NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan Sang Pemanah Naga

Turun dari puncak Kunlun, Song Yuan tidak lagi merangkak atau bersembunyi di balik kabut. Setiap langkah kakinya di atas salju abadi menciptakan getaran yang meretakkan es di sekitarnya. Udara di sekelilingnya mendidih; salju yang jatuh langsung menguap sebelum sempat menyentuh bahunya yang kini lebih tegap. Di lengan kanannya, tato naga hitam—Ao Kuang—berdenyut dengan cahaya ungu yang haus darah.

“Manusia... kau merasakan itu?” Suara Ao Kuang berdesis di dalam kesadaran Yuan, terdengar sangat lapar.

"Aroma besi, keringat ketakutan, dan jantung-jantung lemah yang berdegup kencang di kaki gunung. Mereka menunggumu seperti domba menunggu jagal.”

"Biarkan mereka menunggu," jawab Yuan datar. Suaranya kini memiliki vibrasi ganda, seolah-olah ada raungan naga yang tersembunyi di setiap kata-katanya.

Di kaki Gunung Kunlun, satu batalyon penuh pasukan elit Ibukota—Devisie Perisai Besi—telah membangun barikade raksasa. Mereka adalah pasukan yang belum pernah kalah, prajurit yang dilatih untuk menahan serbuan ribuan kuda. Ribuan tombak tegak berdiri, menciptakan hutan logam yang mematikan di bawah sinar matahari yang pucat.

"Target terlihat! Jarak lima ratus langkah!" teriak seorang pengintai dari menara kayu. "Lepaskan hujan panah!"

WUSSSS!WUSSSS!WUSSSS!

Ratusan anak panah dengan ujung baja hitam meluncur menutupi langit, menciptakan bayangan kematian di atas kepala Yuan. Prajurit biasa akan hancur menjadi tumpukan daging dalam sedetik. Namun, Yuan bahkan tidak memperlambat langkahnya.

“Perisai Naga Hitam!” geram Yuan.

Tato di lengannya bersinar terang. Energi ungu pekat meledak keluar, membentuk kubah transparan yang berputar cepat di sekeliling tubuhnya. Anak-anak panah itu menghantam kubah tersebut dan langsung hancur menjadi debu, seolah-olah menabrak dinding baja yang tak terlihat.

Para prajurit Ibukota ternganga. "Dia... dia menggunakan ilmu hitam! Mana mungkin manusia bisa menahan hujan panah tanpa luka sedikit pun?!"

Yuan berhenti tepat di batas jangkauan serangan mereka. Ia mengangkat Busur Kerangka Naga. Busur itu mengeluarkan suara derit tulang yang mengerikan saat ditarik. Yuan tidak merogoh tabung panahnya; ia menarik tali busur yang terbuat dari tendon naga itu menggunakan dua jarinya yang sudah diperkuat energi Kultivasi.

Udara di sekitar lembah tersedot masuk ke tengah busur. Cahaya hitam pekat memadat, membentuk sebuah anak panah raksasa yang dikelilingi oleh petir ungu.

"Sampaikan pada kaisar kalian," ucap Yuan, matanya kini benar-benar berubah menjadi mata naga yang vertikal dan bercahaya. "Bahwa hari ini, takdirnya telah dipatahkan."

WUSSSS!

Anak panah energi itu melesat dengan suara ledakan sonik yang menghancurkan gendang telinga para prajurit di barisan depan. Saat anak panah itu menghantam barikade perisai baja, ia tidak hanya menembus satu orang. Anak panah itu meledak, melepaskan gelombang kejut energi hitam yang meluluhlantakkan segala sesuatu dalam radius lima puluh meter.

Barikade perisai yang diklaim tak terkalahkan itu hancur berkeping-keping. Prajurit-prajurit terlempar ke udara seperti daun kering yang dihantam badai. Tanah di bawah mereka hangus, meninggalkan kawah hitam yang masih mengeluarkan asap beracun.

Yuan melangkah melewati mayat-mayat yang bergelimpangan dengan tenang. Seorang kapten pasukan yang masih hidup berusaha merangkak, memegang kakinya dengan tangan gemetar. "K-kau... siapa kau sebenarnya?"

Yuan membungkuk sedikit, menatap wajah kapten itu dengan dingin. "Aku adalah jawaban dari doa-doa orang yang kau bantai di Desa Songjia."

Dengan satu hentakan kaki, energi dari tato Ao Kuang menyambar kapten itu hingga menjadi abu. Yuan kembali berdiri tegak, menatap ke arah cakrawala, di mana Ibukota berada. Ia mengikat lencana kayu milik mendiang ayahnya di ujung busur naga, membiarkannya berkibar tertiup angin.

"Perjalanan ini belum selesai, Ao Kuang," bisik Yuan.

“Benar, Partner. Aku masih lapar. Aku ingin mencicipi darah keluarga kerajaan yang suci itu,” jawab naga itu sambil tertawa di dalam pikiran Yuan.

Dua sosok dalam satu tubuh itu pun melangkah pergi meninggalkan Lembah Kunlun yang kini berubah menjadi kuburan massal bagi pasukan terbaik kaisar. Nama Song Yuan tidak lagi hanya dibisikkan sebagai buronan, tapi sebagai Bencana Langit yang akan meruntuhkan seluruh kekaisaran.

Song Yuan terus melangkah, meninggalkan kawah hitam yang menjadi saksi bisu musnahnya Devisie Perisai Besi. Di belakangnya, api hitam sisa ledakan energinya masih menari-nari di atas tumpukan zirah yang meleleh. Tidak ada suara rintihan, tidak ada suara tangis; hanya ada keheningan yang mematikan di bawah bayang-bayang Gunung Kunlun.

"Kau terlalu bersih dalam membantai, Yuan," suara Ao Kuang kembali bergema, kali ini dengan nada yang lebih berat, seolah sedang menikmati sisa-sisa ketakutan yang tertinggal di udara. "Darah mereka terlalu cepat menguap. Aku ingin merasakan sensasi panasnya yang membasahi tanah, bukan sekadar melihat mereka menjadi abu dalam sekejap."

Yuan tidak menanggapi haus darah sang naga. Fokusnya tertuju pada lencana kayu yang terikat di ujung busurnya. Lencana itu kini tidak lagi tampak kusam; di bawah pengaruh energi naga, serat-serat kayunya seolah bernapas, memancarkan aura emas redup yang kontras dengan kegelapan Busur Kerangka Naga. Bagi Yuan, lencana itu adalah kompasnya. Selama benda itu masih ada, ia tidak akan pernah tersesat dalam kegelapan yang ditawarkan Ao Kuang.

Tiba-tiba, Yuan berhenti. Di kejauhan, di atas sebuah bukit kecil yang menghadap ke jalur utama menuju Ibukota, berdiri sebuah paviliun teh tua yang tampak reyot. Di sana, duduk seorang pria tua dengan pakaian compang-camping, sedang tenang menyeduh teh seolah tidak terjadi pembantaian massal beberapa mil dari tempatnya duduk.

Yuan menyipitkan mata naga-nya. Aura pria tua itu... kosong. Benar-benar kosong hingga terasa seperti lubang hitam di tengah alam semesta.

"Tujuh belas tahun aku menunggu pemegang busur itu turun dari langit," ucap pria tua itu tanpa mengangkat kepalanya. Suaranya tidak keras, namun terdengar jelas di telinga Yuan seolah pria itu berbisik tepat di sampingnya. "Tapi aku tidak menyangka bahwa yang turun adalah seorang pemuda yang membawa kiamat di lengannya."

Yuan memasang kuda-kuda rendah, jarinya secara refleks menyentuh tali busur naga. "Hati-hati, Partner," Ao Kuang memperingatkan dengan nada yang tiba-tiba serius. "Orang tua ini... dia bukan manusia biasa. Aku tidak bisa mencium bau jiwanya."

"Siapa kau?" tanya Yuan, suaranya berat dan penuh ancaman.

"Hanya seorang penjaga gerbang yang sudah lama dilupakan," pria tua itu akhirnya mengangkat kepala, menunjukkan mata yang sepenuhnya putih tanpa pupil. "Kaisar mengirim pasukan Perisai Besi hanya untuk mengulur waktu. Dia tahu mereka tidak akan bisa menghentikanmu. Tapi dia lupa satu hal... bahwa mengusik kekuatan Kunlun adalah cara tercepat untuk menghancurkan fondasi dunia."

Pria tua itu menuangkan cawan teh kedua dan meletakkannya di sisi meja yang kosong. "Duduklah, Song Yuan. Minumlah teh ini, dan aku akan memberitahumu satu rahasia tentang kematian ayahmu yang bahkan Mo Chen pun tidak berani mengatakannya padamu."

Yuan tertegun. Nama ayahnya disebut dengan cara yang begitu akrab. Dendam yang tadinya berkobar seperti api neraka mendadak tertutup oleh rasa penasaran yang menyiksa. Siapa sebenarnya pria tua ini? Dan apa hubungannya dengan pengkhianatan tujuh tahun lalu?

Angin dingin kembali bertiup, menerbangkan debu-debu sisa peperangan. Song Yuan melangkah perlahan menuju paviliun itu. Ia tahu ini mungkin sebuah jebakan, tapi haus akan kebenaran lebih kuat daripada rasa takut akan kematian. Di tangannya, Busur Kerangka Naga bergetar pelan, seolah sedang menyapa lawan yang sebanding.

Malam mulai jatuh di wilayah utara, namun bagi Song Yuan, kegelapan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di paviliun teh tua itu, rahasia terbesar kekaisaran akan segera terungkap—sebuah rahasia yang mungkin akan mengubah arah panahnya, dari sang kaisar menuju sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang selama ini bersembunyi di balik takhta emas.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!