP ya?" Kevin mendadak lemas teringat HP-nya sudah disita tadi.

"Nasib lu emang apes, Vin. Udah ah, gue mau cari mangsa dulu di asrama cewek. Dah!"

Ayini melenggang pergi dengan gaya khasnya yang angkuh namun ceria.

Ayini diantar oleh seorang pengurus santriwati senior menuju kamar asramanya.

Di sana, sudah ada tiga gadis yang sedang duduk merapikan pakaian mereka.

"Assalamualaikum," ucap pengurus itu.

"Waalaikumsalam," jawab ketiga gadis itu serentak.

Ayini masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan salam. Ia langsung melemparkan tas besarnya ke atas kasur kosong yang tersisa.

"Woi, siapa aja nama kalian? Kenalin, gue Ayini. Gue di sini karena dipaksa, jadi jangan harap gue bakal jadi santri teladan kayak kalian," kata Ayini sambil duduk bersila di atas kasur.

Ketiga gadis itu saling berpandangan, tampak kaget dengan gaya bicara Ayini yang sangat kasar dan tidak biasa di lingkungan pesantren.

"Nama saya Layila," ucap gadis yang memakai kacamata dengan nada lembut.

"Aku Adinda," sambung gadis yang pipinya agak tembam.

"Dan aku Zia," kata gadis terakhir yang tampak paling pendiam.

"Layila, Adinda, Zia... oke, nama kalian lumayan. Tapi denger ya, jangan ada yang berani nyentuh barang-barang gue kalau nggak mau mulut kalian gue cabein. Paham?" ancam Ayini dengan mata melotot.

Layila, Adinda, dan Zia hanya bisa mengangguk pelan. "Astagfirullah alazim... galak banget," bisik Zia yang masih bisa didengar oleh Ayini.

"Gue denger ya, Zia! Gue nggak galak, gue cuma jujur!" balas Ayini ketus.

Namun tak lama kemudian, raut wajahnya berubah drastis menjadi penuh selidik.

"Eh, btw... kalian tahu soal Gus Alvaro kan? Ceritain dong, dia itu emang beneran nggak pernah senyum ya?"

Mendengar nama Gus Alvaro, mata ketiga teman barunya itu mendadak berbinar namun juga tampak segan.

Mereka mulai bercerita betapa dihormatinya Gus muda itu di Barito Utara, namun juga betapa dinginnya beliau terhadap siapapun, terutama perempuan.

Ayini mendengarkan dengan seksama, namun di kepalanya, rencana-rencana nakal untuk menjahili sang Gus mulai tersusun rapi.

Ia tidak sadar bahwa di pesantren ini, ia akan bertemu dengan lawan yang tidak bisa ia taklukkan hanya dengan kata-kata pedas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!