NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LATIHAN YANG MENGHANCURKAN JIWA

Fang Han menyeka darah dari bibirnya, menatap Tabib Lu dengan mata yang merah karena kelelahan.

"Aku sudah memberikan segalanya, Paman Lu! Lima hari... aku tidak tidur lebih dari dua jam. Tubuhku terasa seperti diremukkan oleh penggilingan gandum setiap detik. Kenapa kemajuannya begitu lambat dibandingkan Zhao Chen?"

Tabib Lu menghela napas panjang, ia duduk di samping Fang Han di atas tanah yang dingin.

"Karena kau memulai dari nol, Fang Han. Bahkan di bawah nol. Kau adalah wadah tua yang baru saja dibersihkan, sedangkan Zhao Chen adalah pedang yang sudah diasah bertahun-tahun dengan sumber daya keluarganya. Kekuatan yang kau miliki sekarang... jika aku jujur, mungkin kau hanya setara dengan Zhao Chen. Kau bisa mengimbanginya, tapi kau tidak akan bisa mengalahkannya dengan mudah."

Fang Han tertegun. Harapan yang ia bangun selama lima hari ini seolah runtuh. "Hanya setara dengan Zhao Chen? Tapi Paman... Zuo Chen akan membawa Kapten Iron. Tuan Zhao akan membawa pemanah. Sersan Hu akan membawa kebencian sepuluh tahun. Jika aku hanya setara dengan Zhao Chen, itu artinya... aku tetap akan mati."

Tabib Lu menatap langit yang mendung, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.

"Benar. Itulah kenyataan pahitnya. Berlatih selama tujuh hari untuk melawan pasukan yang dipimpin oleh praktisi Pondasi Dasar adalah sebuah kegilaan. Kau mungkin memiliki bakat, tapi kekuatan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk matang. Saat ini, kau hanyalah anak kecil yang memegang belati emas. Belatimu berharga, tapi kau belum tahu cara menusukkannya ke jantung raksasa seperti Kapten Iron."

"Lalu apa gunanya semua ini?!" teriak Fang Han frustrasi. Ia memukul tanah hingga buku jarinya berdarah. "Apa gunanya aku berada di dunia ini jika hanya untuk melihat Paman Zhou dibantai lagi? Di kehidupan lalu aku gagal melindungi diriku sendiri, apakah di sini aku juga harus gagal melindungi satu-satunya orang yang mencintaiku dari injakan Zhao Chen?"

Tabib Lu memegang rahang Fang Han, memaksanya untuk menatap matanya.

"Gunanya adalah agar kau punya peluang, sekecil apa pun itu! Jika kau menyerah sekarang, kau sudah mati sebelum hari ketujuh. Tapi jika kau terus menekan batasmu... mungkin, hanya mungkin, keajaiban akan terjadi."

Tabib Lu berdiri dan mengambil sebuah guci berisi minyak hitam yang beraroma menyengat.

"Masuklah ke dalam kuali air mendidih yang sudah kusiapkan di dalam. Aku telah mencampurkan racun Kalajengking Merah dan rempah Api Neraka. Ini akan membakar kulitmu, membuat sarafmu berteriak, tapi ini satu-satunya cara untuk memperkuat ototmu secara instan agar setidaknya kau bisa menahan satu hantaman dari Kapten Iron tanpa mati seketika."

Fang Han menatap kuali besar yang uapnya mengepul panas di sudut ruangan. Ia tahu ini adalah penyiksaan. Namun, bayangan wajah Lin Meili yang menghina dan janji Zhao Chen untuk menghancurkan tulang punggungnya kembali muncul di benaknya.

"Lakukan," ucap Fang Han dingin. Ia berjalan menuju kuali itu dengan langkah mantap, meski kakinya terasa berat seperti timah.

Saat tubuhnya menyentuh air yang hampir mendidih dan bercampur racun itu, Fang Han menjerit hebat. Rasanya seperti ribuan semut api sedang mengunyah dagingnya hidup-hidup. Seluruh pori-porinya seolah dipaksa terbuka dan disuntikkan cairan tembaga panas.

"Tahan!" bentak Tabib Lu. "Ingat rasa sakit saat kau diinjak! Ingat penghinaan Zhao Chen! Jadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar untuk jiwamu!"

Malam harinya, di bawah sinar bulan yang tertutup awan hitam, Fang Han berjalan pulang dengan tubuh yang terbungkus kain kasa di beberapa bagian. Ia merasa lebih ringan, namun setiap gerakan kecil menimbulkan rasa perih yang menusuk. Di tengah jalan hutan, ia bertemu dengan Paman Fang Zhou.

"Han-er..." panggil Paman Zhou lembut. Ia mendekat dan melihat bekas luka bakar di leher Fang Han. "Cukup. Berhentilah. Paman tidak sanggup melihatmu menghancurkan dirimu sendiri seperti ini."

Fang Han berhenti, menatap pamannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Paman, aku tidak sedang menghancurkan diri sendiri. Aku sedang membentuk diri sendiri."

"Untuk apa, Nak? Untuk melawan keluarga Zhao? Untuk melawan Zhao Chen?" Paman Zhou memegang bahu Fang Han, tangannya yang gemetar terasa hangat. "Paman sudah bicara dengan Tabib Lu secara diam-diam. Dia bilang... kau tidak akan menang. Pasukan itu terlalu besar. Han-er, dengarkan Paman. Pergilah malam ini. Paman punya kerabat jauh di perbatasan Utara. Larilah ke sana. Biarkan Paman yang menghadapi mereka di sini."

Fang Han melepaskan tangan pamannya dengan perlahan. "Lalu membiarkan Paman mati demi memberiku waktu untuk lari? Tidak, Paman. Aku sudah pernah mati sekali dalam kesepian. Aku tidak akan membiarkan kematianku yang kedua kali ini menjadi kematian seorang pengecut."

"Ini bukan soal pengecut, ini soal nyawa!" suara Paman Zhou meninggi, penuh dengan keputusasaan. "Kau masih muda! Kau punya masa depan! Mengapa kau harus mempertaruhkan segalanya untuk harga diri yang sia-sia di depan Zhao Chen?"

"Ini bukan soal harga diri, Paman," balas Fang Han, suaranya kini terdengar sangat mendalam, seolah-olah bukan suara seorang pemuda berusia belasan tahun. "Ini soal keadilan. Mengapa orang jahat harus menang hanya karena mereka punya pasukan? Mengapa orang baik harus lari hanya karena mereka miskin? Jika dunia ini memang tidak adil, maka aku akan menjadi ketidakadilan bagi mereka."

Fang Han menatap ke arah kegelapan hutan, ke arah kediaman keluarga Zhao yang megah. "Paman Lu benar. Kekuatanku saat ini mungkin hanya cukup untuk membuat Zhao Chen berdarah. Tapi mereka lupa satu hal... aku adalah seseorang yang sudah pernah melihat akhir dari kehidupan. Aku tidak takut pada maut, dan orang yang tidak takut mati adalah musuh yang paling menakutkan bagi mereka yang takut kehilangan kekayaan."

Paman Zhou melihat perubahan di mata Fang Han. Ia tidak lagi melihat keponakannya yang ceria dan lugu. Ia melihat seorang pendekar yang hatinya telah mengeras seperti baja dingin. Ia menyadari bahwa kata-kata tidak akan lagi bisa menghentikan langkah Fang Han.

"Jika itu pilihanmu..." Paman Zhou menunduk, air matanya jatuh ke atas tanah yang berdebu. "Maka Paman akan berdiri di sampingmu. Pedang karatan ini mungkin tidak bisa membelah zirah, tapi ia masih cukup tajam untuk menusuk siapapun yang mencoba menyentuhmu dari belakang."

Fang Han memeluk pamannya erat. "Terima kasih, Paman. Tapi tolong, tetaplah di dalam rumah saat hari itu tiba. Biarkan aku yang berdiri di depan gerbang."

Malam itu, Fang Han duduk di atas atap rumah, memandangi bintang-bintang yang mulai menghilang ditelan awan mendung. Ia merasakan aliran Qi di dalam tubuhnya yang semakin stabil. Ia tahu Zhao Chen sedang bersiap, begitu pula musuh-musuhnya yang lain.

"Kemungkinan aku hanya setingkat dengan Zhao Chen," bisik Fang Han pada angin malam. "Artinya, aku harus bertarung melampaui batas nyawaku jika ingin menyentuh Zuo Chen atau Kapten Iron. Ini bukan lagi soal latihan... ini adalah persiapan untuk sebuah perlawanan yang indah."

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!