Kevin Sanjaya dulunya adalah seorang kurir Ojol pengantar makanan dengan kehidupan keluarga yang penuh dengan kemiskinan. akhirnya dia menemukan sistem pengantaran terhebat.
Sistem tersebut membuat dirinya bisa mendapatkan kekayaan dengan melakukan pengantaran makanan, bahkan wanita cantik pun beramai-ramai mendekatinya.
saat sistem bekerja, ulasan terbaik adalah prioritas atas segalanya. akhirnya kekuatan dan pengaruh telah ia dapatkan, namun tuntutan sistem akan semakin menekan.
bahkan kekuatan penguasa - penguasa akan dia lawan, juga wajah - wajah baru akan dia temui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Bos!
Setelah menyusun rencana untuk memeras Kevin, ekspresi Ana berubah dingin. Dengan nada tinggi ia berkata,
“Begini saja. Setiap bulan kamu kasih aku uang jajan 1 juta rupiah, anggap saja kamu belikan aku hadiah!”
Ia menyilangkan tangan, lalu menatap Kevin dengan angkuh.
“Dan untuk hari ini, kamu yang bayar semuanya. Anggap saja ini hadiah perkenalan untuk aku dan teman-temanku. Lagipula, punya pacar secantik aku itu keberuntungan besar buat kamu!”
Tanpa memberi kesempatan Kevin menjawab, Ana langsung berteriak,
“Pelayan! Bawakan kami anggur!”
Manajer yang sudah mengenali Kevin Sanjaya segera datang dengan senyum sopan.
“Nona, ingin anggur jenis apa? Anggur merah atau minuman keras?”
“Anggur merah.”
Ana melirik menu sekilas, lalu menunjuk satu botol dengan harga sekitar lima juta hingga enam juta rupiah.
“Yang ini saja! Oh ya, siapkan kursi tambahan, teman-temanku masih akan datang!”
Sementara itu, dua wanita yang bersamanya sudah selesai memesan. Hampir dua puluh hidangan mereka pesan tanpa ragu.
Kevin hanya tersenyum tipis, tetapi di dalam hati ia mencibir.
“Bawa teman lagi? Mau jadikan aku dompet berjalan ya? Lebih dari dua puluh hidangan… ini mau buka pesta atau apa?”
Ia sudah sering melihat tipe wanita seperti ini—menganggap pria baik sebagai mesin uang.
Namun kali ini… mereka salah orang.
Dengan senyum santai, Kevin berkata,
“Kalau temanmu masih datang, satu botol anggur mungkin kurang. Tidak apa-apa, aku mampu kok.”
Mendengar itu, mata Ana langsung berbinar.
“Benar juga!”
Ia kembali membuka menu dan menambahkan dua botol anggur lagi, masing-masing seharga enam juta hingga tujuh juta rupiah.
Totalnya hampir dua puluh enam juta hanya untuk minuman!
Ketiganya saling tertawa, wajah mereka penuh kepuasan.
Tak lama kemudian, beberapa wanita berpakaian serupa masuk, diikuti dua pria dengan penampilan kasar dan arogan.
“Di sini!”
Ana melambaikan tangan dengan suara keras.
“Aku bilang hari ini aku yang traktir! Lama sekali kalian!”
Kelompok itu melirik Kevin sekilas, lalu langsung mengabaikannya. Mereka duduk, menyalakan rokok, dan salah satu pria berkata sambil menyeringai,
“Segini saja? Tambah lagi!”
Mereka pun menambah tujuh hingga delapan hidangan lagi serta tiga botol minuman keras.
Total tagihan langsung melonjak—mencapai sekitar 40 Juta Rupiah!
Melihat semua itu, senyum Kevin semakin lebar.
Ia tidak marah.
Tidak kesal.
Justru… merasa lucu.
Beberapa menit kemudian, saat makanan mulai disajikan dan mereka sibuk berfoto serta pamer di media sosial, Kevin berdiri.
“Silakan dinikmati. Aku pergi dulu.”
“Hah? Pergi?”
Wajah Ana langsung berubah.
“Kita belum mulai makan! Mau ke mana kamu? Kalau mau pergi, bayar dulu semuanya!”
Seluruh kelompok itu langsung menatap tajam, mencoba menekan Kevin.
“Cepat bayar! Ngapain bengong?”
Kevin tertawa dingin.
“Kalian yang pesan, bukan aku. Aku bahkan belum makan. Kenapa aku harus bayar?”
“Kevin....!”
Ana berdiri dengan marah.
“Kamu ini cuma kurir, berani-beraninya main-main?!”
Kevin justru tertawa keras.
“Benar, aku memang main-main. Lalu kalian mau apa?”
Ia menoleh santai.
“Manajer, ke sini sebentar.”
Sejak awal, manajer sudah merasa ada yang tidak beres. Ia pun sudah menyiapkan beberapa petugas keamanan.
Begitu Kevin memanggil, mereka langsung bergerak cepat.
Dalam sekejap, beberapa petugas keamanan berdiri di belakangnya dengan sikap hormat.
“Bos!”
Mereka membungkuk serempak dengan suara lantang.
Suasana langsung membeku.
“Bos…?”
Ana dan seluruh kelompoknya langsung tercengang.
Mata mereka membelalak, wajah penuh ketidakpercayaan.
Kurir… ini…
adalah pemilik tempat ini?!
Kevin tersenyum tipis, lalu duduk kembali dengan santai.
“Sekarang, kita hitung ya.”
Nada suaranya tenang… tapi penuh tekanan.
“Kalian makan, kalian minum… jadi silakan bayar sendiri.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kalau tidak…”
Ia memberi isyarat kecil.
Para petugas keamanan langsung melangkah maju.
“…jangan salahkan aku kalau aku jadi tidak sopan.”
Suasana seketika berubah mencekam.
Baru sekarang Ana sadar—
kali ini, mereka benar-benar salah memilih target.