NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Terlihat jelas di sana, mulai dari bawah bahu hingga ke pinggang, terdapat memar-memar besar berwarna kebiruan dan bercak-bercak darah kering yang menandakan betapa kerasnya pukulan yang ia terima tadi saat menghalau serangan penjahat itu.

Itu adalah luka pertahanan demi melindungi anak-anak kecil itu.

Xin Yi menghela napas panjang pelan, lalu memijat pelan area yang sakit itu.

"Kalau sampai Ayah, Ibu, atau Kakak melihat luka sebesar ini... pasti mereka akan panik setengah mati dan melarang saya pergi ke mana-mana sendirian selamanya. Pasti aku akan dikurung di rumah seperti anak kecil."

Gadis itu memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat rasa sakit ini sendirian. Lagipula, ia sudah terbiasa menahan sakit sejak kecil di laut. Ini pun pasti akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu.

Keesokan harinya, saat matahari baru mulai menyinari kamar, Xin Yi terbangun dengan rasa nyeri yang jauh lebih parah dari semalam.

Punggungnya terasa berat, panas, dan seolah-olah seluruh otot di sana membengkak dan kaku. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, rasa sakit itu menusuk tajam hingga ke tulang.

"Aduh..." desisnya pelan sambil memegangi pinggangnya.

Ia sadar kondisinya tidak memungkinkan untuk beraktivitas. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk tetap di rumah dan beristirahat hari ini.

Saat ia turun ke lantai bawah, rumah sudah sepi. Ayah, Ibu, dan Kakaknya sudah berangkat bekerja. Hanya ada Bibi Ming yang sibuk menyiapkan sarapan.

"Nona sudah bangun? Ayo makan dulu, Bibi siapkan bubur hangat dan sup ayam," sapa Bibi Ming ramah.

Xin Yi mencoba tersenyum dan duduk di meja makan. Awalnya ia berusaha terlihat baik-baik saja, makan dengan tenang seolah tidak ada yang salah.

Namun perlahan-lahan, tubuhnya mulai memberikan sinyal aneh.

Kepalanya terasa berat dan berputar-putar. Tubuhnya terasa dingin namun kulitnya mengeluarkan keringat dingin. Napasnya menjadi lebih cepat, dan rasa lemas mulai menjalar ke seluruh anggota badan.

Apa yang terjadi...? batinnya bertanya bingung.

Ia pikir ini hanya rasa lelah biasa atau efek luka memar. Tapi saat ia menyentuh dahinya sendiri, ia sadar... suhu tubuhnya sangat panas.

Ia terkena demam.

Dan Xin Yi segera menyadari kesalahan fatal yang ia buat.

Semalam ia hanya membersihkan luka itu sekilas, tidak mengobatinya dengan benar dan tidak memeriksanya secara teliti.benda yang memukulnya itu adalah sepotong kayu yang mungkin terdapat paku berkarat di sana.

Karat dan kotoran dari paku itu pasti sudah masuk ke dalam luka yang dalam, menyebabkan infeksi yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Jangan-jangan..." suaranya terdengar parau dan lemah. "...ini lebih serius dari yang aku kira."

Rasa takut mulai menyelinap di hatinya, bukan karena sakit, tapi karena ia tahu betapa bahayanya infeksi dari paku berkarat jika tidak segera ditangani. Namun ia masih berusaha menahannya sendirian, takut jika keluarga tahu dan akan semakin panik serta melarangnya melakukan apa pun.

Rasa panas di tubuh dan pusing yang menyerang kepala semakin tak tertahankan. Dengan sisa tenaga yang ada, Xin Yi berusaha berdiri tegak dari kursi makan.

"Tidak... aku harus kembali ke kamar..." gumamnya lemah, berniat berjalan menuju tangga agar tidak merepotkan Bibi Ming.

Namun baru beberapa langkah ia melangkah...

BRUK!

Pandangan matanya tiba-tiba menjadi gelap gulita. Dunia seakan berputar kencang dan kakinya tak lagi memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya.

Tubuh mungil itu limbung dan langsung ambruk ke lantai dengan suara keras.

"NONA!!"

Teriak kaget Bibi Ming terdengar memecah keheningan rumah.

Wanita itu langsung berlari menghampiri dan memeluk bahu gadis itu dengan panik. Saat tangannya menyentuh kulit Xin Yi, ia terkejut setengah mati.

"Ya ampun! Panas sekali! Demam tinggi begini kenapa tidak bilang dari tadi?!"

Bibi Ming segera memeriksa kondisi gadis itu dan melihat wajahnya yang pucat pasi serta napas yang terengah-engah. Ia sadar ini bukan demam biasa.

Tanpa pikir panjang, Bibi Ming langsung merogoh saku bajunya dan mengambil ponsel, lalu dengan tangan gemetar ia menekan nomor telepon Huo Feilin.

"Halo, Nyonya! Cepat pulang! Nona Yi Yi pingsan! Dia demam sangat tinggi dan kondisinya sangat buruk!"

Huo Feilin tidak membuang waktu sedetik pun. Begitu mendengar kabar buruk itu, ia langsung meninggalkan rapat penting di kantor dan memacu mobilnya pulang dengan kecepatan tinggi.

Sesampainya di rumah, suasana sudah terlihat tegang. Dokter Song sudah datang dan sedang menyelesaikan perawatan di kamar Xin Yi.

Gadis itu kini sudah terbaring lemah di atas ranjang, infus terpasang di tangannya, namun wajahnya masih terlihat pucat dan napasnya sedikit cepat akibat demam yang masih tinggi.

Setelah memastikan obat dan perawatan sementara diberikan, Dokter Song menoleh kepada Huo Feilin dengan wajah yang sangat serius dan penuh tekanan.

"Nyonya Huo... bisakah kita bicara sebentar di luar? Ada hal penting mengenai kondisi Nona Yi yang harus kita bicarakan dengan serius."

Hati Huo Feilin langsung meloncos mendengar nada bicara dokter itu. Ia tahu, ini bukan sekadar demam biasa atau flu ringan.

"Baiklah..." jawabnya pelan namun gemetar, lalu dengan hati-hati menutup pintu kamar meninggalkan Xin Yi yang sedang tertidur lemas.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Dokter?" tanyanya tak sabar.

Dokter Song menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. Wajahnya tampak sangat serius dan sedikit khawatir.

"Nyonya Huo, tolong lihat ini..." ucapnya pelan sambil memperlihatkan hasil pemeriksaan singkat yang ia dokumentasikan.

"Di punggung Nona Yi terdapat luka memar yang sangat parah dan luas, mulai dari bawah bahu hingga ke pinggang. Lukanya sudah terlihat bengkak hebat..."

Dokter Song menatap mata Huo Feilin dengan serius. "...ada bekas tusukan kecil yang mengeluarkan nanah dan darah beku. Dari kondisi lukanya dan reaksi demam yang begitu tinggi, saya sangat yakin luka itu disebabkan oleh benturan keras dengan benda tajam yang kotor, kemungkinan besar paku berkarat."

Wajah Huo Feilin berubah pucat pasi. Tangannya secara refleks menutup mulutnya.

Paku berkarat?! Punggung anakku penuh luka parah?!

"Jadi... demam tinggi dan pingsannya itu karena infeksi dari kotoran dan karat yang masuk ke dalam aliran darah?" tanya Huo Feilin dengan suara bergetar hebat.

"Betul sekali, Nyonya," jawab Dokter Song tegas. "Ini sangat berbahaya. Jika terlambat sedikit saja bisa menyebabkan infeksi darah yang fatal. Tapi yang membuat saya bingung dan ingin bertanya..."

Dokter Song mendekatkan wajahnya. "...bagaimana Nona bisa mendapatkan luka seberat ini? Dia kan anak baik-baik di rumah. Apakah dia terjatuh? Atau... ada orang yang berani menyakiti dia secara fisik?"

Huo Feilin merasa dunia seakan runtuh. Kemarahan, rasa sakit, dan kekhawatiran bercampur menjadi satu di dadanya.

Ia baru sadar, kenapa tadi malam Xin Yi pulang dengan tampilan yang nampak normal saja. Ia baru sadar, kenapa gadis itu menyembunyikan segalanya.

Tanpa ragu sedikitpun, Huo Feilin langsung mengambil keputusan tegas.

"Segera bawa dia ke Rumah Sakit! Kita tidak boleh mengambil risiko apa-apa!" serunya dengan suara yang tak terbantahkan.

"Di sana fasilitas lebih lengkap, dia butuh rawat inap intensif, pembersihan luka yang steril, dan pemantauan terus-menerus sampai infeksinya benar-benar hilang. Saya tidak mau menunggu sampai terlambat!"

Dokter Song pun mengangguk setuju. "Benar, Nyonya. Kondisinya memang membutuhkan perawatan rumah sakit agar lebih aman."

Mereka segera memindahkan tubuh lemah Xin Yi ke brankar dan membawanya masuk ke dalam mobil ambulans pribadi yang sudah disiapkan.

Huo Feilin duduk di samping putrinya, menggenggam tangan kecil yang terasa panas itu dengan erat, air matanya tak henti menetes namun wajahnya tetap keras dan tegas.

Sesampainya di rumah sakit dan memastikan Xin Yi sudah masuk ke ruang perawatan khusus, Huo Feilin segera mengambil ponselnya.

Jari-jarinya menekan nomor suami dan putranya dengan cepat. Wajahnya dingin dan serius, membuat siapa saja yang melihatnya akan tahu bahwa situasi saat ini sangat genting.

Suaranya datar namun penuh tekanan, menyiratkan bahwa badai besar baru saja akan dimulai.

Diagnosis itu jatuh seperti petir di siang bolong.

Tetanus.

Kata itu membuat seluruh tubuh Xing Fuyang lemas hingga ia harus bersandar di dinding. Wajah mereka semua berubah pucat pasi karena mengetahui betapa mengerikannya dan berbahayanya penyakit ini jika tidak ditangani dengan cepat.

"......"

Di sudut ruangan, Xin Yuning berdiri kaku. Otaknya bekerja cepat menghubungkan semua kejadian kemarin malam.

Tadi malam... di kantor polisi... Xin Yi menyelamatkan dua anak kecil dari penculik...

Dia bilang dia menahan dan melawan penjahat itu sendirian...

Jadi... luka parah dan tetanus ini... didapat saat dia berkelahi melawan orang jahat itu?!

Hati Xin Yuning meloncos. Rasa bangga yang tadi ada bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa. Adiknya terluka separah ini demi menyelamatkan orang lain, tapi dia memilih memendam semuanya sendirian.

Tiba-tiba, Huo Feilin berbalik menatap putra sulungnya dengan tatapan tajam yang menusuk. Suaranya rendah namun penuh tekanan dan kemarahan yang tertahan.

"Yuning..." panggilnya pelan namun mengerikan.

"Kau kemarin bersamanya kan? Apa yang sebenarnya terjadi pada adikmu?! Kenapa dia bisa terluka separah ini?! Siapa yang berani menyakiti anakku?!"

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur cepat, menuntut jawaban yang jelas dan nyata.

Huo Feilin tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Siapa pun yang membuat putrinya menderita seperti ini... harus bertanggung jawab!

Xin Yuning tidak sanggup menahan rasa bersalah yang menghantam dadanya. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, lalu perlahan melorot hingga berjongkok di lantai dengan kepala tertunduk dalam.

Wajahnya penuh keputusasaan dan rasa frustrasi yang luar biasa.

"Dia... dia menangkap penculik sendirian, Bu..." suaranya terdengar parau dan serak, hampir tak terdengar jelas.

"Kemarin malam... saat kami jemput dia di kantor polisi... dia bukan ditahan karena salah... tapi dia yang menangkap penjahat itu. Dia berkelahi melawan orang itu, demi menyelamatkan dua anak kecil yang akan dijual..."

Xin Yuning menghela napas panjang menahan suaranya yang sedikit bergetar.

"Dia mungkin menghalau pukulan itu dan terluka... tapi kita tahu Xin Yi, gadis itu selalu diam saja saat aku dan Quan Yubin menjemputnya. Dia tidak bilang apa-apa pada kami..."

 

1
Yang Xiu
Tinggalkan jejak🙏
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!