Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Rumah yang Tak Pernah Disebut
Rumah itu berdiri di ujung jalur batu yang tertutup ilalang tinggi.
Wira berhenti beberapa langkah sebelum sampai ke halaman kecilnya. Bangunan itu tidak besar, tetapi tampak lebih tua daripada rumah-rumah lain yang pernah mereka datangi. Dinding kayunya menghitam oleh usia, atapnya rendah, dan sebagian tiang penyangga di depan sudah miring seperti menahan beban masa lalu yang terlalu lama dibiarkan. Tidak ada tanda penghuni dari luar. Namun justru karena itulah tempat itu terasa lebih mencurigakan.
Arya berjalan paling depan, lalu menoleh singkat. “Ini dia.”
Ki Rangga menatap rumah itu dengan hati-hati. “Tak ada suara.”
“Memang seharusnya begitu,” jawab Arya.
Panca mendecak pelan sambil menatap bangunan itu dari ujung ke ujung. “Aku mulai tidak suka rumah yang kelihatan terlalu diam.”
Jaya berdiri di samping pintu samping dan mengamati tanah di sekeliling. “Ada jejak lama, tapi tertutup.”
Raden Seta memegang gulungan kain yang berisi naskah dan benda-benda mereka dengan lebih erat dari biasanya. Ia tampak semakin tegang sejak mata air tadi. Wira sendiri tidak banyak bicara. Sepanjang perjalanan dari sana ke sini, pikirannya terus berputar di sekitar satu nama: Watu. Pencatat lama. Orang yang katanya masih menunggu di rumah ini. Semua petunjuk yang mereka kumpulkan seolah mengarah ke pintu yang satu lagi, pintu yang belum dibuka.
Arya mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka berhenti di halaman.
“Masuk jangan bersama-sama,” katanya. “Kalau di dalam ada orang lain, kita tidak boleh terlalu ramai.”
Panca langsung menatapnya. “Kau baru bilang tadi ada orang yang menunggu. Sekarang kau bilang jangan ramai.”
Arya menoleh singkat. “Itu justru alasannya.”
Ki Rangga mengangguk perlahan. “Aku dan Wira dulu.”
Wira menoleh cepat. “Aku?”
Ki Rangga menatapnya tenang. “Ini menyangkut keluargamu.”
Wira tidak membantah. Walau dadanya masih penuh rasa waswas, ia tahu ia tidak bisa terus bersembunyi di belakang orang lain. Ia mengangguk kecil, lalu mengikuti Ki Rangga mendekati pintu depan rumah itu. Arya tetap di samping, sementara Jaya, Raden Seta, dan Panca berjaga beberapa langkah di belakang.
Pintu rumah tidak terkunci. Saat Ki Rangga mendorongnya sedikit, bunyinya hanya derit panjang, bukan suara keras. Udara yang keluar dari dalam rumah membawa aroma kayu tua, minyak lampu yang nyaris habis, dan sesuatu yang lebih asing: bau kertas dan besi lama.
Wira melangkah masuk.
Ruangan depan rumah itu sempit tapi rapi. Ada tikar tua di sudut, meja rendah, beberapa rak kayu kosong, dan satu lampu minyak yang belum dinyalakan. Di dinding tergantung selembar kain kusam dengan pola yang sudah hampir tak terlihat. Namun perhatian Wira langsung tertuju pada satu sosok di ujung ruangan.
Seorang lelaki tua duduk di kursi kayu, punggungnya sedikit membungkuk. Rambutnya putih hampir seluruhnya, tetapi wajahnya masih menyimpan ketajaman yang aneh. Matanya terbuka sejak mereka masuk, tidak terkejut, tidak juga takut. Seolah ia memang sudah menunggu.
Wira langsung membeku.
Ki Rangga menghentikan langkahnya.
Lelaki tua itu menatap Wira dengan lama, lalu menoleh pada Ki Rangga, seakan mengenali keduanya sekaligus.
“Jadi akhirnya sampai juga,” katanya pelan.
Wira tidak bisa langsung menjawab. Tenggorokannya kering. Ada sesuatu dalam wajah tua itu yang membuatnya merasa asing sekaligus sangat dekat. Bukan karena ia pernah melihatnya, melainkan karena pria itu tampak menyimpan sepotong besar masa lalu yang justru selama ini ia cari.
Arya melangkah masuk dari belakang. “Watu.”
Lelaki tua itu mengangguk kecil. “Arya. Kau terlambat.”
“Aku membawa mereka,” jawab Arya.
Watu menatap Wira lagi, lalu menghela napas pendek. “Anak Danar.”
Wira menegang. Nama itu diucapkan dengan cara yang membuatnya yakin lelaki tua ini bukan orang sembarangan.
“Apa kau mengenal ayahku?” tanya Wira cepat.
Watu menatapnya lama. “Aku yang menulis namanya.”
Ruangan seketika sunyi.
Panca yang baru masuk langsung berhenti di ambang pintu. Jaya dan Raden Seta saling pandang. Ki Rangga menajamkan tatapan. Wira sendiri merasa seolah lantai di bawah kakinya bergeser.
“Kau pencatat?” tanya Ki Rangga.
Watu mengangguk pelan. “Dulu.”
Wira menatapnya tak berkedip. “Kalau begitu kau tahu segalanya.”
“Tidak semuanya,” jawab Watu. “Tapi cukup untuk menyakiti orang yang mencari.”
Panca mendesah pendek. “Bagus. Itu jawaban yang sangat meyakinkan.”
Watu menoleh ke arahnya sebentar, lalu kembali pada Wira. “Kalian datang membawa banyak benda.”
Raden Seta maju satu langkah. “Kami menemukan peti, naskah, cincin, dan saksi-saksi lama.”
Watu memandangnya. “Berarti pintu-pintu lama sudah dibuka.”
Arya melipat tangan di dada. “Dan kita kehabisan waktu.”
Watu mengangguk pelan. “Itu sebabnya aku masih di sini.”
Wira menatapnya semakin tajam. “Kalau kau menulis nama ayahku, kenapa dia dipindahkan? Ke mana ibuku pergi? Dan kenapa keluargaku dihapus?”
Watu menatap Wira dengan sorot mata yang tiba-tiba berat. Tidak ada kepura-puraan di sana. Hanya kelelahan yang sangat tua.
“Karena ada yang ingin menghilangkan garis itu dari catatan,” jawabnya pelan. “Bukan hanya namamu. Bukan hanya ayahmu. Seluruh jalur yang menghubungkan kalian ke tempat asal.”
Wira menahan napas. “Siapa yang melakukannya?”
Watu memejamkan mata sebentar. Saat ia membukanya kembali, nadanya lebih pelan, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan beban.
“Orang yang duduk paling dekat dengan meja keputusan.”
Jaya mengernyit. “Maksudmu para pemimpin lama?”
Watu mengangguk. “Dan sebagian dari mereka masih hidup.”
Panca langsung menatapnya tajam. “Kau baru bilang hal itu sekarang?”
Watu mengarah padanya dengan tatapan datar. “Karena kalau kusebut lebih awal, kalian tidak akan sampai ke sini.”
Ki Rangga menyipit. “Kau sengaja menyembunyikan bagian paling penting?”
Watu mengangguk kecil. “Kalau kau ingin anak ini selamat, kadang kamu harus menyimpan api sampai ia cukup kuat memegangnya.”
Wira merasakan amarah naik dari dadanya. “Jadi ibu saya juga menyembunyikan semuanya demi keselamatan?”
Watu menatapnya lebih lembut. “Ibumu menyembunyikan banyak hal karena dia tahu orang seperti kalian akan datang.”
Kata-kata itu membuat Wira diam.
Arya melangkah ke sisi meja dan meletakkan gelang logam yang mereka temukan di mata air. Watu menatap benda itu dan mengangguk pelan, seolah melihat sesuatu yang sangat lama.
“Itu untukku,” katanya.
Arya mengangguk. “Dari mata air.”
Watu mengulurkan tangan, lalu mengambil gelang itu dengan hati-hati. Begitu benda itu berada di telapak tangannya, lelaki tua itu menunduk beberapa saat seakan sedang mengingat sesuatu yang tak ingin ia sebut.
Wira memandangnya tajam. “Apa hubungannya gelang itu dengan ayahku?”
Watu mengangkat kepala. “Semua yang kalian temukan adalah jalur menuju seseorang yang pernah dibawa lewat rumah ini.”
Wira langsung menegang. “Ayahku?”
Watu mengangguk. “Danar datang ke sini pada malam yang tak pernah disebut ulang. Ia masih membawa nama yang belum sempat dihapus seluruhnya. Aku menuliskannya. Lalu aku menyaksikan ketika dia dibawa keluar.”
Raden Seta mengerutkan dahi. “Dibawa oleh siapa?”
Watu menatap lurus ke depan. “Orang yang memerintahkan pengucapan ulang.”
Ruangan kembali hening.
Panca menghela napas, lalu menatap Wira. “Aku tidak suka istilah itu lagi.”
Wira mengabaikannya. Ia hanya menatap Watu. “Ayahku melawan?”
Watu diam sejenak. “Ia menolak.”
Wira merasa dadanya seperti tertarik turun. “Menolak apa?”
“Penanggalan nama,” jawab Watu. “Dan dengan penolakan itu, ia dianggap tidak patuh. Maka ia harus dipindahkan.”
Wira menatap lantai. Kata dipindahkan terdengar terlalu rapi untuk sesuatu yang sebenarnya terasa seperti pemisahan paksa. Bukan sekadar diusir. Bukan sekadar dibuang. Dibawa pergi dari jalur hidupnya sendiri.
Ki Rangga menatap Watu. “Ke mana dibawa?”
Watu mengangkat kepala dan menatap ke arah belakang rumah. “Ke tempat yang kalian sebut tadi: pintu ketiga.”
Arya menegang. “Masih ada ruangan itu?”
Watu mengangguk. “Bukan di dalam rumah ini. Di balik tanah belakang. Tempat itu lebih dalam dari ruang saksi, lebih tua dari mata air.”
Wira langsung menoleh. “Masih ada?”
“Masih,” jawab Watu. “Dan di sanalah jawaban paling menyakitkan disimpan.”
Panca mendecak. “Kenapa semua jawaban selalu disimpan di bawah tanah?”
“Karena orang takut pada terang,” kata Watu.
Wira menatapnya dalam. “Apa ibu saya tahu ayah saya dipindahkan ke sana?”
Watu mengangguk kecil. “Dia tahu. Bahkan lebih dari itu. Ia tahu Danar masih hidup ketika dibawa.”
Wira seperti tersengat. “Masih hidup?”
Watu menatapnya. “Aku tidak akan berani mengucapkan sesuatu yang belum kulihat sendiri. Tapi ya, ia masih bernapas saat terakhir kali terlihat.”
Ruangan itu langsung terasa sesak.
Wira menahan napas lama. Selama ini ia hanya punya potret kecil, nama yang dipindahkan, dan jejak-jejak yang tak pernah utuh. Kini semuanya berubah. Ayahnya tidak sekadar jadi bayangan. Ia masih hidup, atau setidaknya pernah hidup cukup lama setelah penghapusan itu.
Jaya menatap Watu. “Kenapa kau diam begitu lama?”
Watu tersenyum sangat tipis. “Karena kalau aku bicara lebih awal, rumah ini akan dibakar bersama aku di dalamnya.”
Panca mengangkat tangan. “Nah, itu alasan yang setidaknya masuk akal.”
Arya menatap Watu lalu bertanya, “Masih ada orang yang datang mencarimu?”
Watu mengangguk pelan. “Sudah ada beberapa. Tapi mereka tidak tahu aku masih memegang catatan lengkap.”
Raden Seta langsung menegakkan tubuh. “Catatan lengkap tentang malam itu?”
Watu meraih meja rendah di sampingnya, lalu membuka laci kayu yang hampir tak terlihat. Di dalamnya ada kumpulan lembaran tua yang diikat dengan tali hitam. Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini daftar terakhir yang masih tersisa,” katanya. “Nama-nama orang yang hadir saat pengucapan ulang. Nama yang dihapus. Nama yang disembunyikan. Dan satu jalur keluar yang belum pernah dibuka oleh orang luar.”
Wira menatap tumpukan catatan itu tanpa berkedip. Semua yang ia cari terasa begitu dekat, tetapi juga lebih berbahaya dari sebelumnya.
Ki Rangga menatap Watu. “Kalau kita membuka daftar ini, mereka akan tahu.”
“Sudah tahu,” jawab Watu. “Itulah sebabnya kalian harus memilih cepat.”
Wira mengerutkan dahi. “Memilih apa?”
Watu menatapnya langsung. “Mau tahu siapa yang memerintahkan penghapusan keluargamu, atau mau menyelamatkan orang yang mungkin masih menunggu di balik pintu ketiga.”
Wira membeku.
Panca langsung menoleh. “Maksudmu ada orang lain lagi di sana?”
Watu mengangguk. “Bisa jadi. Dan kalau kalian terlambat, pintu itu akan tertutup dari dalam.”
Wira merasakan jantungnya berdetak lebih keras. Ayahnya. Ibunya. Nama yang dihapus. Pintu ketiga. Semua bertemu di satu titik yang sekarang tak bisa ia abaikan lagi.
Ki Rangga memandang Wira, lalu Watu, lalu catatan di meja. “Kita buka sekarang.”
Wira menatap wajah tua itu, lalu mengangguk perlahan. Ia masih belum percaya sepenuhnya, tetapi jika ada orang yang bisa menghubungkan semua petunjuk mereka, orang itu tampaknya memang Watu.
Arya bergerak ke pintu belakang dan memeriksa luar. “Tidak aman lama-lama.”
Jaya menyetujui. “Kalau begitu baca cepat.”
Watu membuka lembar pertama dari ikatan catatan itu. Tangannya tidak lagi stabil seperti dulu, tetapi suaranya cukup tegas saat mulai membaca.
“Pada malam pengucapan ulang, nama Danar ditolak untuk dihapus seluruhnya.”
Wira langsung menegang.
Watu melanjutkan, “Ia dibawa ke pintu ketiga, tetapi sebelum pintu ditutup, seorang perempuan ikut masuk.”
Wira langsung menoleh cepat. “Siapa perempuan itu?”
Watu mengangkat wajah. “Ibumu.”
Ruangan menjadi senyap untuk kedua kalinya.
Wira mematung.
Panca menatap Wira dengan mata membesar. Jaya berhenti bergerak. Ki Rangga pun tampak terdiam sebentar, seolah baru memastikan satu bagian penting yang selama ini ia simpan.
Wira nyaris tidak bisa bernapas. Ibunya ikut masuk? Bukan lari, bukan sekadar bersembunyi. Ia masuk ke tempat terakhir yang membawa ayahnya.
Watu menatap Wira dengan hati-hati. “Karena itulah ibumu meninggalkan semua petunjuk. Dia tidak hanya menunggu kau datang. Dia menunggu saat pintu itu dibuka lagi.”
Wira menatapnya tanpa suara.
Dan di luar rumah yang tak pernah disebut itu, angin sore mulai berubah menjadi desau yang lebih keras, seolah membawa langkah-langkah baru yang semakin mendekat.
bukin pusing aja