Kumpulan 100 kisah horor, bukan untuk anak-anak manusia, tetapi untuk anak-anak jiwa yang ingin belajar memahami, bahwa ada bilik tersembunyi, dan di dalam sana segala sesuatu menjadi abstrak, menjadi bertentangan dengan hukum alam empiris.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 26)
Kaki mereka melangkah tanpa arah, tubuh mereka terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas. Kelelahan, ketakutan, dan rasa bingung telah mematikan sebagian rasa sakit di otot mereka. Mereka hanya terus bergerak, menembus kabut tebal dan kegelapan yang berlapis-lapis.
Hingga akhirnya, di antara celah pepohonan yang menjulang, terlihat sebuah bangunan.
Sebuah gubuk tua.
Gubuk tua...?
Sulaiman menghentikan langkahnya, matanya menyipit menatap bangunan itu di bawah cahaya remang yang hampir tak ada. Jantungnya berdegup karena rasa aneh yang menjalar di ulu hatinya.
"Pak... itu..." suara Herman tercekat. "Itu kan gubuk yang sama yang kita lewati? Saya tidak ingat, tapi mungkin dua hari lalu. Apakah kita sekarang kembali lagi?"
Deri mengangguk cepat, wajahnya pucat. "Iya Pak! Bentuknya sama! Atapnya sama! Bahkan tiang penyangganya yang miring itu juga sama! Kita gak kemana-mana ya Pak? Kita masih di area yang sama?!"
Benar...! Itu adalah gubuk yang sama persis. Gubuk yang sebelumnya mereka lihat hancur, reyot, penuh sisa darah, bakaran, pembantaian, dan tampak tak berpenghuni selama puluhan tahun. Mereka sudah melihatnya setidaknya tiga atau empat kali sejak tersesat di hutan ini. Bukti nyata bahwa mereka sedang berjalan dalam lingkaran jin.
Tapi apa pilihan mereka? Di luar sana adalah kegelapan yang mematikan, hantu kuburan, dan si tua pencangkul yang mengerikan. Di sini, setidaknya ada atap di atas kepala.
"Tapi lebih baik kita mencari tempat yang lain saja bos, perasaan saya tidak enak..." rintih Deri sambil membungkuk dengan kedua tangan di lutut. "Sama pak, saya juga ngerasa ada sesuatu di dalam sana..." tambah Herman terengah-engah.
"Tutup mulut kalian! Brengsek!!" Sentak Sulaiman tegas, meski tangannya sendiri gemetar memegang gagang parang. "Ayo sekarang kita Masuk! Kita masuk! Tidak ada pilihan..!"
Dengan berat hati, Deri dan Herman mengikuti langkah bos mereka mendekati gubuk itu. Pintu bambunya tampak kokoh, tidak rapuh seperti yang mereka ingat terakhir kali.
"Ayah.. hati-hati..." Umar mengingatkan sambil memegang celana ayahnya.
Sulaiman mendorong pintu itu perlahan. Suara krek... terdengar halus, tidak berdecit parau seperti pintu rumah yang lama ditinggalkan.
Dan apa yang mereka lihat di dalam membuat napas mereka tercekat di tenggorokan.
Ini bukanlah gubuk yang sama yang mereka masuki sebelumnya.
Dulu, bagian dalamnya gelap, berdebu tebal, penuh sarang laba-laba, lantainya berlubang, dan dindingnya banyak yang jebol membiarkan angin masuk seenaknya.
Tapi sekarang...
Gubuk ini bersih. Sangat bersih.
Lantainya terbuat dari papan kayu yang dipoles halus, mengkilap dan kering. Dinding anyaman bambunya rapat, tidak ada celah sedikit pun. Atapnya kokoh, tidak ada lubang yang membiarkan cahaya masuk atau bocor. Ruangan ini jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar, seolah-olah dimensi di dalamnya telah meluas secara tidak wajar.
Udara di dalam terasa hangat, sejuk, dan... berpenghuni.
Terdapat pembatas ruangan yang membagi area ini menjadi beberapa bagian. Ada ruang tamu kecil, sebuah kamar tidur dengan gorden kain yang tertutup rapat melapisi pintu anyaman bambu, dapur kecil yang rapi, dan sebuah gudang di bagian belakang.
Semua terawat. Semua terlihat... hidup. Seakan baru saja dibersihkan dan disiapkan khusus untuk menyambut kedatangan mereka.
"Bos... ini... ini gak mungkin..." bisik Deri, tangannya menyentuh dinding bambu yang halus. "Sebelumnya kan hancur... kenapa jadi bagus begini?"
"Jangan banyak bertanya!" potong Sulaiman dengan suara rendah namun bernada jengkel. Dia waspada. Perubahan secepat ini bukanlah hal alami. Ini ulah dari penghuni hutan ini. Entah itu jebakan, atau semacam ilusi untuk menenangkan mereka sebelum diterkam.
"Deri! Herman! Cepat! Tutup semua pintu dan jendela! Pasang palang dan gundukan kayu di belakangnya! Kita barikade semuanya! Jangan biarkan ada celah sedikit pun!"
Perintah itu langsung dikerjakan dengan panik. Mereka menumpuk kursi kayu, meja, dan balok-balok berat di balik pintu utama. Jendela-jendela kecil ditutup rapat dan disemat kuat dengan tali. Mereka menciptakan benteng kecil di dalam gubuk aneh ini.
Setelah semua terkunci rapat, suasana menjadi hening. Sangat hening.
Misteriusnya, begitu pintu terkunci, suara-suara angin mencekam dan teriakan dari luar hutan seakan lenyap begitu saja. Tidak ada apa-apa. Hening total.
Akan tetapi, keanehan demi keanehan tetap saja terjadi. Tubuh mereka yang sebelumnya gemetar ketakutan dan kesakitan, tiba-tiba terasa sangat lemas namun nyaman. Kantuk berat yang menyerang, bukan karena dibius, tapi karena rasa aman yang palsu namun sangat kuat menyelimuti ruangan ini.
"Kita jaga bergantian," perintah Sulaiman, duduk bersandar di tiang utama. "Deri jaga dua jam pertama, Herman ganti, aku yang jaga menjelang pagi. Umar, kamu boleh tidur di bangku itu. Sedang kalian berdua, mata jangan sampai terpejam, waspada. Seperti yang pernah kita lakukan."
Namun, perintah itu sulit ditegakkan. Suasana di dalam gubuk ini terlalu damai. Tidak ada gangguan psikis, tidak ada bisikan, tidak ada bayangan menakutkan. Pikiran mereka jernih, tubuh mereka rileks.
Perlahan, satu per satu mata mereka terpejam.
Mereka tidur. Tidur dengan sangat nyenyak. Sangat lelap, seperti mereka tidur di kamar sendiri di rumah yang aman, bukan di tengah hutan angker yang penuh pembunuh dan hantu. Tidak ada mimpi buruk, tidak ada jelmaan, tidak ada teriakan, tidak ada cangkul, tidak ada kuburan. Hanya kedamaian yang teduh dan mematikan.
Malam itu berlalu dengan lancar. Terlalu lancar.
Saat fajar menyingsing; atau setidaknya itulah yang mereka rasakan karena cahaya mulai sedikit masuk; mereka bangun dengan tubuh yang segar, bingung, namun waspada.
Perut mereka berbunyi keras. Rasa lapar dan dahaga kembali menyerang, mengingatkan mereka bahwa mereka masih hidup dan masih butuh makan.
"Di mana air tadi?" tanya Sulaiman sambil meraba sekeliling.
Matanya tertuju ke sudut ruangan, tepat di dekat area dapur yang bersih itu. Ada sebuah lemari kayu tua yang kokoh, pintunya tertutup rapat. Entah kenapa, rasa penasaran mendorong Herman untuk mendekat dan membukanya.
Kreeek...
Pintu lemari terbuka.
Dan apa yang ada di dalamnya membuat mereka terpaku diam.
Di dalam lemari itu tersusun rapi berbagai macam makanan dan minuman. Bukan makanan basi atau busuk, tapi makanan yang masih utuh, bahkan terlihat segar.
Ada ikan asin mentah dan tempe yang berbalut daun pisang segar. Ada telur-telur ayam kampung berwarna putih bersih yang masih utuh. Ada potongan-potongan kue ketan yang mengkilap. Ada tumpukan roti kering yang renyah. Bahkan ada beberapa botol minuman tanpa label yang tertutup rapat.
Semua tersedia melimpah. Seolah-olah sudah disiapkan untuk tamu-tamu istimewa.
"Wah... ada makanan!" seru Umar dengan kondisi rambut berantakan karena tertidur pulas semalaman, rasa senang muncul sejenak di tengah ketakutan. Ia langsung mendekat dan meminta Herman agar mengambilkan sepotong kue.
"Bos, kita makan ya? Perut saya juga rasanya mau copot!" Tambah Deri, matanya berbinar.
Tangan Deri hampir saja menyentuh potongan kue itu ketika...
"JANGAN SENTUH!!!"
"Jangan ada yang menyentuhnya. Herman letakkan itu kembali. Umar, kamu ke sini, jangan berdiri di dekat sana..."
Teguran keras dari Sulaiman membuat seluruh ruangan bergema. Deri kaget hingga tangannya ditarik balik secepat kilat, wajahnya pucat karena rasa takut yang kembali datang dalam sekejab. Herman langsung meletakkan kembali sepotong kue ketan ke asalnya, adapun Umar, ia hanya melangkah diam lesu ke arah ayahnya.
Sulaiman melompat maju, menutup pintu lemari itu dengan keras hingga menimbulkan bunyi Grek! yang keras. Wajahnya berubah garang, matanya melotot penuh peringatan keras.
"Pak... kenapa? Itu kan makanan..." protes Herman pelan, juga terlihat kecewa.
Sulaiman menatap mereka bergantian, suaranya rendah dan berat, penuh dengan firasat buruk yang sangat kuat.
"Aku tanya kalian... dari mana asalnya makanan ini?"
"Dari... dari dalam lemari, Pak."
"BODOH! BOOODOOHHHH!!" bentak Sulaiman. "Kalian pikir siapa yang naruh? Di tengah hutan seperti ini? Siapa yang beli tempe? Siapa yang simpan ikan asin? Gubuk ini sebelumnya hancur, malam ini jadi istana, terus ada makanan lengkap?!"
Deri dan Herman terdiam. Darah mereka seakan berhenti. Kata-kata Sulaiman menampar kesadaran mereka.
"Apa yang kalian lihat bukan makanan," lanjut Sulaiman, matanya menatap tajam ke pintu lemari kayu itu, seolah-olah di balik kayu itu ada sosok yang sedang menatap balik ke arah mereka. "Ini pemberian setan. Ini umpan. Kalau kalian makan itu... kalian jadi milik mereka. Kalian akan hilang akal, kalian akan jadi seperti mereka, atau jadi tanaman di kebun itu, atau jadi mayat di kuburan itu."
Getaran dingin merambat di tulang belakang mereka berdua. Bayangan makanan yang lezat itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan dan mematikan. Mereka membayangkan apa yang mungkin mereka makan, itu bukan ketan, telur atau minuman botol, tapi cacing, tanah, daging manusia dan darah.
"Jangan pernah... dengar? JANGAN PERNAH sekalipun lapar meski kalian sekarat, jangan sentuh apa pun di dalam lemari itu," tegas Sulaiman, menunjuk ke arah lemari dengan jari telunjuk yang gemetar. "Itu barang haram. Itu makanan orang mati. Kita tetap puasa, lebih baik mati lapar daripada mati jadi budak setan."
Deri dan Herman mengangguk takut-takut, mundur menjauh dari lemari maut itu.
Namun, bau harum makanan itu tetap tercium samar dari celah-celah lemari. Bau yang sangat menggoda, bau yang membuat air liur menetes dan perut semakin keroncongan. Godaan itu halus, tapi sangat kuat.
Mereka sadar, meski gubuk ini terasa aman, meski mereka bisa tidur nyenyak... mereka sebenarnya sedang tidur di dalam perut pembunuh yang sedang menunggu mereka cukup bodoh untuk menggigit umpannya.