"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Lamaran Sang Prabujangga
"Baiklah, ini adalah pilihan terakhir yang pasti akan kamu tolak juga, Prabu."
Yang paling keras terdengar di dalam ruangan beraroma tinta dan kertas itu adalah suara Batra yang penuh frustrasi.
"Dia gadis berusia dua puluh satu tahun, sepuluh tahun lebih muda darimu." Batra sengaja menekankan perbedaan usia mereka. "Jadi kamu akan menolak lagi kali ini?"
Jangan tanya betapa kesalnya Batra saat ini. Semuanya karena Prabujangga—putra sematawayangnya—yang tidak kunjung menikah di usianya yang kini menginjak angka tiga puluh satu tahun.
Sudah berbusa mulut Batra mengenalkan banyak wanita pada putranya itu. Dari model terkenal, aktris, dokter, bahkan wanita-wanita hebat lainnya. Tapi nihil, Prabujangga masih geleng-geleng kepala menolak untuk dijodohkan.
"Kalau kamu tidak segera menikah, Papa dan Mama akan mati lebih dulu tanpa menggendong cucu."
Kata-kata keramat itu membuat helaan napas lolos dari bibir Prabujangga.
Dia duduk di kursi putar kebanggaannya, menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen yang harus segera ditandatangani.
"Jika sudah tau saya akan menolak, kenapa Papa terus menawarkan?" Prabujangga menaikkan sebelah alisnya.
"Karena Papa tidak mau kamu menjadi perjaka sampai mati," balas Batra datar, lelah menghadapi penolakan putranya. "Ini normal bagi orang tua yang ingin menggendong cucu mereka, Prabu."
"Pernikahan adalah hal yang merepotkan." Kali ini Prabujangga memutuskan untuk fokus pada ayahnya yang duduk di seberang meja.
Prabujangga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ayahnya yang bersedekap keras kepala, rambutnya yang memutih menunjukkan bahwa memang seharusnya dia sudah menggendong cucunya sekarang ini. Paling tidak sebelum malaikat pencabut nyawa benar-benar menghampirinya.
"Papa tau bagaimana padatnya pekerjaan yang saya pikul sendirian," ujar Prabujangga mencoba membujuk. "Pernikahan hanya akan menambah beban, apalagi seorang anak."
"Tidak akan menjadi beban." Tapi Batra tetap tidak mau dengar. "Istri dan anakmu bisa Papa dan Mama yang urus, pekerjaanmu tidak perlu ditinggalkan. Lagipula dulu Papa bisa saja bekerja meskipun menikah dan Mamamu sedang hamil."
Mulailah Batra membandingkan. Dia mengetuk-ngetukkan jari pada permukaan meja yang dipoles. "Jangan manja, Prabu. Papa tetap ingin kamu segera menikah."
Batra menunjuk ke arah foto yang ia jejerkan di atas meja. Wajah-wajah cantik para wanita menatap balik dari kertas, tapi tak satupun mampu menarik wajah dingin Prabujangga yang jelas-jelas malas menanggapi.
"Pokonya Papa ingin kamu pilih salah satu dari mereka. Harus," Batra menekankan.
Prabujangga memejamkan mata lelah.
Batra memang selalu seperti ini, segala kemauannya haruslah dituruti. Meskipun sudah tua, sikap menuntutnya mirip-mirip balita berusia lima tahun yang ingin membeli mainan. Terkadang Prabujangga begitu jengkel dibuatnya.
Prabujangga tidak bisa fokus jika ayahnya terus saja menganggu dan membawakan setidaknya dua foto wanita ke hadapannya dalam sehari.
"Baiklah jika Papa terus saja memaksa," putus Prabujangga dengan berat hati. "Saya akan menikahi gadis terakhir."
Bahkan keputusannya tak dipikirkan dua kali. Itu hanyalah spontanitas.
"Apa?" Batra menjatuhkan rahang. "Kamu bahkan belum melihat-lihat dan memilih."
"Saya sudah melihat dan memilih." Prabujangga menatap ayahnya datar. "Papa jangan berpura-pura tidak mengenal putra sendiri."
Batra berdecak kesal.
Memang benar, Prabujangga ini memang terkadang cuek pada segala hal, tapi bukan berarti dia benar-benar tidak memperhatikan. Meskipun Prabujangga terlihat tak menoleh ke arah foto yang ditunjukkan oleh ayahnya tepat di depan muka, Prabujangga bisa memahaminya sekilas. Bahkan infomasi singkat tentang wanita-wanita itu dia juga ketahui.
"Wanita pintar akan lebih merepotkan saya dengan semua protesnya yang terlalu masuk akal," jelas Prabujangga, menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya mengamati reaksi malas sang ayah. "Gadis yang Papa kenalkan terakhir tidak memiliki sesuatu yang dimiliki wanita-wanita lainnya yang Papa kenalkan pada saya."
Yang dibahas Prabujangga tentu gadis muda yang terpaut sepuluh tahun darinya.
Batra menarik sudut bibirnya. "Maksudmu dia spesial?"
Prabujangga menggeleng singkat. "Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Segala alasan yang terlontar dari mulut Prabujangga terucap tanpa hambatan, seolah-olah yang diucapkannya bukanlah sebuah hinaan.
"Sesuai yang Papa informasikan tentang gadis itu, hanya dia yang berpotensi untuk tidak menyusahkan saya. Jika Papa menginginkan cucu, saya akan dengan mudah memberikan."
Prabujangga memberikan jeda.
"Wanita seperti itu mudah diperdaya. Bisa digunakan sebagai pabrik anak."
...***...
Kesan pertama yang Prabujangga berikan saat pertama kali melihat mempelai wanitanya adalah satu definisi yang tidak menyenangkan.
Kekanakan.
Duduk di sofa panjang ruang tamu yang nyaman, Prabujangga tak menyangka bahwa waktunya yang berharga harus terbuang untuk melamar perempuan yang bahkan tidak ia kenal wataknya.
Meskipun pada awalnya Batra terkejut mendengar alasan mengapa Prabujangga memilih perempuan muda itu, pada akhirnya Batra hanya manggut-manggut saja agar putranya setuju untuk menikah.
Tatapan Prabujangga tertuju pada sosok yang duduk di seberangnya. Calon istrinya. Yang kini mengenakan gaun kuning cerah yang menjuntai hingga ke mata kaki. Rambut hitam legamnya di jalin sedikit berantakan, dan yang paling mencolok adalah rona di pipinya yang menunjukkan kehangatan hati.
Kekanak-kanakan sekali, bukan?
"Begini, Danu," Batra memulai dengan suara santainya. Dia meletakkan cangkir kopinya yang tinggal setengah ke atas meja kaca. "Saya telah memperkenalkan putri bungsumu ini pada Prabu, putra saya."
Prabujangga mengangguk singkat, mengikuti perintah isyarat Batra yang memintanya untuk melakukan itu.
"Saya datang kemari tentu bukan hanya untuk berkunjung biasa, tapi untuk melamar putrimu ini." Dengan senyum tipis Batra mengendikkan dagu ke arah sang gadis yang kini menunduk malu-malu. "Bagaimana? Pernikahan ini akan menjadikan kita keluarga."
Senyum simpul terukir di bibir Dewandanu begitu mendengar ucapan Batra. Memang benar sesungguhnya mereka sudah berteman sejak mereka masih kecil, bahkan saat mereka belum mampu untuk sekedar merangkak di lantai.
Pernikahan ini tentu akan menguntungkan bagi keduanya. Baik Dewandanu dan Batra, keluarga mereka akan menjadi satu. Hubungan mereka akan dipererat dengan adanya pernikahan diantara anak mereka ini.
"Saya tentu tidak akan menolak, Batra." Danu membalas, kini mengalihkan atensinya pada sang putri yang duduk bersandar dengan ibunya.
"Bagaimana, Kharisma? Papa tidak akan memaksa kamu kalau kamu belum siap untuk menikah," ujar Danu lembut. "Tapi akan sangat bagus jika kamu menikah dengan putra Batra ini."
Danu beralih pada Prabujangga yang masang tampang datar namun entah mengapa menarik.
"Dia sepuluh tahun lebih tua darimu, tapi justru itu Papa percaya padanya. Kamu memerlukan suami dengan pemikiran dewasa dan matang untuk menjagamu." Danu menampakkan senyum. "Benar begitu, Prabu?"
Prabujangga mengangguk sekenanya.
"Tentu saja apa yang kau katakan itu benar," Batra kini menyahuti dengan jenaka. "Putrimu ini kan tidak pernah kau biarkan keluar, Danu. Dia dijaga dengan ketat dan penuh kasih sayang, tentu kami akan melakukan yang lebih baik lagi. Apalagi Prabujangga." Batra menyikut lengan putranya. "Dia selalu menjaga apa yang menjadi miliknya."
Prabujangga mengangkat sebelah alisnya, membalas tatapan ayahnya tanpa berucap apa-apa. Pikirannya hanya dipenuhi oleh waktu yang terbuang karena pertemuan tidak penting ini.
Entah di mana Batra mendapatkan embel-embel 'menjaga miliknya' Prabujangga tidak tau.
Prabujangga sangatlah tidak tertarik dengan cerita-cerita yang berkaitan dengan calon istrinya itu. Dikatakan bahwa dia tidak pernah diizinkan keluar dari Mansion besar ini sejak kecil. Danu menjelaskan sebelumnya bahwa itu adalah bentuk perlindungan.
Tentu saja si manja itu menyelesaikan pendidikannya tanpa datang ke sekolah secara langsung. Menyedihkan sekali karena Prabujangga berpikir bahwa dia lebih mirip burung yang terkurung di dalam sangkar alih-alih tuan putri yang disayangi.
"Saya akan memberikan yang terbaik pada putri Anda selama dia menjadi tanggungjawab saya," ujar Prabujangga dengan nada rendahnya yang tenang. "Saya tidak akan pernah mengabaikan tanggungjawab saya selama putri Anda juga melakukan hal yang sama."
Prabujangga yakin bahwa kata-kata itu tak menarik validasi bagi dirinya sendiri, tapi tampaknya keluarga mempelai wanita menganggap ucapan janji Prabujangga sebagai hal yang patut diberikan pujian.
Danu terkekeh. "Lihat? Papa menemukan menantu yang selama ini Papa cari-cari," godanya, dengan alis naik turun kepada Kharisma yang semakin menunduk malu.
"Saya akan memberikan putri saya padamu, Prabu," peringat Danu. "Dia adalah permata paling berharga yang saya punya. Saya mempercayakannya padamu agar bisa kamu jaga dan sayangi."
Danu menepuk sofa di sebelahnya, memberi kode pada Kharisma agar duduk di sampingnya. Kharisma dengan gerakan yang sedikit canggung bangkit dari tempatnya dan menunduk sopan kala melewati meja. Dia berakhir mendaratkan diri di samping Danu.
"Bagaimana? Papa ingin dengar apa kamu setuju atau tidak untuk menerima lamaran Prabujangga." Danu mengelus pucuk kepala putrinya dengan gerakan lembut.
Mungkin saat-saat seperti ini seharusnya menjadi momen yang menegangkan bagi semua mempelai pria. Lamaran ini bisa saja di tolak, namun Prabujangga tak repot untuk memikirkannya.
Dia tidak memiliki niat awal untuk menikah. Jadi jika Kharisma menolak, dia tak peduli sama sekali.
Tapi ternyata, penolakan itu tak didapatkan Prabujangga malam ini.
"Aku mau," cicit Kharisma, mengangkat wajahnya untuk bersitatap dengan Prabujangga. "Aku mau menikah dengan Mas Prabujangga."
Bersambung...