" Cari tahu lebih banyak lagi tentang wanita pengganti itu,kalau sampai ada kecurangan,detik itu juga lenyap kan apapun yang mereka miliki."
" Siap Bro."
Kepala Arjuna berdenyut keras, keinginan untuk mewujudkan impian sang ibu tidak bisa berjalan dengan mulus.tapi dia tidak bisa menunda lebih lama lagi,ini adalah permintaan sang Ibu, wanita yang paling ia sayangi dalam hidup nya.
Sementara di tempat yang lain,sosok wanita pengganti itu sedang berdiri tak karuan, setelah mendengar percakapan kedua orang tua nya.
" Mau jadi apa hidup Aku ini,baru juga mau kuliah,udah di suruh nikah segala."
" Tchh....Apa Aku kabur aja ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oland sariyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Hamil
Bangun pagi dengan mata yang masih bengkak akibat kelamaan meratapi nasib membuat tubuh Yura terasa begitu lemas.meskipun sudah di guyur dengan air dingin tapi entah kenapa semangat untuk keluar dari kamar ini lenyap tak bersisa.
" Kenapa pagi ini harus ada mata kuliah sih." meskipun masih kepikiran dengan masalah menikah dan perjodohan,Yura terpaksa tetap berangkat ke kampus demi menyelamatkan masa depan nya,tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan hidup nya kecuali diri nya sendiri.
Kedua orang tua nya? Mereka mana perduli kepada dia,ini saja dia masih harus membayar utang yang dia sendiri tidak tahu kapan utang itu mulai terbentuk.
Yura mencoba untuk tersenyum di depan kaca, meskipun mustahil nanti bisa memberikan senyuman itu kepada orang tua nya lagi,setidak nya Yura ingin terlihat baik-baik saja di luar sana.
" Semangat Yura! Calon istri pengusaha kaya." ujar nya mengejek diri sendiri.
Kedatangan Yura langsung di sambut banyak kata-kata yang keluar dari mulut Mama nya,jangan kan sempat mengambil makanan,duduk saja Yura belum tapi sudah di suguhi suasana yang tidak enak.selera makan Yura hilang berganti dengan rasa kesal bercampur kecewa.
" Yura berangkat dulu Ma,Pa." pamit nya sambil berlalu begitu saja tanpa mencium punggung tangan kedua orang tua nya.
" Hei...Kamu tidak sarapan dulu,kenapa langsung kabur gitu saja,mana sopan santun mu ...Yura..." teriak Bu Rahmi dengan mata membesar hampir keluar dari sarang nya.
" Begini lah akibat berteman dengan anak- anak miskin itu,minim tata Krama dan juga tidak tahu terimakasih." lanjut Bu Rahmi masih belum puas.
Ya,selama ini kedua orang tua Yura sama sekali tidak menyukai kedua teman Yura,setiap kali Yura telat pulang ke rumah maka rumah kedua teman Yura lah yang menjadi sasaran empuk Bu Rahmi,bahkan lebih kejam nya lagi Bu Rahmi sampai menyewa para preman untuk menghancurkan rumah Intan dan juga Marta.mereka berpikir sikap membangkang Yura selama ini di dapat dari kedua sahabat nya itu.Yura sangat malu dengan apa yang sudah kedua orang tua nya lakukan kepada keluarga Intan dan Marta,Yura bahkan sempat memutuskan komunikasi dengan kedua sahabat nya demi menjaga mereka dari serangan sang ibu,selain itu Yura juga merasa malu dengan kelakuan orang tua nya yang begitu arogan dan sombong.
Namun Intan beserta Marta malah mencari Yura dan menjelaskan bahwa mereka tidak apa-apa begitu juga dengan keluarga mereka.baik keluarga Intan maupun Marta sudah paham seperti apa kelakuan orang tua dari Yura.sampai sekarang persahabatan mereka tetap awet meskipun sering di halang- halangi oleh Bu Rahmi.
" Nanti selesai kuliah langsung pulang,jangan keluyuran lagi Kamu di luar sana ,bikin malu keluarga saja.ingat sebentar lagi Kamu akan menjadi istri orang." teriak Bu Rahmi sambil berdiri.
Dan Yura sama sekali tidak berniat untuk membalas ucapan Bu Rahmi,bagi nya terus berjalan ke depan adalah pilihan terbaik dari pada harus sakit hati mendengar ucapan kedua orang tua nya.
" Non...Non Yura tunggu.." Bi Arum datang tergopoh-gopoh mengejar Yura yang sudah mendekati pintu gerbang.
" Ada apa Bi? Yura mau ke kampus dulu." tanya Yura sambil memasukkan kembali ponsel ke saku celana jeans nya.
Meskipun orang-orang tahu kalau Yura berasal dari keluarga kaya,tapi penampilan Yura selalu apa ada nya,tidak berlebih-lebihan.semua pakaian yang melekat di badan nya memiliki harga yang standar,tidak seperti Sela yang di banjiri pakaian branded.pernah sekali Yura nekat membeli jacket branded dengan harga yang sangat tinggi , begitu sampai di rumah Yura malah di tampar oleh ibu nya karena di tuduh menghambur - hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas.masih banyak lagi sumpah serapah yang keluar dari mulut Bu Rahmi ,dengan terpaksa Yura merelakan jacket impian nya menjadi milik Sela atas permintaan dari Sela yang sejak tadi memasang wajah sedih di depan orang tua nya.Yura sudah mencoba membela diri dan membeberkan fakta tentang Sela yang tidak pernah kena hukuman jika membeli pakaian mahal,namun yang dia dapat kan hanya tamparan kedua dan hukuman tambahan dari orang tua nya.
Jika membela diri di anggap membangkang oleh orang tua nya,lalu sebutan apa yang pantas untuk orang tua yang tidak adil kepada anak nya.akhhhhh....Yura selama ini terpaksa bertahan di rumah ini hanya sampai kuliah nya selesai, setelah mengetahui kalau sebentar lagi dia akan menikah dengan lelaki kaya,Yura rasa nya mulai malas menghadapi orang tua nya dengan sikap patuh.
" Ini bekal untuk Non Yura,di habis kan ya Non,jangan sampai sakit, sebentar lagi kan Non mau nikah sama pengusaha tambang kaya dan ganteng." ujar Bi Arum sambil mengedipkan sebelah mata kepada Yura.
Sebuah senyum tulus dan haru terlukis di wajah Yura,tak hanya sebuah kotak bekal,Bi Arum juga sengaja menyiapkan sebotol susu hangat untuk Yura.
Bi Arum sengaja mengajak Yura berdiri sedikit mepet di pos jaga karena takut ketahuan oleh sang Nyonya.
" Terimakasih ya Bi,Yura sayang Bibi." sebuah pelukan hangat Yura dapat kan pagi ini dari Bi Arum.
Dari kejauhan ada Bi Siti dan Bi Yum yang menyaksikan adegan haru itu,kedua asisten rumah tangga ini bahkan sudah terisak lebih dulu jauh sebelum Yura memeluk Bi Arum.mereka bertiga lah saksi betapa menderitanya Yura di rumah ini.tapi mereka sama sekali tidak tahu alasan di balik penderitaan yang Yura dapat kan dari orang tua kandungnya sendiri.
" Mang Ujang antar ya Non." tawar Mang Ujang ketika melihat Yura sudah selesai berbicara dengan Bi Arum.
" Tidak usah Mang,Yura naik ojek online saja.sebentar lagi ojek pesanan Yura sampai di depan." tolak Yura dengan senyuman ramah.
" Aduhhh cancel saja dulu non ojek online nya,kan berhubung Non Sela nggak ada di rumah,mang Ujang lagi nggak ada kerjaan,Mang Ujang antar saja ya,langit udah gelap kayak nya bakalan turun hujan deh." tawar Mang Ujang lagi berharap Yura mau di antar oleh beliau.
Selama ini Yura memang terkenal mandiri tidak manja seperti Sela ,Yura terbiasa berpergian menggunakan angkutan umum karena semua fasilitas yang di berikan kepada nya sudah di tarik kembali oleh orang tua nya dengan alasan takut Yura keluyuran sama teman-teman miskin nya.
Entah seperti apa arti keluyuran itu bagi orang tua nya terhadap Yura,kenapa Sela bisa pulang sesuka hati ke rumah ini sementara dia telat pulang satu jam saja langsung di cecar banyak pertanyaan dan juga hinaan.
" Jangan dong Mang,kasihan kang ojek nya,lagian nanti si nyonya bisa marah kalau Yura duduk di mobil milik anak kesayangan nya." ucap Yura mampu membuat Mang Ujang ikut bersedih.
" Udah Yura berangkat dulu ya Bi,Mang! Ojek nya sudah sampai di depan."pamit Yura dengan sopan sambil mencium punggung tangan Bi Arum dan juga Mang Ujang.
" Hati-hati ya Non." balas Mang Ujang sementara Bi Arum hanya tersenyum memendam tangis yang tercekat di tenggorokan.
Yura melambaikan tangan kepada para pekerja yang sudah memperlakukan nya dengan manusiawi di rumah ini.
Sementara Mang Ujang terus menatap kepergian Yura hingga punggung Yura tak terlihat lagi.
" Kasihan Non Yura,mirip anak tiri di rumah orang tua nya sendiri." gumam Mang Ujang pelan masih bisa di dengar oleh Bi Arum.
" Iya ya Jang,semoga saja nanti Non Yura bahagia dengan keluarga kecil nya."balas Bi Rum lagi sambil memandang intens bangunan mewah yang berdiri di depan nya.
Tidak ada cahaya yang terlihat dari bangunan ini, meskipun bagi orang-orang di luar sana rumah ini besar,mewah dan kaya,namun yang tersisa di dalam nya hanya lah kegelapan.
Sedang kan di kediaman Raharja.terjadi pembicaraan cukup serius setelah Agum datang menyampaikan pesan dari Bambang untuk tuan nya.
" Bagaimana Juna? Mama tidak mau lagi mengulur waktu.Mama ingin segera melihat Kamu menikah dan punya anak." ujar Ningsih sambil menggenggam tangan kokoh putra nya.
" Aku akan tetap menikah meskipun dengan wanita pengganti." jawab Arjuna tanpa senyum.
" Alhamdulillah... Akhirnya sebentar lagi Mama akan punya menantu. Papa...Mama senang sekali pagi ini." ujar Ningsih sampai melupakan penyakit nya
" Hati-hati Ma! Jangan melompat seperti anak kecil begitu,Mama harus banyak istirahat." Arjuna dan Ayah nya dengan kompak mengingatkan wanita yang sangat mereka cintai.bagi mereka tidak ada yang bisa menggantikan Ningsih di rumah ini karena Ningsih adalah seorang ibu dan istri yang begitu sempurna.
" Hanya berdiri sebentar,tidak akan sampai membuat Mama lelah." balas Bu Ningsih tersenyum bahagia.
Arjuna hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ibu nya, sementara Pak Raharja terus menatap penuh selidik sang putra tunggal,di balik sikap tenang sang putra pagi ini pasti menyimpan kejutan besar, cukup dengan satu kode mata sudah bisa di artikan oleh Agum.
"Silahkan Tuan." ucap Agum yang sudah berdiri di belakang tuan nya.
" Papa berangkat dulu,Mama jangan banyak gerak, harus banyak istirahat di kamar." begitulah pesan singkat yang Pak Raharja ucap kan kepada istri tercinta,namun di balik itu semua ada begitu banyak peraturan yang harus di ingat oleh kedua perawat yang menjaga istri nya di rumah ini.
" Nanti malam undang calon istri Arjuna makan ke sini ya Pa,Mama kan belum pernah ngobrol sama dia." pinta Bu Ningsih tidak langsung di setujui oleh suami nya,yang ada Pak Raharja malah menatap ke arah Arjuna seakan menunggu respon apa yang keluar dari bibir putra nya.
" Terserah Papa,Aku juga harus berangkat sekarang." pamit Arjuna mencium kening sang ibu dan berlalu sambil menepuk bahu ayah nya.
Sangat tidak sopan ,tapi begitu lah Arjuna dan Pak Raharja yang sama-sama kaku tidak ada manis-manis nya jika sudah berhadapan.
Di kalangan dunia bisnis tidak ada yang tidak tahu betapa menyeramkan nya kedua pria ini.bahkan dengan tatapan mata nya saja mampu membuat lawan bicara nya merasa di telanjangi oleh mereka berdua.
" Jadi apa yang Kamu temukan tentang anak sulung keluarga Wijaya." tanya Arjuna sengaja mengajak bertemu Bimo di sebuah cafe pinggir jalan yang selalu buka di pagi hari.
" Ini baca sendiri...Kamu beruntung mendapatkan calon istri pengganti,kalau nggak..." Bimo tertawa kecil sambil membayangkan betapa sial nya sang bos atau sahabat nya ini harus mendapatkan barang bekas banyak orang.
" Kalau nggak apa? Jangan bikin Aku penasaran,Aku tidak punya banyak waktu meladeni teka-teki mu,kalau sudah bosan bekerja silahkan kirim surat resign mu secara resmi." ucap Arjuna tanpa kompromi dengan wajah tegas nya.
" Santai Bro! Jangan galak-galak yang ada nanti calon istri imut mu malah kabur karena takut melihat wajah menyeramkan itu." ledek Bimo sambil menikmati cemilan yang sudah dia pesan .
Tch...Arjuna berdecak keras,dengan sedikit kasar tangan kokoh nya merobek paksa amplop pemberian Bimo.
Beragam ekspresi terpampang jelas di wajah Arjuna ketika pertama kali membaca hasil penyelidikan Bimo.
" Liar sekali wanita itu, berani-beraninya mereka menyodorkan barang bekas itu kehadapan ku." geram nya dengan sebuah kertas yang sudah remuk di tangan nya.
Urat-urat amarah sudah menonjol keluar, tatapan mata tajam nya berhasil menembus dinding rahasia yang mati-matian Wijaya sembunyi kan dari Arjuna.
Belum genap satu hari rahasia besar itu sudah terbongkar, sementara Wijaya bersama istri nya sampai tidak tidur semalaman mencari alasan di balik pergi nya putri kesayangan mereka secara mendadak dari perjodohan ini.
" Siapa ayah dari benih yang sedang tumbuh itu?" tanya Arjuna sekedar ingin tahu saja.
" Belum pasti,setiap malam dia selalu berganti-ganti pasangan,bahkan sopir ibu nya juga ikut menikmati milik wanita itu." jawab Bimo begitu santai karena ia sudah lebih dulu syok ketika melihat kenyataan tentang Sela putra sulung dari Wijaya .
" Terakhir kali dia terlihat menghabiskan waktu bersama rekan kerja Wijaya, setelah itu pergi dugem sampai pagi dengan teman-teman nya,akibat kebanyakan minum sampai membuat dia pingsan lalu di larikan ke rumah sakit,di sana lah baru ketahuan oleh orang tua nya kalau putri kesayangan mereka sedang hamil." lanjut Bimo sangat bisa di andalkan.
Arjuna terus membaca nama-nama yang Bimo tulis di dalam kertas itu,sebagian dari nama itu adalah rekan kerja dari Wijaya,senyum licik terbit samar ketika mata nya tidak sengaja membaca nama kota yang menjadi tempat persembunyian Sela.
Arjuna mengangguk paham,kini pikiran jenius nya sedang di penuhi oleh Yura Adzania Laksmi.
Sedang apa wanita itu sekarang?
Akhhh...Arjuna berteriak kesal dalam hati, tidak biasa nya dia memikirkan seorang wanita,tapi ini malah kebalikannya.
" Yura Adzania Laksmi,calon istri Kamu wanita baik-baik,masih fresh belum tersentuh oleh debu mana pun.Kamu beruntung bertemu dengan wanita yang sudah langka seperti calon istri mu itu." Bimo langsung saja menjelaskan tentang siapa Yura kepada Arjuna seakan-akan detektif handal ini bisa menebak isi pikiran Arjuna sekarang.
" Dia bukan darah daging Wijaya maupun istri nya, Yura adalah anak dari rekan kerja Wijaya yang sudah meninggal.harta yang mereka nikmati sekarang adalah harta peninggalan orang tua Yura, sementara harta Wijaya sudah lama habis karena kecanduan judi.mereka terlalu licik menipu calon istri mu yang masih polos dan kecil pada waktu itu,setelah kalian menikah nanti Kamu bisa membantu dia mengambil semua yang seharusnya menjadi milik dia,bantu dia membalas kan semua penderitaan yang selama ini dia rasakan...."Bimo terus melanjutkan cerita nya tentang bagaimana hidup Yura selama ini di rumah itu.
Tidak ada satu pun yang terlewati dan Arjuna cukup anteng mendengar setiap cerita yang keluar dari mulut Bimo.
Sesekali dia mengangguk paham lalu tersenyum samar membayangkan betapa beruntungnya dia mendapatkan wanita yang masih polos dan terjaga seperti Yura.
" Eitss...Tapi ingat,dia tidak polos- polos amat, kebanyakan bar-bar nya sih calon istri mu itu."
" Jangan lupa hapal banyak gaya sebelum unboxing istri virgin mu."
Bimo langsung berlari masuk ke dalam mobil meninggalkan Arjuna yang sudah bersiap-siap untuk menyerang nya..
Hahahahaha...Tawa puas milik Bimo masih pecah di dalam mobil nya.
" Dia pasti tidak tahu bagaimana cara bersikap romantis kepada para wanita." Bimo geleng-geleng kepala mengingat bagaimana Arjuna yang selama ini tidak pernah suka di dekati oleh para wanita kiriman ibu nya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan like dan jejak kalian di kolom komentar guys..