"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Suara derit pintu yang berat memecah keheningan fajar yang dingin. Aku tersentak, namun tetap memejamkan mata, mematung di bawah selimut. Melalui celah bulu mataku yang bergetar, aku melihat siluet tinggi itu bergerak mendekat. Darrel.
Dia tampak sangat kacau. Rambutnya berantakan, kemejanya separuh terbuka, dan yang paling mengerikan adalah lengannya. Ada perban baru di sana, namun itu bukan di tempat luka tembak yang kujahit kemarin. Ini luka baru di lengan satunya, melilit tebal tapi tetap gagal menahan rembesan darah segar yang membasahi kain putih itu. Dia bergerak tanpa suara, tanpa rintihan, seolah rasa sakit fisik hanyalah gangguan kecil bagi jiwanya yang sedang mengamuk.
Darrel melepas kemejanya dengan kasar, membiarkannya jatuh ke lantai, lalu naik ke ranjang. Jantungku berdegup begitu kencang hingga aku takut dia bisa mendengarnya. Aku tetap berpura-pura tidur, mengatur napas seolah-olah aku sedang bermimpi buruk.
Tiba-tiba, sebuah lengan yang panas dan berat melingkar di pinggangku dari belakang. Darrel menarik tubuhku hingga menempel pada dadanya yang bidang. Aroma alkohol yang tajam bercampur dengan bau mesiu dan amis darah segera mengepung indra penciumanku.
"Aku tahu kau sudah bangun, Lily," bisiknya parau tepat di telingaku. Suaranya serak, penuh dengan kepedihan yang disembunyikan di balik kemarahan.
Aku tetap diam, membeku.
"Ceritakan padaku..." gumamnya lagi, suaranya terdengar seperti rancauan pria mabuk. "Bagaimana bisa kau mengenal Marthin Winston? Bagaimana bisa bajingan itu berani menyentuhmu seolah dia tahu setiap jengkal tubuhmu?"
Tangannya yang terluka—yang masih mengeluarkan darah segar hingga terasa hangat merembes ke kulit bajuku—mencengkeram perutku. "Dia tidak mencintaimu. Winston tidak pernah mencintai siapa pun. Dia mengincarmu, Kau hanya alat bagi mereka, Lily."
Aku tertegun di balik mataku yang terpejam. Alat? Apa maksudnya?
Darrel tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat getir dan menyakitkan. "Erlan... dan Charly Winston. Dua orang tua sialan itu sama saja. Mereka tidak peduli padamu, tidak peduli padaku. Mereka hanya melihatmu sebagai bidak yang harus diperebutkan untuk kepentingan klan."
Ia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, napasnya terasa panas dan tidak teratur. "Bagi mereka, kau adalah piala... piala berdarah yang dimenangkan di akhir perang. Kau tahu kenapa kau terpilih? Kau tahu siapa keluarga aslimu sebenarnya?"
Rasa sakit yang hebat menghantam dadaku. Siapa aku? Selama ini aku mengira aku hanyalah gadis yatim piatu penjaga toko bunga yang sial. Tapi kata-kata Darrel mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih gelap. Apakah orang tuaku terlibat dalam kegilaan ini?
"Tapi mereka salah..." Darrel merancau lagi, kini tangannya bergerak melepas celananya sendiri di bawah selimut tanpa melepaskan pelukannya padaku. "Kau bukan piala. Kau bukan milik Erlan, bukan milik Winston."
Aku merasakan tubuh polosnya menempel pada punggungku. Ada getaran hebat pada tubuh Darrel, seolah dia sedang berjuang melawan badai di kepalanya sendiri. Sentuhannya yang tadi kasar kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat, lebih mendamba, namun tetap terasa posesif.
"Kau milikku, Lily..." bisiknya, kali ini suaranya lebih lembut namun sangat dalam. "Hanya miliknya Darrel Alaric Grisham. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu. Bahkan jika aku harus membakar seluruh kota ini bersama mereka."
Aku merasakan sesuatu yang keras dan panas bergerak di belakang tubuhku, menandakan gairahnya yang bangkit di tengah kesedihannya. Aku tetap diam, tidak berani bergerak sedikit pun. Aku sangat takut jika aku bersuara, dia akan teringat kembali pada kejadian di pesta dan emosinya akan kembali meledak.
*
Tanpa sepatah kata pun, ia membungkam bibirku dengan ciuman yang lembut namun menuntut. Tidak ada lagi sisa kekejaman seperti semalam; yang ada hanyalah gairah murni yang bangkit dari sisa-sisa kehancurannya. Jemarinya yang kasar mengusap pahaku, perlahan memaksa kakiku terbuka lebar hingga aku merasa sangat terekspos di bawah kungkungannya.
"Darrel, tunggu..." bisikku parau, mencoba menahan dadanya yang bidang.
Namun, Darrel sudah berada di puncak gairahnya. Dengan satu hentakan yang kuat dan presisi, batang panjang miliknya menerobos masuk, tertanam sempurna hingga memenuhi liang intiku. Aku tersentak, punggungku melengkung saat rasa penuh yang luar biasa itu menghujam jantungku.
"Ahhh... Darrel!"
Ia mulai bergerak dengan ritme yang dalam dan stabil. Setiap asakannya terasa begitu intens, seolah ia sedang berusaha menghapus setiap jejak ingatan tentang Marthin dari saraf-sarafku. Di tengah gelombang kenikmatan yang mulai melumpuhkan akal sehatku, rasa penasaran yang menyakitkan itu kembali muncul.
"Darrel... katakan padaku," rintihku di sela desahan. "Siapa ayahku? Apa hubungannya dengan Erlan dan klan Winston? Kenapa aku dianggap piala?"
Darrel tidak menjawab. Ia malah membenamkan wajahnya di leherku, menghirup aroma tubuhku dengan rakus sambil terus memacu gerakannya. Hanya suara erangan rendah dan decit ranjang yang memenuhi ruangan. Ia seolah sengaja menulikan telinga agar tidak perlu mengungkap rahasia yang mungkin akan menghancurkanku lebih dalam lagi.
"Jawab aku, Darrel! Aku berhak tahu siapa keluargaku!" teriakku frustrasi, meski tubuhku justru semakin lemas karena asakannya yang semakin liar.
"aaah. Darrel.." rancauan ku
Ia tetap bungkam, justru gerakannya semakin ambisius saat ia merasakan titik puncak sudah di depan mata. Keringat bercucuran dari dahinya, menetes ke wajahku, menyatu dengan air mataku. Cengkeramannya pada pinggulku menguat hingga mungkin akan meninggalkan bekas keunguan lagi besok pagi.
Tepat saat tubuhnya menegang hebat dan ia menumpahkan segalanya di dalam diriku, Darrel membisikkan sesuatu di telingaku dengan suara yang dingin namun posesif.
"Kau tidak perlu tahu tentang masa lalu untuk mengerti posisimu sekarang, Lily," bisiknya parau, napasnya masih memburu. "Dan dengarkan ini baik-baik... mulai hari ini, kau tidak diperbolehkan melangkah keluar dari mansion ini. Bahkan untuk menjenguk nenekmu sekalipun. Kau akan tetap di sini, di bawah pengawasanku, sampai aku memutuskan sebaliknya."
Aku tertegun, rasa nikmat yang baru saja memuncak seketika berubah menjadi rasa dingin yang membekukan jiwa. "Apa? Kau tidak bisa melakukan itu! Nenek butuh aku!"
Darrel melepaskan diri dariku, lalu berbaring di sampingku dengan napas yang mulai teratur. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Dunia di luar sana sudah tahu kau adalah kelemahanku. Dan aku tidak akan membiarkan musuh-musuhku mendapatkan celah, meski itu berarti aku harus mematahkan sayapmu."
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya