NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05 - Setajam Lidah

Pernah nggak sih kalian kepikiran bahwa mimpi bisa jadi kenyataan? Paling enggak, itu yang saat ini dirasakan Gwen.

Dulu, Gwen pernah bermimpi—mimpi aneh, absurd, bahkan sedikit menakutkan—di mana ia berciuman dengan Aga. Saat itu ia merasa itu adalah mimpi buruk, sesuatu yang harus ia lupakan secepat mungkin. Tapi sekarang… mimpi itu terjadi.

Gwen menunduk, pipinya panas terbakar malu. Semua mata seolah terpaku padanya, menyaksikan ciuman yang baru saja terjadi—dan bukan sembarang ciuman. Rasanya seperti seluruh dunia sedang menertawakannya, sambil menunggu langkah selanjutnya yang salah. Tanpa menoleh lagi pada Rama, Gwen berbalik dan melangkah cepat menuju ruang VIP yang sudah disediakan untuk keluarga. Ia butuh waktu sendiri—jauh dari tatapan orang-orang yang kini terasa tajam seperti laser, menilai setiap gerakannya.

Gwen hendak membuka pintu VIP, tapi tiba-tiba telinganya menangkap percakapan bude Dewi dan sang ibu. Ia berhenti sejenak, menempelkan punggungnya ke pintu, menarik napas panjang. Jantungnya masih berdegup kencang, wajahnya panas, dan rasanya ingin menghilang saja. Bayangan bibir Aga dan tatapan Rama tetap menghantui, seperti replay adegan yang tidak pernah ia minta.

“Gwen anaknya di rumah aja sih. Kurang sosialisasi itu dia. Jaringannya gak luas, makanya belum dapat jodoh,” suara bude Dewi terdengar jelas, menusuk telinganya tanpa ampun.

Gwen menelan ludah, merasakan panas menyebar ke wajahnya. Kata-kata itu menusuk, seolah menegaskan malu dan rasa gagal yang sudah menumpuk di hatinya sejak lama. Ia memejamkan mata, mencoba menahan agar air mata tak menetes.

“Coba kayak anak-anakku, suka ikut kegiatan sosial, kan banyak temennya,” lanjut bude Dewi, “Umur anakmu udah tua, Lin. Biar cari kegiatan gitu.”

Gwen menahan napas. Setiap kata seperti jarum yang menusuk, dan ia merasa semakin ingin menghilang. Uh, ingin sekali Gwen mengikat Bude Dewi di pohon duren depan rumah Eyang. Dan akan ia bakar sebagai persembahan ritual Dewa Matahari.

“Heran banget… itu nenek-nenek, bukannya perbanyak ibadah, malah sibuk urusin hidup orang lain,” gerutu Pandji, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Gwen. Di belakang Pandji, Aga berdiri dengan tatapan yang entah bagaimana membuat Gwen merinding—matanya seolah menahan amarah. Tapi kenapa?

“Anakmu itu aneh. Udah dapat anak orang kaya dan pejabat tinggi, malah ditinggal. Harusnya anakmu itu bertahan, bukan malah minta putus. Jadi perempuan tuh jangan bodoh. Jaman sekarang mana kenyang makan pakai cinta,” ucap Bude Dewi tanpa ampun.

Cukup! Gwen sudah tak tahan lagi. Dengan langkah anggun tapi penuh ketegasan, ia melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Terima kasih atas sarannya, Bude. Setidaknya saya masih bisa menjaga diri… tidak seperti Mega, yang menikah karena hamil duluan,” katanya dengan senyum tipis yang dingin tapi mematikan. “Dan saya sama sekali tidak sudi menikah dengan pria tukang selingkuh. Hidup saya terlalu berharga untuk berakhir seperti Bude yang kerjaannya melabrak pelakor.”

Semua orang di ruangan itu terdiam. Beberapa menahan napas, tak percaya dengan sikap Gwen yang begitu tenang dan tegas. Pandji menatap kakaknya dengan mata membulat, jelas terlihat cemas. Hanya Aga yang tersenyum tipis, bangga sekaligus kagum.

                __Kejar Tenggat__

Gwen keluar dari ruangan VIP, kakinya lemas seperti jelly. Habislah sudah, pikirnya, sadar bahwa setelah ini, ia akan menghadapi ceramah panjang dari kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Napasnya masih berat, wajahnya hangat karena campuran malu dan kelelahan. Ia merasakan ketegangan dari kata-kata Bude Dewi dan tatapan orang-orang di ruangan tadi, dan rasanya ingin melarikan diri jauh, sekadar mencari tempat untuk menenangkan diri.

Pandangannya tertuju ke pantai yang tak jauh dari situ, tempat beberapa pria berjalan santai dengan dada terbuka. Pemandangan itu membuatnya tersenyum tipis; sepertinya ini akan cukup untuk memperbaiki mood-nya sebelum kembali ke realita.

Gwen memilih duduk di kursi pantai. Kedua matanya terbuka lebar, menikmati pemandangan luar biasa indah. Ombak yang bergulung lembut, pasir halus di bawah kaki, dan angin yang menyapu rambutnya membuatnya merasa sedikit lega. Beberapa pria tengah berselancar, bertelanjang dada, dan itulah alasan Gwen menyukai Bali. Nikmat mana yang kau dustakan, gumamnya dalam hati, membiarkan diri sejenak hanyut dalam ketenangan dan keindahan sekitar.

Namun baru sebentar Gwen memandangi pemandangan yang menyegarkan mata itu, pandangannya tiba-tiba menggelap.  Tubuhnya seolah kaku, jantungnya berdegup kencang, dan Gwen panik takut diazab. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, tubuhnya tiba-tiba didorong ke samping dengan paksa. Gerakan itu membuatnya semakin panik.

“Eh—!”

Tubuhnya menurut saja, lebih karena terkejut daripada mengerti apa yang sedang terjadi. Gwen menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Angin pantai masih berhembus, suara ombak masih terdengar jelas, tapi situasi yang baru saja terasa santai kini berubah membingungkan.

Beberapa detik kemudian pandangannya kembali terang. Gwen berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan mata dengan cahaya yang tiba-tiba kembali.

Ia sempat mengernyit bingung, berusaha memahami apa yang barusan terjadi. Jantungnya masih berdetak cepat, sementara angin pantai kembali menyapu wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Belum sempat ia menemukan jawabannya, sebuah suara memanggil namanya—keras, jelas, dan sangat familiar.

“Gwen Oktavia Atmadja!”

Gwen refleks mendongak.

Di hadapannya berdiri Aga.

Pria itu menatapnya tajam, rahangnya sedikit mengeras, seolah menahan sesuatu di balik ekspresinya. Tubuhnya berdiri tegak tepat di depan Gwen, cukup dekat hingga bayangannya sempat menutupi cahaya yang mengenai wajah Gwen beberapa detik lalu. Angin pantai mengibaskan rambutnya, membuat beberapa helai jatuh ke dahi, namun tatapannya tetap terfokus pada Gwen tanpa bergeser sedikit pun.

Gwen berkedip beberapa kali, masih berusaha mencerna bagaimana Aga bisa tiba-tiba muncul di hadapannya. Dari sekian banyak kemungkinan yang sempat ia pikirkan, pria ini jelas bukan salah satunya.

“Aga…?”

Suara Gwen terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang terbawa angin. Dadanya masih naik turun, bukan hanya karena terkejut, tetapi juga karena kehadiran Aga terasa begitu tiba-tiba—seolah pria itu muncul tepat ketika Gwen sedang berusaha melarikan diri dari semuanya.

Tatapan Aga masih sama—tajam dan menuntut, seolah menunggu penjelasan. Sementara Gwen hanya bisa menatap balik dengan canggung, karena bahkan ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Aga dengan tatapan kesalnya.

“Nunggu wahyu,” Gwen mengangkat bahu. “Siapa tahu hidupku tiba-tiba tercerahkan.”

Aga menatapnya beberapa detik, jelas mencoba memastikan apakah Gwen sedang serius atau hanya sengaja mengujinya. Rahangnya mengeras sedikit, sementara alisnya terangkat tipis, seperti tidak percaya dengan jawaban yang baru saja ia dengar.

“Lucu,” ucapnya datar.

“Terima kasih. Dari dulu aku memang lucu dan menggemaskan,” jawab Gwen santai.

Ia bahkan tidak menoleh, tetap memandang ke arah laut seolah percakapan itu bukan sesuatu yang penting. Angin pantai meniup rambutnya pelan, sementara suara ombak bergulung di kejauhan.

Aga menghela napas pendek, jelas menahan sesuatu. Ia berdiri di sana beberapa detik lagi, menatap Gwen yang tampak terlalu santai untuk seseorang yang baru saja membuat kehebohan di acara keluarga.

“Kamu bikin satu ruangan ribut tadi,” katanya akhirnya.

Gwen mengangkat bahu ringan.

“Bukan aku yang mulai.”

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!