Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17: Niat Jahat
Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus kanopi hutan yang rapat, Qin Xiang menatap barisan anak-anak di hadapannya. Kilatan iba yang samar melintas di sepasang matanya yang biasanya sedingin es. Pikirannya melayang pada sosok makhluk legenda yang jarang menampakkan diri.
Anak-anak malang ini... mereka pasti telah digiring menjauh oleh Kuda Roh Herbal sebelum taring-taring binatang buas itu menghancurkan desa mereka,batinnya. Ia bisa membayangkan bagaimana Kuda Roh Herbal tersebut merasakan hawa kematian yang datang dan menyembunyikan anak-anak kecil ini di dalam gua.
Dengan suara yang berat namun menenangkan, Qin Xiang memecah keheningan. “Ayo kita pulang, orang-orang pasti sangat ingin melihat kalian.”
“Ya!”
...
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan gerbang desa yang kini tak lebih dari seonggok reruntuhan kayu yang menghitam. Pemandangan yang menyambut mereka bagaikan neraka yang baru saja mendingin. Isak tangis pedih dari para penduduk yang tersisa memecah kesunyian, namun saat mereka melihat anak-anak itu muncul dari balik kabut senja, ratapan itu berubah menjadi pekikan tak percaya. Seolah-olah mereka baru saja menyaksikan sebuah mukjizat turun di atas tanah yang terkutuk.
“Xiao Lin!”
Raungan Qu Long membelah udara. Pemuda bertubuh tambun itu berlari dengan langkah tertatih, matanya memerah menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya. Seolah tak percaya pada apa yang ia lihat, ia mematung sejenak sebelum mendekap erat sosok gadis kecil yang berdiri di barisan depan.
“Kakak!” Qu Xiao Lin menangis sejadi-jadinya, menyembunyikan wajahnya di balik jubah berdebu kakaknya. “Kakak akhirnya pulang... Lihatlah desa kita, Kak. Mengapa semuanya seperti ini?” tanyanya dengan suara serak, menatap puing-puing yang dulunya adalah tempat tawa mereka bergema.
Pertanyaan yang sama menghujam dari mulut anak-anak lain yang mulai mencari orang tua mereka di tengah kerumunan yang kuyu. Namun, saat mereka digiring menuju kamp pengungsian, tempat di mana deretan tubuh kaku terbaring di bawah kain rami, luapan rasa takut dan duka meledak sejadi-jadinya. Suasana desa Quang tenggelam dalam lautan kesedihan yang lebih pekat daripada kegelapan malam.
Tengah malam tiba, menyelimuti wilayah itu dengan keheningan yang mencekam. Sementara para pengungsi mulai terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, kelompok murid Sekte Pedang Giok melakukan patroli terakhir di sekitar perimeter desa. Mereka menyisir setiap bayangan, memastikan tidak ada lagi predator yang mengintai sisa-sisa nyawa.
Setelah patroli berakhir, mereka berkumpul kembali di kamp pusat untuk menyusun tindakan mereka selanjutnya. Duan Du mengerutkan kening, raut wajahnya dipenuhi keraguan yang nyata. “Ini benar-benar tidak masuk akal. Ke mana perginya kawanan buas itu? Seolah-olah mereka semua lenyap ditelan bumi dalam semalam,” ujarnya sembari menyarungkan pedangnya dengan kasar.
Di sisi lain, Qin Xiang saat ini sedang menutup mata, membiarkan kesadarannya merasuk ke dalam tubuh. Ia melihat aliran Qi di dalam nadinya berputar perlahan, memurnikan kelelahan dari setiap serat ototnya. Baginya, menceritakan bahwa ia telah membantai ratusan binatang buas sendirian hanya akan membuang tenaga. Kebenaran yang terlalu besar bagi telinga orang kerdil hanya akan dianggap sebagai omong kosong.
“Kakak Qin...” bisik Qu Long dengan suara yang sangat rendah, nyaris menyerupai desiran angin. Matanya melirik penuh arti pada tas kulit di pinggang Qin Xiang yang tampak menggembung secara tidak wajar. “Katakan padaku secara jujur... apakah kau yang telah melenyapkan mereka semua?”
Qin Xiang membuka matanya sedikit, kilatan cahaya emas berkelebat sebelum padam. “Hanya beberapa ekor yang menghalangi jalan,” jawabnya pendek, sebuah kiasan tersirat yang membuat Qu Long menahan napas.
Qu Long menelan ludah. Ia tahu betul arti di balik jawaban itu. Meskipun Qin Xiang saat ini "hanya" berada di ranah Qi Fondasi tahap awal, ia telah menyaksikan sendiri bagaimana pemuda ini melumpuhkan ahli Tahap 8 dan 9 saat masih di ranah Pemurnian Qi. Sekarang setelah ia menerobos ranah Qi Fondasi, sepertinya menghabisi Binatang Buas tingkat 3 bukanlah hal yang mustahil bagi naga yang sedang menyamar sebagai cacing ini.
“Cih, tidak mengherankan jika kau bisa menyelamatkan bocah-bocah itu,” suara ketus Duan Du tiba-tiba terdengar, memotong pembicaraan mereka. “Rupanya binatang-binatang itu sudah melarikan diri karena takut pada aura kelompok kita, dan kau hanya sedang memungut sisa keberuntungan.”
Duan Du mencibir, merasa telah menemukan logika yang "masuk akal" di kepalanya. “Dengan ranah ampas tahap satu, paling-paling kau hanya bertemu sisa-sisa monster yang terluka,” batinnya dengan penuh rasa puas karena merasa posisinya sebagai yang terkuat tetap tak tergoyahkan.
“Sudahlah, tidak perlu membuang energi untuk hal yang tak berguna. Desa ini sudah aman, besok pagi kita akan segera angkat kaki,” timpal Xiao Jing dengan nada malas, ia benar-benar ingin segera menjauh dari Qin Xiang.
Namun, kegelisahan adalah hantu yang tak bisa diusir dari benak Duan Du. Saat rekan-rekannya terlelap, ia justru tidak bisa memejamkan mata. Rasa lapar akan ego yang haus pujian membuatnya memutuskan untuk menyelinap keluar desa sendirian. Ia berniat mencari satu atau dua monster tingkat tinggi untuk dibantai demi mengamankan statusnya sebagai kontributor utama dalam misi ini.
Ia melesat ke dalam hutan, pedangnya telah terhunus. Namun, setelah menyisir selama satu dupa berselang, bukan raungan monster yang ia temukan. Langkahnya terhenti secara mendadak saat indra penciumannya dihantam oleh bau anyir darah yang sangat kental—bau yang seakan menusuk langsung ke ulu jiwanya.
“Tidak mungkin...” gumamnya, suaranya bergetar hebat. “Siapa... siapa yang bisa melakukan pembantaian semacam ini?”
Di hadapannya, di bawah cahaya bulan yang dingin, terbentang sebuah ladang pembantaian yang mengerikan. Puluhan, bahkan ratusan bangkai Binatang Buas berserakan.
Namun, detak jantung Duan Du seakan berhenti saat ia memeriksa bangkai-bangkai itu lebih dekat. Semua telinga kiri binatang buas di sana telah hilang. Terpotong dengan sangat rapi.
Tanda ini... telinga kiri... itu adalah bukti misi yang diminta Tetua Chu!
Pikirannya langsung melesat pada sosok pemuda tenang yang selalu ia hina. “Bocah itu... tidak, mustahil! Bagaimana mungkin seorang kultivator Qi Fondasi tahap 1 bisa melakukan semua ini?”
Duan Du mencoba menepis pikiran itu, namun bayangan tas kulit yang menggembung di pinggang Qin Xiang tiba-tiba menghantui benaknya. Perasaan cemas bercampur iri mulai membakar hatinya seperti api neraka. Jika benar Qin Xiang pelakunya, maka status jeniusnya akan menjadi lelucon terbesar di seluruh Sekte Pedang Giok.
“Jika dia benar-benar pelakunya... aku harus memastikannya. Tidak ada yang boleh melampauiku, apalagi seekor sampah sepertinya!”
Dengan mata yang menyala oleh kecemburuan dan amarah yang gelap, Duan Du berbalik dan melesat kembali menuju desa. Di dalam hatinya, sebuah rencana licik mulai terbentuk.
Bersambung!