NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak Final: Sang Naga Mulai Menggeliat

Episode 25

Matahari pagi menyinari Stadion Elang Agung dengan begitu terik, namun sorak-sorai dari ribuan penonton yang memadati tribun terasa jauh lebih panas. Hari ini bukan lagi sekadar ujian sekolah; hari ini adalah panggung bagi para bangsawan, pencari bakat, dan pejabat kerajaan untuk melihat siapa calon ksatria penjinak masa depan.

Reno berdiri di ruang tunggu peserta yang dingin dan terbuat dari batu granit. Ia sedang merapikan pelindung lengannya saat pintu kayu besar di depannya terbuka. Lani dan Dito masuk dengan wajah yang terlihat sangat tegang.

"Reno, kau sudah lihat jadwal di papan utama?" tanya Dito. Kelinci putihnya bersembunyi di dalam pelukannya, tampak ketakutan dengan gemuruh suara di luar.

"Sudah. Aku melawan Oliver," jawab Reno pendek.

"Oliver itu bukan orang sembarangan, Reno!" Lani mendekat, suaranya penuh kekhawatiran. "Dia berasal dari keluarga pemelihara burung legendaris di Kota Pusat. Binatang kontraknya, Elang Badai, adalah salah satu yang tercepat di tingkat Perunggu Puncak. Dia dikenal bisa mengalahkan lawannya bahkan sebelum lawannya sempat memanggil binatang mereka."

Reno menatap Lani dan tersenyum tipis. "Kecepatan hanya berguna jika kau bisa menyentuh targetmu, Lani. Jangan khawatirkan aku. Kalian berdua juga harus fokus. Dito, kau melawan murid dari kelas B, kan?"

Dito mengangguk lemah. "Iya... aku hanya berharap kelinciku tidak pingsan di tengah arena."

"Percaya pada dirimu sendiri," ucap Reno sambil menepuk bahu Dito. "Ingat latihan yang kita lakukan di hutan. Gunakan insting, bukan hanya perintah."

Tiba-tiba, suara trompet perak bergema dari arah stadion, menandakan upacara pembukaan dimulai.

"Para peserta Babak Final 64 Besar, harap segera memasuki arena!" teriak seorang petugas.

Reno melangkah keluar dari kegelapan ruang tunggu menuju terangnya cahaya stadion. Begitu ia menapakkan kaki di pasir arena, gemuruh suara penonton meledak. Namun, di antara sorak-sorai itu, terselip teriakan ejekan yang masih meragukan kemampuannya.

"Lihat! Itu si penjinak cacing!"

"Hei Reno! Apa cacing mu sudah diberi makan? Jangan sampai dia mati kekeringan di atas pasir!"

Reno mengabaikan semua itu. Ia berjalan menuju titik tengah arena, di mana ia berhadapan dengan lawannya, Oliver. Oliver adalah pemuda berambut pirang dengan pakaian tempur yang sangat mewah dan dihiasi bulu elang. Di bahunya, seekor elang besar dengan bulu berwarna biru elektrik menatap Reno dengan tajam.

"Jadi, kau adalah Reno yang dibicarakan banyak orang?" Oliver bertanya dengan nada angkuh. Ia tidak berteriak, namun suaranya terdengar jelas karena bantuan energi mentalnya. "Aku harus mengakui, kau punya nyali untuk berdiri di sini. Tapi di depanku, cacing mu tidak akan punya kesempatan untuk bernapas."

Reno menatap Oliver datar. "Banyak orang bicara hal yang sama padaku sebelumnya. Biasanya, mereka berakhir dengan mencium tanah."

"Sombong sekali!" Oliver menyipitkan mata. "Kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan mulut besar mu itu."

Master Gandos berdiri di podium utama sebagai pengawas duel pertama ini. "Aturan sederhana! Keluar dari lingkaran atau binatang pingsan/menyerah, maka kau kalah! Mulai!"

"Elang Badai, gunakan Tarian Angin!" teriak Oliver seketika.

WUSH!

Elang itu mengepakkan sayapnya dan dalam sekejap menghilang dari pandangan mata manusia biasa. Udara di sekitar Reno mulai berputar kencang, menciptakan pusaran angin yang penuh dengan bulu tajam yang dialiri listrik.

Reno tetap diam di tengah pasir. Ia tidak mencoba untuk berlari. Ia tahu, melawan kecepatan elang dengan kaki adalah hal yang sia-sia.

"Reno, dia mencoba membutakan indra mu dengan debu pasir," Nidhogg berbisik di dalam pikiran Reno. "Boleh aku mematahkan sayapnya sekarang?"

"Belum saatnya, Nidhogg. Biarkan dia mengeluarkan semua tekniknya. Aku ingin melihat sejauh mana kekuatan murid jenius kota pusat," balas Reno.

Reno mengaktifkan teknik Arus Bumi. Ia memfokuskan energinya pada telapak kaki, membuat tubuhnya seolah olah berakar pada lantai stadion yang keras di bawah lapisan pasir.

"Sayap Listrik!" Oliver memerintah lagi.

Elang itu muncul tiba-tiba dari atas kabut debu, menukik dengan kecepatan luar biasa. Cakar listriknya mengarah tepat ke leher Reno.

Zap!

Reno memiringkan tubuhnya hanya beberapa sentimeter. Cakar itu melewati udara kosong, namun percikan listriknya membakar sedikit bagian kerah baju Reno.

"Kecepatan yang bagus," gumam Reno.

"Itu baru permulaan!" Oliver mulai menggerakkan tangannya, melakukan sinkronisasi jiwa dengan elangnya. "Badai Listrik Berputar!"

Pusaran angin di sekitar Reno semakin mengecil dan semakin kuat. Debu pasir kini bercampur dengan kilatan listrik biru. Reno terkepung di tengah-tengah badai tersebut. Penonton di tribun mulai berdiri, mereka mengira pertarungan akan berakhir di sini.

"Reno sudah selesai! Dia tidak bisa melihat apa-apa di dalam sana!" teriak salah satu penonton.

Namun, di dalam badai tersebut, Reno justru menutup matanya. Ia tidak lagi mengandalkan penglihatan. Ia mengandalkan getaran udara dan suara gesekan bulu elang di udara.

"Nidhogg, gunakan Vibrasi Armor."

Nidhogg yang melingkar di bahu Reno tiba-tiba mengeluarkan getaran frekuensi tinggi. Getaran ini menciptakan sebuah perisai energi transparan yang memecah aliran angin di sekeliling Reno. Pusaran angin Oliver yang tadinya kencang, tiba-tiba menjadi kacau balau seolah olah menghantam sebuah dinding yang tak kasat mata.

"Apa?! Bagaimana dia bisa menahan badai elangku?" Oliver terkejut.

Reno membuka matanya. Matanya kini berkilat merah samar, efek dari sinkronisasi jiwanya dengan Nidhogg. "Sekarang giliranku."

Reno melompat maju. Bukan melompat biasa, tapi sebuah loncatan yang diperkuat oleh tekanan energi di kakinya. Ia menembus badai debu itu dan mengarah langsung ke arah Oliver.

"Jangan harap!" Oliver mencoba memerintahkan elangnya untuk menghadang Reno. "Elang Badai, gunakan Perisai Bulu!"

Elang itu terbang turun dan melebarkan sayapnya di depan Oliver, membentuk barikade bulu yang sekeras besi.

"Nidhogg, Taring Penghancur!"

Nidhogg meluncur dari tangan Reno. Ia tidak lagi berbentuk cacing kecil yang lemas. Ia berubah menjadi seperti tombak hitam yang sangat padat.

KRAK!

Nidhogg menghantam perisai bulu elang tersebut. Suara bulu yang patah dan tulang yang bergeser terdengar sangat nyaring di seluruh stadion. Elang Badai itu menjerit kesakitan dan terlempar ke belakang, menabrak Oliver hingga keduanya jatuh tersungkur di atas pasir.

Stadion seketika menjadi sunyi.

Oliver mencoba bangkit dengan susah payah, wajahnya dipenuhi debu dan keterkejutan. Elangnya bergetar di sampingnya, sayap kirinya tampak terkulai lemas. "Tidak mungkin... elang ku... dikalahkan oleh... hantaman langsung seekor cacing?"

Reno berjalan mendekati Oliver dengan tenang. Nidhogg kembali ke bahunya, sisik hitamnya berkilau memantulkan cahaya matahari, tampak sangat gagah dan menyeramkan.

"Oliver," ucap Reno dengan suara rendah. "Kecepatan itu bagus, tapi jika kau tidak punya kekuatan untuk menahan beban dari serangan balik, kecepatan itu hanya akan menghancurkan mu sendiri."

Reno berdiri tepat di depan Oliver, yang kini sudah tidak punya tenaga lagi untuk memanggil energinya.

"Pemenangnya... Reno!" teriak Master Gandos dengan nada yang kali ini mengandung sedikit rasa kagum.

Tepuk tangan mulai terdengar, awalnya ragu-ragu, lalu berubah menjadi gemuruh yang luar biasa. Reno telah membuktikan bahwa kemenangan pertamanya bukan sekadar keberuntungan. Ia benar-benar memiliki kekuatan untuk menantang para jenius.

Saat Reno berjalan keluar dari arena, ia melihat Vance (saudara Kael) sedang berdiri di lorong pemain. Vance menatap Reno dengan tatapan yang sangat gelap.

"Kau beruntung melawan bocah sombong seperti Oliver," ucap Vance saat Reno melewatinya. "Di pertarungan kita nanti, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menutup matamu."

Reno berhenti sejenak, melirik Vance dari sudut matanya. "Vance, aku harap kau lebih kuat dari saudaramu. Karena jika tidak, kau hanya akan menjadi pengisi daftar orang-orang yang aku buat mencium tanah di stadion ini."

Tanpa menunggu balasan, Reno terus berjalan menuju ruang istirahat. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lelah, namun adrenalinnya terus terpompa.

"Reno, aku suka energi di tempat ini," Nidhogg menyeringai. "Semakin banyak kita menang, semakin banyak energi mental penonton yang bisa kita 'curi' secara halus melalui atmosfer ini. Aku merasa sebentar lagi aku akan bisa mencapai tahap berikutnya."

"Simpan itu untuk nanti, Nidhogg," balas Reno. "Kita baru saja melewati satu dari enam puluh empat orang. Masih banyak harimau yang bersembunyi di rumput tinggi."

Reno duduk di kursi ruang tunggu, memejamkan mata untuk memulihkan energinya. Pertarungan pertama telah usai, dan nama Reno kini bukan lagi sekadar lelucon, melainkan ancaman nyata yang harus diperhitungkan oleh setiap peserta di turnamen ini.

Panggung sudah disiapkan, dan sang naga yang menyamar sebagai cacing baru saja mulai menggeliat.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!