Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 - Kontrak Sementara
Selepas sarapan yang cukup terlambat karena dia bangun terlalu siang, Avara dipanggil menghadap raja iblis ke ruangan kerjanya. Pelayan bilang itu sebuah kehormatan bagi manusia sepertinya, jadi sudah sepatutnya dia bersyukur dan banyak-banyak berharap untuk tidak memperoleh hukuman.
Untungnya setelah apa yang dia alami, rasa takut dan gugup nyaris berhasil Avara atasiーnyaris menjadikannya kembali percaya diri dan tidak terpengaruh kata-kata menakutkan apapun.
Gadis itu diantar oleh Oxron yang baru memperkenalkan diri hari itu, dan senang tidak lagi diseret-seret oleh iblis penjaga yang pertama kali ditemuinya tempo hari.
"Namanya Guerr," ujar Oxron, yang secara mengejutkan mau memberitahu nama rekan sejawatnya pada Avara.
"Kalian tidak memiliki nama marga?"
"Tidak, kaum kami tidak terikat dengan hal-hal semacam itu."
"Bagaimana dengan raja?"
Saat itu langkah Oxron berhenti sejenak sebelum dia menoleh ke arah Avara yang kaget. "Begitu pula dengan beliau. Tapi sebaiknya kau tidak bertanya terang-terangan seperti itu padanya."
Avara mengerjap. "Baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku."
Kali ini Oxron yang mengerjap. "Apakah manusia memang sering mengucapkannya?"
"Apa?"
"Ucapan terima kasih."
Perlu waktu bagi Avara sebelum menjawab, "Tidak semua. Tapi bisa dibilang itu adalah tata krama paling mendasar untuk hidup berdampingan dengan sesama."
"Tapi aku bukan manusia sepertimu," seloroh Oxron.
"Apa bedanya?" adalah tanggapan ringan Avara yang tidak pernah diketahuinya akan sangat berpengaruh bagi hati seorang iblis muda.
...****************...
Avara tidak berhenti terpana ketika sampai di ruangan pribadi raja iblis. Ruangan itu memang tidak rapi, tapi bersih dan sangat sesuai karakteristiknya dengan sang pemilik. Mejanya besar, dengan banyak artefak sihir yang tergeletak di atasnya, dan lemari berisi arsip-arsip yang mungkin berusia ratusan tahun. Ada sebuah perapian yang tidak pernah menyala, dan lukisan yang dipajang di atasnya. Avara merasakan rasa dingin yang bukan berasal dari suhu, dan tekanan yang diberikan semua perabotan dalam ruangan itu.
Agaknya di ruang kerja itu raja iblis menghasilan strategi-strategi yang dibutuhkan bagi kemajuan kerajaannya.
"Kami ingin kau menandatangani kontrak sihir kerja sementara," kata Oriole.
Itu bukan sebuah tawaran, tapi perintah, batin Avara.
Dia duduk di set meja dan kursi di hadapan meja besar raja iblis, mendapat penuh perhatian lelaki itu. Avara menerima lembar-lembar dokumen berisi kontrak kerja yang dimaksud, mengingatkannya pada PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) yang pernah dia tandatangani di awal karirnya. Dia membacanya baik-baik, tidak melewatkan satu poin pun, dan mulai berpikir tentang sihir yang dimaksud di awal.
"Kontrak ini tidak akan berubah karena pengaruh sihir setelah ditandatangani, kan?"
Raja iblis sendiri yang menjawab. "Tidak. Kontrak itu hanya mengikat pemberi tanda tangan dengan sihir. Tidak akan berubah."
Avara diam sebentar sebelum kembali bertanya, "Bisakah ditambahkan poin bahwa saya tidak akan pernah disakiti dan dibunuh dengan cara apapun?"
Raja iblis hanya menodongkan tangan untuk membuat dokumen itu kembali terbang ke tangannya. Di mejanya, dia membubuhkan poin yang diminta Avara tanpa pikir panjang. Oriole hanya memperhatikan.
"Aku sudah menambahkannya tapi dengan catatan kau tidak akan pernah membocorkan rahasia dan data apapun dari bangsa iblis kepada bangsa lain."
"Sepakat," putus Avara.
"Kau tidak keberatan dengan poin bahwa kau harus bekerja di sini sampai setidaknya kau tahu caramu pulang?"
"Saya tidak keberatan."
Maka terbanglah kembali kontrak kerja itu ke meja Avara untuk kemudian segera dia tandatangani. Setelah itu, dia mengantarkannya sendiri ke meja raja iblis, melewati Oriole yang hari itu tampaknya hanya bertugas sebagai pengawas.
"Your Majesty, tanpa mengurangi rasa hormat," ujar Avara di muka meja raja iblis. "Bolehkah saya tahu nama Anda?"
Oriole seketika berang. "Hei, kau sudah melewati batas."
Namun raja iblis mengangkat sebelah tangan, menghentikan Oriole yang hampir beranjak maju. "Tidak apa-apa."
Dengan mata gelapnya yang selalu dingin, raja iblis memandang Avara yang rupanya tidak memiliki rasa takut, berbeda dari dirinya tempo hari yang dikuasai kepanikan tak habis-habis.
"Fulqentius," ujar raja iblis.
Avara membisikkan nama itu, selirih mungkin hanya untuk mencoba melafalkannya.
"Kau tidak bisa seenaknya menggunakan nama raja kami, Manusia."
"Saya tahu," balas Avara, berpaling pada Oriole. "Saya hanya membutuhkannya untuk menulis laporan."
...****************...
Sebelum keluar dari ruang kerja sang raja iblis, Avara memohon untuk diijinkan membaca beberapa buku yang diperlukannya guna menulis laporan. Secara terbuka dia bilang bahwa dirinya membutuhkan pengetahuan tentang dunia dan hierarki iblis, yang bisa mempermudahnya menginput data. Maka Oxron yang ditugaskan untuk mendampinginya hari itu, diberi ijin Fulqentius untuk membawanya ke perpustakaan besar istana yang seketika mendapat kekaguman gadis itu.
Di sana terdapat koleksi buku ratusan tahun yang berharga dari berbagai kerajaan, dari buku politik, sastra, hingga sihir; semuanya nyaris lengkap. Avara bertanya-tanya bagaimana cara mereka memperoleh koleksi itu.
Seperti anak-anak di taman bermain, dia berhamburan ke banyak arah, melihat-lihat beragam buku dari berbagai rak yang ada di sana. Ada banyak yang mencuri perhatiannya, tapi untuk saat ini Avara hanya ingin mencari buku seperti yang dia sampaikan pada Fulqentius.. dan juga buku sihir. Dia harus diam-diam melakukannya, sebelum dianggap ingin melakukan pelarian atau hal-hal berbahaya lainnya.
Butuh lebih banyak waktu dari yang diperkirakan Avara hanya untuk memperoleh tiga buku. Dia menjelajahi hampir semua rak di perpustakaan itu seolah-olah tidak akan pernah bisa ke sana lagi. Baru setelah Oxron menyampaikan bahwa mereka bisa pergi meminjam buku lagi sesuai ijin raja iblis, Avara bergerak mundur dan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Avara menyejajarkan tiga buku yang dia bawa; buku tentang hierarki iblis dan dunianya dari sudut pandang iblis, dunia iblis dari sudut pandang manusia, dan buku sihir untuk pemula.
Avara menyimpan buku sihir sebagai bagian paling favoritnya untuk belakangan. Kini dia harus fokus mempelajari iblis. Gadis itu membutuhkan jam-jam yang panjang untuk membaca materi dalam buku, untuk kemudian menuliskan apa saja hal-hal yang sudah dia pahami ke buku catatan pribadinya.
Rupanya, hierarki iblis di dunia ini terdiri dari raja sebagai pemegang kekuasaaan tertinggi dalam politik, hukum, diplomasi, dan administrasi; archdemon sebagai bangsawan tinggi iblis, lord/kepala klan, pejabat kerajaan, dan warga umum. Avara pikir-pikir kenyataan ini tidak jauh berbeda dari hierarki pemerintahan di negara di dunianya, terutama yang berasal dari negara-negara barat yang bersistem pemerintahan monarki. Meski begitu Avara yakin dirinya perlu banyak belajar, karena banyak istilah yang baru dia jumpai.
Avara paham mengenai kedudukan Fulqentius. Dia harus mulai pembelajarannya dari Archdemon yang baru kali ini dia tahu.
Archdemon atau seorang Duke iblis adalah bangsawan tinggi kerajaan iblis yang dibagi dalam dua tugas; teritorial dan fungsional. Archdemon yang berfungsi secara teritorial memiliki wilayah sendiri yang mereka pimpin, sehingga mereka menguasai kota, tambang, dan lahan pangan. Mereka bertugas untuk memungut pajak, menjaga keamanan, mengirim logistik ke pusat, dan menjaga stabilitas daerah. Archdemon jenis ini lebih mudah dipahami Avara sebagai gubernur seperti di negara asalnya.
Sementara itu, archdemon lainnya adalah sejenis menteri dengan departemen masing-masing, yang dalam dunia ini meliputi departemen arsip dan informasi, logistik, pajak, diplomasi, dan pertahanan.
Para archdemon ini bisa dibilang adalah bangsawan lama iblis yang telah hidup ratusan tahun. Tak ayal jika mereka tradisional dan mungkin susah berubah.
Di titik ini Avara penasaran dengan posisi Marquess, Earl, Viscount, dan Baron seperti dalam kebangsawanan manusia.
Namun itu tidak menghentikan Avara untuk terus membaca. Lord adalah kepala klan iblis yang biasa bertugas mengurus anggota klan, mengirim pajak dan tenaga kerja, serta melapor ke Duke. Sementara itu pejabat kerajaan adalah para iblis yang mengerjakan pekerjaan administratif di istana, seperti pekerja kantoran, sebagai kelas menengah yang terdidik. Selebihnya, warga iblis umum adalah para pedagang, tentara, dan pengrajin yang bekerja dan membayar pajak pada kerajaan; intinya mereka adalah iblis biasa.
Avara melempar diri ke sandaran kursi, melenguh. Tampaknya dia butuh berhari-hari untuk mengulik semua hal tentang dunia iblis. Dia melirik satu buku lainnya. Belum lagi dia harus membaca dunia iblis dari perspektif manusia.
Hari masih panjang.