Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Langit malam tampak pekat tanpa bintang. Hanya suara angin yang menyapu reruntuhan gudang tua di pinggiran kota. Lampu-lampu jalan yang redup menciptakan bayangan panjang di tanah yang retak.
Di atas sebuah gedung beton yang setengah runtuh, seorang wanita berdiri dengan tenang dia Aurelia. Sang Leader One, organisasi pembunuh bayaran yang paling terkenal.
Rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi, memperlihatkan wajah dingin yang nyaris tanpa emosi. Mata tajamnya menatap ke arah kompleks gudang yang dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata. Mereka adalah kelompok tentara bayaran yang selama dua tahun terakhir menjadi musuh utama organisasinya.
Kelompok itu dikenal kejam. Mereka menyerang markas, mencuri jalur senjata, bahkan membantai anggota yang tertangkap tanpa ampun.
Namun malam ini... semuanya akan berakhir.
Aurelia mengangkat tangan, memberi isyarat pada pasukan kecil yang bersembunyi di balik bayangan. Dua belas orang, semua adalah prajurit terbaik yang dia pilih sendiri. Di telinganya terpasang alat komunikasi kecil.
"Posisi semua unit," ucap Aurelia pelan.
Suara pria terdengar dari alat komunikasi.
"Tim dua siap."
"Tim tiga siap."
"Penembak jitu sudah mengunci target."
Aurelia mengamati area itu sekali lagi melalui teropong malam. Para penjaga berpatroli tanpa menyadari bahwa kematian sedang mengawasi mereka dari berbagai arah.
Dia menarik napas perlahan. "Mulai."
Satu kata itu seperti membuka gerbang neraka, detik itu juga suara tembakan senyap langsung terdengar.
Salah satu penjaga di gerbang depan roboh tanpa sempat berteriak. Peluru dari penembak jitu menembus kepalanya dengan presisi.
"Bergerak."
Aurelia melompat turun dari atap gedung dengan lincah setelah memberi komando, mendarat tanpa suara. Sepatu tempurnya menyentuh tanah dengan ringan sebelum dia berlari menuju pintu belakang gudang.
Dua orang penjaga berjaga di sana. Sebelum mereka sempat bereaksi, Aurelia sudah berada di depan mereka. Pisau tempur di tangannya bergerak cepat.
Srat!
Jleb!
Satu tebasan, dan satu tusukan. Dua tubuh langsung jatuh bersamaan. Darah mengalir di lantai beton yang dingin. Aurelia mendorong pintu gudang perlahan.
Di dalamnya, suara tembakan mulai terdengar. Anak buahnya sudah menyerbu dari sisi lain, dia melangkah masuk dengan tenang. Seorang pria bersenjata muncul dari balik peti kayu, mengarahkan senapannya.
DOR!
Aurelia menghindar, berguling ke samping lalu menendang tangan pria itu hingga senjatanya terlepas, lalu memutar tubuh dan menembakkan pistol yang dia pegang.
DOR!
Pria itu jatuh. Di sekelilingnya, pertempuran berlangsung cepat dan brutal. Tim Aurelia bergerak dengan koordinasi sempurna. Mereka menembak, berlindung, dan menyerang seperti mesin perang yang terlatih.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, sebagian besar musuh sudah terkapar.
Seorang pria tinggi dengan bekas luka di wajah keluar dari ruangan dalam gudang. Dia membawa senapan otomatis dan menatap Aurelia dengan mata penuh kebencian.
"Jadi akhirnya kau datang juga," katanya dingin.
Aurelia mengenal pria itu. Victor.
Pemimpin kelompok tentara bayaran yang selama ini meneror organisasinya. Aurelia mengangkat pistolnya.
"Permainanmu berakhir malam ini."
Victor tertawa kecil. "Benarkah?"
Dia tiba-tiba melempar granat asap ke lantai. Ledakan kecil terdengar dan asap tebal langsung memenuhi gudang. Aurelia melompat ke samping, menghindari rentetan peluru yang ditembakkan Victor secara membabi buta.
DOR! DOR!
RATATA!
DOR!
Suara tembakan menggema di dalam ruangan. Aurelia berlari menerobos asap.
Insting tempurnya membimbing setiap langkah. Dia melihat bayangan Victor bergerak di balik asap.
Aurelia mengangkat senjatanya dan menembak dua kali.
DOR! DOR!
Suara tubuh jatuh terdengar. Ketika asap mulai menipis, sosok Victor terlihat tergeletak di lantai dengan darah mengalir dari dadanya.
Sunyi. Pertempuran baru saja selesai. Aurelia menurunkan senjatanya, dia menghela napas pelan.
"Akhirnya selesai." Gumam Aurelia.
Kelompok yang selama ini mengganggu mereka akhirnya dihancurkan. Di belakangnya, beberapa anggota tim mulai keluar dari posisi masing-masing.
Salah satunya adalah pria bernama Leon, orang yang sudah bertarung bersamanya selama bertahun-tahun.
"Kerja bagus, Leader," kata Leon sambil tersenyum tipis.
Aurelia mengangguk singkat. "Periksa area. Pastikan tidak ada yang tersisa."
"Baik."
Para anggota tim mulai menyebar. Namun sesuatu terasa... aneh, suasana terasa begitu hening. Aurelia mengerutkan kening.
Instingnya yang tajam tiba-tiba berteriak memberi peringatan. Sebelum dia sempat bereaksi...
DOR!
Suara tembakan menggema, tubuh Aurelia tersentak. Rasa panas menjalar dari punggungnya. Dia perlahan menoleh ke belakang, matanya membelalak. Leon berdiri di sana, bersama pistol yang masih terangkat di tangannya.
Beberapa anggota tim lain juga mengarahkan senjata ke arahnya. Aurelia menatap mereka satu per satu.
"...Apa ini?" suaranya rendah.
Leon tertawa kecil. "Maaf, Leader."
Darah mulai mengalir dari luka di punggung Aurelia, meresap ke seragam hitamnya. Dia menggenggam pistolnya lebih erat.
"Pengkhianatan?"
"Anggap saja begitu," jawab Leon santai.
"Kenapa?"
Leon mengangkat bahu. "Karena kami sudah muak berada di bawah bayanganmu."
Aurelia menatapnya tajam. Leon melanjutkan dengan senyum sinis.
"Selain itu... seseorang membayar kami jauh lebih mahal untuk kepalamu."
"Sia–"
DOR!
Peluru kedua melesat dari arah samping dan mengenai kepalanya, tanpa sempat Aurelia menyelesaikan pertanyaannya. Serangan malam ini sejak awal memang dirancang untuk membunuhnya.
Tubuh Aurelia jatuh tergeletak ke lantai beton yang dingin, Leon berjalan mendekat lalu menendang tubuh Aurelia yang sudah tidak bernyawa.
"Ayo pergi, dia sudah mati." Kata Leon.
"Baik."
Leon menatap tubuh Aurelia sekali lagi lalu terkekeh. "Harusnya kau tidak mempercayai siapa pun, Leader."
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁