Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Awal dari Langkah Baru
“AAAH!!”
Seorang anak kecil terbangun dengan napas terengah, dadanya naik turun dengan cepat seolah baru saja melarikan diri dari sesuatu yang tak terlihat. Keringat dingin membasahi dahinya dan merembes hingga ke pelipis, sementara matanya terbuka lebar, masih dipenuhi sisa ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. Ia langsung duduk di atas tempat tidur, berusaha menenangkan dirinya, namun bayangan mimpi itu masih terasa begitu nyata, seakan benar-benar terjadi di hadapannya.
Namanya Long Chen, usianya baru delapan tahun, namun tatapannya saat ini tidak seperti anak seusianya.
Pintu kamar terbuka dengan cepat, disusul langkah tergesa. Seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah penuh kekhawatiran, matanya langsung tertuju pada Long Chen yang masih gemetar di atas ranjang.
“Long Chen, ada apa?” suaranya lembut namun jelas dipenuhi kecemasan. Ia segera mendekat, duduk di tepi tempat tidur, dan mengusap punggung anak itu dengan pelan, mencoba menenangkan.
Long Chen menoleh perlahan, menatap ibunya dengan mata yang masih menyimpan bayangan mimpi tersebut. Suaranya terdengar lirih dan sedikit bergetar saat ia berkata, “Ibu… aku bermimpi itu lagi…”
Ia menunduk sejenak, jemarinya mencengkeram selimut tanpa sadar. “Orang itu… yang tenggelam di laut… aku melihatnya lagi,” lanjutnya, seolah berusaha memastikan bahwa itu bukan sekadar khayalan.
Ibunya terdiam sesaat, lalu menghela napas pelan sebelum tersenyum lembut. Ia mengusap kepala Long Chen dengan penuh kasih sayang, berusaha meredakan ketegangan yang masih tersisa.
“Itu hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan,” ujarnya dengan nada menenangkan. “Kau mungkin terlalu lelah atau terlalu banyak berpikir sebelum tidur.”
Ia berdiri perlahan, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih ringan, mencoba mengalihkan perhatian anak itu. “Daripada memikirkan hal-hal aneh seperti itu, lebih baik kau bangun dan makan dulu. Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”
Setelah mengatakan itu, ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan suasana yang kembali tenang.
Namun Long Chen tidak bergerak.
Ia tetap duduk diam di atas tempat tidurnya, menatap kosong ke arah depan. Tangannya mengepal di atas selimut, sedikit bergetar, sementara pikirannya masih terjebak dalam potongan-potongan mimpi yang terus berulang.
“Mimpi ini… hampir datang setiap hari…” gumamnya lirih, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tatapannya perlahan berubah, dari ketakutan menjadi kebingungan yang dalam.
“Siapa sebenarnya orang itu… dan kenapa aku selalu melihatnya…?”
“Long Chen, makanannya sudah siap!” panggil ibunya dari dapur, suaranya cukup keras untuk membuyarkan lamunan yang masih membelenggu pikiran anak itu.
Long Chen tersadar seketika. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan menenangkan dirinya sebelum akhirnya turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar menuju dapur. Aroma makanan hangat segera menyambutnya, memenuhi udara dengan kehangatan yang kontras dengan sisa dingin dari mimpi buruknya tadi.
Di atas meja, hidangan sederhana telah tersaji rapi, masih mengepulkan uap panas yang menggoda.
“Ayo, cuci tangan dulu,” ujar ibunya sambil melirik ke arahnya dengan senyum tipis.
Long Chen mengangguk patuh, lalu berbalik menuju tempat air untuk membersihkan tangannya sebelum kembali duduk di kursi. Ia mulai makan dengan tenang, meski sesekali pikirannya masih teringat pada mimpi yang terus menghantuinya.
Beberapa saat kemudian, setelah makanannya hampir habis, ia mengangkat kepalanya dan bertanya, “Ibu… Ayah ke mana?”
Ibunya yang sedang membereskan dapur menjawab tanpa menoleh, “Sejak subuh sudah pergi bekerja. Hari ini ada urusan di luar desa, jadi mungkin pulangnya agak malam.”
“Oh… begitu,” gumam Long Chen pelan. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih ringan, “Kalau begitu, aku mau bermain dengan teman-teman dulu.”
Ibunya akhirnya menoleh, menatapnya sejenak sebelum mengangguk. “Pergilah. Tapi jangan pulang terlalu sore, mengerti?”
Long Chen tersenyum kecil, semangatnya mulai kembali. “Iya, Bu!”
Tanpa membuang waktu, ia segera bangkit dari kursi dan berlari kembali ke kamarnya. Dari sudut ruangan, ia mengambil pedang kayu kesayangannya, menggenggamnya dengan penuh antusias seperti seorang pendekar kecil yang siap berpetualang.
Tak lama kemudian, ia keluar dari rumah dengan langkah ringan, meninggalkan segala kegelisahan sebelumnya, setidaknya untuk sementara, dan berlari menuju dunia kecilnya yang penuh tawa dan permainan.
Desanya dikenal sebagai Maple Leaf Village (Desa Daun Maple), sebuah tempat yang seolah tidak pernah lepas dari nuansa merah yang menenangkan. Di setiap sudut, pohon-pohon maple berdiri tegak dengan daun-daun berwarna merah menyala, menciptakan pemandangan indah yang seakan abadi sepanjang musim. Saat angin berhembus, dedaunan itu terangkat dan berputar di udara, menari perlahan sebelum jatuh menghiasi tanah seperti hamparan karpet alami.
Long Chen berlari menyusuri jalan desa dengan langkah ringan, pedang kayu di tangannya bergerak mengikuti irama larinya. Wajahnya yang tadi sempat muram kini kembali cerah, seolah suasana hangat desa perlahan mengusir bayangan mimpi buruk yang sempat mengganggunya.
Beberapa warga yang ia lewati tersenyum ramah dan menyapanya, sudah terbiasa melihat bocah itu berlari ke sana kemari dengan semangat yang tak pernah habis.
“Long Chen, mau latihan lagi?” seru salah satu pria tua sambil tertawa kecil, matanya penuh keakraban.
“Hati-hati di jalan!” tambah yang lain, mengingatkan dengan nada hangat.
Long Chen hanya membalas dengan senyum malu, mengangguk kecil tanpa menghentikan langkahnya. Meski tidak banyak bicara, sorot matanya menunjukkan semangat yang membara, seolah dunia kecilnya saat ini hanya berisi satu hal yaitu latihan, menjadi lebih kuat, dan entah mengapa… sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mengerti sepenuhnya.
Tak lama kemudian, Long Chen tiba di tempat biasa mereka berkumpul, sebuah tanah lapang di pinggir desa yang dikelilingi pohon maple merah yang menjulang tenang. Dedaunan berjatuhan perlahan tertiup angin, menciptakan suasana yang damai, namun bagi mereka berempat, tempat ini adalah arena latihan yang penuh semangat dan persaingan.
Tiga anak sudah menunggunya di sana.
Xiao Yan berdiri dengan sikap santai, pedang kayu tersampir di bahunya seolah ia tidak pernah menganggap latihan ini sebagai sesuatu yang berat. Di sampingnya, Ye Fan bersandar pada batang pohon dengan ekspresi datar, sementara Han Li tampak paling bersemangat, matanya berbinar begitu melihat Long Chen datang.
Tanpa membuang waktu, Long Chen langsung melangkah maju. Ia mengangkat pedang kayunya dan menunjuk lurus ke arah Xiao Yan, sorot matanya penuh tekad yang tak tergoyahkan. “Aku menantangmu lagi!”
Ye Fan menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kelelahan yang bukan karena latihan, melainkan karena sudah terlalu sering melihat kejadian yang sama. “Chen, kau sudah kalah empat puluh tujuh kali,” ucapnya datar, bahkan tanpa menoleh sepenuhnya. “Kenapa tidak menyerah saja? Bahkan batu pun mungkin sudah belajar dari kekalahan sebanyak itu.”
Namun Long Chen menggeleng keras tanpa ragu, genggamannya pada pedang kayu semakin erat. “Aku tidak akan berhenti sampai aku menang,” balasnya tegas, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Xiao Yan tersenyum santai, matanya menyipit sedikit, memperhatikan Long Chen dari ujung kepala hingga kaki. Tidak ada ejekan dalam senyumnya, namun jelas terlihat bahwa ia masih berada di atas angin. Ia lalu mengangkat pedang kayunya dengan ringan, seolah menerima tantangan itu adalah hal yang wajar. “Baiklah, aku terima tantanganmu,” katanya dengan nada tenang. “Aku harap kali ini… kau bisa membuatku sedikit serius.”
Han Li langsung melompat kecil dengan penuh semangat, tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. “Wah! Duel lagi!” serunya sambil bertepuk tangan. Ia menoleh ke arah Long Chen dengan wajah penuh dukungan. “Ayo, Chen! Kali ini kau harus membuatnya kewalahan!”
Namun Long Chen tidak ikut terbawa suasana. Tatapannya tetap tertuju pada Xiao Yan, tajam dan penuh fokus, seolah dunia di sekitarnya telah menghilang.
“Aku tidak ingin hanya membuatnya kewalahan,” ucapnya perlahan, namun penuh tekanan.
Ia sedikit merendahkan tubuhnya, posisi kakinya mulai bersiap.
“Aku akan menang.”
Duel pun dimulai, dan dalam sekejap suasana di lapangan berubah menjadi tegang. Pedang kayu saling beradu, menghasilkan bunyi tajam yang berulang saat Long Chen menyerang tanpa ragu. Setiap ayunan yang ia lepaskan dipenuhi keseriusan, gerakannya cepat untuk ukuran anak seusianya, bahkan menunjukkan hasil latihan keras yang selama ini ia jalani.
Namun di hadapannya, Xiao Yan tetap berdiri tenang.
Ia tidak terburu-buru, tidak juga terlihat tertekan. Dengan langkah sederhana, ia menghindari setiap serangan Long Chen seolah itu adalah sesuatu yang mudah dibaca. Tubuhnya bergerak ringan, hampir tanpa usaha, membuat setiap serangan yang dilancarkan Long Chen terasa sia-sia.
Saat Long Chen kembali mengayunkan pedangnya dengan seluruh tenaga, Xiao Yan hanya menundukkan tubuhnya sedikit, membiarkan serangan itu melewati atas kepalanya. Dalam satu gerakan yang bersih dan tepat, ia melangkah masuk ke dalam jarak serang, lalu melayangkan pukulan ringan ke perut Long Chen.
Benturan itu tidak keras, namun cukup untuk membuat napas Long Chen terhenti sesaat. Genggamannya melemah, dan pedang kayu di tangannya terlepas, jatuh ke tanah. Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah, kehilangan keseimbangan.
Namun Xiao Yan tidak memberinya waktu untuk pulih.
Dalam kelanjutan gerakan yang sama, ia menyapu kaki Long Chen dengan cepat dan tepat, membuat tubuh kecil itu langsung kehilangan pijakan dan jatuh ke tanah. Belum sempat Long Chen bereaksi atau mencoba bangkit, ujung pedang kayu Xiao Yan sudah berhenti tepat di depan lehernya.
Semua terjadi dalam satu rangkaian gerakan yang halus dan tanpa celah.
Lapangan kembali hening.
Daun-daun maple yang berjatuhan seakan ikut melambat, seolah dunia memberi ruang pada hasil duel yang sudah jelas sejak awal.
Xiao Yan menatap Long Chen dari atas dengan ekspresi santai, lalu berkata dengan nada ringan namun tegas, “Kau kalah… untuk keempat puluh delapan kalinya.”
Namun Xiao Yan tidak mempertahankan posisinya lama. Ia segera menarik pedangnya dan mengulurkan tangan ke arah Long Chen dengan sikap santai, seolah duel barusan hanyalah latihan biasa tanpa beban. “Duel tadi lumayan,” ujarnya ringan, matanya tetap tenang. “Kau semakin berkembang. Gerakanmu sudah jauh lebih rapi dibanding sebelumnya.”
Long Chen menatap tangan yang terulur itu sejenak. Nafasnya masih belum sepenuhnya stabil, dan tubuhnya masih terasa sakit akibat jatuh tadi, namun pada akhirnya ia mengangkat tangannya dan menerima uluran tersebut. Xiao Yan menariknya berdiri tanpa kesulitan, membantu menegakkan tubuhnya kembali.
Di samping mereka, Ye Fan memperhatikan dengan senyum tipis, tampak cukup puas melihat peningkatan yang perlahan mulai terlihat. Han Li justru tertawa lepas, suasana tegang yang tadi sempat muncul langsung menghilang begitu saja.
“Tenang saja, Chen! Suatu hari nanti kau pasti menang!” seru Han Li dengan semangat, meski nada suaranya segera berubah sedikit menggoda, “meskipun… entah kapan itu akan terjadi.”
Ucapan itu membuat Ye Fan ikut tersenyum lebih lebar, sementara Xiao Yan hanya menggeleng pelan, seolah sudah terbiasa dengan candaan seperti itu.
Tawa mereka pun pecah bersama, ringan dan tanpa beban, mengisi lapangan kecil di bawah guguran daun maple merah.
Namun Long Chen tidak ikut tertawa.
Ia berdiri diam di tempatnya, tangannya perlahan mengepal tanpa disadari. Tatapannya tertunduk sedikit, menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kekalahan dalam permainan.
“Aku… masih terlalu lemah…” gumamnya lirih di dalam hati, suaranya tenggelam di balik tawa teman-temannya, namun tekad di matanya justru mulai tumbuh semakin kuat.
Di balik salah satu pohon maple yang berdiri tak jauh dari lapangan, tersembunyi di antara bayangan dedaunan merah yang bergoyang pelan, sesosok pria berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Keberadaannya begitu samar hingga bahkan angin yang berhembus pun seolah tidak menyentuhnya, seakan ia adalah bagian dari bayangan itu sendiri.
Sepasang mata tajam mengamati keempat anak yang masih berada di tengah lapangan, memperhatikan setiap gerakan, setiap interaksi, hingga detail kecil yang luput dari perhatian orang biasa. Tatapannya tenang, namun dalam, menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
“Menarik…” gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar, namun cukup untuk menunjukkan ketertarikannya.
Perlahan, fokusnya berhenti pada satu sosok.
Long Chen.
Matanya menyipit sedikit, seolah mencoba melihat lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. “Anak itu… memiliki potensi yang tidak biasa,” lanjutnya, nada suaranya tetap datar namun jelas mengandung makna yang lebih dalam.
Senyum tipis muncul di wajahnya, samar dan penuh perhitungan.
“Sepertinya… rencanaku akhirnya bisa dimulai.”
Angin berhembus pelan, membuat dedaunan maple berjatuhan di sekelilingnya, namun sosok itu tetap berdiri diam, tak tergoyahkan.
“Dengan cara apa pun,” ucapnya lirih, namun kali ini terdengar lebih tegas, seolah telah mengambil keputusan yang tidak bisa diubah.
“Aku akan membawa mereka ke Sekte Pedang Langit, salah satu sekte terbesar dalam aliran benar, tempat para kultivator ditempa untuk mencapai puncak kekuatan.”
Kata-kata itu menghilang bersama hembusan angin.
Tak lama kemudian, sosok itu lenyap begitu saja, seolah tidak pernah ada di sana sejak awal.
Daun maple terus jatuh perlahan, menari di udara sebelum menyentuh tanah.
End Chapter 2